Ternyata Suamiku Luar Biasa 2

Ternyata Suamiku Luar Biasa 2
Bab 27 Interogasi


__ADS_3

Ruby menahan senyumnya memikirkan ide gilanya yang tiba-tiba saja hadir di dalam pikirannya. Dia menjadi penurut dan diam sepanjang perjalanan menuju kantor polisi.


Setelah beberapa jam perjalanan dari desa menuju ke kantor polisi yang ada di kota, mobil yang ditumpangi oleh Ruby dan beberapa bodyguard itu sampai di depan kantor polisi yang mereka tuju.


Di depan kantor polisi tersebut, sudah banyak orang yang menunggu kedatangan mereka. Di sana terlihat pengacara keluarga Atmaja yang ditugaskan oleh Antonio Atmaja bersama dengan beberapa pihak kepolisian yang bertanggung jawab atas kasus tersebut.


Semua sudah dilaporkan oleh pengacara keluarga Atmaja. Pihak kepolisian hanya akan memprosesnya tanpa memasukkan nama keluarga Atmaja, tidak terkecuali Ayana yang merupakan istri dari Rafael Atmaja.


"Cepat turun!" perintah salah satu bodyguard yang berada di dalam mobil Ruby.


Mereka menjaga dengan sangat ketat Ruby agar tidak lagi merepotkan mereka. Bodyguard yang menjaga Ruby bukan hanya satu mobil bersama dengan dia saja, ada satu mobil yang mengikuti mereka dan mobil tersebut berisikan bodyguard yang lainnya.


Ruby keluar dari mobil tersebut dengan kawalan ketat dari para bodyguard tersebut yang mengerubunginya. Dia menghela nafasnya karena dia benar-benar diperlakukan layaknya seorang penjahat yang sangat berbahaya.


Tangannya yang diikat ditarik oleh bodyguard yang berjalan di sampingnya. Dan bodyguard yang berada di belakangnya mendorongnya agar berjalan lebih cepat lagi.


"Cepat jalannya! Lelet banget sih!" ucap salah satu bodyguard tersebut.


Ruby hanya menundukkan kepalanya dan menyeringai menuruti perintah mereka. Dalam hatinya berkata,


Akan ku turuti perintah kalian. Lihat saja nanti, pasti akan aku balas kalian semua.


Kini Ruby sudah berpindah tangan menjadi tahanan kepolisian. Di tempat itu dia harus bersiap untuk menjalani proses hukum sesuai dengan ketentuan yang ada.


"Nama," tanya petugas kepolisian yang bertugas menginterogasi Ruby.


Petugas kepolisian itu berwajah tegas dan garang, sehingga sangat tepat jika menangani Ruby yang sangat licik dan mempunyai banyak akal bulus itu.


Ruby hanya diam saja. Di enggan menjawab apa pun yang ditanyakan padanya.


Polisi tersebut menatap garang pada Ruby. Kemudian dia kembali bertanya dengan kerasnya,


"Nama!"


Ruby masih saja enggan membuka mulutnya, hingga membuat polisi tersebut hilang kesabarannya.


Braaak!


Polisi tersebut menggebrak meja sambil menatap tajam seolah ingin memangsa wanita yang ada di hadapannya itu. Hal itu membuat Ruby gemetar ketakutan. Jari-jari tangannya mencengkeram ujung bajunya dan kakinya bergerak cemas meskipun dia sedang duduk.

__ADS_1


"Kamu bercanda dengan saya?!" tanya polisi tersebut dengan tatapan bengisnya.


Ruby menundukkan kepalanya. Dia terlihat benar-benar ketakutan saat ini. Dalam hatinya berkata,


Kenapa jadi seperti ini? Kenapa berbeda dengan yang sebelumnya? Kalau begini, mana bisa aku melancarkan rencanaku?


Polisi tersebut duduk kembali di kursinya dan bersiap untuk memencet tombol keyboard seraya bertanya,


"Nama."


"Ruby," jawab Ruby lirih seolah terlihat jelas keengganannya dalam menjawab pertanyaan yang diajukan padanya.


"Jawab yang keras! Saya tau kamu tidak bisu," ujar polisi tersebut dengan tegas dan tatapannya menghunus pada Ruby.


"Saya rasa Bapak sudah tau semuanya tentang saya. Jadi, percuma saja saya menjawabnya," ucap Ruby dengan kepalanya yang tertunduk melihat kedua kakinya.


Braaak!


Polisi tersebut kembali menggebrak meja setelah mendengar jawaban dari Ruby. Dia kembali menatap bengis pada Ruby seraya berkata,


"Lancang! Sejak kapan penjahat seperti kamu bisa mengatur saya?"


"Cepat jawab semua pertanyaan yang saya ajukan atau akan saya buat kamu bicara dengan sendirinya," tukas polisi tersebut sambil menyeringai sehingga terlihat sangat menakutkan.


"Nama," tanya polisi tersebut kembali sambil menatap tajam pada Ruby.


"Ruby," jawab Ruby yang terlihat ketakutan ketika menjawabnya.


Polisi tersebut tersenyum tipis mendengar jawaban dari Ruby. Setelah itu dia memulai menginterogasi Ruby sesuai dengan laporan yang diterimanya.


Sempat Ruby menolak menjawab beberapa pertanyaan, sayangnya dia kembali harus menerima gertakan sehingga dia mengatakan semuanya meskipun enggan mengatakannya.


"Apa kamu kenal dengan saudara Satria?" tanya polisi tersebut setelah pertanyaan lainnya sudah dijawab oleh Ruby.


"Tidak," jawab Ruby dengan tegas dan mengalihkan pandangannya pada jari-jari tangannya yang dimainkannya untuk mengurangi kecemasannya.


Polisi tersebut beranjak dari duduknya. Dia duduk di atas meja dan mencengkeram dagu Ruby hingga mendongak melihat ke arahnya.


"Jawab dengan jujur atau akan aku buat kamu tidak akan bisa berbicara selamanya," ancam polisi tersebut dengan tegas dan menekankan semua kata-katanya.

__ADS_1


Polisi tersebut menyeringai dengan tatapan matanya yang sangat menakutkan, sehingga membuat Ruby semakin gemetaran.


"Jawab! Kenal dengan saudara Satria atau tidak?!" seru polisi tersebut yang masih memegang dagu Ruby.


"I-iya. Kenal," jawab Ruby terbata-bata dan gugup karena ketakutan.


Polisi tesebut menghempaskan dengan kasarnya dagu Ruby. Kemudian dia kembali duduk di kursinya sehingga berhadap-hadapan kembali dengan Ruby.


"Apa yang kamu perintahkan padanya?" tanya kembali polisi tersebut pada Ruby.


"Tidak ada. Dia melakukannya sendiri atas dasar kemauannya," jawab Ruby dengan cepatnya.


Polisi tersebut menatap intens manik mata Ruby yang terlihat gelagapan saat ini. Dia kembali menyeringai dan mengambil pistol yang ada di balik jaketnya. Dia memainkan pistol tersebut sambil menatap minat pada Ruby, seolah memberitahukan bahwa pistol tersebut ingin bermain-main dengannya.


Seketika Ruby mengkerut. Dia menundukkan kepalanya sambil memejamkan matanya dan kakinya bergerak cemas seolah ingin segera melarikan diri dari tempat itu.


"Apa kamu masih tidak mau mengaku yang sebenarnya?" tanya polisi tersebut dengan seringainya yang menakutkan.


Dengan terbata-bata Ruby mengakui bahwa dirinya yang menyuruh Satria untuk melakukan teror di rumah orang tua Ayana. Selain itu dia juga menjawab semua pertanyaan yang diajukan padanya.


Akhirnya sesi interogasi sudah selesai. Ruby dimasukkan ke dalam sel jeruji besi yang duku pernah dihuninya.


Tempat itu tidak terasa asing baginya. Bahkan dinginnya lantai dalam ruangan kecil yang dikelilingi oleh jeruji besi itu tidak membuatnya ketakutan.


Saat ini Ruby kembali memikirkan tentang rencananya. Dia ingin segera keluar dari tempat yang mengurung kebebasannya itu.


"Sial! Kenapa aku jadi terkurung di sini? Bagaimana caranya aku bisa melancarkan rencanaku tadi?" gerutu Ruby sambil duduk menekuk kedua kakinya dan memeluknya di pojokan ruangan tersebut.


Polisi yang sedang berada di sana melepas kepergian para bodyguard dari keluarga Atmaja beserta pengacaranya. Mereka menyerahkan Ruby pada pihak kepolisian agar menghukum Ruby dengan seberat-beratnya.


Ruby enggan menyentuh makanan dan minuman yang diberikan padanya. Dia benar-benar melancarkan aksinya agar bisa menjalankan rencananya.


"Makan! Jika kamu tidak makan atau minum, kamu akan mati sia-sia di dalam sel tahanan ini!" ujar polisi yang melihat bertugas menjaga Ruby pada saat itu.


Ruby enggan menyentuh makanan dan minuman tersebut. Dia masih tetap menjalankan aksi mogok makan di dalam ruangan sempit yang dikelilingi jeruji besi itu.


Tiba-tiba Ruby berdiri dari duduknya. Dia memasang wajah mengiba seraya berkata,


"Pak, apakah saya bisa meminta tolong?"

__ADS_1


__ADS_2