
Rafael seketika terperanjat kaget mendengar permintaan dari istrinya. Dia menggelengkan kepalanya seraya berkata,
"Enggak. Gak boleh. Jangan. Aku gak bisa mempertemukan kalian. Itu sama saja aku membahayakan istri dan anakku."
Ayana memegang kedua tangan suaminya dan menatapnya dengan intens seraya berkata,
"Percaya padaku Raf. Aku bisa mengatasinya. Kamu juga bisa mendampingiku ketika berbicara dengannya."
"Ay, tolonglah mengerti. Gak mungkin aku membiarkan kamu bertemu dengan seorang peneror yang sedang meneror kamu?" ucap Rafael dengan tatapan memohon.
"Tapi dia Satria Raf, dia bukan orang asing bagiku. Aku ingin tahu apa penyebab dari semua yang dilakukannya saat ini. Aku yakin ada penyebab lain yang membuatnya melakukan semua ini," ucap Ayana meyakinkan Rafael.
Rafael berjalan lebih mendekat ke arah pantai. Dia menatap lurus ke arah matahari yang perlahan bergerak ke atas. Kemudian dia berkata,
"Bagaimana jika dia memang gak bisa melepaskan cintanya padamu dan memintamu untuk bersamanya dengan berbagai ancaman?"
"Tidak mungkin Raf. Aku kenal dengan Satria. Dia orang yang baik. Mungkin ada kesalahpahaman yang membuatnya berbuat seperti itu," sahut Ayan mencoba untuk meyakinkan Rafael.
Rafael menghela nafasnya mendengar perkataan dari istrinya. Dia tidak suka jika istrinya memuja laki-laki lain, meskipun hanya mengucapkan jika laki-laki tersebut baik. Baginya yang berhak dipuja oleh Ayana hanyalah dirinya.
"Tapi aku gak suka Ay. Apa lagi dia punya rasa padamu. Mungkin saja semua ini dilakukannya karena dia tidak mau melihatmu bahagia denganku. Mungkin saja dia ingin merebut mu dariku," tukas Rafael dengan tatapan mengibanya.
Ayana tahu jika saat ini suaminya itu sedang cemburu pada Satria. Dan dia juga tahu jika saat ini suaminya itu tidak ingin dibantahnya.
Dia menganggukkan kepalanya untuk menenangkan hati suaminya seraya berkata,
"Aku gak akan melakukannya jika kamu gak ijinkan aku untuk bertemu dengannya. Aku akan selalu mematuhi perintah suamiku."
Sontak saja bibir Rafael melengkung ke atas. Dia bahagia mendengar perkataan istrinya. Diraihnya tubuh istrinya itu dan dibawanya dalam pelukannya.
"Lihatlah matahari itu. Tadinya dia terlihat malu-malu dan sekarang dia beranjak naik dengan cepatnya. Aku jadi teringat akan kamu yang dahulu. Ayana istri kesayanganku ini dulunya sangat malu-malu. Tapi sekarang... Kamu gak lagi malu-malu. Kamu malah lebih pintar sekarang," ujar Rafael sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang, menikmati indahnya mentari pagi yang baru saja terbit.
__ADS_1
Seketika semburat merah terlihat pada wajah Ayana. Suaminya itu selalu saja bisa membuatnya tersipu malu. Kemudian dia berkata,
"Itu juga karena kamu yang mengajari kan Raf?"
Rafael terkekeh mendengar perkataan istrinya. Dia mencubit gemas hidung istrinya itu serta memainkannya ke kanan dan ke kiri disertai kekehannya yang terlihat sangat bahagia di antara mereka berdua.
Ada dua pasang mata yang berada di tempat berbeda sedang memperhatikan mereka. Dua orang tersebut terlihat sangat kesal ketika melihat Ayaan dan Rafael terlihat saling menyayangi dan mencintai. Bahkan sikap mereka itu memperlihatkan keromantisan sehingga mampu membuat dua orang yang sedang memperhatikan mereka itu besungut kesal.
Kedua tangan mereka mencengkeram benda yang ada disekitarnya. Mereka mencengkeram pohon yang ada di depan mereka sebagai tempat mereka berdua berlindung dengan berada di tempat yang berbeda.
Mereka sangat tidak suka melihat kebahagiaan sepasang suami istri yang sedang menikmati waktu bersama. Sayangnya, apa yang dilakukan Ayana dan Rafael saat ini mengundang kebencian dan rasa iri yang mendalam.
Rasa kesal dan iri yang mereka rasakan membuat mereka ingin merusak kebahagiaan sepasang suami istri itu.
Dengan berbekal kemarahan yang sudah merajai hatinya, salah seorang dari mereka yang sedari tadi mengamati pasangan suami istri itu, berjalan menghampiri Ayana dan Rafael.
"Ayana," sapa orang tersebut ketika sudah berada di dekat mereka berdua.
"Satria?!" celetuk Ayana ketika melihat orang tersebut.
Orang tersebut adalah Satria. Dia tersenyum manis pada Ayana yang sedang terperangah ketika menyapanya. Berbeda dengan Rafael yang seketika menatap kesal pada Satria saat ini.
Sontak saja tangan Rafael menghalangi tubuh istrinya seolah sedang melindungi istrinya dari Satria yang sedang bergerak ingin mendekatinya.
Satria menyeringai dan menatap sinis pada Rafael. Kemudian dia berkata,
"Bisa kamu tinggalkan kami berdua?"
"Meninggalkan kalian berdua? Jangan harap!" tegas Rafael sambil menyeringai dan menatap Satria dengan tatapan membunuh.
Ayana memegang tangan Rafael dan tersenyum padanya seraya berkata,
__ADS_1
"Raf, biar dia berbicara di sini. Kamu tetap berada di sini dan tidak perlu menjauh dari kami."
Kemudian Ayana mengalihkan pandangannya pada Satria dan berkata,
"Bicaralah Satria, tapi biarkan Rafael berada di sini. Dia suamiku, dia juga ayah dari anak yang ada dalam kandunganku. Jadi... Biarkan dia menemani istri dan anaknya karena itu merupakan tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab."
Seketika senyum Satria pudar. Tujuannya mendekati Ayana saat ini karena ingin menjauhkannya dari Rafael. Dan sayangnya Ayana malah menamparnya dengan kenyataan yang menjelaskan bahwa Rafael adalah suami dan ayah dari anak hang sedang dikandungnya.
"Ayana, bisakah kita bicara hanya berdua saja? Aku hanya ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting," pinta Satria dengan tatapan memohon pada Ayana.
"Enggak! Gak bisa!" sahut Rafael dengan tegasnya
Namun, larangan dari Rafael tidak menyurutkan keinginan Satria. Dia tetap saja menginginkan untuk berbicara hanya berdua saja dengan Ayana.
Satria mengacuhkan Rafael. Dia tetap menatap Ayana dengan tatapan memohon. Dan hal itu membuat Ayana semakin ingin mengetahui alasan Satria berada di tempat itu saat ini.
"Sat, sejak kapan kamu berada di tempat ini?" tanya Ayana menyelidik.
"Sejak kemarin. Aku rindu denganmu, karena itulah aku datang ke tempat ini sebagai pengobat rinduku padamu," jawab Satria dengan tatapan penuh harap pada Ayana.
"Sialan! Berani sekali kamu mengatakan itu pada istriku!" ujar Rafael dengan mengeratkan gigi-giginya menahan amarahnya.
Satria menyeringai dan menarik tangan Ayana agar berada di dekatnya. Sayangnya Rafael dengan sigapnya menghentikannya.
"Lepaskan! Lepaskan tangan istriku dari tangan kotor mu itu!" seru Rafael dengan wajah marahnya melepaskan tangan Ayana dari tangan Satria.
Satria menatap marah pada Rafael. Kedua tangannya mengepal seolah bersiap untuk menghantamnya.
"Satria, maafkan aku jika aku mempunyai salah padamu. Aku sudah berkeluarga dan kami sangat bahagia. Tolong enyahkan rasa rindumu itu dariku. Dan aku berterima kasih sekali atas pertemanan kita, karena kamu adalah teman terbaikku dan akan selamanya seperti itu. Jadi... Aku mohon hapuslah perasaanmu padaku yang lebih dari sekedar teman itu," tutur Ayana dengan tatapan teduhnya pada Satria.
Satria mendengus kesal mendengar penuturan dari Ayana. Dengan kekesalannya yang masih menggebu-gebu itu dia berkata,
__ADS_1
"Aku gak akan pernah merelakan mu dengan laki-laki sialan ini. Dia membohongimu dan dia memanfaatkan kamu!"