Ternyata Suamiku Luar Biasa 2

Ternyata Suamiku Luar Biasa 2
Bab 12 Semut betina


__ADS_3

Teriakan dari Rafael membuat Ayana yang sedang menunggunya di bawah semakin resah. Dia tidak tahu harus berbuat apa ketika suaminya berteriak di atas sana.


"Rafa...! Kamu kenapa?!" teriak Ayana dari bawah pohon kelapa tersebut.


"Awwwww....!!!" teriak Rafael semakin kencang.


"Sayang...! Ada apa?!" teriak Ayana kembali dengan mendongakkan kepalanya ke atas mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada suaminya.


Orang-orang yang ditugaskan Antonio menjadi bodyguard Ayana dan Rafael hanya memperhatikan dari tempat mereka mengintai. Mereka menahan tawanya ketika melihat Rafael sedang berjuang di atas pohon kelapa.


Mereka memang dilarang Antonio dan Rafael mendekat kecuali situasi mereka sangat berbahaya. Dan kali ini Rafael dalam situasi yang hanya bisa mereka tertawakan saja.


Di tempat yang tidak jauh dari pohon kelapa tersebut ada seseorang yang mengintai mereka. Terlihat dari matanya terdapat kemarahan ketika melihat Ayana bersama dengan Rafael. Terlebih ketika Rafael memperlakukan Ayana dengan penuh cinta.


Namun, ketika Rafael berteriak di atas pohon, dia ingin sekali menolongnya. Sayangnya dia ingat akan apa yang menjadi tujuannya saat ini. Dia menatap kesal pada Ayana yang hanya bisa berteriak memanggil-manggil suaminya.


Braaaak!


Rafael yang berada di ketinggian paling atas pohon kelapa itu terjatuh dengan kerasnya ke tanah.


"Sayang...!" teriak Ayana menghampiri suaminya yang sudah tergeletak di tanah sambil meringis kesakitan memegang bagian tubuhnya yang mendarat terlebih dahulu di tanah dengan sangat keras.


"Jangan mendekat!" seru Rafael dengan tegas membuat Ayana terkejut dan takut.


Mata Ayana berkaca-kaca mendapatkan perlakuan seperti itu dari suami tercintanya. Dia takut suaminya marah padanya. Dam tentunya dalam keadaan hamil seperti saat ini dia takut jika akan ditinggalkan oleh suaminya.


"Rafa...," ucap Ayana lirih dengan mata yang berkaca-kaca menatap ke arah Rafael yang sedang sibuk menggaruk-garuk leher dan tangannya.


"Sayang...," ucap Ayana kembali dengan bibir yang bergetar menahan tangisnya.


Rafael mendengar suara kesedihan istrinya. Dia menoleh ke arah istrinya sambil menggaruk-garuk badannya seraya berkata,


"Sayang, aku digigit banyak semut di atas. Sepertinya semutnya besar-besar."


"A-apa? Semut?" tanya Ayana yang terkejut mendengar ucapan suaminya.


Rafael menganggukkan kepalanya sambil menggaruk-garuk badannya menanggapi pertanyaan dari istrinya.


Ayana mendekati suaminya dan menarik tangannya seraya berkata,


"Ayo ikut aku."


Rafael berusaha melepas tangan Ayana, sayangnya pegangan tangan Ayana begitu kuat sehingga Rafael tidak bisa melepasnya.


"Ay, lepaskan! Nanti kamu kena semut dan gatal-gatal juga! Biar aku saja yang gatal-gatal, kamu jangan!" seru Rafael mencegah Ayana untuk mendekatinya.

__ADS_1


"Enggak! Ayo cepat kita pulang dan ganti baju!" tegas Ayana sambil menarik tangan Rafael agar berjalan mengikutinya.


Rafael hanya bisa menurut. Mereka berjalan menuju rumah orang tua Ayana yang tidak jauh dari pantai tersebut.


"Ayana... Rafael... Kalian sudah datang? Loh kok jalan? Mobil kalian di mana?" tanya Anisa, ibu Ayana yang sedang menjemur cabe di halaman rumahnya.


"Rafa digigit semut di pohon kelapa Bu," jawab Ayana sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


Ibu Ayana melongo mendengar perkataan Ayana. Dia tidak menyangka jika menantunya berkunjung ke rumah mereka dalam keadaan seperti itu.


Dengan segera dia meninggalkan kegiatannya dan berjalan masuk mengikuti anak dan menantunya.


"Ayana, mana suamimu?" tanya Bu Anisa ketika melihat putrinya berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Sedang mandi Bu," jawab Ayana sambil membawa handuk kering dan baju ganti yang akan diberikan pada suaminya.


Bu Anisa meninggalkan Ayana yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi. Beberapa saat setelah itu Bu Anisa menghampiri Ayana dengan membawa satu botol minyak oles dan berkata,


"Balurkan ini pada badan suamimu."


Ayana menerima botol minyak tersebut dan membau botol tersebut. Kemudian dia tersenyum dan berkata,


"Bau ini yang selalu bikin kangen rumah Bu."


"Itu karena kamu anak yang rajin. Jadi setiap hari kamu memijat kaki dan tangan Ibumu ini," sahut Bu Anisa sambil tersenyum.


"Semoga kamu juga menjadi anak yang baik dan rajin, sama seperti ibumu," ucap Bu Anisa sambil mendekatkan wajahnya pada perut Ayana agar cucunya yang ada di dalam perut itu bisa mendengarnya.


Tiba-tiba ada gerakan dari dalam perut tersebut. Ayana sedikit meringis karena gerakan tersebut sangat kuat. Sedangkan Bu Anisa, dia sangat senang melihat cucunya yang masih berada di dalam perut ibunya merespon ucapannya.


Krieeet...!


Pintu kamar mandi sedikit terbuka dan kepala Rafael sedikit menyembul keluar dari pintu seraya berseru,


"Sayang... Mana handuknya...?!"


Sontak saja Ayana mengulurkan tangannya masuk ke dalam pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.


Sreeeeeet...!


Tangan Ayana ditarik masuk oleh Rafael. Seketika Ayana yang kaget pun ikut masuk ke dalam kamar mandi itu.


Sudah menjadi kebiasaan Rafael jika mandi selalu saja meminta Ayana untuk mengambilkannya handuk meskipun sudah tersedia handuk di dalam kamar mandi mereka.


Tanpa Ayana duga, di tempat mertuanya pun Rafael masih melakukan hal yang sama. Menarik tangan Ayana hingga terbawa masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Bu Anisa tersenyum malu menyaksikan hal itu. Dia senang melihat kebersamaan dan keromantisan putrinya bersama dengan suaminya.


"Lebih baik aku siapkan makanan untuk mereka sekarang," ucap Bu Anisa sambil berlalu menuju dapur.


Di dalam kamar mandi, Ayana mengomel pada suaminya.


"Aku sedang mengobrol bersama dengan Ibu, kamu main tarik-tarik aja. Malu kan sama Ibu," omel Ayana dengan wajah yang bersemu merah.


"Ibu juga pernah muda. Pasti Ibu juga memaklumi Ay. Aku butuh bantuanmu di sini. Apa kamu gak mau membantuku?"


Ayana melihat sekujur tubuh suaminya. Dia menggelengkan kepalanya seraya berkata,


"Beraninya semut-semut tadi menggigit suamiku. Pasti semut-semut tadi semuanya betina. Mereka pada kegatelan lihat laki-laki ganteng kayak kamu."


Seketika Rafael tertawa mendengar ocehan istrinya. Dia tidak mengira jika istrinya berpikiran seperti itu.


"Untung saja semutnya betina. Jika semutnya jantan, pasti kamu yang digigit. Aku gak rela dong istri aku yang cantik ini digigit sama semut-semut jantan selain aku," ujar Rafael sambil memakai baju gantinya.


"Kamu itu ada-ada aja Raf. Bisanya modus melulu. Ayo sekarang kita ke kamar," ajak Ayana sambil beranjak keluar dari kamar mandi tersebut setelah Rafael selesai memakai pakaiannya.


Mata Rafael berbinar mendengar kata kamar. Dengan senang hati dia mengikuti istrinya untuk masuk ke dalam kamar mereka.


"Lepas bajunya," perintah Ayana setelah mereka berada di dalam kamarnya.


Tanpa mengatakan apa pun Rafael pun segera melepaskan bajunya menuruti perintah istrinya.


"Rebahan di situ Raf," perintah Ayana sambil menunjuk tempat tidurnya.


Dengan senang hati Rafael merebahkan badannya di atas tempat tidur tersebut. Kemudian dia berkata,


"Sepertinya sekarang kamu senang sekali di atas Ay."


Dahi Ayana mengernyit mendengar perkataan suaminya. Dia mengerti pikiran mesum suaminya itu. Kemudian dia berkata,


"Tengkurap Raf."


"Hah?! Tengkurap? Ngapain? Mau main kuda-kudaan?" tanya Rafael sambil terkekeh.


"Buruan Rafa...," perintah Ayana dengan sedikit merengek.


Rafael pun berganti posisi menjadi tengkurap. Kemudian dia berkata,


"Sudah Ay, terus ngapain?"


Tanpa mengatakan apa pun, Ayana membuka botol minyak oles ramuan turun temurun keluarganya dan dibalurkan ke punggung suaminya. Dia hanya bisa melakukannya diam-diam karena suaminya itu sangat membenci minyak oles, terutama baunya.

__ADS_1


"Ay... Ini apa?!" seru Rafael dengan ekspresi seolah sedang menangis.


__ADS_2