Terpaksa Menikahi Anak Majikan

Terpaksa Menikahi Anak Majikan
Bab 29


__ADS_3

Karena tidur terlalu lama akhirnya Raya terbangun sore hari.


"Eum." ia menggeliat lalu membuka matanya perlahan. Raya seketika ingat dengan apa yang terjadi tadi siang. Ia menangis dan memukuli Yusra dengan kuat sampai rasanya ia kelelahan dan berakhir tidur di dekapan sang suami.


Raya beranjak dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Lalu setelah itu ia melaksanakan ibadah ashar. Raya tidak mencari keberadaan Yusra , ia pergi ke dapur dan membuka isi kulkas. Rasanya ia ingin memasak sesuatu untuk ia makan sore ini. Kebetulan di dalam kulkas ada kulit lumpia dan pas sekali bahan bahan untuk membuat martabak lumpia lengkap.


Setelah beberapa saat berkutat di dapur . Akhirnya Raya selesai juga membuat martabak telur dari lumpia ia membuat itu dengan ukuran besar dan tebal. Membuat Bi Isah bertanya-tanya.


"Mba, apa ini tidak salah?" tanya Bi Isah yang heran melihat porsi makan Raya.


"Emang kenapa? Salah dari mananya, kan. Raya lagi pengen makan cemilan kaya di abang abang, makanya Raya buat dengan porsi jumbo, kayanya kalau pakai nasi enak deh? " ujar Raya yang sudah mengiler ketika membayangkan nasi dan martabak.


Bi Isah tidak percaya dengan apa yang Raya lakukan. Raya sedang menyiuk nasi dan tak lupa ia memakai martabak telor lumpia yang baru saja ia buat tadi.


"Kenapa Bi? Kok liatnya kaya begitu? Bibi mau, kalau mau Bibi bikin aja sendiri, masih ada deh kayanya lumpia nya. " ujar Raya yang terasa aneh bagi Bi Isah. Karena tidak biasanya jika Raya menawari tapi menyuruh Bibi untuk buat sendiri, padahal, biasanya Raya jika menawarkan makanan langsung ia bagi. Tapi kenapa Raya saat ini sedang mode pelit ya.


"Tidak kok. Mba, silahkan saja makan dan selamat menikmati makan sore nya. " ujar Bi Isah kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaan nya.


Sementara Yusra dari ruang kerjanya ia mencium bau masakan yang sangat enak sekali. Dan seperti nya ini adalah arama telur yang di goreng sampai kering tapi ada wangi lainnya juga yang membuat Yusra tak tahu untuk menerjemahkan wangi dari masakan itu. Yusra memutuskan untuk keluar karena pintu ruang kerja tidak tertutup rapat membuat aroma itu masuk lewat celah pintu. Ia menuju ruang makan dan melihat Raya yang asik sekali makan dengan lahap nya.


"Sayang, sudah bangun. " tanya Yusra, namun Raya tidak menjawab karena ia masih sakit hati. Ia malah tambah lahap saja makan hanya dengan martabak telor kulit lumpia.


Yusra hanya bisa menghela nafas lalu duduk di sebelah Raya dan memperhatikan nya. Ia melihat Raya lahap sekali meski makan hanya seadanya saja.


"Ini kamu yang buat, Sayang? Pantes saja wanginya sampai ke ruangan ku, sepertinya ini enak, aku boleh mencicipi nya?. " pinta Yusra.


Namun Raya segera merebutnya dan menyembunyikan nya dari tangan Yusra. Itu membuat Yusra mengkerut, ia pikir apakah Raya masih marah padanya sampai tak ingin berbagi makanan.

__ADS_1


"Sayang, kamu masih marah ya? Aku sungguh minta maaf, tadi aku sudah jelasin sama kamu tapi kamu nya malah tidur. " ujar Yusra yang bicara hati hati. Karena sepertinya Raya masih sensitif.


Raya lagi lagi tidak menjawab dan ia tetap fokus dengan makanannya. Setelah selesai ia segera menuju wastafel lalu mencuci piring dan tangan nya. Ia membuka kulkas dan mengambil dua buah mangga dan hal itu tak luput dari perhatian Yusra.


"Alhamdulillah, kenyang. " gumam Raya.


Yusra menautkan kedua alisnya melihat tingkah Raya. Raya menghampiri meja makan dan mengambil cemilan yang ia buat dan sama sekali tidak ingin membagi dengan Yusra, Lalu Raya pergi ke ruang tamu begitu saja tanpa melihat Yusra yang sudah menggeram dengan kelakuan istrinya itu.


.....


Sementara di kediaman Yusman.


"Bang, sikap Uwa Hendri sudah keterlaluan sekali, kenapa ia jadi kasar sekarang, apakah ia tak sadar dengan perlakuan nya kepada Wa Rika? Ali takut saja jika nanti Uwa Rika terganggu psikisnya karena ulah Uwa Hendri yang melakukan KDRT. "


"Aku juga tidak tahu. Al, kenapa Papa jadi se egois ini, malah dari kemarin Papa tidak pulang ke apartemen, bahkan handphone nya saja susah di hubungi. " kata Fahri yang mengkhawatirkan Papa nya. Padahal Hendri sudah kasar dan keterlaluan namun Fahri selalu saja merasa khawatir dengan Papa nya apa lagi belum ada kabar sama sekali.


Fahri hanya terkekeh lalu meminum teh yang telah di buatkan oleh Mamah nya. Ia mengingat kembali dengan ancaman Hendri yang akan mencelaki orang terkasihnya.


"Untuk saat ini, aku tidak bisa melakukan apapun kecuali hanya menurut dengan perintah nya, karena ia mengancamku, jika aku tidak menuruti keinginannya maka ia akan mencelakai orang yang sedang dekat dengan ku, ku pikir ia tak tahu, namun di luar prediksi ku jika ia selalu mengawasiku. " Fahri kembali meminun teh untuk merilekskan pikirannya yang sedang berkecamuk.


Pikirannya terus ke satu orang dan ia adalah Rasty. Wanita yang ia temui malam kemarin dan sampai sekarang ia belum mendapatkan kabar dari wanita itu. Sebab saat Fahri dapat ancaman dari Hendri ia langsung meminta Rasty untuk pindah dan jauh dari jangkauan Hendri. Namun sampai sekarang Rasty belum juga menghubungi nya.


"Abang sedang memikirkan apa? Kenapa terlihat gelisah? " tanya Ali begitu melihat Fahri sedang di rundung kegelisahan.


"Aku memikirkan Rasty, karena sampai sekarang. Dia belum menghubungi ku, aku takut terjadi sesuatu dengan dia, kemarin aku langsung menemuinya dan meminta ia pindah dari sini , agar jauh dari jangkauan Papa. " ujarnya menjelaskan apa yang sedang ia pikiran.


"Tenang saja Bang, berdoa saja untuk keselamatan dia, semoga dia sedang dalam perjalanan dan handphone lowbat. " ujar Ali menenangkan Fahri.

__ADS_1


"Aku harap seperti itu. " jawabnya.


"Sejak kapan. Bang Fahri dekat dengan seseorang? " tanya Ali penasaran.


"Fahri sedang dekat dengan siapa? " celetuk Rika yang baru saja selesai membuat cemilan dan membawa untuk mereka, namun telinganya tak sengaja mendengar Ali menanyakan seseorang kepada Fahri.


"Tidak. Mah, itu hanya teman. " jawab Fahri berbohong.


"Kamu mau bohong sama Mamah? Mau seperti Papamu juga yang menyakiti hati Mamah?. " kata Rika dan itu membuat Fahri merasa bersalah.


"Bu-bukan begitu. Mah, iya,Fahri akan jujur dengan Mamah, jika Fahri sedang dekat dengan seseorang, ia bernama Rasty dan seorang janda beranak satu. " ujarnya malu dan takut jadi satu.


"Wah, keren banget Bang, udah langung dapat bonus aja. " kekeh Ali yang langsung dapat pelototan dari Fahri.


"Sejak kapan, anak Mamah dekat dengan seorang wanita lalu merahasiakan nya lagi dengan Mamah? Kenapa tidak di kenalkan sayang, kan Mamah juga pengen tahu. " ujar dan Fahri senang melihat respon Mamah nya.


"Mamah tidak marah? " tanya Fahri coba meyakinkan.


"Kenapa meski marah? Justru Mamah penasaran dengan wanita itu, sebaik dan secantik apa si dia, sehingga bisa meluluhkan hati anak Mamah ini yang begitu beku. " ledek Rika dan itu membuat Fahri malu.


"Cieeee, pepet terus Bang, jangan sampe lolos, udah dapet restu nih kayanya dari Uwa Rika. " ledek Ali.


Tiba Tiba saja seseorang berkata dan mengejutkan mereka.


"Sampai kapanpun. Aku tidak akan pernah memberi restu padamu Fahri! Dan jangan pernah bermimpi untuk menikahinya. " kata suara bariton seoarang laki laki yang menatap mereka tajam.


Mohon maaf jika ada typo

__ADS_1


__ADS_2