Ternyata Suamiku Luar Biasa 2

Ternyata Suamiku Luar Biasa 2
Bab 6 Pelaku yang sama


__ADS_3

Dengan mata yang berkaca-kaca itu Ayana menggelengkan kepalanya seraya berkata,


"Tidak Raf. Aku tidak tau siapa dia. Hanya saja aku seperti mengenalnya."


Wajah Ayana yang sedikit pucat itu membuat hati Rafael semakin teriris. Diraihnya tubuh istrinya yang sedang lemah itu dan dipeluknya dengan penuh kasih sayang.


"Jangan khawatir Ay, aku akan selalu ada di sisimu," ucap Rafael mencoba menenangkan hati istrinya.


Nyaman dan sangat menenangkan yang dirasakan oleh Ayana saat ini. Dia merasa sangat terlindungi setiap Rafael memeluknya.


Rafael benar-benar tidak meninggalkan istrinya sedetik pun. Bahkan jika dia masuk ke dalam kamar mandi, pintu kamar tersebut dikuncinya dari dalam, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa masuk ke dalam kamar tersebut.


Rania, mama Rafael mengutus bik Darmi dan pak Yanto untuk mengirimkan pakaian dan barang-barang keperluan milik Rafael dan Ayana ke rumah sakit.


Selang beberapa jam kemudian, dokter Sani berkunjung ke ruangan Ayana. Selain kunjungan pemeriksaan rutin, dokter Sani memberitahukan hasil penyelidikannya melalui CCTV yang ada di dalam kamar Ayana dan beberapa CCTV yang berada di lantai tersebut.


"Maaf Pak, bisa kita berbicara sebentar di luar kamar ini?" tanya dokter Sani setelah memberitahukan keadaan Ayana dan bayinya baik-baik saja.


Rafael melihat ke arah istrinya untuk meminta ijin padanya. Ayana menganggukkan kepalanya disertai senyumannya agar suaminya tidak cemas padanya.


Rafael mengusap lembut rambut istrinya dan mendekatkan wajahnya seraya berkata,


"Sebentar ya Sayang, aku hanya berada di depan pintu kamar ini saja."


Setelah mengatakan itu, Rafael mencium lembut dahi Ayana dengan penuh perasaan.


Dia meninggalkan Ayana setelah istrinya itu menganggukkan kembali kepalanya dan tersenyum padanya.


Di sinilah Rafael kini berada. Dia berdiri di depan kamar inap Ayana bersama dengan dokter Sani.


"Kami telah melihat dari hasil rekaman CCTV Pak. Kami tidak mengenal wanita tersebut. Ternyata dia menyamar sebagai petugas kebersihan untuk bisa masuk ke lantai ini. Dan ternyata id yang dipakai oleh wanita itu adalah id petugas kebersihan yang memang sedang bertugas di lantai VVIP tersebut," jelas dokter Sani pada Rafael.


Rafael mengernyitkan dahinya mendengar penjelasan dari dokter Sani. Kemudian dia berkata,


"Bagaimana itu bisa terjadi dok? Apa wanita itu dengan petugas kebersihan itu bekerjasama?"


"Saya rasa tidak Pak. Kebetulan pada jam yang tercantum di CCTV, petugas kebersihan itu ditemukan pingsan di dalam kamar mandi. Dia mengatakan jika ada seseorang yang memukulnya dari belakang. Dan kami tidak percaya begitu saja. Kami melakukan pemeriksaan pada petugas kebersihan itu, hasilnya memang sama dengan yang dikatakannya. Terdapat pukulan yang keras pada kepalanya," jawab dokter Sani sesuai dengan apa yang diketahuinya.

__ADS_1


Rafael menghela nafasnya yang terdengar sangat berat. Terlihat sekali jika saat ini dia sedang menahan amarahnya.


"Maaf Pak, kami akan memperketat penjagaan kami. Dan mohon kerja samanya agar tidak meninggalkan istri Bapak sendirian," tutur dokter Sani yang merasa tidak enak pada Rafael.


"Wanita itu sangat berbahaya dok. Dia sudah tergolong nekat saat ini. Entah apa yang terjadi tadi jika saya tidak datang tepat waktu," ujar Rafael dengan kilatan emosi pada matanya.


Dokter Sani merasakan apa yang dirasakan oleh Rafael. Dia merasa sangat bersalah saat ini.


"Sekali lagi kami minta maaf Pak. Kami akan mengusahakan lebih hati-hati lagi dan memperketat sistem keamanan di lantai ini. Saya permisi dulu Pak," ucap dokter Sani dengan rasa bersalahnya.


Rafael menganggukkan kepalanya untuk mengijinkan dokter Sani meninggalkan ruangan tersebut dan berkata,


"Tolong kirimkan pada saya semua rekaman CCTV itu."


"Baik Pak. Sebentar lagi akan saya kirimkan," tukas dokter Sani.


Setelah itu dokter Sani meninggalkan lantai VVIP tersebut. Sedangkan Rafael, dia kembali masuk ke dalam kamar tersebut untuk menemani istrinya.


"Ada apa Raf? Apa ada yang salah?" tanya Ayana yang terlihat khawatir.


"Tidak ada yang salah. Keadaan ibu dan bayi baik-baik saja. Ingat Sayang, jangan memikirkan apa pun. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan istri cantikku ini dan bayi kesayangan kita."


Ayana tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dalam hatinya berkata,


Benar kata Rafael, aku tidak boleh terlalu banyak pikiran. Aku akan mencoba untuk membuang jauh-jauh pikiran buruk itu agar tidak terjadi apa-apa pada kami.


Rafael mencoba menghibur istrinya dengan mengatakan rencananya setelah bayi mereka lahir. Dia pun memberikan beberapa nama bayi yang menjadi pertimbangannya untuk dijadikan nama bayi mereka jika sudah lahir.


Tiba-tiba saja terdengar suara notifikasi dari ponsel Rafael. Segera dia mengambil ponsel dari saku celananya.


Dia melihat beberapa rekaman CCTV yang dikirimkan oleh dokter Sani padanya. Ingin sekali dia melihat rekaman CCTV tersebut, sayangnya dia tidak mau jika Ayana ikut melihatnya.


Dia takut jika Ayana merasa tidak aman dan tidak nyaman di tempat itu. Sudah pasti Ayana akan selalu kepikiran dengan hal itu jika dia mengetahuinya. Dan nantinya pasti akan berakibat buruk bagi bayinya.


Diurungkannya niat Rafael untuk melihat rekaman CCTV itu. Akan tetapi, saat itu juga dia mengirimkan semua rekaman CCTV tersebut pada papanya dan juga pada orang suruhan Rafael yang ditugaskan untuk menyelidiki peneror di rumahnya waktu itu.


"Sayang... tidurlah di sini," pinta Ayana pada Rafael sambil menepuk tempat tidurnya.

__ADS_1


Rafael tersenyum dan beranjak dari duduknya. Kemudian dia berkata,


"Sebentar, aku kunci dulu pintunya."


Setelah Rafael mengunci pintu kamar tersebut, dia meletakkan ponselnya di atas meja yang ada di sebelah tempat tidur, berjejer dengan ponsel Ayana. Kemudian dia berbaring di sebelah istrinya dan menghadap padanya.


Tangan Ayana menarik tangan Rafael untuk menuntunnya berada di atas perutnya. Tangannya berada di atas tangan Rafael dan mengusap-usap lembut perutnya yang sudah membesar itu.


Rafael terkesiap ketika merasakan gerakan sundulan dari dalam perut istrinya. Dengan senyuman lebarnya dia berkata,


"Sayang, anak kita merespon. Sepertinya dia senang kita perhatikan."


Ayana tersenyum senang. Dia pun merasakan hal yang sama dengan Rafael. Kemudian dia berkata,


"Jangan pernah mengacuhkannya. Karena dia akan bersedih jika salah satu dari kita tidak perhatian padanya."


Rafael mengangguk setuju. Dia mendekatkan kepalanya pada perut istrinya dan mencium perut tersebut dengan lembut dan penuh perasaan kasih sayang. Setelah itu dia berbisik pada perut tersebut,


"Papa sangat mencintaimu Sayang. Kamu harus tetap kuat dan sehat hingga keluar dengan selamat dan bertemu dengan Mama dan Papa di sini."


Bayi mereka pun kembali merespon. Perut Ayana bergerak tinggi sehingga Ayana sedikit merasa nyeri. Mereka tertawa melihat respon cepat dari bayi mereka.


Bagaimana caranya supaya aku bisa melihat rekaman CCTV ini tanpa Ayana tau? Menunggu Ayana tidur? Sepertinya aku tidak sabar untuk melihatnya. Apa lebih baik aku lihat di kamar mandi saja ya? Rafael bertanya-tanya dalam hatinya.


"Sayang, aku akan ke kamar mandi sebentar," ucap Rafael sambil beranjak dari tempat tidur.


Dengan gerakan cepatnya dia mengambil ponselnya dari nakas agar istrinya tidak curiga.


Setelah Rafael masuk ke dalam kamar mandi, terdengar suara dering ponsel yang berada di atas meja dekat tempat tidur Ayana. Dengan segera Ayana mengambil ponsel tersebut.


"Bukannya ini HP Rafael?" ucap Ayana sambil menatap layar ponsel tersebut.


Tanpa berpikir panjang, Ayana mengangkat panggilan telepon tersebut.


Bos, ternyata dokter gadungan yang menyusup di kamar istri anda adalah orang yang sama. Dia adalah pelaku teror di rumah anda, terdengar suara laki-laki dari seberang sana.


Siapa pelaku itu? tanya Ayana dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2