Terpaksa Menikahi Anak Majikan

Terpaksa Menikahi Anak Majikan
Bab 20


__ADS_3

Kediaman Yusman.


Saat Ali tengah menikmati sarapannya yang setiap hari hanya seorang diri. Lalu Bi Marni, selaku pembantu yang di rekomendasi kan oleh sang Mama menghampiri nya.


"Pak, di luar ada tamu. " kata Bi Marni.


"Tamu?. " tanya Ali menautkan kedua alisnya.


"Iya, itu ada Pak Hendri datang. " jawab Bi Marni.


"Oh, suruh saja masuk. Bi, bilang saya sedang sarapan dulu, kalau bisa Bibi tawarin sarapan saja orangnya. " ujar Ali .


"Baik Pak. " jawab Bibi lalu meninggalkan Ali.


Bi Marni mengatakan apa yang di perintahkan oleh Ali. Tak lama Hendri muncul dan duduk di hadapan Ali . Ali menyapa meski malas sebenarnya tapi harus tetap menghormati yang lebih tua.


"Selamat pagi. Uwa Hendri, kapan tiba di jakarta?. " tanya Ali basa basi dan Hendri hanya tersenyum remeh.


"Jangan basa basi. Uwa tau kamu sudah pasti tahu jika sejak kemarin Uwa sudah ada di sini, sepertinya kamu sangat betah tinggal di sini. " ujar Hendri lalu mengambil piring dan mengisinya dengan makanan.


"Pastinya dong, Wa. Siapa sih, yang tidak betah tinggal di sini, semua fasilitas sudah tersedia, kamar ada, makan tinggal makan, karena ada Bi Marni, mobil motor ada, yang gak ada cuma satu. " kata Ali menggantung. Membuat Hendri mengernyit.


"Apa." jawab Hendri yang tidak terlalu penting baginya.


"Istri, hahahahaa. " Ali tertawa terbahak sedangkan Hendri hanya diam tidak perduli. Di mana letak lucunya sehingga Ali tertawa seperti itu. Ali terdiam saat sadar jika Hendri hanya menatap datar saja.

__ADS_1


Krik krik krik..


"Ekhem, pasti bagi Uwa Hendri, ini sangat garing ya, iya sih emang gak lucu, ayo Wa silahkan makan. " tawar Ali akhirnya.


Hendri hanya menggeleng karena tak percaya jika dia mempunyai keponakan macam Ali begini. Selalu berbuat guyonan yang tidak begitu lucu.


"Ngomong ngomong, apa Uwa sudah tahu, jika di perusahaan Uwa Yusman ada pengkhianat?. " sindir Ali.


"Hmmm." gumam Hendri.


"Kira kira, menurut Uwa, sebaiknya orang seperti itu harus di hukum seumur hidup atau,di kasih hukuman lain? Karena kalau kata Ali mah, gak ada kata ampun sih, buat si penghianat. " ujarnya.


"Kamu sudah tahu, siapa orang di balik semua itu, untuk apa terus menyindir ku! " hardik Hendri yang sudah mulai tersulut oleh ucapan Ali.


"Ali tidak menyidir, Uwa. Ali cuma minta pendapat Uwa saja, hukuman apa yang pantas buat si pengkhianat, kenapa Uwa yang sewot dan marah begitu. Apa Uwa takut, ikut terseret nama Uwa atas kasus yang menimpa Y/N grup? Tenang saja Uwa, karena Mas Yusra itu baik hati, tidak akan mungkin memenjarakan adik dari papanya. " Ali dengan menatap tajam Hendri lalu tersenyum tipis.


"Dasar serakah, kan si Fahri juga cucu dari kake, harusnya sebelum bicara begitu dia mikir dulu, lalu apa kabarnya dengan anaknya, justru malah mau di jadikan CEO Y/N grup, memang keluarga Yusril doang yang unik. nasib lahir di keluarga kaya, dikit dikit yang di ributin harta, harta, harta tahta Yusril Nugraha! Hahahahah. " Ali merasa lucu dengan Hendri yang terang terangan ingin menendangnya dari perusahaan.


.....


Berbeda di kediaman Yusra. Pagi ini ada yang berada dari pada pagi hari sebelum sebelumnya. Jikalau sebelumnya Raya hanya tidur sendiri dan ketika bangun yang dia lihat langit langit. Maka kali ini Raya bersyukur dan rasanya ingin menangis saat membuka mata yang ia lihat adalah Yusra. Ya, mulai sekarang Raya akan selalu melihat pemandangan indah makhluk ciptaan Allah yang satu ini. Raya menyunggingkan senyumnya saat menatap wajah Yusra yang terlelap dengan damainya. Lalu Raya menempelkan telapak tangan di pipi Yusra yang kala itu tidur menghadanya dengan wajah yang di tumbuhi bulu bulu halus .


"Mau sampai kapan, kamu menatap ku, hum?. " tanya Yusra dengan suara serak khas bangun tidur lalu tangannya meraih tangan Raya yang menyentuh pipinya.


"Mas Yusra, sudah bangun dari tadi ya? Yah ketauan deh. " ujarnya malu.

__ADS_1


"Tidak kok, baru saja bangun saat kamu sentuh wajahku, cantik banget kamu. " puji Yusra yang membuat Raya kelojotan hati dan jantung nya. Apakah mata Yusra sudah katarak. Sehingga mengatakan Raya cantik, mana ada orang habis bangun tidur cantik yang ada bau iler sama ada belek nya.


"Jangan meledek, Mas. Mana ada aku cantik, orang baru bangun tidur ini loh, pasti bau iler sama banyak belek nya, mata kamu harus di periksa kayanya, supaya gak burem liatnya." kata Raya.


"Aku serius, Raya. Kamu selalu cantik meski bau iler dan ada belek nya sekalipun. " kata Yusra yang terkekeh tat kala melihat wajah Raya cemberut.


"Mas Yusra nyebelin, tidak kaya Abi, dia selalu tulus kalau sedang memuji Nirmala. " rajut Raya yang kemudian hendak bangun. Namun di tahan oleh Yusra yang menarik tanganya.


Al hasil Raya jatuh dalam pelukan Yusra. Meski baru bangun tidur. Yusra tetap sangat wangi karena aroma parfum mahal yang di pakai Yusra masih menepel meski sudah terkena air sekalipun. Dan Raya justru malah betah di buatnya .


"Mau mandi bareng tidak? " ajak Yusra. Sonta saja Raya langsung tersadar dan bangun dari delapan Yusra.


"Gak mau. Mas aja sendiri sana, Raya mau membuat sarapan. " ujar Raya mencoba kabur dari Yusra.


"Tidak usah, lagian ada Bi Isah yang sudah menyiapkan sarapan. " kata Yusra dan bangun dari tidurnya lalu mendekap tubuh Raya dari belakang.


"M-mas Yusra, mau apa? Ngapain peluk peluk aku segala? Aku bilang mau siapin sarapan. " ketus Raya gugup.


"Kan tadi aku bilang apa, masa kamu tidak dengar dengan perkataan ku, kita mandi bareng ya, mau ya. " ujar Yusra memohon.


"Gak mau, Raya bilang mau siapin sarapan. Mas Yusra tolong lepasin, kalo tidak mau nanti Raya akan ngambek dan gak bolehin kamu tidur di kamar ku lagi!. " Raya pura pura mengancam Yusra. Dan akhirnya Yusra menurut, namun wajahnya di tekuk dengan bibir mengerucut. Hal itu membuat Raya terkekeh karena melihat Yusra dengan wajah seperti itu.


"Sumpah demi kolor Mang Udin. Mas Yusra gak pantes wajahnya di buat begitu. " kata Raya terbahak namun tidak dengan Yusra yang menatap horor pada Raya .


"Siapa itu Mang Udin? Dan kenapa kamu bawa bawa kolor nya? Raya! Jelaskan padaku apa maksudnya?. " raung Yusra saat Raya menyebutkan kolor Mang Udin.

__ADS_1


Waduh gawat, singa ganteng salah paham, batin Raya.


__ADS_2