Ternyata Suamiku Luar Biasa 2

Ternyata Suamiku Luar Biasa 2
Bab 38 It's Time


__ADS_3

Ruby, wanita yang dalam perjalanan menuju kamar inapnya setelah melakukan pemeriksaan, kini berhenti di tempat yang tidak jauh dari ruang NICU. Dia Menatap bengis penuh dendam pada seorang laki-laki dan perempuan yang sedang bercanda dan tertawa dengan sangat mesra seolah mengejeknya. Dengan tatapan dia berkata,


"Sial! Kenapa bayi itu masih bisa hidup? Kenapa wanita sialan itu masih bisa tertawa saat ini? Aku harus membuatmu menangis darah sebentar lagi. Tunggu saja waktunya tiba."


Kedua sipir yang ditugaskan untuk menjaga Ruby mengikuti arah pandang Ruby. Salah satu di antara mereka berbisik di telinga sipir satunya,


"Bukankah itu laki-laki yang pada saat itu?"


"Dia keluarga pelapor. Dan mereka berdua adalah korban dari wanita ini," balas sipir tersebut berbisik sambil menunjuk dengan dagunya pada Ruby yang ada di depan mereka.


Seketika sipir yang baru tahu akan hubungan antara Ruby dan kedua orang yang sedang dilihatnya itu mengambil alih kursi roda Ruby dari tangan perawat dan mendorongnya dengan cepat masuk ke dalam kamar inap Ruby.


Tentu saja perawat yang tadinya mendorong kursi roda Ruby terkesiap ketika kursi roda tersebut diambil alih oleh sipir tersebut. Dia menoleh ke arah sipir satunya yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri saat ini.


"Mereka berdua, pasangan suami istri itu merupakan korban dari wanita yang sedang kamu rawat," ucap lirih sipir tersebut pada perawat yang sedang menatapnya seolah meminta penjelasan darinya.


Seketika perawat tersebut membelalakkan matanya. Sejenak dia lupa jika wanita yang sedang dirawatnya merupakan tahanan yang sedang terluka. Dan dia tidak mengira jika korban dari tahanan wanita yang dirawatnya itu berada di rumah sakit yang sama dengannya. Terlebih lagi, korban dari tahanan wanita tersebut adalah Ayana, dokter yang pernah bekerja di rumah sakit tersebut.


Sipir itu segera berjalan cepat dengan kaki lebarnya mengejar sipir yang membawa Ruby kembali ke dalam kamarnya. Sontak saja perawat tersebut tersadar. Dia segera mengejar Ruby yang sudah berada jauh di depannya.


Setelah melihat kedua cucunya, bapak dan ibu Ayana mengikuti putri dan menantu mereka menuju kamar inap Ayana yang berada di ruangan VVIP. Di lantai yang sangat menjaga privasi pasiennya itu, mereka bisa dengan nyamannya berbicara dan beristirahat di ruangan super mewah dan besar itu.

__ADS_1


"Bapak dan Ibu menginap di rumah kami saja ya," pinta Ayana pada kedua orang tuanya.


"Tidak perlu. Kami bisa tidur di mana saja. Di luar ruangan ini pun kami bisa tidur," jawab Anisa, ibu Ayana yang merasa sungkan pada menantunya dan kedua besannya.


"Jangan begitu Bu, Rafael sudah menyiapkan Bapak dan Ibu tempat menginap di hotel yang ada di dekat rumah sakit ini. Jadi Bapak dan Ibu bisa dengan cepat datang ke sini jika ingin bertemu dengan cucu-cucu Bapak dan Ibu," ujar Rafael dengan bijaknya.


"Kenapa Bapak Rahman dan Ibu Anisa tidak menginap di rumah kami saja? Jika ingin datang ke rumah sakit, Bapak dan Ibu bisa bareng bersama dengan kami saja," sahut Rania yang tidak setuju dengan usulan putranya dan keinginan besannya.


Anisa dan Rahman saling menoleh seolah mereka saling bertanya mengenai pendapat masing-masing melalui tatapan mata mereka. Kemudian Anisa menatap Rania sambil tersenyum dan berkata,


"Kami ambil jalan tengah saja ya. Kami berdua akan menginap di hotel yang sudah disediakan oleh Rafael. Maaf Bu, bukannya kami tidak mau untuk menginap di rumah Bapak dan Ibu, hanya saja kami menyayangkan tempat yang sudah disediakan Rafael untuk kami. Sayang sekali jika tempat yang sudah dibayar itu tidak kami tempati."


Rania dan Antonio saling memandang. Mereka tersenyum mendengar perkataan Anisa. Dalam hati mereka tidak berniat menertawakan keluguan dan ketidaktahuan besannya, mereka hanya bersyukur mempunyai besan yang jujur.


Rafael tersenyum pada Bapak dan Ibu Ayana ketika kedua mertuanya tersebut tersenyum padanya. Dengan segera Rafael mengambil ponselnya dan memerintahkan pada orang kepercayaannya agar mengurus tempat menginap untuk kedua mertuanya itu.


"Jangan khawatir Pak, Bu. Sopir yang mengantar Bapak dan Ibu akan selalu standby di sana agar ketika Bapak dan Ibu akan ke mana-mana tidak bingung mengenai transportasi yang akan Bapak dan Ibu gunakan. Bapak dan Ibu juga bisa kapan saja datang ke sini menemui Ayana dan cucu-cucu Bapak dan Ibu yang sangat menggemaskan itu," tutur Rafael sambil tersenyum pada kedua mertuanya.


Anisa dan Rahman saling menatap, mereka bersamaan menghela nafasnya. Mereka merasa tidak enak karena merepotkan menantunya dan keluarganya.


Rania mendekati Anisa. Dia duduk di dekat Anisa dan memegang kedua tangannya seraya berkata,

__ADS_1


"Tidak usah sungkan Bu. Kita ini sudah menjadi keluarga Bapak dan Ibu, jadi tidak usah merasa sungkan atau merasa memberatkan kami."


Anisa tersenyum dan membalas pegangan tangan besannya seraya berkata,


"Terima kasih Bu. Kami merasa sangat tersanjung akan sambutan dan perlakuan keluarga di sini. Dan kami sangat bersyukur sekali karena putri kami, Ayana mendapatkan keluarga sangat baik seperti kalian."


Suasana haru tersebut membuat Ayana sangat trenyuh. Matanya berkaca-kaca melihat betapa baiknya mertuanya itu pada kedua orang tuanya. Dia juga sangat bersyukur mendengar perkataan mertuanya yang membuat kedua orang tuanya seperti keluarga mereka sendiri.


Kedua orang tua Ayana bersama dengan kedua orang tua Rafael keluar dari kamar inap Ayana secara bersamaan. Mereka pulang untuk malam ini dan akan kembali esok pagi mengunjungi Ayana serta cucu-cucu mereka .


...----------------...


Di dalam kamar inapnya, Ruby merasa cemas. Dia benar-benar merasa seperti dipenjara saat ini. Kedua sipir yang menjaganya itu betul-betul tidak membiarkan Ruby bergerak bebas. Kini mereka sangat berhati-hati pada Ruby semenjak kejadian Ayana yang terpeleset karena ketakutan melihat Ruby waktu itu.


Dalam kesendiriannya di dalam kamarnya, Ruby mencari cara untuk bisa keluar dari kamar tersebut tanpa adanya sipir dan perawat yang mengikutinya.


"Bagaimanapun caranya, aku harus bisa keluar dari sini. Aku harus berusaha bebas dari hukuman ini," gerutu Ruby sambil mengintip kedua sipir yang berjaga di depan kamarnya.


Selama beberapa saat Ruby masih saja berdiri di dekat jendela untuk mengintip kedua sipir tersebut. Bibirnya melengkung ke atas ketika salah satu sipir berpamitan pada sipir yang satunya untuk mengangkat telepon ketika terdengar suara telepon yang berdering dari ponselnya. Selang beberapa saat kemudian, matanya berbinar ketika melihat sipir yang satunya lagi resah menahan hajatnya untuk pergi ke toilet.


"Lama sekali dia. Aku sudah tidak tahan lagi," ucap sipir yang berdiri di depan kamar inap Ruby sambil memegang perutnya.

__ADS_1


Merasa sudah tidak bisa menahannya, sipir tersebut berlari menuju toilet, meninggalkan Ruby yang masih berada di dalam kamar inapnya.


"It's time!" ucap Ruby lirih sambil menyeringai.


__ADS_2