
Di rumah sakit kini sudah ada Ali yang sedang menunggu Yusra. Setelah di periksa dan di tangani oleh Dokter . Yusra sudah sadar dari pingsan nya. Karena benturan yang sangat keras membuat kepala Yusra sakit dan akhirnya pingsan. Untung nya dalam kecelakaan tidak ada korban jiwa hanya saja ada beberapa pengendara lain yang kena imbasnya. Namun semua sudah di urus oleh asisten Yusra dan bertanggungjawab atas insiden kecelakaan itu.
Kini Ali dan Yusra tengah berbincang.
"Mas, apa ada yang sakit? " tanya Ali khawatir.
"Kepalaku sedikit sakit, tadi benturan nya cukup keras, makanya aku pingsan, " jawab Yusra yang kini sudah di pindahkan ke ruangan VVIP.
"Tadi dokter bilang kepala Mas di jait karena ada sobekan, kalau masih terasa nyeri Ali akan panggilkan Dokter untuk memeriksanya lagi. " kata Ali.
"Tidak perlu seperti itu Ali, terimakasih sudah khawatir denganku, sebaiknya kamu istirahat saja dan pulang, aku tidak apa apa. Oh ya, dimana handphone ku? Aku ingin menghubungi Raya. " tanya Yusra yang seketika itu langsung kepikiran Raya.
"Aku sedang men charger nya, tadi lowbat batrenya Mas, Mas tidak perlu khawatir karena Ali sudah menghubungi Mba Raya tadi. " jawabnya, membuat Yusra bernafas lega.
"Terimakasih Ali, kamu memang sepupuku yang baik. " ujarnya.
"Tidak perlu berterimakasih Mas. Kita ini kan saudara, seperti kesiapa saja, Oh iya Mas, aku sudah melaporkan ke polisi soal insden kecelakaan Mas Yusra, dan kini polisi sedang menyelidiki nya. " kata Ali.
Baru saja Yusra akan menjawab namun pintu ruangannya terbuka lebar dan menampilkan sosok Raya yang sudah di banjiri air mata karena menangis sejak tadi. Ia menghambur begitu saja ke pelukan suaminya dengan menangis sesegukan. Yusra membalas pelukan sang istri lalu mengusap punggungnya.
"Hey, kenapa menangis seperti ini, hum? " tanya Yusra mendekap Raya.
Ali yang melihat reaksi Raya hanya menggeleng saja. Apakah seperti ini ya, rasanya ada yang ngebucinin kita. Rasanya Ali ingin segera punya istri saja biar ada yang mengkhawatirkan dan ngebucinin dia.
"Mba, lebay banget reaksi nya. " sindir Ali.
"Hiks hiks hiks, bukan lebay tau, ini namanya khawatir dan takut Mas Yusra kenapa napa. " dengernya masih dalam dekapan Yusra.
Ali memutar bola malas sementara Yusra hanya terkekeh.
"Sudah sayang, jangan seperti ini, malu di lihat orang loh. " bisik Yusra di telinga Raya.
Raya tersadar dan akhirnya melepas pelukan suaminya ia segera menghapus air matanya. Matanya terlihat sembab karena menangis terlalu lama bahkan hidungnya memerah.
"Ya sudah Mas, kalau begitu Ali pamit pulang ya, nanti besok setelah dari kantor polisi. Ali akan ke sini sekalian memberikan laporan dari polisi. " kata Ali.
"Ya sudah, kamu hati hati di jalan nya, sekalian ajak Bi Isah ikut pulang. " kata Yusra.
"Tapi Mas Yusra tidak apa apa kan? " tanya Bi Isah yang terlihat jelas khawatir padanya.
__ADS_1
"Mas Yusra baik baik saja Bik, tidak usah khawatir, kan, ada suster cintanya di sini yang akan mengurus Mas Yusra, sekarang kita lebih baik pulang dan Bi Isah istirahat di rumah saja ok. " jawab Ali lalu merangkul bahu wanita paruh baya itu menggiring keluar.
Setelah Ali dan Bi Isah pergi. Kini hanya tinggal Yusra dan Raya saja dalam ruangan yang luas.
"Mas." lirih Raya . Kemudian ia kembali memeluk Yusra.
"Aku tidak apa apa sayang. " ujar Yusra yang membalas pelukan istrinya.
"Raya takut. Mas, kenapa sampai bisa kecelakaan? . " imbuhnya.
Lalu Yusra menceritakan insiden kronologi kecelakaan nya.
"Kok bisa rem nya blong? " tanya Raya yang kini sudah merasa lebih baik.
"Mas juga tidak tahu, tunggu besok saja kabar dari Ali. " jawabnya lalu mengecup kelapa Raya. Padahal Yusra sudah tahu ini ulah perbuatan Om nya.
"Berapa jahitan ini Mas. " tanya Raya yang kini mengusap luka di kepala Yusra.
"Kata Ali hanya lima belas jahitan. " jawabnya enteng. Namun tidak dengan Raya yang meringis mendengar jawaban Yusra. Ia merasa ngilu di sekujur tubuhnya ketika mendengar jawaban Yusra.
"Sayang nginep? " tanya Yusra yang di jawab anggukan oleh Raya.
....
....
Plak!
Hendri murka karena Fahri tidak datang dan bahkan ia sudah berani melawannya. Akhirnya dengan amarah yang meluap ia lampiaskan untuk menampar Fahri .
"Anak tidak tahu diri kamu! Harusnya kamu datang ke acara rapat itu, karena itu kesempatan kamu untuk memperlihatkan bakat mu kepada mereka! " murka nya.
"Pah, sudah Pah, kasian Fahri. " pinta Rika yang tak tega melihat putranya di pukuli dan di tampar oleh suaminya sendiri.
"Diam kamu! Ini semua salah kamu yang tidak bisa mendidiknya dengan benar! gara gara kamu suka membangkang kepadaku! Fahri jadi ikut ikutan! " bentak nya.
Fahri sudah mengepalkan kedua tangannya ia sudah bertekad untuk melawan Papa nya dan tidak ingin jadi bonekanya lagi.
"Sudah cukup Pah! Jangan lagi membentak Mamah! Mamah tidak salah dan Mamah sudah benar mendidik ku, sudah cukup selama ini aku menjadi boneka Papah, aku sudah menuruti kemauan Papah dan bahkan aku harus bersaing dengan sepupu ku sendiri semua itu karena Papah! Tapi apa balasan Papah? Hah! Papa justru mengingkari janji Papah, Papah sudah menyuruh orang untuk berbuat buruk kepada Rasty kan! Sekarang jangan salah kan aku jika aku membangkang kepada Papah, karena semua ini berawal dari Papah sendiri! " ujar Fahri memburu.
__ADS_1
"Jaga ucapan kamu Fahri! Papah begini karena ingin melindungi mu dari perempuan tidak benar! " ujar Hendri lalu melirik tajam kepada Rika. " Dia itu bukan wanita baik baik! Dia hanya seorang lalat yang ingin mengganggu ketenangan keluarga kita, dan sekarang lihat kan buktinya. Kamu membangkang setelah mengenal dia! Papa lakukan itu kepada kamu supaya kamu sadar Fahri! Dan lebih baik kamu cari wanita yang status nya sederajat dengan kita bukan wanita seperti itu. " kata Hendri.
Fahri tidak percaya dengan ucapan Papanya. Semakin kesini bukannya menjadi baik tapi Papah malah semakin menujukan jati dirinya yang penuh kesombongan.
"Sampai kapanpun Fahri tidak akan pernah meninggalkan nya Pah! Tidak akan pernah. " kukuh nya.
"Jangan berani melawan Papah. Fahri! Jika memang kamu mau menjadi pembangkangan, baiklah, silahkan saja! Tapi kamu harus tahu! Jika sekarang wanita sialan itu sedang dalam genggaman Papa!" ujarnya tersenyum licik.
"Maksud Papa apa? " tanya Fahri bingung. Karena sebelum ia meninggalkan Rasty. Orang yang untuk menjaga Rasty dan anaknya sudah tiba tapi kenapa sang Papa bicara seperti itu.
"Papah tidak bodoh Fahri! Kamu menyewa seorang pengawal untuk wanita itu kan? Kamu pikir Papah tidak tahu? Hahahaha, tapi sayang nya pengawal itu sudah mati karena di keroyok oleh anak buah Papah dan sekarang, wanita itu dan anaknya sedang menjadi tawanan anak buah Papah dan jika sampai kamu melawan Papah! Siap siap saja kamu kehilangan nyawa mereka! " bengis Hendri.
"Astagfirullahaladzim. Papah, kenapa Papah sangat kejam. " ujar Rika tak percaya. Sementara Fahri hanya menatap Papahnya dengan kebencian.
"Masih mau melawan Papah? " ledek nya.
"Apa Papah tega akan melakukan itu? Papa tidak tahu kan, jika di dalam darah anak itu mengalir darahku? Yang berarti gadis itu memiliki darah keturunan Papah! Aku mohon jangan sekali kali Papah menyuruh anak buah Papah untuk melukai mereka. " ucap Fahri penuh memohon.
Sebuah fakta yang keluar dari mulut Fahri membuat kedua orang tuanya tercengang dan tak percaya atas pengakuan Fahri.
"Nak, kamu bicara apa? Apa maksud kamu? " tanya Rika tak percaya.
"Maafkan Fahri Mah. " lirih nya. Sementara Hendri menatap geram kepada putranya.
"Jangan berkamuflase kamu Fahri! Papa tahu kamu bicara seperti itu hanya untuk membujuk Papah kan! Agar tidak melukai mereka! Jadi kamu berbohong dengan menyatakan jika anak kecil itu adalah anakmu! Kamu pikir Papah akan percaya hah! Tidak. " Hendri tetap pada pendirian nya.
"Sumpah Demi Allah. Pah, aku tidak berbohong, anak kecil yang lahir dari rahim Rasty itu adalah anakku, cucu Papah dan Mamah. Maka dari itu, tolong lepaskan mereka dan Fahri berjanji akan menurut semua apa yang Papah perintahkan, asal lepaskan mereka. " pinta Fahri memohon.
"Astagfirullah, nak, kenapa kamu merahasiakan dari kami? Kenapa kamu tidak jujur dari dulu nak. " ujar Rika yang kini menangis.
Kenapa Bisa. Fahri , anak yang begitu pendiam dan dingin menjadi anak yang liar dan selama ini sikap Fahri tak sedikit pun mencerminkan jika dia seperti anak yang suka membuat hal bejat seperti itu. Karena selama ini ia begitu penurut dan tidak seperti anak kebanyakan di luar sana yang suka main main.
Selama ini yang kedua orangtua nya lihat. Fahri adalah anak yang baik penurut bahkan tidak pernah ia untuk keluar atau bermain dengan teman teman nya justru yang ia lakukan adalah belajar dan terus belajar. Tapi sekarang, apa ini kenapa dia bicara seperti itu .
"Jelaskan kepada Mamah. Nak, kenapa bisa kamu menjadi seperti ini? " pinta Rika dengan suara yang lirih.
"Sudah cukup! Papa anggap ini hanya sandiwara kamu saja! Karena sampai kapanpun. Papa tidak akan pernah percaya dengan ucapan kamu itu yang omong kosong! " bentak Hendri lalu ia pergi entah kemana.
"Maafkan Fahri, Mah, " ujarnya lalu mencium tangan dan kaki sang Mamah. "
__ADS_1
**Maaf jika ada typo.
Bab selanjutnya akan menjelaskan tentang Fahri dan Rasty. Selamat membaca**.