Ternyata Suamiku Luar Biasa 2

Ternyata Suamiku Luar Biasa 2
Bab 35 Rintihan Ayana


__ADS_3

Rafael tergesa-gesa keluar dari toilet. Dia tidak mau jika Ayana, istri tercintanya itu menunggunya terlalu lama.


Namun, langkah kakinya tiba-tiba terhenti ketika melihat sosok perempuan yang duduk di kursi roda dan sedang tertawa terbahak-bahak. Sorot matanya menandakan kemarahannya pada perempuan tersebut. Bahkan kedua tangannya mengepal dengan sangat kuat ketika melihatnya dengan penuh amarah.


Dia melihat ke sekelilingnya untuk mencari keberadaan istrinya yang seharusnya duduk di kursi dekat perempuan berkursi roda tersebut.


Terlihat jelas kepanikan dan kecemasan dari wajah Rafael saat ini. Jantungnya berdegup dengan kencangnya karena ketakutannya akan kehilangan istrinya. Bahkan hatinya sangat bergemuruh saat ini, ketika tidak mendapati istrinya di tempat yang sama sebelum dia meninggalkannya.


"Ay...! Sayang... di mana kamu?!" teriak Rafael sambil matanya menyisir area sekitarnya untuk mencari keberadaan istrinya.


Sontak saja perempuan yang berada di kursi roda tersebut menoleh ke arah Rafael. Dengan kerasnya dia berseru padanya,


"Rafael! Sayang... aku di sini..!"


Rafael menoleh ke arah perempuan tersebut. Dia menatap bengis padanya. Kemudian dia berjalan menghampirinya dengan langkah cepatnya seolah menunjukkan kemarahannya.


"Katakan Ruby, di mana Ayana berada? Kamu apakan dia? Katakan, atau akan aku--"


"Sepertinya dia akan mati tanpa aku susah payah mengenyahkannya," sahut Ruby sambil tertawa dan melihat ke arah Ayana yang sedang ditolong oleh perawat.


Rafael mengikuti arah pandang Ruby. Dia membelalakkan matanya melihat sosok yang sedang dipindahkan ke brankar oleh perawat itu memakai baju yang sama dengan Ayana.


Dia menoleh ke arah Ruby dan menatap penuh amarah padanya seraya berkata,


"Jika terjadi sesuatu dengan istri dan anakku, akan aku pastikan untuk memusnahkan mu!"


Kemudian tatapan mata Rafael tertuju pada kedua petugas sipir yang berada di belakang perawat yang sedang memegang kursi roda Ruby. Kemudian di berkata,


"Apa tugas kalian sebenarnya? Kenapa dia bisa membuat istriku terluka? Akan aku pastikan kalian menerima akibatnya jika terjadi sesuatu dengan istriku!"


Setelah mengatakan itu, Rafael dengan segera berlari menuju istrinya yang sedang berada di atas brankar dengan didorong oleh beberapa perawat yang menolongnya.


Perawat dokter Sani bertanya pada perawat yang menolong Ayana tentang apa yang terjadi pada Ayana.


"Ada apa ini? Kenapa dokter Ayana bisa seperti ini?" tanya perawat tersebut dengan paniknya pada perawat yang sedang menolong Ayana.

__ADS_1


"Dokter Ayana tadi--"


"Ay! Sayang! Kamu kenapa?" Rafael berseru menyela ucapan perawat itu ketika dia sudah berada di dekat istrinya.


Ayana yang meringis kesakitan menoleh ke arah suaminya. Dengan mata yang berkaca-kaca dia berkata,


"Raf, aku... maafkan aku...."


Rafael menggenggam erat tangan istrinya yang sedang didorong oleh para perawat menuju ruangan dokter Sani. Dia menggelengkan kepalanya, tidak tega melihat wajah istrinya yang terlihat sangat kesakitan.


"Jangan berkata seperti itu Sayang... Aku mohon... Bertahanlah. Jangan tinggalkan aku sendiri," tutur Rafael dengan suara yang bergetar dan air mata yang menetes di pipinya.


Ayana hanya meringis kesakitan sambil tangannya memegang perutnya. Pandangan mata Rafael kini mengarah pada perut istrinya yang menjadi pusat rasa sakitnya.


Namun, matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya. Kaki Ayana terdapat cairan warna merah segar yang menetes. Sontak saja Rafael bertambah panik dan berkata,


"Sayang, kamu harus bertahan. Jangan tinggalkan aku. Ingat janji kita. Tolong jangan ingkari janji itu."


Tanpa sadar Air mata Rafael menetes di pipinya. Bahkan suaranya tersendat-sendat ketika berbicara pada istrinya.


Brankar tersebut dibawa masuk ke dalam ruangan praktek dokter Sani. Perawat yang biasanya membantu dokter Sani berkata,


Dengan segera dokter Sani menghampiri Ayana. Dia memeriksa Ayana dan berkata,


"Cepat bawa dokter Ayana ke ruang tindakan. Kita akan memeriksanya di sana."


Rafael terkesiap mendengar perintah dokter Sani. Dia mengerti apa arti dari perintah tersebut. Kemudian dia berkata,


"Dok, apa maksudnya? Ada apa dengan istri saya? Usia kandungannya masih tujuh bulan. Lalu... kenapa dokter--"


"Maaf Pak, kita bicarakan nanti. Saya harus segera memeriksa kembali istri Bapak," sahut dokter Sani yang bergegas keluar dari ruangannya untuk menyusul Ayana yang sudah terlebih dahulu dibawa para perawat menuju ruang tindakan untuk persalinan.


Rafael tersadar jika saat ini dia telah ditinggalkan oleh para perawat tadi yang memindahkan Ayana ke ruangan lain, sesuai dengan perintah dokter Sani.


Dengan segera dia berlari mengejar istrinya yang masih berada di atas brankar dengan didorong oleh beberapa perawat.

__ADS_1


"Rafael! Sayang, tolong bantu aku! Mereka menyakitiku! Aku ingin pulang denganmu!" seru Ruby yang masih berada di sana dan sedang berdebat dengan petugas sipir.


Rafael mengacuhkannya. Dia masa bodoh dengan teriakan Ruby yang seolah memiliki hubungan dekat dengannya. Dia hanya berlari menuju istrinya.


Fokus dan perhatian Rafael hanya untuk Ayana seorang. Dia tidak bisa memikirkan hal lain selain istrinya yang sedang berjuang untuk hidupnya dan anak yang ada dalam kandungannya.


Tangan Rafael menyambar tangan istrinya yang masih berada di atas brankar. Dia pun berkata,


"Sayang bertahanlah. Aku yakin kamu bisa. Aku yakin kita akan tetap bersama sesuai dengan janji kita. Dan kita bisa hidup bersama dengan anak-anak kita."


Ayana hanya meringis kesakitan merasakan rasa sakitnya yang berasal dari perutnya. Bahkan saat ini dia enggan mengatakan sesuatu untuk menghibur suaminya. Dia hanya sibuk merasakan rasa sakit pada perutnya.


"Rafael! Tunggu aku!" teriak Ruby yang masih berusaha mencegah Rafael meninggalkannya.


"Awww....sakit...," rintih Ayana dengan suara yang tersendat dan meringis kesakitan ketika mendengar suara Ruby yang bagaikan momok menakutkan baginya.


Rafael mengecup tangan istrinya sambil berjalan di sebelah brankar Ayana yang berjalan menuju ruang tindakan seraya berkata,


"Tidak. Kamu tidak boleh lemah. Ayana istriku yang sangat kuat. Bertahanlah Sayang. Bertahan dan lakukan yang terbaik demi suamimu ini."


Ayana meneteskan air matanya. Dia menganggukkan kepalanya dan berkata dengan sedikit terbata-bata,


"Demi anak kita juga."


Mendengar hal itu, Rafael menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias. Kemudian dia berkata,


"Bertahanlah Sayang. Aku tau kamu pasti bisa. Kamu istri dan ibu yang paling luar biasa. Berjuanglah untuk kami. Agar kita bisa berkumpul dan bahagia bersama."


Para perawat yang berada di dekat mereka hanya diam dan larut mendengarkan ucapan Rafael pada istrinya. Mereka sangat tahu bagaimana cintanya Rafael pada Ayana. Sudah bukan rahasia lagi di rumah sakit tersebut betapa indah dan romantisnya hubungan mereka berdua.


Rafael ikut masuk ke dalam ruangan tersebut. Dokter Sani tidak melarangnya karena dia tau betapa cintanya Rafael pada Ayana. Dan dia juga tau jika Rafael tidak akan pernah mau meninggalkan Ayana sendirian, apa lagi dalam keadaan seperti sekarang ini.


Dokter Sani mulai memeriksa dengan seksama keadaan Ayana dan bayi dalam kandungannya. Dengan bantuan alat-alat medis yang berada di ruangan tersebut, dia menemukan sesuatu.


Matanya terbelalak ketika melihat layar USG yang sedang dipakainya untuk memeriksa Ayana. Dia menghela nafasnya karena merasa apa yang diperiksanya sedari tadi sesuai dengan apa yang dilihatnya pada alat-alat medis yang dipakainya saat ini.

__ADS_1


Dokter Sani berjalan menghampiri Rafael dan berkata,


"Pak, saya ingin membicarakan sesuatu dengan anda."


__ADS_2