Terpaksa Menikahi Anak Majikan

Terpaksa Menikahi Anak Majikan
Bab 8


__ADS_3

Keesokan harinya tubuhku merasa sudah lebih ringan dan enakan. Ternyata ampuh juga ya obatnya, apakah mungkin karena obatnya mahal jadi sesuai dengan isi dompet . Dan ketika aku ingin ke kamar mandi kulihat botol infus ku masih penuh mungkin saja saat aku tidur Bi Isah yang menggantikan nya. Haah. Tidak mungkinkan yang mengganti botol infus ku Mas Yusra? Bisa bisa runtuh rumah ini jika Mas Yusra yang menggantikan botol infus ku. Jangan berharap deh sama si Kardun satu itu.


"Mba, mau kemana?. " tanya Bi Isah yang baru masuk kamarku.


"Mau kekamar mandi, Bi. " jawab ku sambil membawa infusan.


"Mari, biar Bibi bantu. " ujarnya baik.


"Tidak usah. Bi, biar aku saja, aku bisa kok. " tolak ku halus. "Ngomong ngomong terimakasih ya Bi, karena udah gantiin botol infusan ku. " lanjut ku tulus.


"Maksud nya, apa ya, Mba Raya? " loh kok Bibi bingung sih.


"Ini yang gantiin botol infusan aku. Bibi kan?" tanya ku penasaran kalo sampe bilang bukan berarti.


"Maaf, bukan Bibi yang gantiin, tapi Mas Yusra. " kata Bibi dan aku hanya menganga tak percaya. Sepertinya aku harus siap siap keluar dari rumah ini karena sebentar lagi mungkin rumah ini akan runtuh.


"O-oh, kirain Bibi, y-ya sudah aku mandi dulu." aku menjawab dengan gugup entah kenapa kok kaya ada kupu kupu yang menggelitiki perutku ya.


Di Kamar Mandi


Raya memegang wajahnya yang terasa hangat. Benarkah yang Bibi katakan jika yang menggantikan botol infusnya si Kardun? Kemudian Raya memegang dadanya yang sejak tadi berdebar tak karuan.


"Sumpah demi apapun, sepertinya aku harus mandi kembang tujuh rupa, gak mungkin kan Mas Yusra yang gantiin botol infusan ku? Aku yakin jika Bi Isah bohong, bisa saja kan Bibi yang gantikan ini lalu di ancam sama si Kardun itu untuk bilang padaku jika dia yang telah menggantikanya, dasar si kamuflase. " gerutu Raya yang tadi hatinya berbunga bunga kini jadi ber api api duh air mana air tolong.


Raya pikir mandi dengan tangan terinfus tidak begitu sulit. Tapi nyatanya untuk membuka bajunya saja dia kesulitan, mungkin sudah setengah jam dia berada di kamar mandi dan membuat semua orang jadi khawatir dengan Raya di dalam sana.


"Kenapa Bi? " tanya Yusra yang baru turun dan melihat Bibi mondar mandir di depan kapan Raya dengan wajah panik.

__ADS_1


"Ini.Mas, Mba Raya dari tadi gak keluar luar dari kamar mandi. " jawab Bibi dengan wajah panik.


Yusra menautkan kedua alisnya. "Oh, dia sudah bangun toh, terus kenapa Bibi keliatan panik begitu mukanya? " tanya penasaran.


"Masalahnya.Mas, dia belum ada keluar dari setengah jam yang lalu terus gak denger suara arinya juga. Bibi jadi panik takut dia kenapa napa. "


"Kenapa Bibi gak ngomong dari tadi?. " sahut Yusra dengan langkah lebar masuk kekamar Raya.


"Lah, aku kan udah ngomong dari tadi. " gumam Bibi yang kemudian mengikuti Yusra di belakang.


Dor.... Dor... Dor...


Raya terjingkat kaget ketika pintu kamar mandinya di gedor dengan keras.


"Raya! Kamu sedang apa di dalam?! " teriak Yusra dari luar.


Kemudian mendekat ke arah pintu.


"Raya, kalau kamu gak buka, aku dobrak pintunya! Kata Bibi kamu belum keluar dari setengah jam lalu, apa kamu baik baik saja. " kata Yusra lagi kali ini nadanya terdengar sedikit panik.


Wah jangan tanya lagi itu wajah si Raya udah kaya kepiting rebus merah banget sambil bibirnya mengembang lebar selebar daon kelor.


.....


Sejak insiden tadi pagi akhirnya Raya meminta untuk di lepasakan infusannya karena dia sudah merasa baik baik saja. Tapi Yusra kekeh menyuruh Dokter tidak melepas selang infusan itu karena wajah Raya masih sangat pucat dan hal itu membuat Raya semakin kesal dengan sikap Yusra yang selalu memaksakan kehendaknya.


"Yang sakitkan aku, yang ngerasain udah enakan nya juga aku, kenapa si manusia satu ini selalu ribet sendiri,sebel banget." gerutu Raya.

__ADS_1


"Jangan menggerutu saja bisanya, kamu ini di baikin salah di kasarin salah! Apa mau aku perkosa lagi. " ancam Yusra bercanda.


Mendengar ancaman Yusra yang menyeramkan membuat Raya melengkungkan bibirnya ke bawah.


"Lagian kenapa si. Mas Yusra jadi berubah baik gitu sama aku? Biasanya juga ketus mulu marah mulu, apa jangan jangan karena merasa bersalah telah menggauli aku dengan paksa, jadi Mas baik baikin aku iya kan? Dengan begitu aku akan luluh biar Mas Yusra bisa menggauli aku lagi ketika Mas Yusra sedang ingin,iya kan." tuduh Raya dengan ketusnya.


Sontak saja perkataan Raya membuat Yusra dengan refleks menonyor kening Raya membuat dia bergaduh.


"Sakit tau, ini namanya kekerasan dalam rumah tangga, Mas kamu ini jahat banget, udah perkosa aku terus udah kasarin aku dengan kata kata kamu sekarang kamu KDRT! " tuding Raya, entah kenapa dia jadi banyak ngomong begitu kan sebelumnya dia lugu dan takut sama Yusra.


"Aku curiga, sepertinya ragamu sedang tertukar dengan raga orang lain? Kenapa Raya yang sekarang jadi bawel dan berisik beraninya bicara keras di depan suami dan juga suka menuding. " kata Yusra.


Tunggu... Apa katanya, tadi dia bilang suami? Apa aku tidak salah dengar? Sebenarnya yang sekarang ada di hadapanku ini Mas Yusra atau bukan sih?. Batin Raya .


"Tuh kan bengong, kayanya emang benar kamu ini ketukar jiwanya sama jin penjaga pohon depan rumah. " kata Yusra yang berhasil menyadarkan lamunan Raya.


Raya mendelik ketika Yusra mengatainya.


"Mulut mulut aku, jadi mau banyak omong ataupun diem suka suka akulah. Lagian sekarang itu nasib kita sama, sama sama yatim piatu, aku gak punya Ibu dan Ayah begitu juga kamu, kalau aku banyak omong atau bagaimana pun kamu gak akan bisa adukan aku sama Pak Yusman lagi. " ketus Raya, sementara Yusam hanya menggelengkan kepala .


"Sepertinya kamu membutuhkan waktu yang cukup untuk istirahat, agar otak dan kewarasan mu sedikit lebih segar, barangkali saja otak dan kewarasan mu sekarang sedang terkontaminasi dunia perfileman karena isinya drama semua. "


Setelah mengatakan itu Yusra meninggalkan Raya yang sudah menahan emosinya karena ucapan Yusra yang selalu mengatainya itu.


"Dasar Kardun! Kenapa sih selalu nyebelin, tapi aku suka , karena kamu sudah gak bicara kasar lagi denganku, aku harap Mas Yusra sudah mulai menerima pernikahan ini meski harus ada pengorbanan yang sangat merugikan ku. " lirihnya.


Sementara di ruang kerja. Yusra tidak pokus dan konsentrasi karena otaknya terus teringat dengan Raya.

__ADS_1


__ADS_2