
Pagi harinya Yusra dan Nilam sudah berada di ruang makan untuk sarapan. Namun Nilam heran karena tidak melihat kehadiran Raya berseliweran di dapur, harusnya kalau seorang pembentukan harus ikut memasak atau beres beres rumah.
"Mba Raya kemana. Bi? Kok cuma Bibi yang siapin sarapan. " tanya Nilam.
"Iya, saya di sini Mba Nilam, apa ada perlu sesuatu?" sahut Raya tiba tiba entah datang dari mana membuat Nilam terjangkit karena Raya tiba tiba menjawab pertanyaan yang di layangkan Nilam kepada Bi Isah .
Nilam melihat penampilan Raya dari atas sampai bawah karena bingung kenapa seorang pembantu berpakaian sangat rapi dan bermerek.
"Mba Nilam? Hello, Mba tidak apa apa kan? Kok bengong. " tanya Raya.
"Owh, tidak, tidak apa apa. Saya tadi tidak lihat kamu karena kamu tidak ikut membantu Bi Isah, biasanya kan seorang pembantu ikut menyiapkan sarapan. " kata Nilam dengan menatap Raya sinis.
"Owh, tenang saja Mba, ini semua Raya yang siapin kok dan sengaja menyuruh Bi Isah yang melanjutkan karena Raya tinggal mandi. " jawabnya santai.
Lalu Yusra? Tentu saja manusia satu itu tidak perduli dengan pembicaraan kedua wanita di hadapannya dia pokus saja dengan sarapan dan menghiraukan mereka berdua tanpa ingin menegur atau berkomentar.
Raya kemudian duduk di hadapan Nilam dan Yusra . Nilam menatap Raya sinis dan berpikir kenapa bisa seorang pembantu ikut sarapan bersama dengan majikanya.
"Kamu mau ngapain?" hardik Nilam.
"Ya mau ikut sarapan lah, kan semua ini Raya yang masak jadi Raya juga mau ikut sarapan. " ujar Raya santai.
"Tidak sopan banget kamu, kamu cuma pembantu ya! Jangan belaga seperti tuan rumah, ngerti! " omel Nilam.
Lah, memang aku tuan rumah kok, ini rumahkan rumah suamiku berarti rumahku juga dong. batin Maya dia cuek saja tidak perduli dengan hinaan Nilam.
"Ehem!! " Yusra berdehem mengalihkan Nilam yang sedari tadi menatap Raya sinis.
"Mas, kamu kok diam saja sih! Dia gak sopan banget masa ikut sarapan juga di sini. " adu Nilam.
__ADS_1
Dasar Nilampir, ngadu aja sana, batin Raya.
"Sarapan saja Nilam, tidak usah pikirkan yang lain, kamu tahukan? Jika aku tidak suka keributan saat makan. " tegur Yusra yang terdengar membela Raya daripada Nilam.
"Kamu membela dia. Mas? " ketus Nilam.
"Aku tidak suka mengulangi perkataan ku, atau di bantah sekalipun. " jawab Yusra dingin.
Raya ingin tertawa tapi dia tahan. Haruskah dia mengucapkan terimakasih pada Yusra. Karena tidak memedulikan Nilam. Raya makan dengan tenang meski hanya makan dengan nugget saja itu sudah terasa nikmat.
Tapi tidak dengan Nilam yang makan dengan wajah di tekut sembari menatap sinis kepada Raya. Sesekali dia juga menghentakan sendok dan garpu karena masih terasa kesal apa lagi Yusra terlihat sekali merasa tidak terganggu dengan kehadiran Raya.
"Aku sudah kenyang! Aku ingin pulang, kamu mau kan anterin aku. " kata Nilam.
Yusra mengambil tisu dan melap bibirnya kemudian menoleh kepada Nilam yang wajahnya sudah gelap.
"Kamu pulang naik taxi saja ya, aku ada meeting pagi ini, maaf tidak bisa antar kamu, lain kali saja aku akan mengantar kamu. " jawab Yusra yang terdengar menjijikan di tinga Raya.
Akhirnya Nilam mengalah dia pulang menaiki taxi dan Yusra mengantarnya sampai depan rumah. Begitu masuk ke dalam rumah, Raya menghadang Yusra dengan berkacak pinggang membuat Yusra menautkan kedua alisnya.
.
.
"Ini aku kembalikan padamu. " ujar Raya sudah berdiri di hadapan Yusra.
"Maaf, tapi aku tidak menerima barang yang sudah ku berikan pada orang lain. " jawab Yusra cuek.
"Ya sudah, aku letakan saja di kamarmu, dan jangan lagi kamu membelikan apapun untukku apa lagi harus sampai menyuruh orang lain yang memberikan nya. " ketus Raya.
__ADS_1
"Terserah." jawabnya acuh.
"Mas! Jika nanti kamu membawa perempuan lain ke rumah ini lagi, saat itu juga aku akan pergi dari rumah ini, mau kamu ini sebenarnya apa sih? Aku minta cerai kamu gak turuti, tapi kamu malah bawa perempuan lain kerumah ini, kamu sama sekali tidak menghargai aku. Mas! " teriak Raya saking kesal nya.
"Saat itu di hadapanku dan Pak Yusman kamu bilang benci padaku dan benci dengan pernikahan ini! Tapi kenapa, kenapa sekarang aku ingin minta cerai kamu tidak menurutinya? Talak aku Mas, sekarang juga. " Raya sekuat tenaga tidak ingin terlihat lemah dan rapuh di hadapan Yusra.
"Kamu ingin keluar dari rumah ini kan? Baiklah, aku izinkan kamu keluar untuk jalan jalan dengan Bi Isah, aku tahu kamu pasti sangat penatkan diam di rumah, aku akan bilang pada supir dan Bi Isah untuk menemani kamu, aku ada meeting penting pagi ini. " jawab Yusra malah mengalihkan pembicaraan.
"Aku gak butuh itu semua. Mas! Aku gak butuh." teriak Raya dan kini emosi Yusra sudah naik ke ubun ubun.
"Jangan mengujiku, Raya, kamu mau aku seret ke kamar dan membuat kamu tidak bisa kemana mana seharian! Hm? Sepertinya kamu memang ingin aku hukum ya. " kata Yusra penuh ancaman.
Glek.
Raya menelan ludahnya dan gugup karena melihat mata Yusra yang menatapnya tajam dengan nafas yang memburu. Yusra menarik tangan Raya dengan erat membuat Raya meronta dan mengeluh kesakitan.
"Mas,lepaskan, kamu mau bawa aku kemana?. " berontak Raya dan memukul tangan Yusra sekuat mungkin tapi Yusra tidak perduli dia tetap membawa Raya menuju kamar.
Raya sudah sangat ketakutan karena Yusra membawa ke kamarnya. Bayangan saat Yusra meniduri nya kini terlintas jelas dalam memori Raya karena Yusra sangat kasar memperlakukan nya.
"Mas, lepasin Raya, Raya mohon! Jangan lakukan itu lagi. Mas! " teriak Raya.
Kini Raya dan Yusra sudah ada di kamar dia membanting Raya ke kasur lalu Yusra mengunci pintu kamar Raya kemudian berbalik menatap Raya tajam dengan seringai nya.
"Mas. Raya mohon jangan, jangan lakukan itu lagi. " ujar Raya lirih ia memeluk tubuhnya dan menutupinya dengan selimut.
"Sekarang tidak ada ampun bagi kamu. Raya, kamu sudah membuat aku terlambat karena tidak bisa ikut di acara meeting pagi ini, kamu tahu tidak, karena ini meeting yang sangat penting bagiku tapi kamu sudah membuatku terhambat karena ulahmu! Jadi , sebagai gantinya kamu akan aku habisi sekarang juga!. " kata Yusra penuh penekanan.
"Mas, jangan, aku minta maaf . Mas, aku gak mau aku gak mau, jangan lakukan itu lagi Mas." mohon Raya, namun Yusra seakan menulikan telinganya begitu saja membuat Raya sangat ketakutan.
__ADS_1
Mohon maaf jika ada typo dan terimakasih sudah mampir. Slow update ya karena masih merevisi cerita lain nya.