
Sesampainya di rumah. Raya segera masuk begitu saja dan pergi mengurung diri di kamar. Sejak menuju pulang dia hanya diam bahkan Bi Isah sangat kasihan dan prihatin pada Raya dia juga jadi tidak enak karena pertemuan yang tidak di sengaja. Pasti Raya sangat sedih apa lagi saat Nilam memperkenalkan nya sebagai calon istri nya Yusra, pikir Bibi.
"Mba, tidak makan malam dulu? " kata Bi Isah di luar kamar Raya.
Hening tidak ada jawaban.
"Kasian sekali anak itu, sepertinya dia sangat sedih sampai mengurung diri, Mas Yusra sangat kelewatan sekali sih! Mesra mesraan di depan istri saha." gerutu Bi Isah.
"Siapa Bi. " kata Yusra begitu muncul tiba tiba.
"E-eh, anu Mas. " jawab Bibu gugup.
"Siapa yang mesra mesraan di depan istri sah? Bibi sedang membicarakan saya! " tegur nya dan Bi Isah hanya bisa menunduk karena ketahuan membicarakan majikanya.
"Maaf. Mas, " katanya merasa bersalah.
"Lain kali, hati-hati kalau bicara, saya tidak suka Bibi ikut campur dengan rumah tangga saya, tugas Bibi di sini hanya mengurus rumah! mengerti. " kata Yusra.
"Iya. Mas, mengerti, sekali lagi Bibi minta maaf, kalau begitu Bibi permisi dulu mau ke dapur. " Yusra hanya diam saja lalu Bibi segera pergi dari hadapan Yusra.
Setelah kepergian Bibi. Yusra menatap pintu kamar Raya yang tertutup rapat. Namun Yusra tidak terlalu perduli dan dia segera pergi dari depan kamar Raya.
Sementara di dalam kamar.
__ADS_1
Raya sedang meratapi nasibnya. Bahkan Raya mendengar percakapan antara Yusra dan Bi Isah tadi. Raya duduk diatas kasur sembari memeluk lututnya berulang kali menghapus air mata sialan itu yang sejak tadi tidak berhenti membuat Raya ingin sekali berteriak karena jengkel.
"Sakit banget. Ya Allah , kenapa nasib Raya begini, kapan Raya akan temukan bahagia? Sejak kecil di tinggal kedua orang tua, hidup sebatang kara sudah gede menikah dan punya suami macam si Kardun yang naudzubillah, gak punya hati memerlukan istri semena mena dan sesuka hatinya. " lirih Raya.
"Jadi pengen susul Ibu sama Bapak aja ke syurga, Raya cape loh, cape ke segala-galanya, hati Raya bahkan psikis Raya juga cape banget ngadepin sikapnya Mas Yusra! Sebenarnya dia maunya apa sih? Aku baru ingat kalau dia mau aku hamil lalu setelah aku melahirkan dia akan ceraikan aku, kan. " gumamnya.
Setelah memikirkan soal cerai dan anak. Akhirnya Raya bertekad bulat dia akan meminta cerai sebelum dia hamil. Dan besok dia akan bicara kepada Yusra untuk mengajukan surat cerai ke pengadilan.
"Yah, sebaiknya memang begitu, enak saja! Dia pikir aku wanita yang seperti apa? Seenaknya membuat perjanjian seperti itu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah hamil dan mau punya anak dengan si Kardun itu! Dia pikir aku akan mudah di tindas karena dia memiliki segala, tidak! Mulai sekarang dan seterusnya aku bukan lagi Istri yang takut dan lugu, aku akan selalu melawan nya dan tidak akan lagi takut pada si Kardun, lihat saja besok aku akan pergi dari rumah ini dan mencari kerjaan, aku ingin segera bebas dari belenggu pernikahan tanpa rasa dan tidak di inginkan ini. Lagi pula dia sudah ada calon istri pasti dia akan sangat senang kan kalau aku pergi. " lirih nya, ketika mengatakan itu ada rasa tidak rela apa lagi mengingat perlakuan manja si Nilam kepada Yusra.
.....
Keesokan paginya .
Saat ini pasangan pasutri sedang melakukan sarapan. Tidak ada sapa saling sapa dan tidak ada terlibatnya percakapan ringan seperti biasa di lakukan. Pagi ini ruangan makan berasa horor dan terasa dingin. Bi Isah yang merasakan adanya aroma tidak sedap di antara majikan nya ini merasa ingin kabur saja, pasalnya sejak tadi hanya ada tatapan tajam dari Raya dengan raut wajah yang muram tapi tidak dengan Yusra yang merasa biasa biasa saja.
Yusra menatap tak suka ketika Raya berprilaku tidak sopan seperti itu. Tapi mulutnya enggan menjawab dia sibuk mengunyah saja dan tentu saja membuat emosi Raya tersulut karena tidak mendapatkan respon.
"Mas, tolong cerkaikan Raya sekarang! " pinta Raya dengan keberanian penuh karena dia sudah memikirkan ini semalam jadi dia tidak akan goyah dan takut saat Yusra menatap tajam padanya.
Bi Isah yang mendengar itu hanya bisa menahan nafas dan mengelus dada. Dalam hati terus beristighfar dan berdoa agar Yusra tidak menuruti keinginan Raya.
"Bi, tolong siapkan bekal untuk saya, dan juga tolong buatkan jus alpukat ya. " Raya menggeram saat Yusra tak merespon permintaan nya itu.
__ADS_1
"Mas Yusra, aku sedang bicara loh ini, kenapa d8 cuekin sih! " geram Raya dan itu membuat Bibi merasa lucu.
"Owh, kamu lagi bicara toh. " jawab Yusra biasa saja.
Sabar Raya, memang butuh tenaga extra untuk menghadapi si Kardun satu ini. batin Raya.
"Mas jangan pura pura tidak denger ya. Raya pengen kita cerai! Raya tidak perduli sama perjanjian yang Mas buat itu, karena Raya tidak mau dan sudi punya anak dari kamu apa lagi melahirkan anak untuk kamu, jadi Raya mohon dengan sangat tolong ceraikan Raya sekarang juga, karena Raya tidak mau kalau harus menunggu sampai Raya melahirkan dan maaf karena itu tidak akan pernah terjadi! " kata Raya menatap tajam Yusra dengan dada naik turun karena emosi.
Yusra juga tak kalah tajamnya menatap Raya garang dia hanya mengepalkan kedua tangannya di bawah meja.
"Bi sudah jadi belum! " teriak Yusra dan lagi dia mengacuhkan keinginan Raya.
"Sudah.Mas , ini sudah Bibi masukan ke dalam kantong. " jawab Bibi dan memberikan pada Yusra.
Yusra menerima bekalnya dari Bi Isah dan beranjak pergi dari ruangan makan meninggalkan Raya yang mematung . Begitu sadar Raya langsung mengejar Yusra dan mengatakan sesuatu yang terpaksa membuat Yusra menghentikan langkahnya.
"Baiklah, jika Mas Yusra mengacuhkan permintaan ku, aku akan pergi dari rumah ini dengan atau tanpa cerai sekalipun darimu. Karena demi Allah aku tidak sudi tinggal satu rumah dengan kamu Mas, aku tidak mau punya suami yang selalu semena mena padaku! Dan lagi aku tidak akan pernah mau punya madu dan tinggal satu rumah! Lebih baik kita pisah dan kamu hidup dengan istri barumu. " ujar Raya dengan suara yang lantang.
"Kamu tidak akan bisa pergi atau keluar dari rumah ini! Dan jangan harap aku akan mengambulkan permintaan mu, Raya! " jawab Yusra dingin.
Glek.
Raya susah payah menelan ludahnya. Lalu Yusra pergi begitu saja. Dan sebelum keluar dari rumah dia berpesan kepada satpam agar tidak membiarkan Raya pergi keluar dengan alasan apapun .
__ADS_1
Raya hanya bisa menggeram dengan sikap yang di tunjukan Yusra padanya. Kenapa Yusra seperti itu bukankah waktu itu dia mengatakan jika membenci Raya dan pernikahan ini di hadapannya dan Pak Yusman, lalu kenapa sekarang saat Raya meminta cerai justru Yusra malah tidak menanggapi bahkan mengatakan jika Raya tidak akan pernah bisa pergi dari rumah ini. Raya jadi bingung sendiri dan bertanya tanya pada dirinya sendiri.
Slow update ya. Karena sedang melakukan revisi di cerita satunya.