
Rafael menoleh ke arah Ayana. Mereka saling menatap satu sama lainnya. Seketika mereka berdua tersenyum tatkala mengingat nama yang akan diberikan untuk buah hati mereka.
"Sebenarnya jauh sebelum kami mengetahui bahwa bayi yang ada dalam kandungan Ayana adalah laki-laki, kami berdua sudah menyiapkan nama bayi untuk laki-laki dan perempuan. Dan ternyata nama-nama itu berguna sekarang," ujar Rafael sambil merangkul pundak istrinya dan tersenyum manis padanya.
"Lalu, siapa nama cucu-cucu Papa dan Mama?" tanya Antonio kembali seolah tidak sabar mendengar nama cucu mereka.
"Adelio Putra Atmaja dan Adelia Putri Atmaja," jawab Rafael dengan bangganya.
Antonio dan Rania tersenyum mendengar nama cucu-cucu mereka. Binar kebahagiaan itu terlihat jelas pada wajah mereka.
"Semoga Adelio dan Adelia menjadi putra dan putri yang bisa membanggakan kalian berdua sebagai orang tuanya," tukas Rania sambil tersenyum menatap Rafael dan Ayana secara bergantian.
"Tentu dong Ma. Anak kami pasti menjadi anak yang tampan dan cantik, berakhlak mulia, berbudi luhur dan membanggakan kedua orang tuanya," sahut Rafael dengan penuh percaya diri.
Rania dan Antonio tertawa mendengar ucapan Rafael yang sangat percaya diri itu. Dan tentu saja mereka berharap jika semua yang diucapkan oleh Rafael menjadi kenyataan.
"Kalian harus mendidik Adelio dan Adelia dengan penuh cinta agar selain menjadi orang yang sukses, mereka akan menjadi pribadi yang baik pada semua orang," tutur Antonio pada Rafael dan Ayana.
"Pasti Pa. Kami berdua akan mendidik mereka agar menjadi pribadi yang baik di mana pun mereka berada," ucap Ayana sambil menggenggam tangan suaminya.
Antonio tidak mau kalah dengan putranya. Dia merangkul dengan mesra pundak istrinya dan berkata,
"Oh iya, bapak dan ibu Ayana mungkin sebentar lagi akan sampai. Tadi Papa sudah mengutus seseorang untuk menjemput mereka."
Seketika mata Ayana berbinar. Dia memang sempat lupa akan kehadiran kedua orang tuanya saat akan melahirkan bayinya. Dalam hatinya dia meminta maaf pada kedua orang tuanya.
"Sayang, apa kamu ingin melihat Adelio dan Adelia sekarang?" tanya Rafael sambil mengusap lembut pundak istrinya.
Sontak saja Ayana menoleh pada suaminya dan matanya berbinar sambil menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Mau. Aku mau melihat mereka."
Rafael mencubit gemas hidung istrinya dan mencium sekilas bibir istrinya itu tanpa malu-malu di hadapan kedua orang tuanya.
Rona merah tersirat pada wajah Ayana. Dia tersenyum malu dan tidak berani memandang kedua mertuanya yang tersenyum geli melihat tingkah putranya yang memperlakukan istrinya dengan sangat manis.
__ADS_1
Dengan perlahan Rafael melepaskan rangkulannya dari pundak istrinya dan beranjak dari duduknya. Dia mengambil kursi roda yang ada di sudut ruangan tersebut dan membawanya menuju istrinya.
Dengan sangat hati-hati sekali, Rafael menggendong istrinya untuk memindahkannya duduk di kursi roda.
"Ma, Pa, kami akan melihat putra-putri kami dulu ya. Mama dan Papa santai saja di sini. Rafa tau kalau Mama dan Papa butuh waktu untuk berdua," ucap Rafael sambil terkekeh.
Antonio tertawa mendengar ucapan putranya. Dia menepuk pundak putranya dan berkata,
"Kamu memang putra Papa yang sangat perhatian sekali."
Rafael terkekeh sambil mendorong kursi roda Ayana keluar dari ruangan tersebut. Mereka menuju ruang perawatan bayi-bayi mereka.
Sesampainya di ruangan tersebut, mereka hanya bisa melihat putra-putri mereka dari dekat, sayangnya mereka masih belum bisa menggendongnya.
"Sayang, ini salahku. Seandainya saja aku melahirkan mereka di saat yang tepat, maka mereka tidak akan berada di sana, di dalam inkubator itu," ucap Ayana dengan suara yang bergetar dan matanya yang berkaca-kaca.
Sontak saja Rafael memeluk tubuh istrinya yang duduk di atas kursi roda. Dia mencium kepala istrinya dan mencium lama dahi istrinya. Kemudian dia berjongkok di depan istrinya, memegang kedua tangannya dan berkata,
"Semua sudah menjadi takdir Tuhan. Seperti kita yang dipersatukan oleh Tuhan dengan jalan kesalahpahaman. Dan terbukti jika takdir Tuhan merupakan yang terbaik untuk kita. Jadi, ini semua bukan salah kamu Sayang. Ini sudah menjadi suratan takdir dan kita harus berusaha yang terbaik untuk menjalaninya. Yakin dan percayalah bahwa Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik untuk kita dan anak-anak kita."
Tanpa sadar air mata Ayana menetes dengan sendirinya mendengar betapa bijaknya kata-kata yang keluar dari mulut suaminya.
"Apa kamu ingin menghukum suamimu ini Sayang?"
Dengan cepatnya Ayana menggelengkan kepalanya dan berkata dengan suaranya yang sedikit serak,
"Tidak. Kenapa aku harus menghukum suamiku?"
Rafael tersenyum dan tangannya mengusap lembut pipi istrinya seraya berkata,
"Aku sudah pernah bilang jika air matamu adalah kelemahanku. Dan apabila kamu ingin menghukum aku, hanya dengan melihat air matamu saja bisa membuatku terluka dan bersedih tanpa memukul badanku ini."
Dengan segera tangan Ayana mengusap jejak air mata di pipinya. Dia tidak ingin membuat suaminya bersedih ataupun terluka.
"Aku janji, aku tidak akan menangis lagi," ujar Ayana sambil kedua tangannya memegang pipi suaminya dan tersenyum manis padanya.
__ADS_1
Rafael membalas senyum istrinya. Dia beranjak dari posisinya saat ini dan memandang kedua anaknya.
"Sayang, benar kata semua orang. Putra-putri kita sangat tampan dan cantik. Pasti mereka berdua akan menjadi idola nanti ketika beranjak remaja," tukas Rafael sambil terkekeh melihat kedua bayinya bergerak-gerak merespon ucapannya.
Ayana tersenyum melihat tingkah kedua bayinya. Dalam hatinya meminta pada sang kuasa agar secepatnya putra-putrinya bisa berada di sisinya dan tidak perlu lagi berada di dalam inkubator tersebut.
"Pasti mereka akan menjadi perempuan dan laki-laki yang hebat," timpal Ayana menanggapi ucapan suaminya.
"Menjadi laki-laki dan perempuan yang luar biasa, sama seperti Mama dan Papanya," sambung Rafael sambil tersenyum.
"Apa cucu-cucu kami masih tidur?"
Terdengar suara seorang wanita yang mengalihkan perhatian Ayana dan Rafael.
"Ibu, Bapak," celetuk Ayana dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Anisa, ibu Ayana mendekati putrinya dan memeluknya seraya berkata,
"Selamat Yana, putri kesayangan Ibu ini sekarang telah menjadi seorang ibu dari anak kembarnya. Ibu sangat bangga padamu Nak."
"Bapak juga sangat bangga sama kamu Yana. Dari kecil hingga sekarang, kamu selalu menjadi kebanggan Bapak dan Ibu," timpal Rahman sambil memeluk Ayana yang seda g dipeluk oleh ibunya.
Setelah beberapa saat, bapak dan ibu Ayana melepas pelukan mereka. Mereka bahagia melihat cucu-cucu mereka meskipun masih belum bisa memegang ataupun menggendongnya.
Rafael mencium punggung tangan bapak dan ibu mertuanya. Kemudian dia berkata,
"Ay, sebaiknya kita keluar saja dulu, bergantian dengan Bapak dan Ibu," tukas Rafael sambil bersiap mendorong kursi roda istrinya.
Ayana mengangguk setuju menanggapi perkataan suaminya. Kemudian dia berpamitan pada kedua orang tuanya.
"Pak, Bu, Ayana tunggu di luar ya, agar tidak terlalu banyak orang di dalam ruangan ini."
"Baiklah. Bapak dan Ibu akan menemani cucu-cucu kami dulu," tukas Anisa sambil tersenyum pada anak dan menantunya.
Rafael mendorong kursi roda Ayana keluar dari ruangan tersebut. Mereka berdua duduk di kursi tunggu yang terletak tidak jauh dari ruangan tersebut. Berbagai rayuan dan ucapan kekaguman diberikan oleh Rafael pada istrinya. Mereka tertawa bahagia sehingga membuat orang yang melihat mereka menjadi iri.
__ADS_1
Sepasang mata memandang mereka dengan penuh kebencian dan berkata,
"Sial! Kenapa bayi itu masih bisa hidup? Kenapa wanita sialan itu masih bisa tertawa saat ini? Aku harus membuatmu menangis darah sebentar lagi. Tunggu saja waktunya tiba."