Ternyata Suamiku Luar Biasa 2

Ternyata Suamiku Luar Biasa 2
Bab 9 Tamu tak diundang


__ADS_3

Ayana mencengkeram baju Rafael ketika melihat sosok wanita yang paling dihindarinya. Rafael membawa tubuh istrinya dalam pelukannya untuk melindunginya dan bayi yang ada dalam kandungannya.


"Apa kabar Sayang?"


Sapa wanita tersebut yang sudah berada di dekat mereka sambil tersenyum genit pada Rafael.


Ayana semakin ketakutan. Tubuhnya bergetar hanya dengan melihat Ruby yang berada dekat dengannya.


Rafael menatap tajam penuh kebencian pada Ruby dan berkata,


"Mau apa kamu ke sini? Pergi dari rumah ini!"


Rania, mama Rafael marah melihat Ayana yang sedang ketakutan karena melihat Ruby. Dengan segera dia mencengkeram tangan Ruby dan menariknya untuk menjauh dari Ayana.


"Pergi kamu dari sini! Jangan ganggu keluargaku lagi! Pergi!" teriak Rania marah pada Ruby.


Dengan sekuat tenaga Ruby menghempaskan tangan Rania dan berkata sambil menyeringai,


"Jadi begini sambutan kalian pada tamu yang baru saja datang?"


"Tamu tak diundang seperti kamu buat apa dihargai? Bahkan kami ragu jika ada yang menghargai kamu di luar sana," jawab Rania dengan sinisnya.


Ruby menatap tajam penuh permusuhan pada Rania. Dia melangkah maju seolah sedang menantangnya seraya berkata,


"Orang tua macam anda mana bisa membedakan wanita yang hebat seperti saya dan licik seperti menantu kesayangan anda ini?"


"Diam! Bukan menantu saya yang licik, tapi kamu yang licik! Kamu wanita yang tidak ubahnya seperti lintah darat, suka menghisap uang para lelaki mana pun," sahut Rania dengan tegas dan tidak gentar sedikit pun dengan gertakan dari Ruby.


"Beraninya kamu menghina saya!" teriak Ruby tak ubahnya seperti orang yang sedang kesurupan.


Braaak!


Ruby mendorong tubuh Rania hingga terjatuh duduk di lantai dan tubuh Rania mengenai kursi makan.


"Awww...!" Rania meringis kesakitan memegangi tubuhnya yang terkena kursi makan.

__ADS_1


"Mama!" teriak Ayana dan melepaskan pelukan Rafael untuk menghampiri mertuanya.


Rafael meraih kembali tubuh istrinya. Dia tidak mengijinkan Ayana untuk mendekati Ruby. Baginya, Ruby saat ini sangat berbahaya dan bisa membahayakan siapa saja.


"Bik, cepat panggil satpam dan Pak Yanto! Usir dia dari sini!" perintah Rafael dengan emosi pada bik Darmi yang sedang gemetar ketakutan di sudut ruangan.


Bik Darmi segera berlari memanggil Pak Yanto untuk segera mengusir Ruby.


Dua orang satpam dan Pak Yanto datang. Mereka mendekati Ruby dan mencengkeram tangannya yang sedang memberontak sekuat tenaganya.


"Lepaskan! Lancang kalian! Lepaskan tangan kalian atau akan aku hilangkan kalian dari muka bumi ini!" teriak Ruby dengan emosinya yang meledak-ledak.


"Bawa dia keluar dan jangan perbolehkan dia masuk ke rumah ini sampai kapan pun!" perintah Rafael yang tidak kalah emosinya dengan Rubby.


Kedua satpam tersebut dan pak Yanto semakin erat memegang tangan Ruby. Mereka menarik Ruby keluar dari rumah tersebut.


"Lepaskan!"


"Lepaskan!"


Teriak Ruby dengan menggerak-gerakkan tubuhnya memberontak agar bisa terlepas dari mereka.


"Mama!" seru Ayana diiringi air matanya yang menetes semenjak tadi.


Rafael membimbing Ayana. Dia tidak memperbolehkan Ayana berjalan sendirian meskipun sudah tidak ada Ruby di sana. Apa lagi keadaan Ayana saat ini yang sedang sedih membuat Rafael harus ektra hati-hati menjaganya. Dia takut Ayana jatuh pingsan tanpa adanya dirinya di sampingnya.


"Mama... Maafkan Ayana Ma. Semua ini karena Ayana. Karena Ayana Mama jadi seperti ini," ucap Ayana di sela isakan tangisnya.


"Bik, tolong jaga Ayana. Biar saya yang akan membantu Mama," perintah Rafael pada bik Darmi.


Bik Darmi pun segera memegang tubuh Ayana dan menopangnya agar tidak terjatuh. Sedangkan Rafael membopong tubuh mamanya masuk ke dalam kamarnya.


Direbahkannya secara perlahan tubuh mamanya yang sedang merasakan sakit karena memar itu seraya berkata,


"Mama istirahat saja. Rafa akan panggilkan dokter. Dan jika butuh apa-apa, Mama panggil Bik Darmi saja."

__ADS_1


"Mama tidak apa-apa. Hanya badan Mama saja yang terbentur. Kalian jangan menangis dan bersedih. Jangan khawatirkan Mama. Lebih baik kalian segera mencari cara agar wanita jahat itu tidak lagi bisa menampakkan dirinya di hadapan kalian," tutur Rania ketika sudah berada di tempat tidurnya.


"Biar Ayana saja yang menjaga Mama di sini," ucap Ayana dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Tidak. Kamu juga butuh istirahat. Biar Mama bersama Bik Darmi saja. Ayana beristirahat saja di kamar bersama dengan Rafael," sahut Rania dengan tegas seolah tidak mau dibantah.


Rafael memeluk mamanya dengan penuh cinta agar mamanya merasakan kasih sayangnya. Kemudian dia berkata,


"Rafa dan Ayana akan ada di sini hingga dokter datang memeriksa Mama. Setelah itu kami akan beristirahat."


Rania tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ayana duduk di sebelah Rania dan memegang erat tangannya. Rania mengusap lembut perut Ayana untuk merasakan kehadiran cucu kesayangan yang sudah dinantikan kelahirannya.


Rafael keluar dari kamar tersebut dan menghubungi dokter keluarganya. Dia juga menghubungi papanya untuk memberi kabar apa yang baru saja terjadi di rumah mereka.


Antonio sangat marah mendengar apa yang terjadi dengan istrinya . Dia segera pulang dan menghubungi beberapa orang untuk menangani Ruby. Kali ini dia tidak bisa mentolerir lagi apa pun keadaan Ruby. Dia menginginkan Ruby agar segera ditangkap dengan bukti yang kuat agar tidak bisa dengan mudah keluar dari tahanan dan membahayakan kembali keluarga mereka.


Selang beberapa saat dokter keluarga mereka datang bersamaan dengan datangnya Antonio. Dokter tersebut mendengarkan Rafael bercerita tentang kejadian yang menimpa Rania. Setelah itu dokter tersebut memeriksanya.


"Ibu Rania baik-baik saja. Akan saya berikan vitamin, obat pereda nyeri dan salep untuk luka memarnya. Dan beristirahat saja dulu Bu agar rasa nyerinya tidak bertambah," tutur dokter tersebut pada Rania.


Rafael mengantarkan dokter tersebut keluar rumah. Ternyata Antonio mengikutinya.


"Sepertinya wanita itu sangat nekat dan berbahaya. Papa sudah mengerahkan banyak orang untuk menjebloskannya ke dalam penjara. Dan Papa juga menugaskan beberapa orang untuk menjaga kalian semua. Jadi kalian jangan khawatir, tapi kalian juga harus tetap waspada," tutur Antonio dengan wajah kesalnya ketika membicarakan tentang Ruby.


"Baik Pa. Tapi Rafael sedang bingung sekarang. Ayana ingin sekali berkunjung beberapa hari ke rumah orang tuanya. Rafa tidak ingin membuatnya sedih dan kecewa. Sekarang Rafa sedang mencari cara bagaimana agar wanita sialan itu tidak bisa mengganggu kami di sana," ucap Rafael disertai helaan nafasnya yang terdengar begitu berat.


Antonio menepuk pundak Rafael dan tersenyum padanya seraya berkata,


"Turuti saja dulu kemauan istrimu. Papa juga akan membantumu untuk melindungi keluargamu. Karena Mama dan Papa juga tidak ingin jika terjadi hal buruk pada menantu dan cucu kami."


Rafael meraih tubuh papanya dan memeluknya seraya berkata,


"Terima kasih Pa. Rafael sangat membutuhkan dukungan dari Papa."


Antonio tersenyum dan menepuk lembut punggung putranya. Sudah lama mereka tidak pernah berpelukan seperti itu sejak Rafael menginjak remaja.

__ADS_1


Tiba-tiba saja bik Darmi berlari tergesa-gesa menghampiri Antonio dan Rafael. Dengan nafas ngos-ngosannya dia berkata,


"Maaf Tuan... Ada telepon dari orang tua Nyonya Ayana. Katanya penting sekali."


__ADS_2