Ternyata Suamiku Luar Biasa 2

Ternyata Suamiku Luar Biasa 2
Bab 28 Hunian baru Rubah betina


__ADS_3

Petugas polisi yang sedang berjaga pada sel tahanan Ruby benar-benar menjaganya. Mereka berjaga seolah Ruby tahanan paling berbahaya saat ini.


Bahkan mereka tidak mau ambil pusing ketika Ruby tidak mau memakan makanan dan minumannya. Tugas mereka hanya tidak membiarkan Ruby berkeliaran bebas di luaran sana.


Ruby masih saja mencari jalan untuk bisa keluar dari ruangan dingin yang sempit dikelilingi oleh sel jeruji besi itu. Dia berpikir dengan sangat keras agar bisa secepatnya keluar dari sel tahanan yang membatasi ruang gerak kebebasannya.


Tiba-tiba dia beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati petugas kepolisian yang telah menjaganya. Dia berdiri dengan memegang jeruji besi yang mengelilingi ruangan tersebut dan memanggil petugas kepolisian tesebut dari celah jeruji besi itu.


"Pak, apakah saya bisa meminta tolong?"


Polisi yang berjaga tepat di dekat tahanan tersebut, seketika menoleh saat Ruby memanggil namanya.


"Ada apa?" tanya polisi tersebut dengan tegas dan berwajah garang pada Ruby.


Polisi tersebut tidak mendekati Ruby. Dia hanya bertanya dari tempatnya saat ini berada.


"Bisakah saya meminta tolong pada Bapak?" tanya Ruby sambil menatap polisi tersebut dengan tatapan mengibanya.


Dahi polisi tersebut mengernyit mendengar permintaan dari Ruby. Kemudian dia menyeringai dan berkata,


"Maaf, saya hanya bertugas untuk menjagamu agar tidak keluar dari sel tahanan ini saja. Saya bukan dinas sosial yang akan membantu kamu kapan pun itu."


Jawaban dari polisi tersebut membuat Ruby lemas seketika. Hancurlah sudah harapannya saat ini. Dalam hatinya, dia merasa sangat kesal pada petugas kepolisian tersebut.


"Tapi Bapak kan seorang polisi. Harusnya Bapak bisa membantu semua warga masyarakat tanpa membeda-bedakannya," tukas Ruby yang masih saja berusaha untuk membujuk polisi tersebut agar mau membantunya.


Polisi tersebut kembali menoleh ke arah Ruby. Dia menatap.Ruby dengan tatapan merendahkannya disertai seringainya. Kemudian dia berkata,

__ADS_1


"Kami memang petugas kepolisian yang selalu membantu masyarakat. Hanya saja bukan masyarakat seperti kamu yang harus kami tolong. Karena kamu sudah masuk dalam golongan pengecualian itu."


Ruby mencengkeram erat jeruji besi tersebut untuk melampiaskan kekesalannya mendengar ucapan dari petugas kepolisian itu. Dia merasa harus memutar otaknya kembali untuk bisa membujuk petugas kepolisian yang menjaganya.


"Tapi Pak, saya juga manusia yang butuh pertolongan. Apalagi saya sedang ditahan saat ini. Saya hanya ingin meminta bantuan saja. Dan itu tidak akan menyulitkan Bapak," pinta Ruby dengan suaranya yang bergetar dan matanya yang berkaca-kaca.


Polisi tersebut berjalan mendekati Ruby. Dia menyeringai dan berhenti tepat di depan Ruby. Tangannya mengambil sesuatu dari celananya dan memperlihatkan benda itu pada Ruby.


Mata Ruby terbelalak melihat pistol yang sedang dipegang oleh polisi tersebut. Bahkan polisi itu memainkan pistolnya seolah memberitahukan pada Ruby keahliannya dalam memainkan pistol tersebut.


Ruby mencengkeram kuat jeruji besi yang sedang dipegangnya agar tidak terlihat ketakutan di depan polisi tersebut.


Sedangkan polisi tersebut mengerti jika Ruby sedang bermain-main dengannya. Dia meletakkan pistol tersebut pada dagu Ruby dan berkata,


"Saya tau kamu sedang ingin bermain-mani dengan saya. Jika kamu mau, mari kita bermain-mani dengan cara kita sendiri."


Polisi tersebut kembali menyeringai melihat ekspresi ketakutan Ruby saat ini. Dia menyudahi ancamannya dan berjalan kembali ke tempatnya sambil tertawa keras menertawakan Ruby yang gemetar ketakutan karenanya.


Ruby terduduk di lantai yang dingin itu. Di dalam ruangan kecil yang dingin tanpa alas, bantal, serta selimut itu, dia harus terkurung di tempat tersebut selama dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.


"Bagaimana ini? Apa yang akan aku lakukan setelah ini?" tanya Ruby lirih pada dirinya sendiri sambil matanya mengitari ruangan tersebut.


Tiba-tiba dia teringat akan sesuatu. Tangannya mencengkeram erat bajunya, dadanya naik turun sesuai dengan nafasnya yang tidak beraturan, serta giginya bergemelatuk menahan kemarahannya.


"Ini semua gara-gara wanita sialan itu. Lihat saja Ayana, aku tidak akan memaafkan kamu. Aku akan membuat perhitungan yang setimpal denganmu. Tunggu saja pembalasanku!" ucap Ruby dengan penuh kebencian.


Kini dia hanya bisa pasrah untuk saat ini. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan mencari cara untuk membalaskan semua dendamnya selama ini pada Ayana.

__ADS_1


"Semua kemalangan dalam hidupku ini terjadi karena Ayana. Hadirnya dia membawa kemalangan bagiku. Sekarang dia malah enak-enakan hidup senang dan mewah dengan Rafael. Seharusnya kehidupan itu menjadi milikku. Lihat saja Ayana, nasib buruk mu akan segera datang," ucap Ruby sambil menyeringai penuh dendam pada Ayana.


...----------------...


Beberapa hari berlalu. Ruby masih tetap sama. Dia masih dalam proses hukum di kantor kepolisian tersebut. Dan tempat yang sama pula harus dia huni selama beberapa hari itu.


Semua petugas kepolisian di sana tidak ada yang bisa terkena rayuan atau pun bujukan Ruby. Mereka semua berwajah garang dan tegas sehingga membuat Ruby menyerah dengan sendirinya.


Ruby harus memikirkan cara lain untuk bisa membebaskan diri dari sel tahanan yang mengurung kebebasannya itu. Setiap detik, menit dan jam dia gelisah memikirkan cara yang tepat untuk melarikan dirinya.


Proses hukum Ruby di kantor kepolisian tersebut sudah berakhir. Kini dia dalam proses perpindahan menuju rumah tahanan yang sama seperti tempat ditahannya Ruby waktu itu.


Jantung Ruby semakin berdegup kencang ketika melihat bangunan yang terkesan menyeramkan itu. Dari dalam mobil tahanan yang mengangkutnya menuju bangunan tersebut, dia semakin gencar mencari cara agar tidak bisa masuk ke dalam bangunan yang menurutnya sangat angker.


Bagaimana tidak, di dalam sama dia mendapatkan banyak musuh yang siap menyiksanya secara lahir dan batin. Hanya dengan mengingatnya saja bisa membuat Ruby bergidik ngeri.


Karena itulah dia sangat membenci Ayana. Baginya, Ayana lah penyebab nasib buruknya itu. Karena hadirnya Ayana dalam hidupnya itu membuat kehidupannya berubah drastis saat itu.


"Turun!" perintah polisi yang membuka pintu mobil tahanan tersebut.


Ruby pun menurut. Dia keluar dari mobil tahanan itu dan berjalan masuk ke dalam rumah tahanan dengan tangan yang dipakaikan besi pengaman dan dikawal oleh beberapa petugas kepolisian dengan bersenjata lengkap.


Kenapa aku jadi seperti penjahat yang sangat berbahaya begini? Sebenarnya apa yang aku lakukan hingga mereka memperlakukan aku seperti ini? Apa ini karena laporan dari Rafael? Dan ini pasti semua gara-gara Ayana. Aku yakin dia yang membuat Rafael sangat membenciku. Lihat saja Ayana, apa yang akan aku lakukan padamu. Tunggu saja pembalasan dariku, Ruby berkata dalam hatinya.


Setelah proses masuk tahanan selesai, Ruby diantarkan oleh pihak tahanan menuju sel tahanan yang akan dihuninya sambil menunggu persidangannya digelar.


"Masuk!" perintah petugas tahanan tersebut sambil mendorong tubuh Ruby masuk ke dalam ruangan yang berjeruji besi itu.

__ADS_1


Ruby gemetar ketakutan tatkala melihat penghuni dalam ruangan tersebut. Tangannya mencengkeram pakaian di dadanya dan wajahnya sangat ketakutan melihat yang ada dalam ruangan tersebut.


__ADS_2