
Plak!
Tangan besar dan berat milik perempuan yang penuh dengan dendam serta sedang mengeram marah saat ini mendarat dengan indahnya pada pipi Ruby.
Wajah Ruby terpental dengan kerasnya hingga dia duduk terjatuh kembali di lantai yang dingin itu dengan sangat keras.
Wajah Ruby kini bertambah sakit. Pipi mulusnya menggambarkan betapa besar telapak tangan perempuan tadi mengenai pipinya.
Ruby menatap bengis pada perempuan tersebut. Rasa panas dan perih pada pipinya akibat pukulan tangan perempuan tersebut masih jelas terasa. Bahkan luka akibat gesekan dari lantai tadi masih terasa pedih dan sangat menyakitkan.
Seluruh penghuni sel tahanan tersebut tertawa terbahak-bahak. Mereka sangat puas melihat Ruby yang terlihat tidak berdaya, tersiksa dan marah pada mereka.
Ruby meringis merasakan sudut bibirnya yang perih dan mengeluarkan cairan merah. Dia mengutuk dan menyumpahi mereka semua dalam hatinya.
"Apa lihat-lihat? Tidak terima?" tanya perempuan tersebut kembali.
Salah satu dari mereka menghampiri Ruby dan berjongkok di hadapannya. Dia menyeringai dan menoyor kepala Ruby seraya berkata,
"Kamu nantang kami?"
Mendengar pertanyaan dari temannya, mereka semua menghampiri Ruby seolah mengeroyoknya.
Ruby semakin bergetar ketakutan meskipun dia berpura-pura untuk tetap tegar dan tidak memperlihatkan kelemahannya.
"Ti-tidak. Aku... aku ingin berdamai dengan kalian," jawab Ruby dengan sedikit gugup.
"Apa? Damai?" tanya salah satu di antara mereka sambil tertawa dan diiringi tawa dari semuanya.
"Jangan mimpi! Kami tau jika kamu hanya berpura-pura saja," sahut yang lainnya dengan tatapan bengisnya pada Ruby.
Ruby menggelengkan kepalanya seraya berkata,
__ADS_1
"Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
Namun, ekspresi yang diberikan oleh Ruby berbeda dengan apa yang dikatakannya. Dia menyeringai dan menatap mereka dengan tatapan meremehkannya.
Perempuan yang menjambak rambut Ruby bertambah geram. Dan dia pun berkata,
"Sialan! Dasar perempuan licik!"
Braaak!
Badan Ruby terdorong hingga terbentur jeruji besi yang mengelilingi ruangan tersebut. Dia lemas dan terkulai tidak berdaya, sehingga tidak bisa bergerak sedikit pun.
Matanya terpejam merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Dia tidak menyangka jika rencananya itu akan membahayakan dirinya sendiri.
Sialan! Kenapa sesakit ini rasanya? Apa aku bisa tetap menjalankan rencanaku jika keadaanku seperti ini? Ruby bertanya-tanya dalam hatinya.
"Apa wanita sialan itu baik-baik saja?" tanya salah satu dari mereka yang terlihat sedikit cemas.
"Apa dia mati?" tanya yang lainnya.
Perempuan yang bertubuh gendut dan berwajah garang itu berjalan ke tengah-tengah ruangan dan berkata,
"Diam! Cepat panggilkan sipir yang berjaga untuk menolongnya. Dan ingat, semua harus mengatakan jika dia ingin bunuh diri. Mengerti?"
Semuanya mengangguk setuju menanggapi perintah ketua mereka. Salah satu dari mereka berteriak memanggil sipir penjaga untuk segera datang menolong Ruby.
"Pak! Cepat ke sini! Ada yang terluka!" teriak salah satu dari mereka.
Dua orang sipir berlari menuju sel tahanan tersebut seraya berkata dengan tegas,
"Ada apa?"
__ADS_1
"Dia mencoba bunuh diri Pak. Kami sudah melarangnya. Tapi dia tetap saja melakukannya. Bahkan dia mengancam kami jika kami berani menghentikannya," jawab perempuan tersebut dengan paniknya agar petugas sipir tersebut percaya padanya.
Kedua petugas sipir tersebut segera membuka sel tahanan itu dan bergegas masuk ke dalamnya. Mereka melihat Ruby yang sudah tergeletak tidak berdaya di lantai dengan memejamkan matanya.
Salah satu di antara mereka memeriksa keadaan Ruby. Dan yang satunya lagi meminta keterangan dari mereka yang ada di sana.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya petugas sipir tersebut dengan tegas.
"Seperti yang dikatakan tadi, wanita itu mencoba bunuh diri dengan memukuli dirinya sendiri dan menyiksa dirinya sendiri," jawab perempuan gendut yang berwajah garang itu sebagai ketua dari sel tahanan tersebut.
Petugas sipir tersebut menatap tahanan lainnya. Kemudian dia bertanya pada salah satu dari mereka,
"Apa benar itu yang terjadi?"
"Dia membenturkan kepala dan badannya pada jeruji besi itu Pak. Kami sudah melarangnya dan dia tetap histeris melakukannya," jawab orang tersebut dengan sedikit ketakutan.
Petugas sipir itu menatap seluruh penghuni sel tahanan tersebut satu per satu, seolah bertanya melalui tatapan matanya.
Semua penghuni sel tahanan tersebut menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan teman mereka.
Kemudian sipir tersebut menoleh ke arah sipir yang sedang memeriksa keadaan Ruby seraya berkata,
"Bagaimana keadaannya?"
Sipir yang berjongkok di sebelah Ruby itu berhenti memeriksa keadaan Ruby. Kemudian dia menoleh ke arah sipir yang bertanya untuk menjawab pertanyaannya.
"Dia masih bernafas. Sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit."
Kedua sipir tersebut segera mengamankan kedua tangan Ruby dengan menggunakan pengait besi dan menguncinya.
Setelah itu mereka segera membawa Ruby keluar dari sel tahanan tersebut menuju rumah sakit.
__ADS_1
Ruby tersenyum tipis ketika mengetahui dirinya dibawa keluar dari rumah sakit. Dalam hatinya berkata,
Sebentar lagi rencanaku akan berhasil.