Ternyata Suamiku Luar Biasa 2

Ternyata Suamiku Luar Biasa 2
Bab 34 Ratu hati


__ADS_3

Ayana segera mengambil ponselnya dari dalam tasnya ketika terdengar suara dering telepon dari ponselnya. Dia mengernyitkan dahinya melihat layar ponselnya yang menunjukkan nama si penelepon.


"Dari siapa Sayang?" tanya Rafael dengan tatapan menyelidik pada istrinya.


Ayana menghela nafasnya dan memperlihatkan layar ponselnya pada suaminya seraya berkata,


"Dari dokter Sani."


"Dokter Sani?" tanya Rafael sambil mengernyitkan dahinya.


Ayana menganggukkan kepalanya seraya tangannya menekan tombol hijau pada layar ponselnya.


"Halo, selamat pagi dokter Sani?" sapa Ayana pada dokter Sani yang ada di seberang sana.


Pagi dokter Ayana. Saya ingin memberitahukan bahwa pemeriksaannya diajukan sekarang. Apa dokter Ayana bisa datang sekarang? Maaf dok, saya ajukan, karena saya ada seminar nanti siang, ucap dokter Sani melalui telepon.


"Baik dok, saya akan ke sana sekarang," tukas Ayana sebelum mengakhiri panggilan telepon tersebut.


"Kenapa Ay?" tanya Rafael dengan tatapan menyelidik.


Ayana meletakkan ponselnya ke dalam tasnya seraya berkata,


"Dokter Sani menyuruhku untuk ke rumah sakit sekarang."


"Kenapa mendadak sekali?" tanya Rafael disertai helaan nafasnya.


Ayana memegang tangan suaminya dan dia berkata,


"Siang ini dokter Sani akan ada seminar, jadi pemeriksaannya diajukan sekarang. Lagi pula aku juga tidak ada kegiatan apapun. Jadi tidak ada masalah jika harus diajukan sekarang."


"Ck! Padahal kamu sudah janji akan ikut aku bekerja hari ini," ucap Rafael dengan kesalnya.


Ayana terkekeh melihat suaminya yang sedang merajuk saat ini. Dia menarik tangan suaminya dan berkata,


"Ayo kita berangkat sekarang."


Rafael segera beranjak dari duduknya. Saat itu juga mereka berdua berangkat ke rumah sakit untuk pemeriksaan kandungan Ayana.


Hanya dalam beberapa menit saja mereka sudah sampai di rumah sakit yang dituju. Rafael segera membuka sabuk pengamannya dan seperti biasanya, dia membukakan sabuk pengaman milik istrinya.

__ADS_1


Cuuup!


Bibir Rafael mendarat dengan indahnya pada bibir Ayana ketika tangannya membuka sabuk pengaman yang dipakai oleh Ayana. Tanpa diduga oleh Ayana, Rafael mencuri cium pada bibirnya.


Ayana membelalakkan matanya ketika mendapatkan serangan tiba-tiba dari suaminya. Setelah bibir Rafael terlepas dari bibirnya, Ayana pun berseru,


"Rafa!"


Rafael hanya terkekeh melihat istrinya yang sedang kaget karena ulahnya. Dia segera keluar dari mobil dan bergegas berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil istrinya.


"Silahkan Nyonya Rafael yang terhormat," ucap Rafael sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Ayana turun dari mobil.


Ayana tersenyum melihat sikap manis suaminya yang tidak pernah berubah. Suaminya itu selalu memperlakukannya layaknya seorang ratu. Baik ratu di hatinya ataupun ratu di kehidupannya.


Tangan Ayana menerima uluran tangan suaminya untuk membantunya turun dari mobil tersebut. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah sakit dengan tangan Rafael yang melingkar pada pinggang Ayana.


Rafael memeluk posesif pinggang istrinya seolah dia memperlihatkan pada dunia bahwa Ayana adalah miliknya, istri yang sangat dicintainya.


"Sayang, kamu tunggu aku sebentar di sini ya. Aku mau ke toilet, sebentar saja. Kamu jangan ke mana-mana ya. Tunggu aku di sini," ucap Rafael dengan tegas sambil mendudukkan istrinya pada kursi yang ada di lorong rumah sakit tersebut.


Ayana tersenyum mendengar perintah tegas dari suaminya yang terkesan tidak mau dibantah. Suaminya itu memang tidak pernah mengijinkan dirinya untuk ke mana-mana tanpanya.


Rafael terkekeh mendengar penuturan istrinya. Dia berjalan ke arah toilet dan meninggalkan istrinya yang masi dalam posisi duduk di kursi tersebut.


Dari tempatnya berada, Ayana melihat sekitar rumah sakit tersebut. Dia senang melihat beberapa bayi dan anak-anak yang ada di dekat tempatnya berada.


Ruang periksa dokter Sani dan ruang periksa dokter spesialis anak ada di dekat tempat duduknya, sehingga Ayana bisa melihat banyak bayi dan anak-anak yang ada di sana.


Dia tidak menemukan ibu hamil sama sekali di sana karena dokter Sani membatalkan semua janji pemeriksaannya untuk hari ini. Kecuali janji pemeriksaan Ayana yang diajukannya lebih pagi.


"Ayana! Senang bertemu denganmu di sini."


Tiba-tiba terdengar suara perempuan yang memanggil Ayana dengan suara riangnya, seolah sangat senang bertemu dengan Ayana.


Ayana menoleh ke arah sumber suara. Dia mendapati sosok seorang perempuan yang sedang duduk di kursi roda dengan didorong oleh seorang perawat dan di belakangnya terdapat dua orang berseragam sama.


Deg!


Ayana terkejut dan tangannya mencengkram kuat dress yang dipakainya. Tangan dan kakinya gemetaran seolah melihat sesuatu yang sangat menakutkan.

__ADS_1


Senyuman perempuan itu menjadi momok tersendiri bagi Ayana. Bahkan suara perempuan tersebut yang memanggil namanya membuat Ayana merinding ketakutan.


Mata Ayana berkaca-kaca dan tangannya semakin kuat mencengkeram dress nya ketika perempuan tersebut menyeringai dan kursi roda yang dinaiki perempuan itu berjalan mendekatinya.


Ayana menggeleng ketakutan dengan matanya yang berkaca-kaca seraya berkata,


"Tidak...! Jangan...! Jangan mendekat...! Jangan...!!!"


Ayana berlari ketakutan menghindari perempuan tersebut yang berjarak kurang lebih satu meter akan mendekatinya.


Perempuan itu tertawa terbahak-bahak melihat Ayana berlari ketakutan karenanya. Hal itu membuat perawat yang sedang mendorong kursi rodanya serta dua orang petugas yang berseragam sama itu menatap heran pada Ayana dan perempuan tersebut.


Bahkan perawat dan orang yang ada di sekitar tempat itu melihat ke arah Ayana dan perempuan yang tertawa dengan kerasnya di atas kursi roda tersebut.


Sreeet...


Bruuuk...


"Aaawww...!!!"


Ayana berteriak kesakitan sambil merintih memegangi perutnya.


Semua orang dan perawat yang ada di sekitar tempat itu kaget mendengar teriakan Ayana. Apa lagi mereka yang dengan jelas melihat kejadian tersebut. Mereka berteriak kaget dan meringis melihat Ayana ya g sedang jatuh di lantai karena terpeleset ketika berlari.


Beberapa perawat dengan sigapnya berlari menghampiri Ayana. Dengan segera mereka menolong Ayana dan meletakkannya pada brankar untuk dipindahkan ke ruang pemeriksaan dokter Sani yang ada di dekat mereka.


Mendengar ada suara teriakan banyak orang, perawat dokter Sani segera keluar dari ruangan praktek tersebut. Dia segera berlari menghampiri perawat yang sedang menolong Ayana.


"Dokter Ayana?!" celetuk perawat dokter Sani yang terlihat terkejut mendapati Ayana meringis kesakitan dengan cairan berwarna merah yang menetes di kakinya.


Perawat tersebut dengan sigapnya membantu untuk memindahkan tubuh Ayana pada brankar yang ada di dekat mereka. Bahkan banyak orang yang berkerumun melihat mereka saat ini.


Sedangkan perempuan yang berada di kursi roda tersebut masih saja tertawa terbahak-bahak melihat Ayana yang jatuh dan merintih kesakitan. Hal itu membuat perawat yang sedang mendorong kursi rodanya curiga padanya. Dia menoleh ke arah petugas yang ada di belakangnya seolah bertanya melalui tatapan matanya.


"Ada apa ini? Kenapa dokter Ayana bisa seperti ini?" tanya perawat tersebut dengan paniknya pada perawat yang sedang menolong Ayana.


"Dokter Ayana tadi--"


"Ay! Sayang! Kamu kenapa?"

__ADS_1


__ADS_2