
Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi Yusra. Tekanan darahnya naik akibat terlalu emosi . Kini di ruangannya Yusra sedang membaringkan tubuhnya di sofa dengan sebelah tangan yang menutup matanya.
Dirasakan handphonenya bergetar Yusra segera mengeambil benda pipih itu di saku jas nya. Ia melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dan banyak sekali pesan yang di kirimkan oleh Raya.
[ Mas, kenapa tidak di angkat, ada yang ingin Raya katakan kepada Mas Yusra, ini sangat penting ] isi pesan dari Raya , lalu Yusra men scroll lagi ke bawah.
[Mas, angkat dong telpon Raya, jangan di cuekin terus, serius Raya ada yang mau di bicarakan. Mas, cepet pulang ya] Yusra tersenyum melihat deretan chat yang masuk dari Raya.
Ketika sedang asik memandang layar HP yang berisi chat dari Raya. Tiba-tiba Ali masuk dan menghempaskan tubuhnya ke sofa . Ali sangat lelah lesu dan lemah karena harus ikut mengurusi masalah ini belum lagi mengurus Pak Hamid yang di larikan ke rumah sakit karena ulah Yusra.
"Percuma sekolah tinggi tinggi jika tidak punya sopan santun. " sindir Yusra lalu menaruh handphone nya saku.
"Udah lah, Mas. Begitu aja di permasalahin, Mas mah enak, habis marah marah dan bikin orang babak belur malah leha leha, sedangkan aku, harus repot ngurusin ini itu gara gara si Hamidun! Menyusahkan banget. " keluh Ali.
"Jangan asal bicara kamu, kata siapa leha leha, justru aku juga lelah karena harus mengeluarkan tenagaku sampai tensi darahku naik, kapan si Hendri kemari. " kata Yusra.
"Dia sudah sampai sejak semalam dan kini sedang di apartemen Fahri, heran sama Kakanya Mamah yang satu ini, gara gara harta sampai rela menghasut orang lain demi ke puasnya, udah gitu pake di imingi pake rumah sama mobil lagi! Parah banget si Uwa Hendri itu. " ujar Ali.
"Aku ingin lihat, sampai mana dia berambisi untuk mendapatkan harta warisan Kake, apa yang akan dia lakukan setelah orang suruhannya tertangkap. Siapa yang akan di jadikan kambing hitam lagi oleh nya. " kata Yusra kini posisinya sudah duduk tegak.
"Ya, siapa lagi jika bukan Fahri, siap siap saja dua saudara akan bersaing demi harta warisan, tapi kalau menurut Ali, seperti nya Fahri tidak tertarik Mas, kasian sekali sepupuku di jadikan boneka oleh Papanya sendiri." Ali tahu persis bagaimana sifat Fahri, meskipun terbilang tak perduli namun dia sayang dengan keluarga apa lagi kepada Papa dan Mamanya. Makanya Fahri mau melakukan apapun demi sang Papa meski harus bersaing dengan saudara sendiri.
"Huuh, aku tidak akan membiarkan itu terjadi, tidak akan pernah harta warisan kake jatuh ke tangan yang salah, apa lagi macam si Hendri, orang yang sangat serakah dan selalu mengandalkan apapun dengan uang bukan dengan otaknya. Aku bersyukur karena Kake Yusril menyerahkan harta dan kepercayaan nya kepada Papa, jika sampai semua aset perusahaan dan ke kayaan di pegang oleh Hendri, mau jadi apa nanti nya. " ujar Yusra memeijit pelipis nya.
"Sabar.Mas, kita serahin saja sama Allah, karena semua ini sudah dalam campur tangan-Nya, kita doakan saja semoga Uwa Hendri sadar dan mendapatkan hidayah, agar tidak lagi berambisi kepada harta yang memang sudah bukan hak nya. " ujar Ali , yang sudah Yusra anggap sebagai ustadz karena bicara dengan Ali pasti akan bersangkutan dengan agama.
"Terimakasih tausyiah nya, Pak Ustadz Ali Jainal Abidin. " ledek Yusra .
"Mas , sejak kapan namaku sepanjang itu? " kata Ali.
"Sejak hari ini, dan mungkin aku akan mengganti nama belakangmu dengan nama itu lalu akan ku suruh Bibi untuk membuat bubur. " ketus Yusra.
.......
Kediaman Yusra.
Hari ini Raya sedang ke datangan tamu. Tamunya bikin mood Raya kesal sampai bibirnya berubah jadi bimoli . Karena yang bertamu siang ini adalah Nilam yang sudah di tandai sebagai musuh oleh Raya sejak pertama kali mereka bertemu.
__ADS_1
"Hay, pembantu, kenapa wajah kamu di takut begitu? Tidak senang ya aku datang. " cibir Nilam yang berpakaian ****.
Raya hanya mencebikan bibirnya.
"Sombong banget kamu, pembantu saja belagu, lihat saja aku akan adukan kepada Yusra tentang sikap kamu yang tidak sopan itu. " ketus Nilam lalu masuk begitu saja.
"Heh, yang sombong dan tidak punya sopan santun itu dirimu Nilampir, seenaknya saja main nyelonong masuk, benar benar bikin panas, sudah panas karena cuaca di tambah panas karena ada Nilampir. " gerutu Raya yang kini masuk mengikuti Nilam.
Kini Nilam sedang duduk santai di ruang tamu dengan kaki menyilang. Sudah seperti Tuan rumah saja gayanya.
"Heh, pembantu. " panggil Nilam.
"Saya punya nama. Mba, nama saya Soraya!. " jawab Raya menekan kalimat nya. Nilam hanya memutar malas bola matanya.
"Terserah, aku tidak perduli dengan namamu, yang jelas bagiku kamu adalah pembantu!. " kata Nilam menekan kalimat terakhir nya. "Sudah sana cepat, ambilkan aku air minum, aus soalnya. " titah Nilam lalu mengusir Raya dengan kode tangan mengibas.
"Baik Mba Nilampir. " kata Raya dengan merapatkan giginya.
Nilam melototi Raya yang saat itu langsung ngacir setelah mengati namanya jadi Nilampir. Di dapur Raya sangat puas sekali mengerjai dan membuat Nilam kesal.
"Hahaha, aku puas banget Bi, bisa ngatain si pelakor itu, seenaknya saja memerintah ku, tidak tau saja aku ini adalah tuan rumah di sini, ish kesel jadinya. " gerutunya kala mengingat sikap Nilam yang tidak sopan.
"Sabar Mba, lagian kenapa tidak bilang saja kalau Mba istrinya Mas Yusra. " kata Bi Isah.
"Kalau aku bilang, memang dia akan percaya?" jawabnya sembari bersidekap.
"Ya pasti percaya dong, kalau tidak percaya, kasih saja buku nikahnya, kan gampang. " ujar Bibi.
"Iya juga ya. " jawabnya mengusap dagu.
"Rayaaaa, mana minumannya! Aku sudah haus tau. " teriak Nilam.
"Tuh kan. Bi , ngeselin banget makhluk goib satu ini. " ucap Raya.
Raya memberikan garam kepada minuman Nilam sekitar tiga sendok lalu di aduknya sampai rata setelah itu memberikan kepada Nilam.
"Maaf ya. Mba, lama. " kata Raya lalu meletakan gelas di hadapan Nilam.
__ADS_1
Karena saking hausnya Nilam meminum saja tanpa rasa curiga. Tak sampai di tenggorokan Nilam menyemburkan air dingin berwarna itu karena rasanya sangat asiiiiin banget. Bayangkan saja tiga sendok garem. struk struk itu orang hahaha.
"Kurang ngajar ya kamu, Raya! Berani ya kamu ngerjain saya!. " teriak Nilam geram.
Sementara orang yang di umpat oleh Nilam kini sudah ngacir entah kemana.
"Dasar pembantu tidak tau diri! Kurang ngajar kamu ya! Aku pastikan kamu tidak akan lagi bisa bekerja di sini karena Yusra akan memecatmu.Sialan betul kamu ya Raya. " teriak Nilam murka.
Sementara Raya sembunyi di balik gucci yang besar dan menukuri Nilam.
Rasakan, memang enak minum sirup garam hahaha. batin Raya.
Sementara Bi Isah malah terkekeh melihat kelakuan Raya yang sangat jahil. Saat sedang asyik mentertawakan Nilam. Raya melihat Yusra yang baru saja pulang, tumben sekali Yusra pulang jam segini .
"Loh, kamu, kenapa ada di sini? Dan kenapa wajah kamu di tekuk seperti itu?. " Yusra yang bingung karena adanya Nilam.
"Lihat Mas, ini ulah pembantu kamu yang kurang ngajar itu, masa dia ngerjain aku dengan memberi minuman garam. Mana asin banget, bener bener tidak sopan! Aku gak mau tau ya, kamu harus pecat si pembantu sialan itu. " sarkatik Nilam ber api api dengan hidung yang kembang kempis.
"Apa benar seperti itu? " tanya Yusra kepada Raya yang sudah menampakkan diri dari persembunyiannya. Nilam berbalik lalu menatap Raya dengan kilatan mata penuh amarah.
"Aku gak mau tau, kamu harus pecat dia sekarang juga. Mas!. " pinta Nilam menggebu.
"Saya minta maaf. " lirih Raya ketika Yusra menatapnya tajam.
"Halah, tadi saja kamu berani mengerjai ku giliran ada Mas Yusra kamu sok lemah!. " hardik Nilam karena belum puas.
"Masuk kamar!. " ujar Yusra kepada Raya bernada dingin.
Raya menurut saja dan menghentakan kakinya lalu membanting pintu kamarnya sangat keras. Sontak saja membuat Nilam terjangkit kaget dengan kelakuan Raya. Begitu juga dengan Yusra dia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Dasar gila, menyebalkan, bikin aku darah tinggi saja!. " umpat Nilam lalu melihat Yusra dan berkata. "Kamu nemu istri macam dia di mana sih? Sumpah kelewatan banget. " gerutu Nilam kesal.
"Kamunya jangan ngegodain dia terus makannya, sekarang kamu terima sendiri kan akibatnya. " jawab Yusra lalu menggiring Nilam kekamar tamu.
Yusra merangkul bahu Nilam dan hal itu tak luput dari perhatian Raya yang mengintip di celah pintu. Sumpah demi apapun Raya sakit hati kala melihat Yusra merangkul bahu Nilam apa lagi saat Yusra merapikan rambut Nilam. Hati Raya seperti teriris dan tersayat sakit dan perih rasanya. Lalu Raya memutuskan untuk pergi saja dari rumah itu.
Maaf jika ada typo dan terimakasih sudah mampir
__ADS_1