Terpaksa Menikahi Anak Majikan

Terpaksa Menikahi Anak Majikan
Bab 26


__ADS_3

Setelah selesai makan malam dan jalan jalan. Kini Yusra membawa Raya ke hotel bintang lima dan lagi lagi Raya terpukau dengan kamar yang sudah di pesan oleh Yusra.


Kini Raya tengah berada di balkon kamar hotel ia sedang menikmati angin malam dan pemandangan dari luar. Yusra menghampiri Raya dan memeluknya dari belakang.


Grep.


"Mas."


"Hmm." Yusra menghirup wangin rambut Raya dan menopang dagunya di atas bahu Raya.


"Bagaiamana, suka tidak dengan dinner nya tadi? " tanya Yusra yang masih memeluk Raya.


"Suka, terimakasih ya Mas, malam ini Raya senang sekali, sudah di traktir makan enak di tempat yang bagus pula, di ajak jalan jalan ke mall sama belanja, sekarang di ajak menginap di hotel bintang lima, ini benaran nyata apa lagi mimpi sih? " ujarnya yang berhasil membuat Yusra tertawa.


"Kamu ini, apa tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang mimpi? Tentu saja ini nyata, aku bersyukur karena Fahri yang terpilih, aku jadi bisa leluasa bisa menghabiskan waktu berdua denganmu, aku lupa, sejak kita menikah kita belum ada renca bulan madu, kira kira kamu mau kita kemana? " tanya Yusra.


"Anggap saja ini sedang bulan madu. " celetuknya.


"Jangan dong, ini kan hanya sedang jalan jalan saja. "


"Memang apa bedanya dengan bulan madu? Sama saja kan, dengan jalan jalan. "


"Sayang, kamu kalau sedang menggemaskan seperti ini, rasanya ingin aku makan saja. " Yusra menggigit bahu Raya seketika karena gemas.


"Mas Yusra! Kenapa menggigit ku sih! Apa tidak puas ya, tadi makan steak nya? Kenapa menakutkan sekali sih. " gerutu Raya.


"Habis kamunya, ngegemesin, pokonya kamu mau kita bulan madu kemana, mumpung aku sedang leluasa . " kata Yusra masih mendekap tubuh Raya.


"Tidak tau, belum kepikiran, rasanya di sini saja juga tak apa, " untuk saat ini memang Raya belum kepikiran untuk bulan madu. Karena baginya bulan madu atau tidak ia tak mempersalahkan.


"Baiklah , tapi jika kamu berubah pikiran, jangan sungkan untuk memintanya padaku, karena aku akan usahakan untuk kamu saat aku sudah kembali sibuk. "


Tidak ada jawaban dari Raya karena ia sedang menikmati momen ini. Raya merasa sangat bahagia dan senang malam ini. Ia tak menyangka jika pria yang sedang mendekap tubuhnya adalah pria masa kecilnya , yang dulu selalu ada untuknya dan melindunginya.


"Kita masuk yuk, dingin di sini sayang, nanti kamu terkena flu bagaiamana. " ajak Yusra.


"Hmm, baiklah, Raya juga sudah ngantuk. " jawabnya.


"Main dulu yah. " pinta Yusra.


"Kan tadi sore sudah, kamu ini, semenjak aku kasih izin, sekarang minta terus ya! " ketusnya.


"Ya, kan, itu tadi sore, sekarang beda lagi sayang. Mumpung kamu tidak takut lagi denganku. " ujarnya cengengesan.


"His! Jangan bahas itu deh, dulu kan kamu kasar banget, gak ada lembut lembut nya. " Raya jadi malu saat waktu itu ia sangat ketakutan saat Yusra akan memberikan hukuman padanya.

__ADS_1


"Tapi sekarang aku sudah lembut kan? Bahkan kamu juga sangat menikmatinya sekarang. " kata Yusra dan menaikturunkan alisnya.


"Mesum banget si kamu, sudah lah jangan bahas itu, Raya ngantuk Mas, cape juga. " rengeknya. Karena saat ini Yusra saat ini sudah mencium bahunya lalu mengarah ke telinga kemudian memberikan gigitan manja litah.


Raya jadi berdebar debar karena Yusra sudah membawa nya ke atas kasur.


.....


.....


.....


Sementara itu di kediaman Yusman yang kini rumahnya di tempati oleh Ali. Di depan rumahnya sudah ada penghuni baru dan itu seperti baru pindahan.


"Bi, itu di depan sudah ada yang isi ya, rumahnya? " tanya Ali saat baru saja masuk rumah, karena hari ini adalah hari weekend dan ia baru saja selesai melaksanakan lari pagi karena itu adalah salah satu rutinitas Ali saat libur.


"Iya. Pak, baru kemarin pindahan nya. " jawab Bibi.


"Bi, jangan panggil saya Pak, dong, saya kan masih muda, kalau di panggil Pak, saya berasa udah tua. " sungut nya dan Bi Mirna hanya terkekeh.


"Iya maaf, panggilnya mau Den Ali saja apa? " tawar Bibi.


"Itu apa lagi, aku bukan holang kaya apa lagi bos, panggil saja saya Ali kalau Bibi tak enak Mas Ali saja. " ujarnya.


"Baik Mas Ali. " kata Bi Mirna patuh.


Sementara di rumah depan alias tetangga baru Ali. Adalah orang yang kemarin menuduh Ali sebagai pembinor di rumah tangga sang Kaka.


"Hum, kayanya, tetangga depan ada di rumahnya, deh? Apa aku anterin sekarang aja kali ya, kuenya, ini sebagai tanda perkenalan saja kan. " gumamnya.


Wanita itu bernama Neng Dian. Dia tidak tahu saja jika tetangganya adalah laki laki yang kemarin ia pukuli dan tuduh sebagai pembinor. Akhirnya dengan penuh semangat 45 ia beranikan diri untuk memberikan kue sebagai tanda perkenalan karena tetangga kiri kanan sudah ia bagi tinggal yang depan saja, yaitu Ali.


"Assalamu'alaikum." teriaknya di balik gerbang.


"Mas, sepertinya ada yang mengucap salam? " ujar Bibi. Karena ia sedang memasak dan kebetulan sepulangnya habis lari. Ali ke dapur untuk minum dan belum beranjak.


"Iya kah? Ali gak denger tapi. " jawabnya masih asik bermain handphone.


"Gimana gak denger, orang fokus sama handphone terus. " celetuk Bi Marni.


"Ya udah, Ali lihat dulu, Bibi lanjut saja masakannya. " Ali meletakan handphone nya di atas meja dan berjalan keluar. Ternyata benar ada orang.


"Assalamu'alaikum." ujar Dian lagi.


"Iya. Waalaikumsalam, " jawab Ali lalu membuka gerbang dan saat melihat siapa tamunya eh mereka sama sama terkejut.

__ADS_1


"Lu kan?! " ucapan Ali terpotong karena di sela oleh Dian yang meminta maaf.


"Maaf, maaf . Mas, kirain saya yang punya rumah ini siapa, taunya Mas yang kemarin. " ujar Dian malu.


"Oh, jadi tetangga baru saya itu kamu, mau ngapain ke sini? " ketusnya. Ia masih jengkel perihal kemarin.


"Saya mau ngasih ini. " Dian mengangkat kotak kue ke hadapan Ali. Ali menautkan kedua alisnya. "Ah, ini, ini adalah tanda perkenalan saya sebagai tetangga baru, jadi tolong di terima ya. Mas, dan soal kemarin saya benar-benar minta maaf bangeeet. " ujar Dian dengan wajah merasa bersalah.


"Oke, saya terima, sekarang kamu boleh pergi. " usir nya .


"Sialan, aku di usir, gak ada bilang terimakasih nya gitu? Ngeselin banget. " gumamnya lalu pergi dari rumah Ali.


.....


Apartemen Fahri.


"Fahri." panggil Hendri.


"Iya. Pah, ada apa? " jawabnya lalu duduk di hadapan Hendri.


"Papa bangga sama kamu, belum ada sebulan saja kamu bisa dengan cepatnya mengembangkan perusahaan, lihat ini, dalam waktu dua minggu saja perusahaan sudah naik pesat sahamnya dan banyak sekali para investor yang tertarik dengan prestasi kamu. " Hendri terlihat senang. Sementara Fahri hanya menatap datar saja. Lalu tersenyum paksa saat Hendri melihatnya.


"Papa senang? " tanya Fahri dengan raut datar.


"Tentu saja Papa senang. " jawabnya dengan masih sumringah.


"Lalu, jika Fahri berhasil dan menjadi pemimpin di perusahaan, apa yang akan Papa lakukan?. "


"Yang akan Papa lakukan adalah memeberitahu semua orang jika, Papa tidak seburuk yang mereka pikir dan juga Papa sangat bangga karena memiliki putra seperti mu dan akan mengenalkan kamu ke seluruh dunia jika kamulah, yang hak menjadi pemimpin perusahaan Y/N Grup. Papa akan mengatakan kepada mereka jika Papa ini bukan orang bodoh atau benalu dalam keluarga,karena kini Papa sudah berhasil mendidik mu dan menjadikan mu sebagai seorang pemimpin, dan kita akan singkirkan para benalu itu seperti Yusra! " ujarnya dengan sungguh-sungguh.


"Sudah cukup Hendri! " bentak Rika. Hendri dan Fahri menoleh ke arah Rika.


"Kamu bilang kamu merasa bangga karena telah mendidik Fahri? Mimpi kamu, sudah cukup selama ini kamu jadikan putraku sebagai bonekamu! Kamu jadikan Fahri hanya sebagai alat pemuas nafsumu yang berambisi kepada harta! Kamu memang benalu bagi keluarga, kamu memanfaatkan kecerdasan putramu sendiri untuk merebut perusahaan dan sekarang kamu merasa senang karena Fahri telah berhasil seperti yang kamu ingin kan. Apakah kamu tidak memikirkan keinginan Fahri? Apakah yang ada di otakmu itu hanya harta dan kekuasaan! Apa pernah kamu bertanya dan berpikir dengan mimpi Fahri? Tidak, kamu sama sekali tidak memikirkannya! Karena yang kamu pikirkan hanyalah dendam, hidup mu tidak akan pernah habis karena menaruh dendam." teriak Rika. Ia sudah sangat geram dengan Hendri yang selalu menjadi kan anaknya kambing hitam demi harta.


Hendri menatap garang kepada Rika. Darahnya seketika merasa mendidih begitu saja ,ia tak bisa lagi menahan emosinya karena Rika sangat berani bicara dengan nada tinggi apa lagi selalu menantang nya.


Plak!!


Hendri menampar Rika sampai wanita itu tersungkur karena menerima tamparan yang begitu keras dari Hendri. Fahri mengepalkan tangannya dan segera membatu Mamahnya untuk berdiri.


"Sudah cukup. Pah! Selama ini aku menurut dengan Papa karena menghormati mu sebagai Papahku, tapi, kenapa Papah yang aku hormati dan takuti kini dengan teganya memukul wanita yang tak lain adalah ibuku sekaligus istrimu sendiri! Jika Papah ingin aku jadi pemimpin, tolong jangan kasari Mamah, jika saja Papah berani memukulnya lagi, maka aku tidak akan segan untuk keluar dari perusahaan itu dan memberitahukan ke semua orang tentang kebusukan Papah selama ini! " ancam Fahri yang kini tengah memeluk Mamahnya yang menangis.


"Anak kurang ngajar kamu! Beraninya kamu mengancam ku demi wanita ini, hah! Aku ini Papah mu, yang harus kamu hormati, jika saja kamu berani melakukan itu, aku pastikan , orang yang sedang kamu dekati akan lenyap di tanganku! " ancam balik Hendri.


Seketika Fahri melebarkan matanya. Dari mana bisa Papa nya tahu jika ia sedang dekat dengan seseorang.

__ADS_1


"Tidak usah terkejut, kamu tahu siapa aku, aku akan tahu gerak gerik mu dan dengan siapa kamu sedang dekat. Karena aku tidak bodoh, kamu dalam pengawasan Papah!. " ujarnya lalu pergi begitu saja.


Fahri hanya bisa menghela nafas dan mengepalkan tanganya lalu membawa sang Mamah untuk membersihkan luka yang ada di bibir Rika. Kali ini ia sudah tidak bisa leluasa lagi dan pada akhirnya ia akan tetap menjadi boneka sang Papa demi ambisinya.


__ADS_2