
Rafael segera menutup kembali box tersebut dan membuangnya tidak jauh dari rumah tersebut.
"Hancurkan box ini beserta isinya! Segera temukan dan hukum pelakunya!" perintah Rafael dengan penuh amarah pada orang-orang yang diperintahkan Antonio untuk menjaga Ayana dan Rafael.
"Baik Bos," ucap salah satu orang yang merupakan ketua dari para bodyguard tersebut.
Tiba-tiba salah satu dari para bodyguard itu yang sedari tadi berjaga dengan menyebar di sekitar rumah orang tua Ayana, berlari mengejar seseorang yang menurutnya sangat mencurigakan.
Salah satu dari mereka mengikuti bodyguard yang berlari tadi untuk menyusulnya dan membantunya menangkap orang tersebut. Sedangkan bodyguard yang lainnya masih berjaga di sekitar rumah orang tua Ayana dan menyisir setiap tempat agar tidak terlewati begitu saja.
"Bodoh sekali kalian! Apa yang sebenarnya kalian lakukan sejak tadi dengan orang sebanyak ini?!" seru Rafael dengan mata berkabut amarah.
Setelah mengatakan itu, dia segera berlari menuju teras rumah tersebut untuk menemui istrinya.
Dia melihat Ayana yang sedang terisak dalam pelukan ibunya. Hatinya sangat pedih mendengar isakan tangis istrinya yang terasa sangat menyayat hatinya.
Diraihnya tubuh istrinya itu dan dibawanya dalam pelukannya seraya berkata,
"Ay... Sayang... Kamu baik-baik saja kan?"
Tubuh Ayana bergetar hebat. Terlihat jelas ketakutan dalam dirinya saat ini. Rafael memeluk tubuh istrinya itu dengan erat dan mengusap lembut punggungnya yang bergetar itu dan berkata,
"Tenang Ay. Semua akan baik-baik saja. Ada aku di sini. Aku gak akan meninggalkanmu sendirian. Aku akan menemukan orang itu dan menghukumnya untukmu."
"Raf... Apa... Apa dia si Rubah betina itu?" tanya Ayana dengan suara yang tercekat dan bergetar di sela isakan tangisnya.
Rafael memejamkan matanya. Dia merasakan betapa takutnya istrinya itu meskipun berada dalam pelukannya. Terlihat sangat menyedihkan keadaan Ayana saat ini, hingga Bu Anisa ikut menangis melihat putrinya yang terlihat sangat ketakutan dan terancam saat ini.
"Tenang Sayang. Aku gak tau siapa pelakunya. Tapi jika memang benar dia si Rubah itu, aku sama sekali gak akan memaafkannya," ujar Rafael sambil memeluk dan mencium pucuk kepala istrinya.
Pak Rahman yang baru saja datang merasa ada hal yang aneh dengan mereka semua. Dia mendekati istrinya dan berkata,
"Ada apa Bu? Kenapa kalian menangis?"
Bu Anisa memeluk tubuh Pak Rahman dan menumpahkan air matanya dalam pelukan suaminya itu. Setelah beberapa saat, dia mengurai pelukannya dan mengusap air matanya.
"Ada yang meletakkan kardus mi instant di situ Pak," ucap Bu Anisa sambil menunjuk teras rumahnya yang menjadi tempat untuk meletakkan box tadi.
Dahi Pak Rahman mengernyit. Dia tidak mengerti apa maksud dari perkataan istrinya. Kemudian dia berkata,
__ADS_1
"Kardus? Memangnya kenapa dengan kardus itu Bu?"
Bu Anisa menghela nafasnya yang terasa sangat berat kala mengingat apa yang dilihatnya dalam kardus tersebut.
"Dalam kardus itu ada sebuah boneka bayi dengan kepalanya yang terputus dan banyak darah di sekitar lehernya. Ada tulisan di atas boneka itu 'ANAKMU HARUS MATI'. Ibu takut Pak. Ayana sangat ketakutan. Kasihan dia Pak," jelas Bu Anisa dengan matanya yang berkaca-kaca menahan air mata di pelupuk matanya.
Sontak saja Pak Rahman terkejut mendengar penjelasan dari istrinya. Terlihat kemarahan dari sorot mata Pak Rahman. Dia tidak bisa melihat orang lain menyakiti atau pun membuat putri kesayangannya menangis. Apa lagi hingga ketakutan seperti itu.
"Rafael, bawa istrimu masuk ke dalam kamar. Tenangkan dia. Nanti kita bicarakan jika istrimu sudah tenang," perintah Pak Rahman pada Rafael yang masih memeluk istrinya untuk menenangkannya.
Dengan segera Rafael menggendong tubuh Ayana dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar, Rafael merebahkan tubuh Ayana dan memeluknya erat agar istrinya itu merasa aman dan terlindungi. Tangan Ayana begitu erat memeluk tubuh Rafael. Dia benar-benar ketakutan saat ini. Hingga kepalanya selalu disembunyikan dalam pelukan suaminya.
Rafael menghela nafasnya merasakan kepedihan hati istrinya. Jauh-jauh mereka datang ke tempat ini hanya untuk menenangkan diri setelah teror itu berlalu.
Namun, Rafael terlalu lengah. Teror itu masih saja menghantui mereka. Bahkan beberapa orang yang menjaga mereka mampu terkecoh orang tersebut.
Siapa sebenarnya orang yang mengintai dan meneror kami di sini? Apa dia benar-benar si Rubah betina itu? Jika memang benar dia, bagaimana bisa dia mampu melakukan semua ini sendirian? Rafael bertanya-tanya dalam hatinya.
"Rafa... Sayang... Apa ancaman itu untuk anak kita?" tanya Ayana dengan suara bergetar.
Rafael mengurai sedikit pelukannya. Dia menatap lekat manik mata istrinya dengan penuh cinta dan berkata,
Rafael tahu akan ketakutan istrinya saat ini. Dia mencium kedua mata istrinya dengan sangat lembut untuk meredakan tangisnya. Kemudian dia kembali memeluk erat tubuh istrinya itu agar tidak lagi merasa ketakutan.
Di luar sana, dua orang dari beberapa orang yang ditugaskan oleh Antonio untuk menjaga Ayana dan Rafael sedang mengejar seseorang yang sangat mencurigakan. Orang yang menggunakan pakaian serba hitam dan sedari tadi terlihat seperti sedang mengintai rumah orang tua Ayana itu, kini sedang dikejar oleh dua orang tersebut hingga ke arah pantai dan tertangkap di sana.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Pukulan demi pukulan diberikan oleh kedua orang yang menjadi bodyguard Ayana dan Rafael pada orang tersebut.
"Siapa kamu? Katakan!" seru salah satu bodyguard tersebut setelah menghajar orang tersebut.
"Am-pun...," ucap orang tersebut meringis kesakitan sambil memegang bagian tubuhnya yang terkena pukulan.
__ADS_1
"Jawab! Siapa kamu?!" seru bodyguard itu kembali.
"Ampun... Ampuni saya...," pinta orang tersebut lirih menahan rasa sakitnya.
Bodyguard yang satunya lagi mengambil alih orang tersebut dari tangan bodyguard yang sebelumnya.
Bugh!
Dia memberikan bogeman mentahnya untuk memberi orang tersebut peringatan seraya berkata,
"Kenapa kamu melakukan itu? Kenapa kamu meneror keluarga yang tinggal di rumah itu? Ayo jawab!"
"Bukan... Bukan saya...," ucap orang tersebut ketakutan.
"Siapa?! Jawab!" seru bodyguard itu kembali.
Bugh!
Bugh!
"Jawab!" serunya kembali.
Orang tersebut terkapar tidak berdaya. Dia tersungkur di tanah dengan luka lebam di wajah dan tubuhnya.
"Jawab! Kenapa kamu melakukannya!" seru bodyguard itu kembali.
Orang tersebut berusaha bangkit, sayangnya dia tidak berdaya. Dia meringis kesakitan menahan semua luka yang diberikan oleh kedua bodyguard itu padanya.
Salah satu dari bodyguard itu menarik rambutnya dan berkata,
"Katakan atau akan kami habisi kamu sekarang juga!"
"Ampun... Saya... Saya...," ucapnya terengah-engah menahan sakitnya.
Bodyguard tersebut semakin kencang menarik rambutnya sehingga orang tersebut meringis dan berteriak kesakitan.
"Aaaargghhhh...!"
Bugh!
__ADS_1
"Katakan!" seru kembali bodyguard tersebut.
"Saya... Saya...."