Ternyata Suamiku Luar Biasa 2

Ternyata Suamiku Luar Biasa 2
Bab 13 Manisnya cinta


__ADS_3

Bau minyak oles yang dibalurkan oleh Ayana menyeruak ke dalam indera penciuman Rafael. Aroma yang sedari kecil sangat dihindarinya itu membuatnya sangat peka pada bau tersebut.


"Ay... Ini apa?!" seru Rafael dengan ekspresi seolah sedang menangis.


Ayana tersenyum lebar meskipun tidak terlihat oleh suaminya. Masih dengan membalurkan minyak tersebut ke semua badan suaminya, Ayana pun berkata,


"Ini ramuan khas dari keluargaku Raf. Ramuan ini turun temurun dari kakek buyut aku. Kamu tenang saja, pasti nanti badanmu lebih enakan setelah memakai ini."


"Tapi aku kan digigit semut Ra, bukan sedang dipijit. Jadi sepertinya gak perlu pakai minyak ini segala," sahut Rafael sambil berusaha beranjak dari tidurnya yang dalam posisi sedang tengkurap saat ini.


Ayana menahan tubuh Rafael agar tidak bisa bergerak dan bangun dari tidurnya seraya berkata,


"Siapa yang nyuruh bangun?"


Kata-kata Ayana itu membuat Rafael bergidik ngeri. Hanya dia yang mengetahui jika istrinya saat ini sedang marah dan tidak mau jika dibantah. Rafael pun kembali pada posisinya. Dia tidur tengkurap tanpa bergerak resah seperti tadi.


Ayana kembali membalur tubuh suaminya dengan menggunakan minyak oles ramuan keluarganya. Dia juga memijat badan suaminya dengan keahlian memijatnya yang belum pernah diketahui oleh Rafael selama ini.


Perlahan Rafael memejamkan matanya. Dia merasa sangat rileks saat ini, hingga dia tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa menikmati pijatan lembut dan menenangkan dari tangan istrinya.


"Sayang... Rafa... Bagaimana? Apa masih gatal-gatal dan sakit?" tanya Ayana yang masih dalam keadaan memijat suaminya.


Terdengar dengkuran halus dari mulut Rafael yang sedikit terbuka. Ayana mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya yang sedang memejamkan matanya dengan mulut yang sedikit terbuka.


Bibir Ayana melengkung ke atas melihat wajah damai Rafael. Perlahan dia pun merebahkan tubuhnya di samping Rafael dan menghadap ke arah suaminya itu untuk memperhatikan wajah damai suaminya.


Tangan Ayana mengikuti garis wajah suaminya. Jemari lentiknya menyentuh bagian alis dan bergerak menyusuri hidung dan bibir suaminya.


Ganteng sekali suamiku. Aku sangat beruntung mendapatkan suami sepertimu. Kamu sangat baik, pengertian, sayang dan cinta pada istri serta anakmu. Dan yang membuat para wanita lain iri padaku adalah kegantengan mu ini, Ayana berkata dalam hatinya disertai senyumannya.


Tanpa terasa, mata Ayana pun terpejam. Dia tertidur setelah puas memandang wajah suaminya.


Tok... Tok... Tok...


"Ayana... Ayana... Makan dulu Nak."


Terdengar suara ketukan pintu disertai seruan memanggil nama Ayana dari luar pintu kamarnya.

__ADS_1


Perlahan mata Ayana terbuka. Dia menatap wajah suaminya yang masih memejamkan matanya. Tanpa sadar bibir Ayana mendekati bibir suaminya dan dengan cepatnya bibirnya mendarat pada bibir suaminya.


Merasa ada pergerakan dari Rafael, Ayana dengan cepatnya menjauhkan badannya. Dia beranjak dari tidurnya.


Greeep?


Tangan Ayana dipegang erat oleh Rafael. Dengan seringainya itu Rafael menyiratkan keinginannya.


Ayana menggelengkan kepalanya. Dia mengerti arti tatapan dan seringaian dari suaminya itu.


Namun, sayangnya suaminya itu tidak mau melepaskannya. Rafael beranjak dari tidurnya dan berbisik di telinganya,


"Kamu membangunkan harimau yang sedang tidur."


Seketika bibir Ayana dibungkam oleh bibir Rafael. Ciuman yang diberikan oleh Rafael begitu lembut dan memabukkan. Akan tetapi ciuman tersebut semakin lama semakin menuntut. Mereka berdua terbawa oleh situasi yang ada.


Tok... Tok... Tok...


"Ayana... makan dulu...! Makanannya sudah siap!" seru Bu Anisa dari luar pintu kamar Ayana sambil mengetuk pintu tersebut.


Seketika ciuman mereka berhenti. Dengan segera Ayana beranjak dari tempat tidurnya dan membukakan pintu kamar tersebut.


Bu Anisa tersenyum melihat penampilan putrinya yang terkesan sedikit berantakan. Kemudian dia berkata,


"Ajak suamimu makan dulu, setelah itu teruskan kegiatan kalian. Ibu tidak akan mengganggu lagi."


Sontak saja Ayana gugup mendengar perkataan ibunya. Bahkan semburat merah kini tersirat jelas di wajahnya.


"Emmm... Ibu... Apaan sih... Kita cuma ketiduran saja barusan," ujar Ayana sambil tersipu malu pada ibunya.


"Ya sudah... Kalian makan saja sekarang. Ibu dan Bapak sudah makan tadi. Sekarang kami akan ke kebun mengambil sayuran," tutur Bu Anisa sambil tersenyum geli pada putrinya.


Ayana merasa malu mendengar perkataan ibunya yang terkesan menyindirnya. Dia menutup pintu kamarnya dan segera menghampiri suaminya.


"Kamu sih Raf. Malu kan sama ibu," ucap Ayana sambil memukul-mukul lengan suaminya menggunakan bantal yang diraihnya dari tempat tidurnya.


Rafael hanya terkekeh mendengar omelan istrinya. Dia tidak menghindar dari pukulan istrinya. Dengan senang hati dia menerima omelan dan pukulan sayang dari istrinya itu. Bahkan pukulan yang tidak bertenaga dari istrinya itu tidak terasa baginya.

__ADS_1


Semakin lama pukulan Ayana semakin lemah. Tenaganya sudah mulai terkuras. Dia menghentikan pukulannya itu.


Rafael meraih tangan Ayana dan mengusapnya lembut seraya meniup-niup telapak tangan istrinya agar tidak merasakan sakit setelah memukulnya. Kemudian dia mencium telapak tangan istrinya dengan sangat lembut dan lama, setelah itu dia mencium punggung tangan istrinya dan berkata,


"Jangan sakiti tanganmu karena ingin memukulku. Lebih baik kamu menyuruhku memukuli diriku sendiri saja dari pada tanganmu terluka."


Tiba-tiba air mata Ayana menetes dengan sendirinya. Dia menggapai tubuh suaminya dan memeluknya seraya berkata,


"Maafkan aku...."


Rafael mengusap punggung istrinya dan berkata,


"Gak ada yang perlu dimaafkan. Kamu gak salah. Dan gak ada yang salah. Ayo kita keluar dan makan masakan Ibu yang paling enak se dunia."


Ayana mengurai pelukannya. Dia menatap wajah suaminya dengan penuh rasa bersalah. Sedangkan Rafael mengusap air mata istrinya dengan sangat lembut seraya berkata,


"Jangan menangis Sayang.... Hatiku akan sangat sedih dan terluka jika melihat air matamu menetes."


Seketika Ayana menghentikan tangisnya. Dia menahan sekuat tenaga air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Memang kehamilannya ini membuatnya lebih cengeng dan lebih perasa. Akan tetapi, Rafael mengetahui semua itu dan dengan sabarnya dia bisa menenangkan istrinya.


Tidak hanya itu saja, Rafael pun bisa membuat mood istrinya selalu baik. Dia benar-benar berusaha menjaga mood istrinya agar tidak menjadi stres atau pun bersedih.


Di ruang makan, Ayana tetap saja dimanjakan oleh Rafael. Dengan telatennya Rafael menyuapi Ayana hingga istrinya itu menghabiskan makanannya.


"Sudah Raf, aku sudah kenyang," ucap Ayana sambil menutup mulutnya dan menggelengkan kepalanya.


"Satu lagi ya," bujuk Rafael dengan lembut.


Mulut Ayana pun terbuka. Satu sendok makanan itu pun berhasil masuk ke dalam mulut Ayana.


Ayana mengambil alih sendok yang ada di tangan Rafael. Dia menyuapkan makanan ke dalam mulut suaminya dan tersenyum manis padanya.


"Kalau yang nyuapin pakai senyum seperti ini, bisa-bisa aku diabetes nih," ucap Rafael sambil mencubit gemas hidung mancung istrinya.


Pengintai yang mengikuti Rafael dan Ayana berhasil masuk ke dalam dapur Ayana. Dia mengintip Ayana dan Rafael yang sedang makan dengan mesranya.


Kilatan amarah terlihat jelas di matanya. Dia pun berkata lirih,

__ADS_1


"Sial!"


Praaaang!


__ADS_2