Ternyata Suamiku Luar Biasa 2

Ternyata Suamiku Luar Biasa 2
Bab 39 Penculikan


__ADS_3

Ruby segera membuka pintu kamarnya dan menoleh ke arah kanan dan kirinya. Merasa sudah aman, dia segera berlari dengan memegang perutnya yang masih terasa sakit jika digerakkan.


Bak seorang pencuri, dia selalu bersembunyi ketika ada perawat atau dokter di lorong tersebut. Dia segera berlari setelah tidak ada siapa pun di lorong tersebut.


Tujuan Ruby adalah ruang NICU. Sesampainya di ruangan tersebut, Ruby merasa dewi fortuna berada di pihaknya untuk saat ini. Ruangan tersebut tidak ada yang menjaganya. Tidak ada seorang perawat pun yang berada di tempat perawat pada ruangan tersebut.


Tanpa ragu-ragu Ruby segera masuk ke dalam ruangan tersebut. Bibirnya melengkung ke atas ketika melihat seorang bayi mungil berada di dalam inkubator.


Kasihan kamu. Seharusnya ibumu yang merasakan penderitaan ini, bukannya kamu. Sayangnya ibumu itu berlindung di ruangan VVIP sehingga dia merasa aman dan nyaman di sana. Dan sekarang... kamu yang harus menggantikannya, Ruby berkata dalam hatinya sambil menyeringai melihat bayi mungil yang ada di depannya.


Dengan seringainya itu dia membuka inkubator dan mengambil bayi yang ada di dalamnya. Ruby menatap bayi mungil tersebut dengan tatapan bengisnya dan seringainya itu mengisyaratkan niat buruknya.


Tanpa membuang-buang waktu, Ruby segera membawa bayi tersebut keluar dari ruangan itu. Dia tergesa-gesa menuju pintu keluar dengan mengendong bayi mungil yang tidak berdosa itu.


"Tunggu! Siapa kamu?!"


Terdengar suara seruan yang berniat menghentikan langkah Ruby untuk membawa keluar bayi yang ada dalam gendongannya itu keluar dari ruangan tesebut.


Ruby enggan menoleh ke belakang, di mana sumber suara berasal. Dalam hatinya berkata,


Sial! Kenapa ada yang melihatku? Aku harus cepat keluar dari tempat ini agar aku tidak tertangkap lagi.


Kaki Ruby bergerak melangkah untuk bisa keluar dari ruangan tersebut. Sayangnya ada tangan yang memegang pundaknya untuk menghentikan langkahnya.


Ruby berusaha untuk lepas dari tangan tersebut. Dia menggerak-gerakkan pundaknya agar terlepas dari tangan yang menghentikannya.


Dengan kuatnya tangan tersebut membalikkan badan Ruby hingga wajah Ruby terlihat olehnya.


"Kamu siapa? Cepat kembalikan bayi itu!" seru orang tersebut yang ternyata adalah seorang perawat yang berjaga pada ruangan tersebut.


Ruby tidak mengatakan apa pun. Dia menutup rapat mulutnya seolah tidak ingin ada yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Melihat Ruby yang berekspresi seperti itu, perawat tersebut mencoba meraih bayi yang ada dalam gendongan Ruby.


"Kembalikan bayi itu!" seru perawat tersebut sambil mencoba mengambil alih bayi dari tangan Ruby.


Ruby masih saja bersikukuh mempertahankan bayi tersebut agar tidak terlepas dari tangannya. Sayangnya perawat itu pun tidak menyerah. Dia tetap berusaha untuk bisa mendapatkan bayi itu kembali.


Tangisan dari bayi mungil tersebut menggema di ruangan itu, hingga terdengar di luar ruangan tersebut.


"Tolong...!!!" teriak perawat tersebut dengan sekencang-kencangnya.


Ruby ketakutan. Dia takut jika banyak orang yang datang ke ruangan tersebut dan menangkapnya.


Perawat tersebut berusaha sekuat tenaga untuk mengambil bayi dari tangan Ruby disertai teriakannya untuk meminta tolong. Tangisan bayi yang sangat kencang tersebut membuat Ruby panik sehingga perawat tersebut bisa merebut bayi itu dari tangan Ruby.


Bayi yang berhasil direbut itu, kini berada dalam dekapan perawat tersebut. Perawat itu menatap tajam pada Ruby sambil berteriak sekencang-kencangnya untuk meminta pertolongan.


Ruby panik, dia berlari keluar dari ruangan itu dan mengambil jalan yang sepi agar tidak tertangkap oleh pihak keamanan rumah sakit tersebut.


Perawat itu segera mengembalikan bayi mungil itu ke dalam inkubator. Dia menatap bayi mungil tersebut dengan tatapan penuh rasa bersalahnya seraya berkata lirih,


"Maaf, kamu harus mengalami hal ini."


"Kasihan bayi ini, baru saja sore ini dia dilahirkan dan berpisah dari ibunya untuk selamanya, sekarang dia harus mengalami penculikan. Untung saja hal itu tidak terjadi," ucap perawat yang baru saja datang setelah Ruby melarikan diri dari ruangan tersebut.


"Iya, kasihan sekali bayi ini. Dia harus lahir ke dunia tanpa bisa bertemu dengan ibunya untuk seterusnya. Dan apabila penculikan tadi berhasil dilakukan, pasti bayi ini tidak akan bertahan lama tanpa bantuan alat-alat di sini," sambung perawat yang lainnya.


"Ada apa ini? Sepertinya telah terjadi sesuatu."


Terdengar suara seorang perempuan yang mengalihkan perhatian semua perawat yang ada di ruangan tersebut.


"Dokter Ayana, Pak Rafael. Kenapa ada di sini malam-malam begini?" tanya salah satu perawat yang ada di sana dengan sedikit ragu.

__ADS_1


Rafael memandang satu per satu dari semua perawat yang ada di tempat itu. Kemudian dia berkata,


"Kami datang ke sini karena istri saya mempunyai perasaan tidak enak pada anak-anak kami. Dia ingin datang ke sini untuk menenangkan perasaannya yang gelisah."


"Apa telah terjadi sesuatu? Bagaiman dengan anak-anak kami? Apa mereka baik-baik saja?" sahut Ayana seolah tidak sabaran bertanya tentang keadaan kedua bayinya.


Para perawat di sana saling memandang. Mereka takut akan mengatakan kejadian yang merupakan kesalahan mereka dan mengakibatkan hal buruk untuk bayi tersebut.


"Katakan, ada apa ini?" tanya Rafael dengan tegas seolah tidak ingin dibantah.


"Baru saja ada seorang wanita dengan memakai pakaian pasien rumah sakit ini mengambil bayi yang malang ini. Sepertinya dia ingin menculiknya," jawab perawat yang berhasil mengambil bayi mungil itu dari tangan Ruby.


Ayana dan Rafael terkejut mendengar perkataan perawat tersebut. Dengan segera Ayana meminta Rafael untuk mendekati bayi-bayi mereka yang ada di pojok ruangan tersebut.


"Apa anak-anak kami baik-baik saja?" tanya Rafael setelah melihat kedua bayinya yang sedang tertidur nyenyak.


"Kedua bayi Bapak dan dokter Ayana baik-baik saja. Wanita penculik itu hanya mengambil bayi malang yang baru saja ditinggal ibunya setelah melahirkannya tadi sore," jawab perawat tersebut dengan perasaan bersalahnya.


Rafael dan Ayana menghela nafasnya bersamaan. Mereka melihat bayi-bayi mereka dengan kekhawatiran yang terlihat jelas pada wajah mereka berdua.


"Tolong pindahkan bayi-bayi kami ke dalam ruangan saya. Kalian bisa memeriksanya sesuai jadwal pemeriksaan. Saya juga akan mengawasi mereka sendiri di ruangan saya," perintah Ayana dengan tegas pada perawat tersebut.


"Tapi dok, saya --"


"Bukan kami tidak percaya pada kalian, kami hanya ingin lebih dekat dengan anak kami. Lagi pula di ruangan VVIP sangar terjamin keamanannya. Kalian mengerti bukan maksud saya?" sahut Rafael dengan tegas dan menatap perawat yang ada di ruangan tersebut satu per satu dengan tatapan tegasnya.


Perawat tersebut menghela nafasnya. Dia menatap takut pada Ayana dan Rafael. Kemudian dia berkata,


"Akan saya tanyakan pada dokter Sani dan dokter Lana yang menangani kedua bayi ini."


"Cepatlah, akan kami tunggu di sini," ujar Rafael dengan tegas.

__ADS_1


__ADS_2