Ternyata Suamiku Luar Biasa 2

Ternyata Suamiku Luar Biasa 2
Bab 16 Peneror


__ADS_3

Bugh!


"Cepat katakan!" seru salah satu bodyguard tersebut sambil menarik rambut orang tersebut.


"Saya... Saya... Saya disuruh oleh seseorang," ucap orang tersebut dengan terbata-bata.


Kedua bodyguard tersebut saling menatap. Mereka berusaha untuk lebih keras lagi mendapatkan informasi dari orang yang mereka tangkap.


"Siapa yang menyuruhmu?!" sentak salah satu bodyguard itu sambil menjambak rambut orang tersebut agar mau mengaku.


Bugh!


"Katakan!" bentak bodyguard yang satunya lagi.


"Tidak tau. Saya... Saya tidak kenal. Dia... Dia memberi saya uang untuk meletakkan kotak itu di teras rumah tadi dan memastikannya agar dibuka oleh wanita yang sedang hamil," ucap orang tersebut dengan terbata-bata.


Pengakuan orang tersebut telah direkam oleh salah satu bodyguard yang ada di situ untuk ditunjukkan pada Rafael.


Setelah itu, rekaman tersebut dikirimkan oleh mereka pada Rafael. Selama menunggu Rafael datang ke sana, mereka masih saja mencoba mengorek informasi dari orang tersebut.


Di kamar Ayana, Rafael berhasil menidurkan istrinya dalam pelukannya. Tangan Ayana benar-benar mencengkeram erat baju Rafael sehingga suaminya itu tidak bisa meninggalkannya.


Tiba-tiba terdengar suara notifikasi pesan dari ponsel Rafael. Dengan segera dia mengambil ponsel dari saku celananya.


Segeralah dia berusaha melepaskan tangan Ayana yang mencengkeram bajunya setelah melihat nomor pengirim pesan tersebut adalah nomor dari salah satu bodyguard yang menjaga mereka.


Dengan perlahan dan sangat hati-hati sekali Rafael beranjak dari tempat tidur tersebut. Dia berjalan mengendap-endap untuk keluar dari kamar itu.


Tidak jauh dari kamar tersebut, Rafael membuka pesan yang dikirimkan oleh bodyguard nya. Matanya terbelalak ketika melihat sebuah video yang menunjukkan orang yang diinterogasi oleh mereka saat ini.


Rafael segera menghubungi nomor bodyguard yang mengirimkan pesan padanya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Rafael ketika bodyguard tersebut menjawab panggilan teleponnya.


Bos, ternyata dia hanya orang suruhan, jawab bodyguard tersebut dengan tegas.


"Kalian di mana?" tanya Rafael dengan tegas.


Di pantai bos, jawab bodyguard tersebut.


"Saya akan ke sana sekarang juga," ucap Rafael sambil berjalan keluar rumah.


"Rafael. Bagaimana keadaan Ayana? Baik-baik saja kan?" tanya Bu Anisa ketika Rafael akan keluar dari pintu rumah.


Seketika Rafael menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah Bu Anisa dan berkata,


"Ayana sedang tidur Bu. Saya mau menitip Ayana dulu Bu. Saya mohon Ibu temani Ayana di dalam kamar Bu. Saya akan menyelesaikan masalah tadi. Permisi Bu."


Setelah mengucapkan itu, Rafael segera berjalan keluar rumah tanpa menunggu tanggapan dari ibu mertuanya.


Bu Anisa berjalan cepat keluar untuk mengikuti Rafael dan berseru padanya.


Rafael menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, di mana ibu mertuanya sedang berdiri dan melihat ke arahnya. Kemudian dia berkata,


"Saya hanya sebentar Bu. Jangan khawatir, saya akan baik-baik saja."


Setelah mengatakan itu, Rafael berlari ke arah pantai untuk menghampiri para bodyguard nya yang masih menahan orang tersebut.


Keadaan pantai sore menjelang malam itu begitu sepi dan sunyi, sehingga tidak ada yang menghiraukan mereka di sana.


"Siapa dia?" tanya Rafael sambil menunjuk orang tersebut yang sudah lemas tidak berdaya.


"Silahkan Bos tanya sendiri," tukas bodyguard yang sedang memegang orang tersebut.

__ADS_1


Rafael berjalan mendekati orang tersebut. Dia menatap orang itu dengan tatapan bengisnya seolah ingin mengulitinya. Kemudian dia berjongkok di depannya dan berkata,


"Siapa yang menyuruhmu melakukan semua ini?"


Orang itu tidak bergeming. Bahkan dia menutup erat bibirnya agar tidak ada satu kata pun yang keluar darinya.


"Katakan!!!" teriak Rafael dengan mencengkeram dagunya.


Orang tersebut masih saja menutup mulutnya seolah enggan mengatakan apa pun pada Rafael.


Bugh!


Punggung orang tersebut dihantam oleh bodyguard yang ada di belakangnya hingga jatuh tersungkur di tanah dengan tidak berdaya.


Kemudian Bodyguard tersebut menarik rambutnya hingga kepalanya mendongak ke atas agar dia bisa melihat ke arah Rafael yang sedang berjongkok di hadapannya.


"Siapa yang menyuruhmu?!" teriak Rafael dengan tatapan membunuhnya.


Melihat orang itu tidak juga berbicara, Rafael mendekati telinganya dan berbisik di telinganya,


"Katakan atau aku bunuh kau."


Sontak saja mata orang tersebut membelalak. Dia lupa jika orang yang berharta akan melakukan apa saja untuk rencananya dan akan membunuh siapa saja yang menghalanginya.


Dengan meringis menahan sakit di sekujur badannya, orang tersebut berkata dengan terbata-bata,


"Seorang laki-laki muda seusia anda Tuan."


Seketika Rafael membelalakkan matanya. Kini dia bertambah bingung dengan pengakuan dari orang tersebut.


"Apa kamu yakin?" tanya Rafael menyelidik.

__ADS_1


Orang tersebut menganggukkan kepalanya dengan pelan untuk menjawab pertanyaan Rafael.


"Apa dia bukan perempuan yang sedang menyamar?" tanya Rafael kembali pada orang tersebut.


__ADS_2