
Hari ini keadaan Ayana semakin membaik. Seperti yang diinginkannya, dia keluar dari rumah sakit saat ini juga. Binar kebahagiaan terlihat jelas di wajahnya. Bahkan senyum bahagianya itu tidak pernah luntur dari bibirnya.
"Sayang... Kita jadi ke rumah orang tuaku kan?" tanya Ayana pada Rafael ketika berada di dalam mobil.
Tangan kiri Rafael memegang tangan Ayana dan matanya fokus pada jalanan ya g ada di hadapannya. Kemudian dia berkata,
"Tapi tidak sekarang ya Sayang. Kamu baru saja keluar dari rumah sakit. Kita pulang saja dulu ya."
Ayana menoleh ke arah suaminya yang masih fokus pada kemudinya. Dia menatap penuh harap pada suaminya dan berkata,
"Kapan Raf? Kapan aku bisa ke rumah orang tuaku? Aku ingin tinggal beberapa hari di sama dan menikmati suasana pantai yang sangat aku rindukan."
Tanpa menoleh ke arah istrinya pun Rafael sudah tahu jika saat ini istrinya sedang bersedih. Tangan istrinya yang sedang digenggamnya diarahkan pada bibirnya.
Diciumnya tangan istrinya itu dengan penuh rasa cinta seraya berkata,
"Aku janji kita akan segera ke sana. Hanya saja tidak hari ini. Mungkin saja besok atau lusa. Aku perlu menyiapkan semuanya agar kamu dan bayi yang ada dalam kandunganmu tetap sehat dan aman. Aku tidak mau dia mengikuti kita hingga ke sana."
Ayana menghela nafasnya. Dia tidak kecewa akan keputusan suaminya, dia hanya kecewa pada keadaan saat ini. Dia sadar jika situasi saat ini bisa saja membahayakannya dan bayinya. Hanya saja keinginannya untuk berada di rumah orang tuanya itu membuatnya bersikap egois.
"Aku tau Raf jika situasinya tidak memungkinkan saat ini. Tapi... Aku tidak bisa membohongi keinginanku yang ingin sekali berada di tempat itu, bersamamu," tukas Ayana dengan perasaan bersalahnya.
Tangan Rafael melepaskan tangan Ayana. Kini tangannya itu beralih memegang kepala Ayana. Dia mengusap lembut rambut istrinya untuk membuatnya merasa tenang seraya berkata,
"Aku akan merasa sangat bersalah jika tidak bisa mengabulkan keinginanmu dan bayi yang ada dalam kandunganmu ini. Aku akan berusaha mengabulkan semua keinginanmu dan anak kita. Sampai kapan pun itu, aku akan selalu berusaha membahagiakan kalian."
Ayana meraih tangan Rafael yang sedang mengusap rambutnya. Dia mencium tangan suaminya dengan penuh rasa cinta.
"Kamu memang suamiku yang luar biasa. Aku sangat bersyukur bisa menjadi istrimu," ujar Ayana sambil tersenyum menatap suaminya yang masih fokus pada jalanan.
Rafael tersenyum malu mendengar pujian dari istrinya yang ditujukan padanya. Dia pun berkata,
"Aku juga sangat bersyukur yang menjadi istriku adalah kamu. Karena kamu adalah istri dan ibu yang luar biasa."
Mereka saling memuji seiring dengan rasa syukur atas anugerah yang diberikan oleh Tuhan pada mereka. Akan tetapi, mereka kini diharuskan untuk menghadapi ujian untuk keluarga mereka.
__ADS_1
"Sayang, apa si Rubah betina itu sudah dilaporkan ke Polisi?" tanya Ayana yang kini terdengar sedang cemas.
"Sudah. Tapi mereka masih menyelidikinya. Kita tidak bisa hanya mengandalkan mereka. Aku akan tetap memastikan istri dan anakku aman dengan caraku sendiri," jawab Rafael dengan sangat yakin.
Jujur saja saat ini dia sangat was-was. Keselamatan anak dan istrinya yang menjadi taruhannya saat ini. Dia harus bisa melindungi anak dan istrinya kapan pun dan di mana pun.
Setelah beberapa saat mobil yang dikendarai oleh Rafael masuk ke dalam halaman rumah yang sangat besar dan mewah. Rumah tersebut sangat berarti bagi Ayana.
Rafael membantu istrinya turun dari mobil dan memapahnya untuk berjalan masuk ke dalam rumah tersebut.
"Apa kita akan tinggal di rumah ini Sayang?" tanya Ayana sambil berjalan masuk ke dalam rumah tersebut.
"Untuk sementara saja Ay. Rumah kita masih dalam tahap renovasi. Dan aku akan memberi sistem keamanan yang lebih agar kita merasa aman tinggal di sana," jawab Rafael sambil tersenyum pada istrinya.
Ayana melihat ke seluruh ruangan yang sangat berarti baginya. Rumah itu merupakan tempat sejarah baginya. Awal cinta mereka berdua berawal dari rumah itu. Dan mereka tidak bisa melupakan sedikit pun kejadian yang telah terjadi pada mereka saat itu.
"Ma... Kami sudah pulang...!" seru Rafael yang berjalan masuk bersama dengan istrinya.
"Mama ada di ruang makan," seru Rania sambil menata makanan di atas meja makan.
Mendengar langkah kaki yang sedang mendekat padanya, Rania menoleh ke arah mereka.
"Ayana, putri Mama yang cantik sudah datang rupanya," ucap Rania sambil tersenyum dan berjalan menghampirinya.
Ayana tersenyum malu pada mama mertuanya yang sangat menyayanginya. Dia memeluk tubuh Rania dengan sangat erat seraya berkata,
"Maafkan Ayana yang membuat Mama cemas dan khawatir."
Rania mengusap lembut punggung menantunya itu dan berkata,
"Itu karena Mama sangat menyayangi menantu dan cucu Mama. Jika Mama tidak menyayangi kalian, pasti Mama tidak akan khawatir pada kalian berdua."
"Oh jadi cuma menantu dan cucu Mama saj yang disayang? Anak Mama ini sudah tidak disayang lagi? Padahal dulu bilangnya ke orang-orang Rafael itu anak kesayangan Mama dan Papa loh," protes Rafael dengan memperlihatkan ekspresi kesalnya.
Rania menoleh ke arah Rafael yang berada di samping Ayana. Kemudian dia berkata,
__ADS_1
"Selama kamu bisa menjaga menantu kesayangan dan cucu kesayangan Mama, pasti kamu masih tetep jadi putra kesayangan Mama."
Ayana tertawa mendengar perkataan mama mertuanya. Dia benar-benar nyaman berada di rumah itu. Dan dia juga sangat di sayangi oleh mertuanya yang tidak pernah membeda-bedakan anak kandungnya dan menantunya.
Rafael tidak memprotes ucapan mamanya. Dia sangat bersyukur karena istrinya sangat disayangi oleh kedua orang tuanya. Berbeda dengan Rafael yang dulu, menganggap mamanya pilih kasih dan lebih sayang pada Ayana daripada dengannya. Semakin lama dia menyadari jika ternyata pilihan mamanya memang yang terbaik untuknya.
Rafael melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya seraya berkata,
"Ayo kita makan dulu. Setelah itu kamu harus beristirahat kembali. Nanti kita mengobrol bersama Mama dan Papa setelah kamu beristirahat."
Rania menyetujui perkataan Rafael. Dia mengambilkan makanan yang khusus disiapkan untuk menantunya itu.
Rafael meraih sendok yang dipegang oleh istrinya. Dia menyuapkan makanan tersebut sedikit demi sedikit, hingga makanan tersebut habis tak tersisa.
Dengan telatennya Rafael membantu semua kegiatan istrinya, hingga Ayana merasa diperlakukan sebagai ratu oleh suaminya.
"Ayo kita ke kamar Sayang," ajak Rafael sambil membantu istrinya berdiri dari duduknya.
Rania hanya tersenyum mengamati anak dan menantunya itu. Sejak tadi dia hanya tersenyum melihat perlakuan Rafael yang memperlihatkan cintanya pada istrinya.
Tiba-tiba saja bel rumah berbunyi. Dengan tergesa-gesa bik Darmi membuka pintu rumah tersebut.
"Nyonya... Itu di luar ada...," bik Darmi ragu akan memberitahukan pada Rania dan Rafael.
"Ada siapa Bik?" tanya Rania sambil mengernyitkan dahinya.
"Itu... Di luar ada--"
"Selamat siang semuanya... Maaf saya baru bisa berkunjung hari ini."
Tiba-tiba suara seorang wanita yang berjalan masuk membuat mereka mengalihkan perhatian padanya.
Wanita tersebut berjalan mendekati Rafael yang sedang memeluk Ayana. Dia tersenyum dan berkata,
"Apa kabar Sayang?"
__ADS_1