
Peneror dan dokter gadungan yang menyusup ke dalam kamar istri anda adalah Ruby, ucap orang suruhan Rafael yang menyelidiki tentang teror di rumahnya.
"Ruby?" celetuk Ayana setelah jarinya tidak sengaja mematikan panggilan telepon tersebut.
Di dalam kamar mandi, Rafael terkesiap ketika mendapati ponsel yang dibawanya bukanlah ponsel miliknya. Ternyata yang dibawanya adalah ponsel milik istrinya.
"Sial! Kenapa jadi ponsel Ayana yang aku ambil tadi?" gerutu Rafael dengan frustasinya.
Rafael segera keluar dari kamar mandi bermaksud untuk menukar ponselnya dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Namun, ketika dia keluar dari kamar mandi, matanya tertuju pada istrinya yang sedang menatap layar ponsel di tangannya dengan ekspresi wajah kagetnya.
"Sayang... Kenapa Ay? Ada apa? Kenapa kamu terlihat kaget seperti itu?" tanya Rafael sambil berjalan mendekati istrinya.
Sontak saja Ayana yang masih bergelut dengan pikirannya menoleh ke arah Rafael dan berkata lirih,
"Ruby."
"Ruby?" tanya Rafael dengan dahinya yang mengkerut.
Ayana menarik tangan suaminya dan menatap intens manik mata suaminya seraya berkata,
"Apa benar si Rubah betina itu yang melakukan semua ini?"
Rafael terkesiap mendengar pertanyaan dari istrinya. Dia melihat ke arah ponselnya yang ada di tangan istrinya.
Sial! Pasti Ayana mengetahui dari HP ku, Rafael merutuki kebodohannya.
"Rafa... Jawab. Benarkah yang dikatakan oleh orang tadi?" tanya Ayana dengan matanya yang berkaca-kaca.
Rafael meraih tubuh istrinya dan membawa dalam dekapannya. Salah satu tangannya mengambil ponsel miliknya dari tangan Ayana dan meletakkannya di atas meja yang tidak jauh dari tempatnya.
Diusapnya perlahan punggung istrinya itu seraya berkata,
__ADS_1
"Tenanglah Sayang, jangan takut. Aku akan selalu melindungi mu dan anak kita. Aku tidak akan membiarkan wanita tidak waras itu mengganggu kehidupan keluarga kita."
"Tapi Raf, dia... Dia Ruby. Dia Rubah betina yang tidak berhasil mengacaukan pernikahan kita waktu itu. Aku yakin dia kembali untuk membalas dendam pada kita. Kenapa dia sudah dibebaskan dari penjara? Harusnya dia masih meringkuk di dalam penjara sampai dia sadar dan tidak melakukan kejahatan lagi," tukas Ayana yang tidak terima jika Ruby kembali mengganggu kehidupannya.
Rafael sedikit mengurai pelukannya. Dia menatap mata istrinya penuh dengan rasa cinta dan mengusap air mata yang menetes di pipi istrinya seraya berkata,
"Dia sudah menjalani masa hukumannya. Dan kehamilannya tidak bisa diselamatkan. Mungkin karena itulah dia mengganggu kita lagi karena mengetahui kamu sedang hamil."
Ayana menghela nafasnya yang terasa berat di dadanya. Bahakan air matanya yang menetes kini merupakan air mata ketakutannya. Dia takut jika Ruby dengan kenekatannya itu mencelakainya dan anak yang ada dalam kandungannya.
"Tapi dia sangat nekat Sayang... Aku takut jika dia mencelakai anak kita yang bahkan belum lahir ke dunia," ucap Ayana dengan bibirnya yang bergetar.
Tiba-tiba saja bibir Rafael menempel pada bibir istrinya. Dia tidak mau jika istrinya itu mengatakan hal yang buruk tentang dirinya dan anaknya.
Diraupnya bibir menggoda istrinya itu dengan perlahan. Sehingga membuat istrinya terbuai dan lupa akan kekhawatiran dan ketakutannya.
Tidak dipungkiri jika Ayana pun merindukan saat-saat seperti itu bersama dengan suaminya. Dia menyambut hangat ciuman dari suaminya dan membalasnya. Ciuman mereka begitu menuntut hingga mereka sama-sama terbuai dengan apa yang mereka lakukan.
Perlahan Rafael menyudahi ciuman mereka. Dia menatap intens manik mata istrinya dan mengusap lembut bibir istrinya yang basah karena pertukaran saliva mereka.
Ayana hanya terdiam. Dalam hatinya membenarkan apa yang dikatakan oleh suaminya. Perlahan dia menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada suaminya seraya berkata,
"Maaf. Aku sudah membuatmu khawatir."
"Tidak Sayang. Bukan karena itu. Aku baik-baik saja. Aku hanya tidak mau terjadi apa-apa pada kamu dan bayi yang ada dalam kandunganmu dan juga aku tidak mau jika kalian bersedih," sahut Rafael dengan tatapan matanya yang terlihat bersungguh-sungguh.
Ayana tersenyum dan mengusap lembut pipi Rafael seraya berkata,
"Aku bahagia karena kamulah yang menjadi suamiku. Aku harap tidak akan ada yang berubah di antar kita dan keluarga kita. Hanya kebahagiaan yang akan selalu menyertai keluarga kita."
Rafael menempelkan hidung mereka dan menggerak-gerakkannya ke kanan dan ke kiri seraya berkata,
"Amin... Aku yakin itu Sayang. Dan aku akan selalu berusaha untuk membahagiakan kamu dan anak-anak kita."
__ADS_1
Ayana memeluk erat tubuh suaminya untuk merasakan betapa besarnya cinta suaminya itu padanya.
Rafael mampu membuat Ayana menjadi nyaman kembali. Setidaknya untuk saat ini dia tidak lagi merasa khawatir dan ketakutan setelah teror yang diterimanya. Hanya saja terkadang Ayana masih bermimpi buruk tentang teror dan ancaman yang diberikan Ruby padanya.
...----------------...
Hari pun berlalu. Sembilan hari sudah Ayana berada di rumah sakit tersebut. Dia merasa lebih baik dari sebelumnya. Dan Ruby masih dalam pencarian orang yang ditugaskan oleh Rafael.
"Dok, apa saya sudah boleh pulang?" tanya Ayana pada dokter Sani ketika memeriksanya.
"Jika malam ini kondisi dokter Ayana lebih baik lagi, maka besok sudah boleh pulang. Tapi dengan catatan, dokter Ayana harus mematuhi semua saran yang saya berikan," jawab dokter Sani setelah memeriksa keadaan Ayana.
"Saya sudah sehat dok. Bahkan saya merasa sangat sehat sekarang ini," sahut Ayana seolah membujuk dokter Sani untuk menyetujui permintaan kepulangannya.
"Iya, saya percaya. Itu karena dokter Ayana seorang ibu yang hebat," tukas dokter Sani sambil tersenyum menanggapi perkataan Ayana.
Rafael tersenyum senang melihat perkembangan istrinya yang semakin membaik. Akan tetapi dia resah karena besok dia harus bersiap menghadapi Ruby di luar sana yang kapan saja bisa mengganggu istri dan bayi dalam kandungannya.
Malam itu merupakan malam terakhir Ayana berada dalam kamar inap rumah sakit tersebut. Dia sudah tidak sabar untuk menghirup udara luar yang sudah sangat dirindukannya.
"Rafa... sayang... Bisakah aku tinggal di rumah orang tuaku untuk sementara?" tanya Ayana pada suaminya.
"Di desa?" tanya Rafael yang sedikit terkejut mendengar permintaan dari istrinya.
Ayana menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berkata,
"Aku rindu suasana di sana. Aku ingin melihat pantai, mendengar suara ombak dan merasakan angin di pantai."
Rafael tersenyum mendengar perkataan istrinya. Tiba-tiba saja dia teringat akan peristiwa yang membuat mereka dinikahkan secara paksa oleh warga sekitar dan berujung saling mencintai, hingga kini mereka sedang menantikan kelahiran anak mereka.
"Apa di pantai tempat kita pertama bertemu?" tanya Rafael sambil tersenyum menggoda istrinya.
Ayana tertawa mendengar pertanyaan suaminya yang membuatnya teringat akan peristiwa awal pertemuan mereka.
__ADS_1
Ayana mendekatkan wajahnya pad wajah suaminya. Kemudian dia berkata,
"Sayang... Apa kamu mau mengambilkan ku kelapa dari pohon yang waktu itu?"