
Ternyata pihak dari rumah tahanan belum memberitahukan pada pihak kepolisian tentang hilangnya Ruby. Mereka masih mencari keberadaan Ruby dengan mengerahkan orang-orang mereka sendiri untuk berusaha menemukan Ruby.
Dan beruntungnya Ruby karena kedua polisi yang menemuinya di rumah sakit waktu itu tidak mengenalinya. Sepertinya mereka bukan dari kantor polisi tempat awal Ruby ditahan.
Saat ini Ruby berada di rumah Fabian. Dia berperan menjaga Arion ketika Fabian sedang sibuk mengurusi pemakaman istrinya.
"Sementara pakailah ini untuk ganti. Maaf, ini baju istri saya. Kita tidak ada waktu untuk membeli baju," ucap Fabian sambil memberikan baju milik istrinya pada Ruby.
Ruby pun menerima pakaian tersebut seraya berkata,
"Terima kasih Pak. Saya tidak keberatan memakai baju istri Bapak. Terima kasih atas kebaikan Bapak."
Ruby tersenyum sangat manis hingga membuat Fabian sedikit terkesima melihatnya. Beberapa detik kemudian Fabian sadar jika apa yang dilakukannya tidak benar.
"Tolong jaga Arion, saya akan ke pemakaman sekarang," ujar Fabian sebelum meninggalkan Ruby bersama dengan Arion.
Ruby tersenyum senang. Dia mencari tempat untuk berganti pakaian. Matanya berbinar menemukan sebuah kamar yang pintunya terbuka.
"Aku ganti pakaian di situ saja," ucap Ruby sambil berjalan menggendong Arion masuk ke dalam kamar tersebut.
Di dalam kamar tersebut Ruby berganti pakaian dengan yang diberikan oleh Fabian. Dia melihat seisi kamar itu dan berkata,
"Kamar ini lumayan juga. Untung saja polisi-polisi tadi tidak mengenaliku. Sepertinya di sini aman juga. Lebih baik aku tinggal di sini saja untuk bersembunyi."
Setelah mengganti pakaiannya, Ruby segera keluar dengan menggendong Arion yang tenang dengan ditemani botol susunya. Entah mengapa jika menggendong Arion mengingatkannya akan anaknya yang telah tiada. Dia tidak bisa berbuat jahat ketika melihat wajah damai Arion yang menenangkannya.
Ruby melihat sejenak keadaan di luar rumah yang terdapat begitu banyak orang melayat bunda Arion. Mereka semua melihat ke arah Ruby yang baru saja keluar dari rumah Fabian dengan menggendong Arion layaknya seorang ibu menggendong bayinya.
Mereka berkasak-kusuk mempertanyakan tentang siapa sebenarnya Ruby dan memiliki hubungan apa dengan keluarga Arion. Karena mereka tahu jika kedua orang tua Arion merupakan pasangan suami istri yang tidak memiliki keluarga. Mereka berdua seorang yatim piatu dari panti asuhan yang sama.
"Siapa wanita cantik itu? Kenapa dia menggendong Arion?" tanya seorang ibu-ibu pada wanita yang ada di sampingnya.
"Apa mungkin dia saudara Pak Fabian? Atau mungkin saudara Bu Tini?" tanya balik wanita tersebut tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan wanita di sebelahnya.
__ADS_1
"Husss... Kamu ini ngawur. Mereka berdua itu tidak mempunyai keluarga ataupun saudara. Jadi... siapa wanita itu sebenarnya?" sahut wanita lain yang berkerumun di sana.
"Wanita itu cantik. Apa mungkin dia pengganti Bu Tini?" timpal wanita lainnya yang berada di tempat itu.
"Bisa juga. Lihat, dia menggendong Arion seperti anaknya sendiri. Apa mungkin ini perselingkuhan?" tanya wanita lainnya sambil memperhatikan penampilan Ruby dari atas hingga bawah.
"Mungkin juga benar. Bisa saja Bu Tini meninggal karena serangan jantung ketika melihat perselingkuhan suaminya," imbuh wanita lainnya dengan sangat antusias.
"Ah iya, benar sekali. Coba kita tanya pada wanita itu. Siapa tau dia mengaku," sahut wanita lainnya dengan sangar antusias.
Berjalanlah wanita tersebut menghampiri Ruby. Dia tersenyum manis pada Ruby dan berkata,
"Maaf Mbak mau tanya, Mbak ini siapanya Pak Fabian ya?"
Ruby terperangah mendengar pertanyaan wanita yang kini berdiri di depannya. Dia berusaha tenang dan tersenyum manis padanya sambil memikirkan jawaban yang akan diberikan pada wanita tersebut.
Fabian menoleh ke arah Ruby berada. Sejenak dia terpesona pada Ruby yang sedang memakai baju istrinya. Dia seperti melihat istri tercintanya kembali di hadapannya.
Dengan segera Fabian berjalan ke arah Ruby. Dia berniat menghindarkan Ruby dari perhatian semua orang.
"Mmm... Saya adalah... Saya pengasuh Arion," jawab Ruby sambil tersenyum pada wanita tersebut.
"Masuklah. Tidurkan Arion dan tunggulah dia. Kasihan jika dia tertidur dalam gendongan."
Tiba-tiba suara Fabian mengalihkan perhatian Ruby dan wanita yang sedang bertanya padanya. Mereka menatap heran pada Fabian yang tiba-tiba ada di dekat mereka.
"Masuklah. Tugasmu adalah mengasuh Arion," sambung Fabian dengan tegas.
Dengan segera Ruby pun masuk ke dalam rumah. Dia tidak pernah melihat wajah tegas Fabian sebelumnya. Dia tidak ingin Fabian marah padanya karena dia ingin tinggal di tempat itu untuk bersembunyi dari kejaran polisi.
Sedangkan wanita yang bertanya pada Ruby tadi menyeringai ketika berjalan melewati Fabian, seolah dia menertawakan Fabian saat ini.
"Bagaimana?" tanya salah satu dari wanita yang sedang berkerumun pada wanita yang baru saja bertanya pada Ruby.
__ADS_1
"Sebaiknya kita pulang. Nanti akan aku ceritakan di jalan," jawab wanita tersebut sambil berjalan terlebih dahulu meninggalkan halaman rumah Fabian.
Sambil berjalan, wanita tersebut menceritakan apa yang ditanyakannya pada Ruby. Dia juga menceritakan bagaimana sikap Fabian pada saat itu. Mereka semua bertambah yakin jika Ruby dan Fabian mempunyai hubungan khusus selain menjadi pengasuh Arion.
Fabian menghela nafasnya melihat ke arah ibu-ibu yang sedang membicarakannya. Kemudian dia melihat ke arah rumahnya dan berkata,
"Sepertinya aku harus menyuruhnya pergi dari rumah ini."
"Pak Fabian, mati kita makamkan sekarang," tutur seorang laki-laki yang menjadi imam dari shalat jenazah yang baru saja mereka lakukan.
Fabian mengangguk dan segera berjalan mendampingi istrinya untuk yang terakhir kalinya. Pemakaman itu hanya dihadiri oleh para tetangga dan sedikit teman kerja Fabian yang sengaja datang untuk menyampaikan rasa belasungkawanya.
Di rumah Fabian, tepatnya di dalam kamar yang digunakan untuk Ruby berganti pakaian tadi, dia menidurkan Arion pada tempat tidur yang ada di dalam kamar tersebut.
Rasa kantuk tidak bisa lagi ditahan oleh Ruby. Dia pun merebahkan tubuhnya di samping Arion dan memeluknya layaknya seorang ibu yang sedang menidurkan bayinya.
Sepulangnya dari pemakaman, Fabian segera bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terkena banyak tanah karena masuk dalam liang lahat untuk meletakkan jenazah dalam liang lahat tersebut.
"Astaga... aku lupa mengambil pakaianku," ucap Fabian disertai helaan nafasnya.
Dia melihat handuk besar yang ada di dalam kamar mandi tersebut. Tidak ada cara lain, Fabian memakai handuk tersebut untuk menutupi tubuhnya keluar dari kamar mandi tersebut.
Tiba-tiba matanya terbelalak melihat Ruby yang tidur bersama dengan Arion. Sama persis dengan kebiasaan istrinya yang sedang tidur bersama Arion.
Fabian menatap Ruby seolah dia sedang menatap istrinya dengan penuh kerinduan. Kemudian dia menggelengkan kepalanya dan berkata lirih,
"Tidak, dia bukan istrimu. Sadarlah."
Setelah mengatakan itu, Fabian segera beranjak untuk mengambil pakaiannya di dalam lemari.
Ruby yang tadinya tertidur, sedikit membuka matanya karena mendengar dengan jelas suara Fabian yang sedang membicarakannya. Bibirnya melengkung ke atas ketika melihat dari samping badan Fabian yang hanya terlilit handuk di pinggangnya. Dalam hatinya berkata,
Ternyata dia boleh juga.
__ADS_1