
Yusra terus mendekati Raya dengan tangan yang sibuk membuka ikat pinggang yang melingkar. Ketika ia naik ke atas kasur dan hampir saja tanganya membuka resleting Raya menahan Yusra.
"Stop Mas!. " teriak Raya dengan memelas.
"Kenapa? Kamu takut? Bukanya sejak kemarin kamu sok berani dan selalu menantangku dengan sikapmu itu, hn? " ledek Yusra.
Kemudian Yusra menutup kembali resleting celanya yang sudah setengah terbuka lalu bangkit dari kasur. Raya menghela nafas lega karena Yusra mengurungkan niatnya.
"Lain kali, jangan pernah ingin mengembalikan barang yang sudah aku berikan padamu, ingat itu. " ketus Yusra.
"Tapikan. Raya tidak minta, lagi pula Mas Yusra kenapa membelikan handphone?. " tanya nya.
Raya seakan lupa dengan peristiwa yang baru saja terjadi kini malah kembali normal tidak ada rasa takut dan selalu membalas ucapan Yusra.
"Dasar bodoh! Tidak perlu aku jelaskan, kamu juga pasti sudah tahu kegunaan benda itu untuk apa! " hardik Yusra dan Raya hanya mengerucutkan bibir nya.
"Mas." panggil Raya takut takut.
"Apa! " sewot Yusra.
"Eum, soal tawaran tadi masih berlaku tidak? " tanya nya.
Yusra menatap Raya dengan menautkan kedua alisnya.
"Ih masa lupa, udah tua sih, jadinya pikun! " ledek Raya dan mendapat pelototan dari Yusra.
"Kamu mau aku hukum, berani sekali mengatai ku ya. " ancam Yusra dia keki dong di katai tua apa lagi pake pikun lagi.
"Ampun. Mas, begitu aja marah, kata Mas Yusra tadi Raya boleh kan keluar rumah. " Raya mengingatkan Yusra kembali soal mengizinkan Raya untuk pergi jalan jalan.
"Tidak boleh! Kamu aku hukum sampai aku kembali. " jawab Yusra sewot dan melangkah keluar kamar Raya lalu mengambil kuci.
"Eh, loh. Mas, kenapa Raya di kunci!. " teriak Raya di dalam kamar.
Sementara di luar kamar. Yusra berpesan kepada Bi Isah untuk tidak membukakan pintu kamar Raya dia hanya boleh memberikan makan saja kepada Raya. Setelah berpesan kepada Bi Isah. Yusra pegi ke kantornya.
Di dalam kamar.
__ADS_1
"Mas, buka pintunya! " teriak Raya sembari menggedor pintu dari dalam.
"Nasib punya suami model si Kardun! Ngeselin banget bisanya cuma ngancem apa apa hukuman. Aku harus bagaiamana, masa harus menunggu dia sampai pulang, kalau aku lapar bagaiamana? Tidak berperikemanusiaan dasar Kardun menyebalkan! " raung Raya di dalam kamar.
Raya mengambil handphone yang di belikan Yusra dia mengecek isinya dan mencari kontak yang bisa dia hubungi namun hanya ada satu nomor di sana. Raya yakin jika itu adalah nomor Yusra. Ia punya ide dan memberikan nama kontak Yusra lalu mengganti nya dengan nama Si Kardun.
Raya coba menghubungi Yusra beberapa kali namun tidak di angkat bahkan dia mengirim pesan tidak di balas.
"Arrgghhh! Percuma punya handphone, kalau dia susah sekali di hubungi, terus di sini cuma ada kontak dia saja bener benar ngeselin. " prustasi Raya.
Raya coba mengirim pesan kepada Yusra siapa tau kali ini di balas dan di baca.
[Mas, Raya laper, masa tega buat istrinya sendiri kelaparan! Dosa loh. Mas.] pesan terkirim dengan emoticon menangis.
Centang dua.
[ Mas Yusra, sibuk pacaran atau kerja sih? Aku laper Mas, nanti aku bisa mati kelaperan kalau begini, kalau aku mati nanti yang aku datengin kamu dulan! ] pesan terkirim dengan emoticon marah.
Satu menit.
Setengah jam kemudian.
Ting.
Sebuah notifikasi masuk dari Si Kardun.
[ Sebentar lagi Bi Isah akan siapkan]
Begitulah isi chat Yusra. Sabar Raya.
....
Di kantor.
"Kenapa Mas? Dari tadi di perhatikan senyum senyum terus, lagi tidak kesambet kan? " tanya Ali.
"Sialan kamu! " ketus nya.
__ADS_1
"Lagian aneh, sadar diri dong. Mas, sudah bukan anak muda lagi, ketauan banget kayanya orang baru jatuh cinta. " ledek Ali.
Yusra meletakan handphone dan menatap Ali datar.
" Sepertinya kamu sudah bosan di sini ya ? Mau aku oper ke daerah pelosok saja tidak? " ancam Yusra.
"Eh, ti-tidak dong Mas, kalo ngancem suka tidak kira kira, nanti mama nangis tujuh hari tujuh malam tau anaknya di oper ke pelosok. " ujar nya gugup.
"Sudah sana, kembali ke asalmu! Lagian meeting nya juga sudah selesai, kerja yang benar jangan keluyuran terus! " ketus Yusra.
"Ini juga kerja bener. Mas, bukan bohongan. " jawabnya memanyunkan bibir lalu pergi dari rauangan Yusra.
"Tidak Ali tidak Raya, kenapa suka sekali menjawab perkataanku. Benar benar menyebalkan, haaahh. " gumam Yusra.
Tak lama handphone bergetar dan tertera nama Raya di sana ia tidak segera mengangkat panggilan dari Raya menunggu beberapa saat barulah dia angkat.
"Ada apa. " jawabnya dingin.
"Mas, sampai kapan hukuman nya. " tanya Raya terdengar merajuk. Yusra berusaha menahan tawa nya karena lucu mendengar suara Raya.
"Kamu budek apa gimana? Tadi aku bilang sampai aku pulang! Mengerti!." setelah itu mematikan sambungannya.
Yusra yakin jika Raya tengah mengumpat nya saat ini. Dia terkekeh ketika membayangkan wajah Raya yang kesal.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mewujudkan keinginanmu untuk berpisah dariku, jika saja aku tahu sejak awal jika kamu adalah teman masa kecilku, orang yang aku suka saat itu. Mungkin saja saat papa menjodohkan kita aku tidak akan menolak dan langsung meneriman nya." gumam Yusra.
Yusra baru mengetahuinya saat ia memeriksa surat yang saat itu di berikan oleh papa nya. Di sana ada secarik foto masa kecil Yusra yang sedang merangkul gadis kecil yang manis. Tertulis juga di secarik kertas jika Soraya adalah Nirmala gadis yang selalu menemani Yusra ketika rumahnya masih di bandung.
Namun mereka berpisah karena saat itu Pak Yusman harus pindah ke jakarta karena anak perusahaan di sana mengalami masalah dan harus Pak Yusman sendiri yang mengatasinya.
Yusra menolak ikut dengan sang papa karena ia terlalu khawatir kepada Nirmala yang tinggal sendirian sejak kecil memang Nirmala ini sudah yatim piatu ia tinggal di panti asuhan namun setiap hari Yusra selalu datang dan selalu bermain menyempatkan waktu nya setelah pulang sekolah. Karena sekolahan mereka berbeda kala itu jadi Yusra dan Nirmala selalu bertemu dan bermain bersama bahkan belajar sekalipun sampai Yusra yang pura pura menjadi Pak Guru.
Yusra tersenyum ketika membayangkan hal manis kala masa kecil. Dia tidak menyangka jika wanita yang saat ini menjadi istrinya adalah teman masa kecil nya dulu. seseorang yang selalu ia cari selama ini namun sangat sulit ia temui karena sekarang Nirmala mengganti namanya menjadi Soraya karena dia sempat di adopsi dulu oleh seseorang janda namun tak lama meninggal dunia.
Soraya di usir oleh keluarga orang tua angkatnya karena mereka tidak mau sampai Soraya menguasai harta orang tua angkatnya. Jadi saat itu Raya nekat mencari pekerjaan sampai akhirnya dia bertemu dengan Pak Yusman dan bekerja mengurus Pak Yusman yang saat itu sangat membutuhkan jasa perawat . Sayangnya Yusra tidak menyadari jika perawat sang papa adalah teman masa kecilnya begitupun sebaliknya.
Slow update, karena sedang revisi cerita satunya, mohon maaf jika ada typo dan terimakasih sudah mampir
__ADS_1