
Senyum dan tawa Ayana pagi itu terasa membahagiakan bagi Rafael. Selama perjalanan, di dalam mobil Ayana selalu bersenandung riang menyanyikan lagu kesayangan mereka berdua.
Lagu tersebut mengalun dengan indahnya di dalam mobil yang dikendarai oleh Rafael. Mereka memang hanya pergi berdua saja ke rumah orang tua Ayana. Akan tetapi, ada beberapa orang yang ditugaskan oleh Antonio untuk menjaga mereka dari jarak yang aman dan tidak kentara jika mengikuti mereka.
Rafael tersenyum lega melihat istrinya sudah kembali ceria dan tidak bermimpi buruk lagi. Sesuai dengan saran dari dokter Sani, dia benar-benar tidak meninggalkan istrinya sendirian. Dan benar adanya, kini Ayana sudah tidak lagi mengingat akan teror tersebut. Bahkan dia tidak lagi bermimpi buruk dan mengigau di dalam tidurnya.
"Rafa... Sayang, kita akan menginap di rumah Ibu dan Bapak selama berapa hari?" tanya Ayana ketika masih berada di dalam mobil
"Pengennya berapa hari? Tapi maaf Sayang sepertinya tidak bisa terlalu lama meninggalkan pekerjaan. Pas sekali banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Tapi untuk sebagian besar, jika bisa aku handle dari sini, aku kerjakan di sini. Tapi untuk beberapa harus turun langsung ke lapangan," jawab Rafael sambil memegang tangan istrinya menggunakan tangan kirinya dan pandangannya masih tetap fokus pada jalanan yang ada di hadapannya.
Ayana menoleh ke arah suaminya. Dia memegang erat tangan suaminya menggunakan kedua tangannya seraya berkata,
"Hanya beberapa hari saja di sana aku sudah sangat senang sekali. Kamu jangan merasa bersalah. Aku yang merasa bersalah karena menyusahkan kamu dan membuat pekerjaanmu berantakan."
Tiba-tiba Rafael menghentikan mobilnya. Dia menatap lekat manik mata Ayana dan tangannya mengusap lembut pipi istrinya itu seraya berkata,
"Aku tidak pernah merasa disusahkan atau pun direpotkan oleh istriku dan anakku. Sudah menjadi kewajibanku untuk melindungi dan membahagiakan kalian. Aku tidak mau lagi mendengar kamu berbicara seperti itu. Mengerti?"
Ayana tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia merasa sangat bahagia karena tidak pernah merasakan kurangnya kasih sayang dan perhatian dari suami dan mertuanya.
Rafael kembali melajukan mobilnya dengan sangat hati-hati tanpa merasa terganggu dengan orang-orang yang ditugaskan papanya untuk menjaga mereka.
Hanya selang beberapa saat saja mobil Rafael berbelok ke suatu tempat. Bibir Ayana melengkung ke atas dan matanya berbinar melihat tempat yang tidak asing baginya.
Rafael melepaskan sabuk pengamannya. Dia mendekatkan badannya pada badan istrinya yang sedang terpesona oleh pemandangan yang ada di depannya.
Klik!
Sabuk pengaman Ayana dilepaskan oleh Rafael. Seketika Ayana terperangah hingga hanya bisa mematung melihat wajah suaminya yang berada tepat di hadapannya.
Rafael tersenyum melihat istrinya yang bersikap seperti itu. Selalu saja Ayana seperti itu ketika Rafael melakukan hal yang sama.
Cuuup!
Bibir Rafael mendarat di bibir Ayana yang sudah menjadi candu baginya. Bibir itu selalu terlihat menggoda baginya, hingga dia tidak bisa lagi menahannya.
__ADS_1
Ayana membelalakkan matanya ketika merasakan benda kenyal milik Rafael menempel pada bibirnya. Hanya sekilas saja, akan tetapi mampu membuat Ayana tersipu malu dan tidak bisa berkata-kata.
"Sudah yuk, kita turun dan berjalan-jalan sebentar di sana," ucap Rafael sambil tersenyum dan mengusap lembut bibir Ayana.
Ayana tersenyum dan dengan gerakan cepatnya dia mengecup bibir suaminya seolah seorang pencuri yang mencuri kecupan manis di bibir seseorang yang ditaksirnya.
"Nakal kamu ya...," Ujar Rafael sambil tersenyum dan tangannya mencubit gemas hidung Ayana.
Ayana hanya terkekeh dan membalas suaminya dengan mencubit gemas hidungnya.
Merasa telah puas bercanda dengan istrinya, Rafael mengajak Ayana untuk turun dari mobilnya dan berjalan di sekitar pantai tersebut.
Ayana berdiri di tepi pantai dan merentangkan kedua tangannya ke arah sampingnya seraya berkata,
"Rasanya sudah lama sekali aku tidak merasakan angin yang seperti ini."
Rafael berdiri di belakangnya dan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Ayana serta meletakkan dagunya pada ceruk leher istrinya. Kemudian dia berkata,
"Sangat nyaman dan tenang."
"Semoga anak kita di dalam sini juga ikut merasakan apa yang kita rasakan," tutur Ayana dengan penuh harapan.
"Pasti sayang. Pasti anak kita akan merasakannya," sahut Rafael dengan mencium pipi istrinya.
Ayana memutar badannya menghadap ke arah suaminya dan melingkarkan kedua tangannya pada leher suaminya. Dia menatap intens manik mata suaminya seraya berkata,
"Rasanya kita kembali ke masa awal pertemuan kita. Tapi sayangnya awal pertemuan kita tidak seindah hubungan kita sekarang."
Rafael terkekeh mendengar ucapan istrinya. Kini dia kembali mengingat masa pertemuan mereka yang mengakibatkan mereka dinikahkan secara paksa pada saat itu juga.
Rafael menyatukan kening mereka. Dia menggerak-gerakkan hidung mancungnya yang bertabrakan dengan hidung mancung milik istrinya seraya berkata,
"Tuhan punya rencana sendiri untuk mempertemukan kita dan menyatukan kita meskipun dengan cara yang tidak biasa."
Ayana melepaskan tautan dahi mereka sehingga wajah mereka kini sedikit berjarak. Kemudian dia berkata,
__ADS_1
"Apa kamu pernah menyesal dengan pernikahan kita yang awalnya karena terpaksa?"
Dahi Rafael mengernyit mendengar pertanyaan dari istrinya. Dia pun berkata,
"Awalnya memang iya karena kita baru saja bertemu tapi dipaksa untuk menikah. Bahkan kita saja tidak saling kenal waktu itu. Tapi... Seiring waktu, semakin kita mengenal, maka semakin besar dan dalam cintaku padamu, istriku...."
Semburat merah kini menghiasi wajah Ramona. Berapa kali pun dia mendengar pujian atau pun kata cinta dari suaminya, masih saja dia malu dan wajahnya bersemu merah.
Rafael menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya berjalan menyusuri tepi pantai yang sangat tenang saat itu. Hembusan angin yang mengenai tubuh mereka menjadi kenangan tersendiri dalam ingatan mereka.
"Rafa, ingat pohon kelapa itu gak?" tanya Ayana sambil menunjuk pohon kelapa yang terdapat beberapa buah di pohonnya.
Rafael mengikuti arah tunjuk istrinya. Dia terkekeh melihat pohon kelapa yang bersejarah bagi hubungan mereka. Dia menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Tentu saja aku ingat pohon itu Ay. Aku bertemu seorang bidadari di sana."
"Dan aku bertemu dengan seorang laki-laki tampan yang turun dari langit," sahut Ayana sambil terkekeh.
Rafael menundukkan kepalanya tepat pada perut istrinya dan berkata,
"Apa anakku ini menginginkan buah kelapa yang ada di pohon cinta Mama dan Papa?"
"Mau...," seru Ayana dengan sangat antusias.
Rafael terkekeh melihat reaksi istrinya. Dirangkulnya tubuh istrinya dan diajaknya berjalan menuju pohon kelapa tersebut.
"Bisa kan Raf?" tanya Ayana ketika suaminya bersiap-siap untuk memanjat pohon kelapa tersebut.
"Bisa dong," jawab Rafael dengan penuh percaya diri.
"Hati-hati Sayang!" seru Ayana ketika Rafael sudah berada di atas pohon tersebut.
Tiba-tiba saja terdengar suara seruan Rafael dari atas pohon tersebut.
"Awwww...!"
__ADS_1