
Kini semua sudah berkumpul dan Fahri serta Yusra pun duduk berhadap-hadapan. Yusra terlihat nampak tenang tidak seperti dulu kala pemilihan sementara. Fahri juga sudah tidak gelisah lagi setelah mendapatkan pesan dari seseorang yang tak ia kenal.
Ia bahkan sudah menetapkan rencananya yang ingin membongkar semua tindak kejahatan sang Papa.
"Bang, sepertinya pagi ini terlihat cerah sekali. " tanya Ali basa basi.
"Benarkah? Apakah aku terlihat seperti itu? " tanya balik Fahri.
"Hu'um, oh iya, gimana dengan Uwa Rika, apakah baik baik saja? "
"Alhamdulillah. Mamah baik baik saja, cuma ya, kamu tahu sendiri lah, kadang masih suka was was, apa lagi sekarang. Pasti dia sangat cemas. " ujarnya.
"Mamah sama Papah juga sama Bang, semoga, siapapun yang menjadi pemimpinnya. Baik Mas Yusra ataupun Bang Fahri, semoga kalian bisa memegang perusahaan ini dengan baik dan amanah. " ujar Ali.
Yusra tak menjawab ia hanya bersedekap saja dengan pandangan menatap keluar gedung. Sementara Fahri menatap Yusra dengan senyum mengembang. Setelah berbincang basa basi kini Hendri masuk dan ikut duduk di dekat putranya, pandangannya tak lepas menatap Yusra tajam dan menyeringai.
Ia merasa yakin jika hari ini ia akan menendang kedua keponakannya ini.
"Kenapa Uwa ikut masuk?. " tanya Ali.
"Memang apa masalahmu? Kantor ini kantor Papahku juga, dan aku anaknya, jadi aku berhak ikut masuk kantor dan ruangan ini, aku juga ingin menyaksikan secara langsung siapa orang yang di pilih sebagai pemimpin dan di percaya di kantor ini! " serunya menatap Ali dan Yusra bergantian penuh kebengisan.
"Tapi kan. " ucapan Ali di sela oleh Yusra.
"Biarkan saja Ali, kamu tidak usah repot repot mempermasalahkan ini, apa yang di katakan Om memang benar, dia adalah anaknya kake kita, mungkin saja ia ingin melihat kantor ini untuk yang terakhir kalinya, jadi biarkan saja. " sahut Yusra dengan tenang dan menyeringai.
"Apa maksudmu! Hah! " kata Hendri terpancing emosi.
__ADS_1
"Aku tidak ada maksud apa apa. Om, siapa tau saja kan, aku yang terpilih nantinya dan aku tidak akan membiarkan orang lain untuk keluar masuk ke kantor ini. " ujar Yusra.
"Sialan betul kamu Yusra! Percaya diri sekali kamu hah! " bentak Hendri dan semua orang melihat Hendri yang emosi seperti itu hanya mengerutkan alis bingung.
"Pah, tenang Pah, apa Papah tidak malu di perhatikan seperti itu oleh banyak orang, karena sikap Papah yang tidak bisa menjaga emosi, lihatlah,semua orang melihat ke arah kita Pah. " bisik Fahri dan seketika itu juga Hendri tersadar dan menatap semua orang yang ada di ruangan ini yang tengah melihat ke arahnya.
Hendri berdehem dan memposisikan kembali duduknya dan meminta maaf kepada semua orang. Sementara Yusra terlihat puas melihat Om nya yang tidak tahu tempat saat emosi tadi dan itu dapat menambahkan poin lagi untuk Hendri di mata semua orang.
"Mantul banget pancingan Mas Yusra. " bisik Ali.
Yusra tak menjawab ia hanya mengembangkan senyum saja kepada Om nya yang menatap bengis padanya. Tak lama, orang kepercayaan keluarga Yusril datang dengan membawa berkas berkas dan duduk di kursi sebelah pemimpin.
Semua orang langsung diam dan menghadap Azfar yang sedang mengeluarkan berkas berkas dan tak lama seorang OB wanita cantik datang membawakan berkas lain nya dan itu membuat semua orang bingung, kenapa OB masuk dan memberikan berkas kepada Azfar. Saat melewati Yusra. Wanita itu mengerlingkan sebelah matanya kepada Fahri dan itu membuat jantung Fahri berdebar karena tahu jika itu adalah Rasty. Setelah memberikan berkas milik Azfar. OB itu pamit keluar dengan perasaan lega dengan senyuman mengembang.
.....
"Sudah, aku sudah memberikan berkas itu. " jawab Rasty.
"Lalu, bagaimana perasaan mu sekarang? Apakah sudah senang, karena telah melihat Fahri? " tanya Nilam.
"Aku sangat senang dan lega, karena ia baik baik saja, sekali lagi aku sangat berterimakasih padamu Nilam, kalian baik sekali padaku dan juga putriku. " ujar Rasty penuh haru.
"Syukurlah jika kamu senang, sekarang ayo kita pergi dari sini, sebentar lagi akan ada sesuatu yang heboh di sini. Biarkan urusan selanjutnya menjadi urusan Papaku bersama dengan polisi dan sebaiknya kita jemput Tante Rika. " ujar Nilam.
"Baiklah, ayo. " kata Rasty dan mereka meninggalkan gedung ini.
...
__ADS_1
Di dalam ruangan setelah membacakan kinerja Fahri semua orang masih nampak diam dan tidak ada yang berani membuka suara. Karena Fahri sempat setres ia jadi tidak fokus dengan kesempatan yang di berikan oleh mereka dan membuat perusahaan sedikit menurun kemarin namun untungnya Fahri bisa segera memulihkan nya lagi.
"Terimakasih Fahri, kamu sudah mau bekerja keras, kami salut kepadamu yang mampu memulihkan perusahaan dengan usahamu itu, kamu jadi mengingatkan saya kepada almarhum Pak Yusman, dia juga sangat bekerja keras dan berusaha untuk memulihkan perusahaan ini. Tapi sayangnya, kami tidak bisa. " ucapan Azfar di sela oleh Hendri.
"Tidak bisa apa? Jangan bilang, jika kalian tetap memilih Yusra sebagai pemimpin perusahaan ini hah?! " bentak Hendri tak terima.
"Pah, sudah tenang. " ujar Fahri.
"Diam kamu! Dasar anak tidak berguna, dan kamu Azfar! Harusnya langsung saja kamu umumkan jika Fahri yang berhak dan layak memimpin perusahaan ini! Kalian semua tidak berguna!. " ujar Hendri ber api api. Semua orang menatap datar Hendri dan hanya bisa menggeleng.
Hendri tidak menyadari jika orang yang dulu ia bayar untuk memih Fahri sudah di ganti semua dengan pemilik saham yang baru maka dia tak ada yang membela dari salah satu mereka yang hadir. Karena orang yang di suruh oleh Hendri, sudah Yusra singkirkan secara diam diam dan memutuskan kontak kerja samanya dan mengancam mereka.
"Bisakah anda duduk Pak Hendri. Tolong jangan membuat gaduh di ruangan ini, jika anda tidak bisa mengkontrol emosi anda, maka saya akan menyuruh satpam untuk membawa anda keluar, seharusnya memang anda tidak di izin kan masuk ke ruangan ini, tapi, karena permintaan seseorang, maka anda di perbolehkan saja, dan saya minta sekarang anda duduk dengan tenang dan jangan ada yang menyela ucapan saya! " tegas Azfar.
Hendri duduk kembali dengan nafas naik turun. Rasanya ia ingin sekali memberontak di ruangan ini dan memukul wajah Azfar yang songong itu bagi Hendri.
"Baik, saya akan menjelaskan kemabli, jika Fahri tidak bisa menjadi pemimpin perusahaan ini karena sudah gagal menjalankan kesempatan yang di berikan oleh para pemegang saham. Baik dengan Yusra sekalipun. " ujar
Azfar yang membuat semua orang heran.
Ali dan Yusra mengernyit sama halnya dengan Fahri. Hendri malah tersenyum puas karena mendengar penutiran Azfar.
"Azfar, apa kamu yakin?! " tanya Yusra dengan penuh tanda tanya.
Azfar hanya tersenyum lalu melihat ke arah pintu yang membuat Yusra mengikutinya. Pintu terbuka dan menampilkan seorang pria parih baya dengan setelan formal dengan gagahnya.
Hendri langsung terperanjat berdiri ketika melihat sosok itu dan Ali juga Yusra melakukan hal yang sama. Mereka tidak percaya dengan sosok yang ia lihat sekarang ini. Fahri menunduk dan tersenyum hangat karena hanya ia yang tahu jika....
__ADS_1
Maaf jika ada typo. Maaf juga baru bisa update karena sedang sibuk di dunia nyata 🙏