
Setelah sampai di rumah sakit, Ruby yang dikawal oleh beberapa sipir itu tersenyum tipis. Dalam hatinya bersorak mengatakan kemenangannya.
Rencana awalnya memang bukan seperti itu, hanya saja rencananya itu tidak bisa dilakukannya karena polisi tidak bisa dirayu olehnya. Bahkan sipir penjaga sel tahanan pun belum sempat dirayu agar bisa membantunya.
Namun, keberuntungan berpihak padanya. Penghuni sel tahanan yang satu ruangan dengannya malah membantunya.
Tanpa mereka sadari, perlakuan mereka dalam memberi pelajaran pada Ruby, membuat Ruby mendapatkan rencana barunya. Dia rela dihajar oleh mereka semua dan merasakan sakit di sekujur tubuhnya hanya demi bisa keluar dari sel tahanan tersebut.
Kini, dia sedang berada di sebuah IGD sebuah rumah sakit yang berada tidak jauh dari rumah tahanan tersebut.
Dokter yang dibantu oleh perawat sedang memeriksa keadaan Ruby saat ini. Dia tetap saja memejamkan matanya meskipun masih dalam keadaan sadar. Bahkan dia berpura-pura tidak sadar ketika berada di dalam sel tahanan saat petugas sipir mencoba memeriksa keadaannya.
Tangan Ruby masih saja tidak bisa bebas meskipun berada di rumah sakit. Tangan tersebut masih menggunakan pengait dari besi yang dikunci agar tidak bisa melarikan diri.
Setelah proses pemeriksaan selesai, dokter melakukan pengobatan pada Ruby dibantu oleh perawat yang sedari tadi mendampinginya.
"Sebaiknya kalian pindahkan ke ruangan perawatan. Jangan lupa untuk memberikan obat yang sudah saya resepkan tadi," ucap dokter tersebut pada perawat sebelum meninggalkan Ruby yang masih memejamkan matanya.
Dua orang perawat yang berada di tempat itu menganggukkan kepalanya menanggapi perintah dokter tersebut. Mereka berdua bersiap untuk memindahkan Ruby ke ruangan perawatan yang sudah disediakan.
"Bagaimana keadaannya dok? Apa sangat parah?" tanya salah satu sipir yang mengantarkan Ruby ke rumah sakit tersebut.
Dokter menoleh ke arah Ruby yang masih betah memejamkan matanya. Kemudian dia berkata dengan tegas,
"Tidak usah berpura-pura pingsan. Saya tau kamu sadar sejak datang ke rumah sakit ini."
Gawat! Kenapa dokter itu bisa tau kalau aku hanya berpura-pura pingsan? Apa mereka akan mengembalikan aku ke sel tahanan itu? Bagaimana ini? Apa aku meminta untuk pindah ke sel tahan lainnya saja? Ruby berkata dalam hatinya.
__ADS_1
Seketika sipir yang berada di tempat itu merasa dipermainkan oleh Ruby. Mereka menghela nafasnya sambil melihat ke arah Ruby yang sedang mengerjap-ngerjapkan matanya seolah berusaha membuka matanya setelah sadar dari pingsan.
"Dia baik-baik saja. Saya permisi dulu," jawab dokter laki-laki tersebut sambil beranjak dari tempatnya meninggalkan mereka semua yang masih berada di sana.
Kedua sipir yang berada di tempat itu menatap tajam ke arah Ruby. Mereka menyampaikan kemarahannya pada Ruby melalui tatapan mata mereka.
Tatapan mata mereka mampu membuat Ruby ketakutan. Sedangkan dua orang perawat yang berada di dekat Ruby menatap jijik padanya.
Perawat tersebut memindahkan Ruby ke kamar perawatan yang sudah disiapkan dengan dikawal oleh dua orang sipir yang sedari tadi berada di dekatnya.
Bahkan beberapa perawat menatapnya dengan tatapan aneh ketika berpapasan dengannya saat dipindahkan ke ruang perawatannya. Salah seorang perawat tersebut berkata lirih,
"Tidak disangka jika seorang wanita cantik seperti dia adalah seorang penjahat."
"Buat apa wajah cantik jika nyatanya dia adalah seorang penjahat," sahut perawat lainnya yang berjalan dengan perawat tersebut.
Meskipun suara mereka lirih, nyatanya suara mereka bisa didengar oleh Ruby, sipir yang mengawalnya dan perawat yang memindahkan Ruby. Mereka tidak peduli jika Ruby mendengar apa yang mereka katakan.
Dua orang perawat yang memindahkan Ruby tersenyum mendengar perkataan perawat yang berpapasan dengan mereka. Bahkan mereka mempunyai pikiran yang sama dengan mereka.
Tidak ada keramahan dari perawat yang merawatnya. Mereka hanya memindahkan dan memberikan obat sesuai dengan perintah dokter. Setelah memindahkannya, dua perawat tersebut meninggalkan kamar perawatan Ruby dan meyerahkan Ruby pada dua orang sipir yang berjaga di depan kamarnya.
Pengacara keluarga Atmaja mendengar berita tentang Ruby dari rumah tahanan tersebut. Dia segera melaporkan hal itu pada Antonio.
"Hati-hati, wanita itu sangat licik. Jangan sampai dia bisa melarikan diri dengan akal liciknya," tutur Antonio pada pengacaranya melalui telepon.
Baik Pak, akan saya sampaikan pada mereka, ucap pengacara tersebut sebelum Antonio mengakhiri telepon tersebut.
__ADS_1
Pengacara keluarga Atmaja itu segera memberikan peringatan pada rumah tahanan agar berhati-hati dengan akal licik Ruby. Dia juga memperingatkan agar tidak meninggalkan Ruby seorang diri tanpa pengawasan.
Pihak dari rumah tahanan segera menghubungi salah seorang sipir dari dua orang sipir yang berjaga di depan kamar Ruby. Mereka memperingatkan agar berhati-hati dengan Ruby, sesuai dengan pengacara keluarga Atmaja ketika memperingatkan mereka.
Di dalam ruangannya, Ruby berusaha keras untuk mencari cara agar dia bisa melarikan diri dari ruangan tersebut. Dia mencoba melepas pengait besi yang membuatnya tidak bisa ke mana-mana.
"Sial! Kenapa mereka masih saja tidak melepaskan tanganku?" umpat Ruby sambil menggerakkan tangannya untuk berusaha melepaskan tangannya dari pengait besi tersebut.
Merasa tidak nyaman dengan posisinya saat ini, Ruby bergerak untuk berusaha duduk.
"Aaaaw...," rintih Ruby lirih menahan sakitnya.
Dia tidak bisa menggerakkan badannya yang masih terasa sakit hampir di sekujur tubuhnya.
Namun, bukan Ruby namanya jika dia tidak berusaha untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Dia berusaha untuk bisa duduk atau hanya sekedar berganti posisi.
Sedikit demi sedikit dia bergerak dengan meringis menahan sakitnya. Sayangnya, gerakannya itu hanya menambah rasa sakit yang dirasakan oleh tubuhnya.
Ruby benar-benar wanita tangguh. Dia rela merasakan sakit agar bisa bergerak dan meninggalkan ruangan tersebut untuk melarikan diri.
Dia masih saja mencoba untuk mengerakkan satu-satu tubuhnya seraya mengomel,
"Sial! Aku tidak bisa menggerakkan badanku. Rasanya semua tulangku remuk sudah. Lalu, bagaimana caraku untuk bisa melarikan diri dari tempat ini?"
Bahkan nafas Ruby ngos-ngosan saat ini hanya karena berusaha menggerakkan badannya saja. Dia menatap pintu ruangannya dengan penuh kekesalan dan berkata,
"Dokter sialan! Tadi dia bilang aku baik-baik saja. Nyatanya aku tidak bisa bebas menggerakkan badanku. Jangan-jangan mereka tidak memberikan obat yang bagus padaku. Seharusnya rasa sakit di badanku sudah hilang saat ini. Apa ini karena aku seorang tahanan sehingga mereka seenaknya memperlakukan aku seperti ini? Aku yakin mereka memberikan obat-obatan murah padaku, sehingga aku masih saja merasakan sakit di sekujur badanku."
__ADS_1
Ruby menatap kesal pada tangannya yang masih memakai pengait besi dan terkunci itu. Dengan penuh amarah dia berkata,
"Sepertinya aku harus mempunyai cara lain agar tanganku bisa terlepas dari benda sialan ini dan bisa keluar dari ruangan ini."