
Malam ini mereka makan malam di kediaman Yusman. Namun semua anggota keluarga di buat tercengang oleh penampilan Yusra malam ini, karena ia memakai baju tidur tanpa lengan sekaligus celana pendek yang mana membuat tubuh kekar Yusra terekspos apa lagi bagian pahan yang mulus .
Berulang kali Yusra menghimpit kedua pahanya karena tidak nyaman apa lagi celana Raya begitu pendek sehingga benda berharga milik Yusra begitu tercetak jelas menonjol.
"Mmmppffftt. " Ali hampir saja tersedak oleh ludahnya kala melihat penampilan Yusra.
Sementara Yena dan Yeni sudah tidak bisa menahan tawanya melihat Yusra.
"Buhahahaa. Mas Yusra sehat? " kata Yeni.
"Hahahaa aku ra kuaaaat Mash. " desah Yena tak bisa berhenti ketawa.
"Kamu ini apa apaan Yusra? Udah mau punya anak loh, kenapa malah berpenampilan seperti banc* taman lawang? " kata Rusdi.
"Mas Yusra, lucu kan? . " kata Raya lalu mengambit lengan Yusra dan bersandar di bahunya.
"Banget banget bangeeeeeet. " jawab Yeni.
"TOP BGT. " Yena mengacungkan jempol. Sementara Ali lari ke ruang tengah karena sejak tadi menahan tawa.
Setelah sampai ruang tengah ia terbahak dengan kencangnya sehingga terdengar ke ruang makan dan itu membuat Yusra mengumpat Ali dalam hati.
(Awas saja kamu Ali!) batin Yusra.
Yuli hanya menggeleng. Ia tahu jika itu pasti permintaan Raya efek ngidam.
"Raya ngidam nya anehh aneh saja nih. " celetuk Yuli.
"Hehee habis dede bayinya butuh hiburan Bik. " jawab Raya enteng.
"Sayang, sudah ya ngidam nya." bujuk Yusra yang terlihat tak nyaman.
"Mas Yusra keberatan ya? Mas Yusra gak mau nurutin ke inginan dede bayi ya? " rajuk Raya menampilkan muka sedih lalu menunduk mengelus perutnya.
"Eh eh, eng-gak begitu sayang, ya udah ya udah. Mas pake sampe selesai makan saja ya, malu di ketawain sama mereka. " ujar Yusra yang langsung menenangkan Raya.
"Mas Yusra di kantor garang, giliran di rumah takut istri, hahahaa! Mimpi apa Ali semalam ya? Sampe bisa dapat melihat kelemahan Mas Yusra yang takut istri. " ledek Ali kemudian dia duduk sambil terus terkikik.
"Biasalah itu, itu namanya demi cinta, rela berkorban apa saja demi orang yang kita sayang. Apa lagi orang itu bahagia, bener gak Yus? " kata Rusdi.
"Good, emang sih ya, kalo orang yang belum punya pasangan mah, bisanya cuma ngetawain doang, gak bisa ngerasain apa artinya itu perjuangan! " sindir Yusra menatap Ali tajam.
(Kena kamu Al!) batin Yusra tawa jahat.
"Ekehm, sebaiknya ayo kita makan. Ali sudah lapar. " Ali kena mental, akhirnya makan dengan diam sentosa.
"Kasian. Bang Ali, kena mental. " ledek Yena dan Yeni.
__ADS_1
"Mah, bulan depan uang jajan mereka Ali bagi Mamah saja ya. " ancam Ali.
"Aaaaaaaaa.. Bang Aliiii!!!. " rengek si kembar.
"Makanya diem! " ketusnya.
"Iya kami diam. " jawab di kembar serempak
"Memang selama ini yang kasih uang jajan kalian, siapa? Ali. " tanya Yusra.
"Hu'um." jawab si kembar karena mulutnya penuh.
"Mbak kira, dari Papa kalian. " sahut Raya.
"Mereka mana ada puas sih, kalo belum Abangnya di palakin, selalu bilangnya kurang. " ketus Ali.
"Kan uang dari Papa, sisanya untuk bansos, nah kalo dari Bang Ali, kami pakai buat uang kas. " jawab Yena.
"Bohong, pasti cuma akal akalan aja kan? " tuduh Ali.
"Ih, ya udah kalo gak percaya, tanya aja sama guru sana! " sewot Yena dan Yeni.
"Aa, usil mulu sama adeknya, lagian uang kamu kan banyak, gak ada salahnya lah bagi adik adik , selagi kamu belum punya tanggungan, benerkan. " seloroh Yuli.
Ali hanya memutar mata malas kalo Yuli sudah bicara soal tanggungan. Yang tak lain dan tak bukan istri. Akhirnya obrolan pun di sudahi karena makan malam telah siap semua dan mereka makan penuh khidmat.
Sementara di ruang penyekapan.
"Om, tolong lepaskan kami Om. " pinta Rasty penuh mohon.
"Kamu ingin saya lepaskan? " tanya Hendri.
Rasty mengangguk antusias.
"Saya akan lepasin kamu, tapi setelah itu tolong kamu pergi jauh jauh dari kehidupan putra saya, karena saya tidak sudi punya menantu seperti kamu, saya tidak ingin memiliki menantu yang tidak sederajat dengan saya, paham kamu! " sentak Hendri garang.
"Ta-tapi Om, kami saling mencintai dan kami juga sudah memiliki buah hati, kenapa Om tega ingin pisahkan kami, tidakah Om memiliki belas kasih pada kami? Alea pasti akan selalu menanyakan keberadaan Ayahnya, saya mohon Om tolong jangan kasih saya pilihan yang sulit. " ujar Rasty .
"Saya tidak perduli, jika kamu emang tidak ingin keluar, maka mendekam saja di gudang ini dengan anakmu! Tapi jika kamu menyetujui nya maka kamu harus tanda tangani surat ini dan pergi jauh jauh dari hidup putra saya. " Hendri masih memberikan pilihan.
Rasty bingung dengan pilihan yang di berikan oleh Hendri. Di sisi lain ia ingin keluar namun ia juga tidak ingin berpisah dengan Fahri, namun percuma jika ia mendekam di gudang ini juga mustahil akan bertemu dengan Fahri.
"Saya kasih kamu kesempatan untuk berfikir, sampai besok, jika kamu masih kukuh dengan pendirian mu untuk bersama Fahri, itu sangat mustahil, karena itu tidak akan pernah terjadi! Mengerti kamu! " ujar Hendri lalu pergi.
"Bunda. Lea takut di sini, Lea pingin ketemu Ayah, Lea kangen Ayah Bunda." lirih nya lalu Rasty hanya bisa memeluk Lea dengan mata yang sudah berkaca kaca.
"Mas, kamu di mana? Tolong kami Mas, kami tidak ingin pisah dengan kamu, kami sangat rindu kamu Mas." batin Rasty, air matanya menganak sungai begitu saja tanpa bisa ia cegah. Ia mendekap tubuh mungil Lea dengan erat.
__ADS_1
"Sabar ya sayang, suatu saat kita akan bertemu dengan Ayah, kamu jangan takut kan ada Bunda. " hibur Rasty dengan suara parau. Lalu mencium kepala Lea penuh sayang.
.....
Saat tengah malam semua penjaga di gudang yang di perintahkan oleh Hendri untuk menjaga Rasty tertidur sangat pulas.
Seseorang segara masuk bersama temannya dengan jalan mengendap dan ia mengambil kunci ruangan tempat di mana Rasty di sekap dan Lea.
"Pelan pelan, nanti mereka bangun. " bisik nya.
Sementara orang yang mengambil kunci itu hanya mengatakan ok dengan kode tangannya. Setelah berhasil mereka langsung menuju ruangan Rasty.
Cek lek.
Pintu berhasil di buka dan menampilkan sosok wanita muda dan anak kecil yang tidur pulas saling berpelukan.
"Sungguh malang nasib kalian. " lirih orang itu.
"Psstt... Psstt.. Cepat, nanti mereka bangung. " ujar seseorang dengan suara bisik yang berjaga depan pintu.
Lagi lagi orang itu hanya mengangguk dan tanpa sadar Rasty terbangun lalu hendak berteriak karena takut.
"Siap, hummm. " ujar Rasty yang langusng di bekap oleh orang itu.
"Jangan berisik, aku datang untuk membebaskan kamu dan anakmu, kamu ingin keluar dari sini kan? " Rasty hanya mengangguk dengan masih dalam bekapan.
"Kalau begitu, ikut dengan kami, sekarang kamu gendong anakmu, kita akan keluar dari sini. " Rasty kembali mengangguk.
Orang yang membekap Rasty berkata pada temannya.
"Apakah mereka masih tidur? "
"Iya masih, ayo cepat sedikit, karena obat tidur yang menyerang mereka akan hilang sebentar lagi, cepat. " jawab orang itu.
"Ayo cepat, waktu kita tidak banyak. " ajak orang yang memakai tergos /penutup wajah.
Akhirnya setelah jalan mengendap endap mereka berhasil ke luar dan segera menaiki mobil lalu meninggalkan pelantara gudang tersebut.
Di dalam mobil.
"Sebenarnya siapa kalian? " tanya Rasty yang sangat bersyukur karena ada orang yang baik hati menolongnya.
"Nanti kamu akan tahu siapa kami, sekarang kamu tidur saja lagi, karena perjalanan masih sangat jauh. " jawab wanita muda itu yang masih memakai penutup wajah bersama temannya yang mengendarai mobil.
"Baiklah, tapi aku sangat berterimakasih pada kalian, siapapun kalian semoga kebaikan selalu menyertai jalan kalian untuk berbuat baik kepada siapapun itu, aku sangat berterimakasih sekali. " ujar Rasty sungguh tulus dan kedua orang itu hanya mengangguk .
Maaf jika ada typo ya
__ADS_1