Ternyata Suamiku Luar Biasa 2

Ternyata Suamiku Luar Biasa 2
Bab 14 Pengintai


__ADS_3

Orang yang menyusup di dalam rumah orang tua Ayana dan mengintai gerak-gerik Ayana beserta Rafael merasa sangat kesal dan marah melihat keromantisan mereka berdua.


"Sial!" ucapnya lirih dengan penuh penekanan.


Praaaang!


Tanpa sadar tangannya mengambil sebuah piring yang berada di dekatnya dan membantingnya untuk melampiaskan kekesalannya.


Sontak saja Ayana dan Rafael berjingkat kaget. Ayana mencengkeram lengan suaminya dengan erat memperlihatkan kekhawatirannya.


"Sayang... Apa itu?" tanya Ayana dengan melihat ketakutan pada sekitarnya.


Rafael mengepalkan tangannya menahan kemarahannya. Dia akan menghabisi siapa saja yang membuat istrinya ketakutan. Tidak peduli siapa pun itu.


"Tenang Sayang, ada aku di sini," bisik Rafael di telinga istrinya.


Rafael beranjak dari duduknya berniat untuk memeriksa di dapur, tempat di mana suara tadi berasal.


Namun, Ayana menarik tangannya. Dia menghentikan langkah Rafael agar tidak meninggalkannya sendirian.


"Jangan Raf," ucap Ayana lirih dengan matanya yang berkaca-kaca sambil menggelengkan kepalanya.


"Sebentar saja ya," tukas Rafael sambil tersenyum dan memegang tangan Ayana untuk meyakinkannya.


"Tapi Raf... Aku takut...," ucap Ayana kembali seolah tidak merelakan suaminya meninggalkannya.


Rafael tidak bisa meninggalkan istrinya sendiri dalam ketakutan. Dia mengurungkan niatnya untuk mencari tahu dari mana suara itu berasal.


Sejak kejadian teror itu, Rafael selalu waspada terhadap apa pun. Dan dia pun tidak berani meninggalkan Ayana sendirian tanpa adanya orang di sisinya.


Rafael membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Dia memeluk erat tubuh istrinya dan mengusap-usap punggungnya untuk menenangkannya.


Namun, mata Rafael tetap mencari tahu apa yang terjadi di tempat yang dicurigainya. Dengan segera Rafael membawa istrinya masuk ke dalam kamarnya.


"Sayang, aku ke kamar mandi dulu ya. Kamu di sini saja. Aku hanya sebentar saja kok," tutur Rafael pada istrinya.


"Raf...," panggil Ayana menghentikan langkah kaki Rafael yang hendak membuka pintu kamar tersebut.


Rafael menoleh ke arah istrinya. Dia tersenyum dan berkata,

__ADS_1


"Jangan khawatir, hanya sebentar saja."


Ayana menganggukkan kepalanya dan berkata lirih dengan wajah yang terlihat sangat cemas,


"Hati-hati Raf."


Rafael tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Setelah itu dia keluar dari kamar tersebut dengan perlahan, mengendap-endap agar tidak ada yang mendengar langkah kakinya.


Aku yakin ada yang tidak beres. Dan sangat tidak mungkin jika orang-orang suruhan Papa akan berbuat seperti itu, Rafael berkata dalam hatinya.


Dengan sangat hati-hati sekali Rafael menuju ke dapur. Tangannya mengepal ketika mendapati pecahan piring di lantai dan tidak terdapat siapa pun di sana.


Matanya tetap menyisir ke sekelilingnya. Dan tidak ada sesuatu yang mencurigakan baginya.


Sial! Siapa sebenarnya yang melakukan ini? Rafael berkata dalam hatinya dengan tatapan membunuhnya yang seolah sedang mencari mangsanya.


Merasa tidak mendapatkan apa-apa, Rafael segera mengambil ponsel yang ada dalam saku celananya. Dia mengirimkan pesan pada orang yang ditugaskan papanya untuk menjaga mereka.


Setelah dia memastikan sekali lagi bahwa tidak ada yang mencurigakan di sana, dia kembali masuk ke dalam kamar untuk menemui istrinya.


Rafael tersenyum pada istrinya di balik wajah cemasnya. Perlahan dia mendekati istrinya dan mengulurkan tangannya seraya berkata,


Seketika mata Ayana berbinar. Dia melupakan hal penting yang ingin sekali dilakukannya ketika berada di rumah orang tuanya.


Ayana menyambut tangan Rafael dan beranjak dari duduknya. Tangan Rafael melingkar di pinggang istrinya dan mengajaknya berjalan keluar rumah.


Angin pantai yang berhembus sore ini membuat sepasang suami istri itu sangat bahagia. Mereka merasakan kebahagiaan yang tidak ingin mereka lupakan.


Mata Rafael selalu waspada meskipun bibirnya tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Sesuai rencananya, dia memancing orang yang sedang mengintainya tadi agar mengikutinya ke tempat yang lebih leluasa.


Hanya di pantai ini lah satu-satunya tempat yang bisa menangkap pengintai tersebut. Dia berusaha memancingnya agar mengikuti mereka hingga para orang suruhan Antonio bisa menangkapnya.


Dia berusaha sesantai mungkin meskipun dia sedang waspada agar istrinya tidak merasa curiga.


Selama beberapa saat mereka berada di pantai tersebut, tidak ada hal yang mencurigakan di sekitarnya. Bahkan orang-orang yang menjaga mereka tidak melihat keanehan apa pun di sana.


"Rafa... Coba lihat itu," ucap Ayana sambil menunjuk matahari yang sedang terbenam.


Rafael berdiri di belakang Ayana dan memeluknya dari belakang. Tangannya yang melingkar pada pinggang Ayana mengusap lembut perut istrinya itu untuk mengajak bayi mereka berinteraksi, menikmati indahnya matahari yang sedang terbenam di hadapan mereka.

__ADS_1


"Indah sekali ya Raf," ucap Ayana sambil menyandarkan punggungnya pada dada Rafael.


"Sangat indah. Sama seperti kamu yang selalu indah bagiku," ujar Rafael yang tersenyum melihat indahnya pemandangan alam yang tersaji di hadapannya.


Ayana tersenyum malu. Dia mengambil tangan suaminya yang berada di perutnya dan menciumnya dengan penuh perasaan.


Perasaan Ayana itu dapat dirasakan oleh Rafael. Dia mencium pipi istrinya dengan lembut dan penuh cinta.


Namun, bibir Rafael kini bergerak menuju ke tempat lainnya. Bibir itu mendarat pada bibir istrinya yang selalu menggodanya. Ayana pun tidak menolak. Mereka larut dalam suasana, sehingga ciuman itu saling berbalas hingga membuat orang yang melihatnya sangat iri pada mereka.


Tidak jauh dari tempat mereka berada, ada sepasang mata yang menatap kesal dan penuh amarah pada mereka berdua.


"Sialan! Apa yang sedang mereka lakukan? Sepertinya mereka sangat menikmati masa-masa kebahagiaan mereka. Lihat saja, akan aku hancurkan perlahan-lahan kebahagiaan kalian," ucap seseorang yang selalu mengintai Ayana dan Rafael.


Merasa tidak tahan melihat apa yang sedang dilakukan oleh Ayana dan Rafael, orang tersebut meninggalkan tempat persembunyiannya itu dan berjalan ke arah lain. Dia menyeringai membayangkan rencana yang akan dijalankannya itu bisa membuat Ayana kembali terguncang.


Langit semakin gelap. Rafael mengajak Ayana untuk kembali pulang. Pemandangan menjelang malam itu semakin indah, membuat mereka tidak rela meninggalkan tempat itu.


Rafael menatap wajah istrinya yang masih saja memandang sekitarnya dengan tatapan kagum.


"Masih ingin di sini?" tanya Rafael pada Ayana yang sedang berjalan bersamanya.


Ayana tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berkata,


"Dulu, setiap hari aku pasti tidak pernah melewatkan pemandangan ini. Tapi sekarang, aku gak boleh egois. Ada bayi kita yang harus aku lindungi."


Rafael tersenyum dan mengusap lembut rambut istrinya. Dia memeluk erat istrinya agar tidak merasakan dinginnya angin saat itu. Bagi mereka saat ini, perjalanan mereka dari pantai menuju ke rumah orang tua Ayana pun menjadi memory indah bagi mereka berdua. Terlebih dengan adanya bayi dalam kandungannya.


Ketika akan sampai di rumah orang tua Ayana, mata mereka menangkap benda yang ada di teras rumah tersebut.


"Rafa, itu apa? Kenapa ada box di situ? Perasaan tadi gak ada deh pas kita berangkat ke pantai," tanya Ayana sambil menunjuk box berukuran besar yang ada di teras rumah Ayana.


"Coba tanya Ibu. Barangkali Ibu tau," jawab Rafael sambil berjalan bersama Ayana mendekati box tersebut.


"Ibu... Ini ada kotak di teras punya siapa?!" seru Ayana pada ibunya yang berada di dalam rumah.


"Kotak? Ibu tidak tau jika di teras ada kotak. Coba kamu lihat," ucap Bu Anisa sambil berjalan dari dalam rumahnya.


Box tersebut hanya merupakan box mi instant yang sama sekali tidak terlihat mencurigakan. Dengan penasarannya Rafael membuka box tersebut diikuti dengan Ayana yang berada di sampingnya.

__ADS_1


"Kyaaaaaaaa...!!!" teriak Ayana dengan berjongkok dan menutup kedua telinganya.


__ADS_2