Ternyata Suamiku Luar Biasa 2

Ternyata Suamiku Luar Biasa 2
Bab 42 Penyamaran


__ADS_3

Polisi yang menangani kejadian tersebut mendatangi rumah sakit untuk meminta keterangan dari ibu Arion dan Ruby. Sayangnya mereka tidak bisa bertemu dengan ibu Arion karena sudah tiada.


"Di mana wanita yang diselamatkan oleh istri Bapak? Bukankah dia ikut bersama dengan kalian semalam?" tanya salah satu petugas polisi pada ayah Arion.


Tatapan mata ayah Arion menyisir sekitarnya. Dia mencari keberadaan wanita yang sedang menggendong Arion, putra yang dititipkan olehnya pada wanita tersebut.


"Tadi dia ada di sini Pak. Anak saya yang masih bayi juga ada bersamanya," jawab ayah Arion tanpa menatap petugas polisi yang sedang bertanya padanya, matanya masih mencari keberadaan Ruby yang sedang bersama dengan Arion.


"Apa Bapak yakin wanita itu masih ada di rumah sakit ini? Apa dia tidak melarikan diri dengan membawa anak Bapak?" tanya polisi yang satunya lagi sambil mengikuti arah pandang ayah Arion.


"Saya tidak yakin Pak. Sepertinya dia orang baik. Kita tunggu saja, barangkali dia sedang ke toilet," jawab ayah Arion yang masih mencari keberadaan Ruby menggunakan matanya.


"Ke toilet dengan membawa bayi? Apa itu mungkin?" tanya salah satu dari petugas polisi tersebut.


Seketika ayah Arion tersadar jika itu tidak mungkin terjadi. Dia menghela nafasnya yang terdengar sangat berat. Terlihat jelas kekhawatiran dari raut wajahnya.


Dari kejauhan Ruby melihat ayah Arion sedang berbicara dengan dua orang yang berseragam polisi. Dia bersembunyi di balik tembok dan sedikit mengintip ke arah ayah Arion.


"Gawat. Bagaimana ini? Apa aku melarikan diri saja ya? Sepertinya hanya itu jalan keluarnya," ucap Ruby lirih sambil mengintip ke arah mereka.


Ruby membalikkan badannya hendak meninggalkan tempat itu. Dia benar-benar akan melarikan diri agar tidak lagi masuk ke dalam jeruji besi.


Namun, langkahnya terhenti ketika Arion tiba-tiba menangis dengan kencangnya seolah dia tahu akan apa yang akan terjadi.


Semua pasang mata tertuju padanya, termasuk ayah Arion dan dua orang yang berseragam polisi itu.


"Itu dia! Itu wanita yang bersama istri saya pada saat kejadian kemarin. Dan bayi yang dibawa itu adalah anak saya," ucap ayah Arion dengan paniknya.


Dua orang polisi tersebut segera berlari menghampiri Ruby. Sedangkan Ruby, dia panik dan tidak tahu harus pergi ke arah mana, ditambah lagi Arion menangis dengan sangat kencangnya. Semakin lama tangisan Arion semakin kencang, sehingga membuat Ruby bertambah panik dan membuat semua orang memperhatikannya.


"Mari ikut kami untuk memberikan keterangan tentang kejadian kemarin," ajak salah satu polisi sambil memegang lengan Ruby.

__ADS_1


Ruby tidak bisa mengelak lagi. Dia tidak bisa menghindari kedua polisi tersebut. Kini dia hanya bisa menurut, mengikuti polisi tersebut dan mencari cara lain agar polisi tidak dapat mengenalinya.


"Tolong beritahu identitas anda," ujar salah satu polisi tersebut setelah duduk berhadapan dengan Ruby.


"Saya... saya... saya tidak tau siapa saya," ucap Ruby sambil menundukkan kepalanya.


Arion kini sudah bersama dengan ayahnya. Sayangnya kedua polisi tadi masih belum memperbolehkan ayah Arion untuk pergi dari tempat itu. Mereka masih membutuhkan keterangan dari ayah Arion tentang apa yang terjadi semalam.


Ternyata Ruby benar-benar licik. Dia berpura-pura kehilangan ingatannya sehingga kedua polisi itu tidak bisa memaksanya untuk memberikan jawaban atas apa yang mereka tanyakan.


Setelah beberapa pertanyaan mereka tanyakan pada Ruby dan ayah Arion, kedua petugas kepolisian itu berpamitan. Mereka hanya mendapatkan keterangan dari Ruby tentang kejadian semalam, akan tetapi tidak mendapatkan informasi tentang Ruby. Dan ayah Arion pun memberikan kesaksiannya tentang kejadian itu semalam.


"Maaf Pak, apa Bapak mengetahui alamat wanita itu tinggal?" tanya salah satu dari polisi tersebut ketika bersalaman dengan ayah Arion.


"Tidak Pak. Kami baru saja bertemu karena kejadian semalam. Dan saya juga tidak tau banyak tentang dia," jawab ayah Arion dengan sangat yakin.


"Lalu, di mana dia akan tinggal setelah ini?" tanya polisi yang satunya lagi pada ayah Arion.


"Baiklah Pak, jika Bapak butuh bantuan kami untuk mencarikan informasi ataupun keluarga dari wanita itu, datang saja ke kantor polisi. Kami akan siap membantu," tukas salah satu polisi pada ayah Arion.


"Baik Pak, terima kasih," ucap ayah Arion sambil menatap kedua polisi tersebut secara bergantian.


Dari tempat duduknya saat ini, Ruby menatap ayah Arion yang sedang berbincang dengan kedua petugas dari kepolisian itu. Dia pun berkata,


"Apa yang mereka bicarakan? Sepertinya mereka sangat serius sekali. Apa mereka membicarakan tentang aku? Gawat, jika mereka akan mencari tau tentang aku. Bagaimana ini? Apa yang akan aku lakukan?"


Ayah Arion berjalan menghampiri Ruby untuk meminta Arion yang ada dalam gendongan Ruby saat ini. Tadi, ketika gilirannya ditanyai oleh polisi, Arion menangis kembali, sehingga ayah Arion menitipkannya pada Ruby. Dan kini dia ingin mengambil anaknya itu kembali.


"Terima kasih telah menjaga Arion. Kami permisi dulu untuk mengurus pemakaman Bunda Arion," tukas ayah Arion seraya mengambil alih tubuh Arion dari gendongan Ruby.


"Pak, apa saya boleh ikut? Saya ingin berterima kasih pada istri Bapak karena menyelamatkan saya kemarin. Dan maaf, karena saya istri Bapak...," Ruby menggantungkan ucapannya, dia menatap ayah Arion dengan mata yang berkaca-kaca dan memperlihatkan wajah menyesalnya.

__ADS_1


Ayah Arion menghela nafasnya yang terasa sangat berat. Dia tidak mengira jika pada hari itu akan kehilangan istri tercintanya dan meninggalkan Arion, anak mereka yang masih bayi dan membutuhkan sosok seorang ibu.


"Mungkin ini semua sudah takdir. Lagi pula istri saya meninggal karena serangan jantung pada saat menyelamatkan anda. Maaf, saya harus segera pergi," ujar ayah Arion sebelum dia beranjak pergi.


"Pak, maaf. Apa saya boleh ikut? Saya ingin ikut. Lagi pula siapa yang akan menggendong Arion jika Bapak mengurusi pemakaman?" ucap Ruby dengan tatapan memohon pada ayah Arion.


Ayah Arion tidak tega melihat Ruby menatapnya seperti itu. Dia menganggukkan kepalanya dan berkata,


"Baiklah. Tapi, apa anda tidak dicari oleh keluarga anda?"


Ruby menggelengkan kepalanya dengan kepalanya yang menunduk. Kemudian dia berkata,


"Saya tidak tau siapa saya dan siapa keluarga atau kerabat saya. Apa boleh saya ikut dengan Bapak sebagai pengasuh Arion?"


Ayah Arion benar-benar merasa iba pada Ruby saat ini. Sedangkan dia tidak punya banyak waktu untuk bertanya pada Ruby.


"Baiklah. Tapi untuk masalah menjadi pengasuh dan tempat tinggal, kita bicarakan nanti," tutur ayah Arion pada Ruby.


"Terima kasih Pak... Mmm... Boleh saya tau nama Bapak siapa?" tanya Ruby yang kembali menghentikan ayah Arion ketika akan beranjak pergi.


"Fabian," jawab ayah Arion memperkenalkan dirinya.


Ruby tersenyum manis pada Fabian dan berkata,


"Terima kasih Pak Fabian. Biar Arion bersama dengan saya. Bapak silahkan mengurus semuanya, saya akan mengikuti Bapak bersama dengan Arion."


Tanpa mempunyai prasangka buruk padanya, Fabian memberikan Arion pada Ruby. Kemudian dia mengajak Ruby berjalan bersamanya untuk mengurus kepulangan jenazah istrinya.


Di pemakaman, semua orang yang hadir memperhatikan Ruby yang sedang menggendong Arion. Khususnya para ibu-ibu yang mempertanyakan kehadiran Ruby di tempat itu.


"Siapa wanita cantik itu? Kenapa dia menggendong Arion?"

__ADS_1


__ADS_2