Ternyata Suamiku Luar Biasa 2

Ternyata Suamiku Luar Biasa 2
Bab 36 Pemilik hati


__ADS_3

Rafael menatap tidak tega pada istrinya yang merintih kesakitan, akan tetapi dokter Sani memanggilnya. Dia melihat dari wajah dokter Sani saat ini tersirat kegelisahannya. Dia pun memutuskan untuk mengikuti dokter Sani menjauh beberapa langkah dari Ayana.


"Sayang, aku bicara sama dokter Sani sebentar ya," bisik lirih Rafael pada Ayana yang sedang merintih menahan rasa sakitnya.


Ayana menganggukkan kepalanya secara perlahan. Dia memejamkan matanya mencoba menahan rasa sakit yang dirasakannya saat ini.


Rafael menghela nafasnya melihat penderitaan istrinya saat ini. Jika bisa, dia ingin sekali menggantikan rasa sakit yang diderita istrinya saat ini. Dia tidak bisa membiarkan istrinya tersiksa tanpa bisa melakukan apa pun untuk menolongnya.


Dengan berat hati Rafael meninggalkan Ayana yang masih terbaring di tempat tidur tersebut. Dia menemui dokter Sani yang sudah berdiri menunggunya di sudut ruangan tersebut.


"Ada apa dok? Apa ada masalah dengan istri saya?" tanya Rafael pada dokter Sani dengan serius.


Dokter Sani menatap Rafael dengan tatapan yang tidak bisa diutarakan. Dia menghela nafasnya dan berkata,


"Istri Bapak harus melahirkan sekarang. Jika tidak, akan berbahaya bagi ibu dan bayinya. Kami akan melakukan yang terbaik untuk bisa menyelamatkan bayi dan ibunya. Jadi kami mohon ijin pada Bapak untuk melakukannya."


Seketika kaki Rafael lemas. Badannya seolah tidak bertenaga mendengar kondisi istri dan bayinya saat ini. Bahkan matanya kini berkaca-kaca. Dia tidak bisa membayangkan jika hidupnya tanpa Ayana, sang pemilik hatinya.


"Tidak... Itu tidak mungkin dok. Tolong selamatkan istri saya dan bayi yang ada dalam kandungannya. Tolong selamatkan mereka berdua. Mereka adalah hidup saya dok. Tolong mereka...," pinta Rafael disertai air matanya yang menetes di pipinya.


"Pasti Pak. Kami akan berusaha menyelamatkan ibu dan bayinya. Tolong Bapak doakan untuk keselamatan mereka," tutur dokter Sani dengan penuh keyakinan agar Rafael tidak putus asa dan bersedih.


Dokter Sani segera memindahkan Ayana ke ruang operasi setelah mendapatkan persetujuan dari Rafael. Dan tentu saja Rafael ikut masuk ke dalam ruang operasi. Dia tidak ingin meninggalkan istrinya yang berjuang seorang diri di dalam ruangan operasi itu.


Rafael berdiri di sebelah istrinya dengan memegangi tangannya. Tak henti-hentinya dia selalu mengungkapkan rasa cintanya di telinga istrinya.


Beberapa perawat yang ada di ruangan operasi itu sangat mengagumi cinta Rafael pasa Ayana. Mereka sangat iri pada Ayana yang memiliki seorang suami dengan cinta yang luar biasa padanya. Hingga mereka menyebut Rafael sebagai suami yang luar biasa.


Bisikan Rafael membuat Ayana menjadi kuat. Kata-kata Rafael menjadi penyemangat buatnya. Hingga tidak terasa suara tangisan bayi membuat mereka semua yang ada di ruangan tersebut tersenyum dan bernafas lega.

__ADS_1


Bahkan mereka dikejutkan oleh suara tangis bayi yang selanjutnya. Ternyata selama ini dokter Sani tidak mengetahui keberadaan bayi kembar Ayana. Yang terlihat selama ini hanya satu bayi saja.


"Selamat Pak Rafael, dokter Ayana, bayinya kembar," ucap dokter Sani dengan penuh suka cita.


Mata Rafael berbinar, bibirnya melengkung ke atas ketika melihat dua orang bayi yang ada dalam gendongan perawat. Sayangnya mereka harus segera membawa bayi-bayi itu untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut, sehingga Rafael dan Ayana tidak bisa melihat mereka untuk sementara.


Air mata Ayana tidak henti-hentinya menetes di pipinya. Dia merasa bersyukur atas kelahiran dua bayi yang selama ini ada dalam kandungannya. Dan dia juga merasa bangga pada dirinya sendiri karena telah menjadi seorang ibu.


Para perawat dan dokter melakukan semuanya sesuai prosedur untuk bayi dan ibunya. Setelah itu mereka memindahkan kedua bayi itu ke dalam ruang NICU dan meletakkannya di dalam inkubator untuk perawatan secara intensif.


Sedangkan Ayana, kini dia berada dipindahkan ke dalam kamar inap yang sebelumnya pernah dihuni olehnya.


Di kamar VVIP yang sangat terjamin keamanannya itu merupakan pilihan yang tepat untuk Ayana. Rafael dan keluarga mereka tidak ingin Ruby mengganggu kembali Ayana. Terlebih lagi bayinya sudah lahir ke dunia ini.


Dokter Sani memeriksa keadaan Ayana setelah dipindahkan di kamar perawatannya. Dokter Sani tidak henti-hentinya tersenyum melihat tangan Ayana yang tidak pernah terlepas dari tangan Rafael.


Rafael dan Ayana saling menatap dan tersenyum. Kemudian mereka menoleh ke arah dokter Sani dan berkata secara bersamaan,


"Terima kasih dok."


"Tapi dok, kenapa jadi ada dua ya?" tanya Rafael dengan wajah polosnya.


Ayana dan dokter Sani tertawa mendengar pertanyaan Rafael. Dokter Sani pun menjawab,


"Yang perempuan sepertinya pemalu. Karena itulah dia selalu bersembunyi di belakang kakak laki-lakinya saat kita melihatnya di layar USG."


Kekehan dokter Sani dan Ayana membuat ruang kamar itu menjadi lebih hidup. Rafael pun ikut terkekeh mendengar jawaban dari dokter Sani.


"Apa kami boleh melihatnya dok?" tanya Ayana dengan penuh harap.

__ADS_1


Dokter Sani tersenyum dan menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Tentu saja boleh. Kalian orang tuanya dan berhak bertemu dengan mereka."


Tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka. Seorang wanita paruh baya dan seorang pria paruh baya berjalan mendekati mereka.


Perhatian Ayana, Rafael dan dokter Sani teralihkan pada pintu ruangan tersebut. Mereka tersenyum menyambut kedatangan dua orang paruh baya itu yang terlihat sangat bahagia dari wajahnya.


"Mama sama Papa dari mana saja? Tadi katanya dari ruang operasi akan langsung ke sini," tanya Rafael seolah memproses kedua orang tuanya.


"Kami baru saja melihat cucu-cucu kami. Mereka sangat tampan dan cantik. Sama seperti kalian," jawab Antonio sambil berjalan memeluk pinggang istrinya menghampiri Ayana dan Rafael.


Rania memeluk Ayana dengan penuh kasih sayang dan berkata,


"Selamat ya Sayang. Kamu memang ibu yang luar biasa. Sekarang tanggung jawabmu bukan hanya sebagai seorang istri, tapi juga menjadi seorang ibu. Mama yakin kamu mampu menjadi istri dan ibu gang hebat untuk Rafael dan kedua anak kalian."


Rafael tidak mau kalah dengan mamanya. Dia merangkul pundak istrinya seraya berkata,


"Jelas dong. Menantu Mama ini Ayana, istri dari Rafael Atmaja, seorang perempuan hebat yang sangat luar biasa."


Rania dan Antonio terkekeh mendengar ucapan dari Rafael. Bahkan dokter Sani yang berada di sana pun tersenyum melihat sikap manis Rafael pada istrinya.


"Saya permisi dulu Pak, Bu. Jika ada perlu apa pun silahkan hubungi saya. Akan saya usahakan datang tepat waktu," ujar dokter Sani sambil tersenyum melihat ke arah semua orang yang ada di ruangan tersebut secara bergantian.


Mereka semua menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan dokter Sani yang berpamitan pada mereka.


Setelah dokter Sani keluar dari ruangan tersebut, Antonio mendekati Rafael dan menepuk-nepuk lirih pundak Rafael seraya bertanya,


"Siapa nama cucu-cucu Papa?"

__ADS_1


__ADS_2