Ternyata Suamiku Luar Biasa 2

Ternyata Suamiku Luar Biasa 2
Bab 19 Mimpi buruk


__ADS_3

Rafael menghela nafasnya membaca pesan dari papanya yang menanyakan tentang Satria. Tidak ada yang bisa merahasiakan apa pun dari papanya. Dan mau tidak mau dia harus mengatakan semuanya, karena papanya juga berhak tau agar bisa melindungi menantu dan cucunya.


Rafael pun membalas pesan dari papanya. Dia menceritakan semua tentang Satria. Termasuk perasaan Satria pada Ayana saat itu.


Sudah Rafael duga jika nantinya papanya itu akan bertindak dengan caranya sendiri. Dia juga akan melakukan dengan caranya sendiri. Tentunya mereka juga tidak akan lupa dengan Ruby yang menjadi target utama mereka.


Rasanya kepalanya kini hampir pecah. Di usia kandungan istrinya yang sudah besar ini, tiba-tiba orang-orang dari masa lalu mereka hadir kembali membawa teror untuk kedamaian keluarga mereka.


Dipandanginya wajah damai istrinya itu. Rasanya dia tidak bosan melihatnya. Bahkan dia tidak ingin memalingkan wajahnya dari wajah cantik istrinya.


Semakin lama matanya semakin berat. Perlahan Rafael pun memejamkan matanya. Dia larut dalam alam mimpinya meskipun sedari tadi dia menolak untuk tertidur.


"Satria... Ruby... Pergilah kalian berdua! Jangan ganggu kami! Kami sudah hidup bahagia, jangan kalian ganggu kebahagiaan kami! Pergilah! Pergi kalian!"


Terdengar sayup-sayup di telinga Ayana suara suaminya yang sedang memanggil-manggil nama orang yang dikenalnya.


Perlahan mata Ayana terbuka. Dia mengernyitkan dahinya tatkala melihat suaminya sedang bersuara dengan mata yang terpejam.


"Sayang... Sayang bangun... Kamu kenapa?" tanya Ayana sambil mengguncang-guncang lengan Rafael saat mengetahui suaminya itu sedang mengigau.


Seketika mata Rafael terbuka. Nafasnya terengah-engah dengan keringat yang membanjiri pelipis dan dahinya. Dia menatap istrinya dengan tatapan ketakutan.


Secepat kilat tangan Rafael meraih tubuh istrinya dan membawanya dalam pelukannya seraya berkata,


"Aku gak mau kehilangan kamu Sayang. Kita harus tetap bersama. Meskipun mereka selalu ingin memisahkan kita. Kamu harus janji agar kita tetap bersama dalam keadaan apa pun."


Air mata Rafael menetes dengan sendirinya. Dia tidak bisa mengatakan ketakutannya pada istrinya saat ini. Dia hanya bisa mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan menguatkan hatinya bersandar pada pelukan istrinya.

__ADS_1


"Kamu kenapa Sayang? Kamu mimpi? Mimpi apa? Kasih tau aku," ucap Ayana sambil mengusap lembut punggung suaminya.


Rafael mengurai pelukannya. Dia menatap intens manik mata istrinya dan berkata,


"Tolong jangan tinggalkan aku, apa pun yang terjadi."


Ayana mengernyitkan dahinya. Dia merasa aneh dengan permintaan suaminya. Dia pun berkata,


"Kenapa aku harus meninggalkanmu? Kamu suamiku dan ayah dari anak yang aku kandung saat ini. Jadi, untuk apa aku meninggalkanmu?"


Rafael hanya menggelengkan kepalanya dengan matanya yang berkaca-kaca itu. Tangannya mengusap lembut kedua pipi istrinya. Kemudian dengan perlahan dia mencium kedua pipi istrinya itu secara bergantian. Setelah itu dia mencium kedua mata istrinya secara bergantian.


Matanya kembali menatap manik mata istrinya seraya berkata,


"Barusan aku bermimpi. Dan aku tidak mau itu terjadi."


"Mimpi? Mimpi buruk?" tanya Ayana sambil mengernyitkan dahinya.


Ayana mengusap pipi suaminya dengan lembut seraya berkata,


"Mimpi buruk apa?"


"Mereka berhasil memisahkan kita. Bahkan kamu dan anak kita membenciku," jawab Rafael disertai air matanya yang menetes di pipinya.


Dengan cepatnya Ayana meraih tubuh suaminya dan berkata,


"Tidak. Itu tidak akan terjadi. Aku tidak mau itu terjadi. Kapan pun itu, aku tidak akan bisa membencimu atau jauh darimu. Kamu percaya padaku bukan?"

__ADS_1


Rafael menganggukkan kepalanya dan mengeratkan pelukannya. Dia meletakkan kepalanya pada ceruk leher istrinya dan berkata,


"Aku sayang banget sama kamu Ay. Aku cinta sama kamu. Aku gak mau kehilangan kamu. Tolong jangan jauhi aku apa pun yang terjadi kelak."


Ada apa sebenarnya dengan Rafael? Kenapa dia bisa seperti ini? Ayana berkata dalam hatinya.


Mata Ayana melihat ke arah jam yang tergantung di dinding kamarnya. Perlahan dia mengurai pelukannya dan berkata,


"Sudah mau subuh. Lebih baik kita shalat dulu dan setelah itu temani aku berjalan-jalan di pantai untuk melihat matahari terbit."


Rafael pun mengangguk setuju. Dia tersenyum dan mencium sekilas bibir istrinya sebelum beranjak turun dari tempat tidurnya.


Ayana yang terperangah dengan serangan mendadak dari suaminya itu hanya bisa tersenyum dan tersipu malu karena kebiasaan suaminya itu. Kini mereka berdua bersiap untuk beribadah di dalam kamar mereka.


Banyak hal yang mereka sampaikan pada sang pencipta dan penguasa semesta, semua itu mereka tuangkan dalam doa yang tulus sepenuh hati.


Matahari yang baru saja terbit dan terlihat malu-malu menambah indahnya suara ombak di pantai tersebut. Di tepi pantai itu Ayana dan Rafael bergandengan tangan di sepanjang pantai tersebut.


"Sayang, apa boleh aku bertanya?" tanya Rafael dengan menggandeng mesra pinggang istrinya.


Ayana menoleh ke arah Rafael dengan tatapan heran. Kemudian dia berkata,


"Tanya apa?"


Rafael menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan untuk mempersiapkan dirinya mendengar jawaban dari istrinya. Kemudian dia berkata,


"Tentang Satria."

__ADS_1


Ayana mengernyitkan dahinya mendengar nama Satria disebut oleh suaminya. Bahkan dalam mimpi suaminya yang dikatakan mimpi buruk itu dia mendengar nama Satria dan Ruby yang disebut oleh suaminya. Denhan rasa penasarannya itu dia bertanya,


"Ada apa dengan Satria?"


__ADS_2