
Raya sangat kesal sekali dengan Yusra karena dirinya tidak bisa keluar dari rumah itu. Niat ingin kabur tapi di halangi oleh Satpam.
"Dasar Kardun! Ayo cari cara Raya, berpikir lah. " gumamnya yang sejak tadi mondar mandir sembari menggigit kukunya.
"Arrggghhhh, aku gak mau seperti ini, Pak Yusman! Kenapa sih bapak punya anak macam si Kardun yang plin plan itu, kemarin aja teriak teriak bilang benci sama pernikahan ini tapi giliran aku minta cerai dia malah diem diem bae. " gerutnya.
Saat sedang memikirkan cara untuk kabur tiba tiba saja ada mobil masuk ke pekarangan rumah. Raya mengintip siapa yang dan datang. Bak pangeran penyelamat bagi Raya ternyata yang datang itu adalah Ali sepupunya Yusra.
"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya engkau kirimkan malaikat penolong untuk ku. " ujar nya girang dia segera membuka pintu dengan sedikit berlari menghampiri Ali dengan senyum yang terus mengembang.
"Assalamu'alaikum." ujar Ali yang baru masuk rumah.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." jawab Raya penuh bersemangat.
"Ya Allah. Mbak, biasa aja dong jawabnya, seneng banget ya Ali datang ke sini " kata Ali cengengesan.
Raya hanya mencebikan bibirnya kemudian menyuruh Ali untuk duduk.
"Mas Yusra gak ada ya, Mba? " tanya Ali basa basi.
"Menurut Mas Ali? " jawab Raya sewot.
"Galak banget sih, lagi haid ya. " tuduh Ali.
"Gak kok. Mas, Mas Ali ada perlu sama Mas Yusra ya? " tanya Maya.
"Tadinya sih, iya, tapi karena Mas Yusra nya gak ada , ya gak jadi deh ada perlu nya. " Ali hanya nyengir karena Raya menatap horor padanya.
"Mba sama Mas Yusra, baik baik aja kan? " tanya Ali.
"Iya kami baik baik saja, Mas Ali. " jawab Raya.
Tadinya Raya pikir ia akan minta tolong kepada Ali untuk keluar dari rumah ini. Namun setelah Raya pikirkan pasti Ali akan bertanya alasan Raya ingin pergi dan nanti mereka akan tahu dengan masalah yang sedang Raya hadapi. Karena bagaimanapun juga ini adalah masalah rumah tangga Raya dan Yusra.
"Bagus lah kalau begitu, ngomong ngomong
kapan nih ada hilal calon penerus Yusra? Kok anyep anyep aja ya." ledek Ali.
__ADS_1
Gak akan pernah ada Mas Ali. batin Raya.
"Baru juga menikah. Mas, gak mungkin lah langsung tokcer aja. " jawab Raya terkekeh padahal dalam hati mengumpat.
"Cieileh ngomongnya gaya bener pake tokcer segala, tapi kan, biasanya pengantin baru nih lagi anget anget nya kan mesra mesraan gak mau jauh jauhan, ini kok biasa biasa aja ya terus gak ada niatan bulan madu gitu. Mba. " kepo banget ini orang yaelah.
"Mas Ali kesini sebenarnya ada keperluan apa? Apa Mas Ali sedang cari informasi buat bahas gosip? " sindir Raya dengan menatap garang Ali.
"Buahahahaha, santai Mba, aku sampai lupa kalau kedatangan ku ke sini mau nganterin sesuatu. " kata Ali.
Raya hanya mengernyitkan dahinya ketika Ali mengeluarkan sebuah kotak persegi dan memberikannya kepada Raya.
"Apa ini? " tanya Raya.
"Buka saja. Mba," kata Ali lalu meneguk air dingin yang sejak tadi dia cueki.
Raya menerima dan membukanya betapa terkejut dia saat mengetahui jika isi di dalam kotak itu adalah handphone keluaran terbaru. Raya bingung ini si Ali kenapa ngasih handphone padanya.
"M-mas Ali, ini punya siapa? " tanya Raya heran.
Sementara Raya hanya diam membisu setelah mendengar penuturan Ali. Apa maksudnya ini? Kenapa Yusra mau membelikan Handphone untuk Raya, apakah dia sedang menyogok Raya agar tidak minta cerai. Lalu kenapa haru Ali , kenapa tidak Yusra saja yang memberikannya dan meminta maaf kepada Raya. Ali yang melihat Raya hanya diam saja memutuskan untuk kembali ke kantor karena pekerjaan nya masih banyak.
"Kalau begitu. Ali pamit ya Mba, mau ke kantor lagi karena pekerjaan Ali masih banyak. " barulah Raya tersadar saat Ali pamit.
"Terimakasih ya. Mas, sudah repot repot anterin, hati hati di jalan. " kata Raya dan melambaikan tangan pada Ali saat Ali sudah masuk mobil dan meninggalkan rumah Yusra.
.......
.......
Malam harinya Raya hanya melihat handphone yang tergeletak di atas nakas dan masih dalam kardusnya. Raya enggan menggunakan handphone yang telah Yusra belikan untuknya Raya tidak mau menerima apapun dari Yusra karena yang dia mau dari Yusra adalah cerai.
Beberapa saat terdengar suara mobil yang masuk ke pekarangan rumah dan Raya yakin jika itu adalah Yusra. Raya bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar tapi begitu keluar matanya membola saat lagi dia menyaksikan seorang wanita bernama Nilam tengah bergelayut manja di lengan Yusra. Betapa panas dan sakit hati Raya kala melihat kelakuan Nilam kepada Yusra itu. Raya hendak masuk namun ia urung karena Nilam memanggilnya.
"Mba Raya. " kata Nilam.
Raya berbalik dengan menampakan wajah yang tak bersahabat. Apa lagi ketika melihat Yusra cuek saja dan malah sengaja merangkul bahu Nilam di hadapannya. Maksudnya apa seperti itu. Di dapur Bibi mengintip dan bergumam .
__ADS_1
"Ya Allah.. Mas Yusra ini sebenarnya mau ngapain lagi ? Kenapa malam bawa Mba Nilam ke rumah, tidak tahukah air wajah Mba Raya sudah tidak enak di pandang. " gumam Bibi memperhatikan dari jauh rasanya seperti sedang menonton film.
"Ya, ada apa. " jawab Raya sedikit ketus dan bernada dingin.
"Mba, aku mau menginap di sini, tolong siapin kamarku ya. " kata Nilam .
Dasar ulat keket, tidak tahu diri banget, hey! aku ini istrinya si Kardun kenapa malah menganggapku seperti pembantu, lagian salahku juga waktu itu malah mengaku sebagai pembantu bukan sebagai istri. batin Raya.
"Loh, kenapa bengong Mba? Cepet siapin kamar saya. " perintah Nilam.
"Ah, iya. Saya akan siapkan, lebih baik kalian duduk saja dulu kalo sudah siap saya akan beritahu. " jawabnya dan melengos begitu saja.
Saat melewati Yusra dan Nilam Raya bergumam.
"Dasar Nilampir! Memang cocok sih sama si Kardun alias Grandong." umpat Raya yang terdengar oleh Yusra.
"Ngomong apa kamu barusan! " hardik Yusra.
Raya terjangkit di sebelah Yusra karena suaranya yang begitu terasa nikmat di gendang telinganya.
"Saya tidak ngomong apa apa. Pak Yusra! Mungkin bapak salah denger orang saya diem aja, kok." kata Raya dalam hati dia tertawa puas sudah mengumpat Yusra dan bagus di dengar oleh orangnya.
Yusra menatap tajam Raya dan Raya tak perduli dia melengos begitu saja menuju kamar tamu.
Nilam berusaha menenangkan Yusra dengan cara mengusap lengannya karena baru kali ini melihat Yusra marah dengan suara yang tinggi.
Sementara di dalam kamar tamu Raya tak kuasa menahan tawanya dan terkikik geli saat melihat ekpresi Yusra yang terlihat kesal padanya.
"Sukurin, emang enak, kamu pikir aku akan diem aja gitu saat kamu menindas ku dan pamer kemesraan di hadapanku, dasar Kardun. Aku gak akan jadi istri lemah dan menangis begitu saja ketika kamu memperlakukan aku semena mena, Gerandong dasar. " umpat Raya dan membereskan tempat tidur.
Bibi masuk dan berniat untuk membantu Raya.
"Mba, biar Bibi saja yang menyiapkan kamarnya, lebih baik Mbak ke kamar saja istirahat. " ujar Bibi merasa kasian.
"Tidak apa apa, Bi, aku bisa kok dan ini sudah biasa bagi Raya, toh, Raya kan pembantu juga di sini!. " jawab Raya dengan suara yang ia keraskan saat matanya tak sengaja melihat bayangan Yusra.
Maaf telat, slow update ya, terimakasih sudah mampir jika berkenan berikan dukungan untuk cerita ini.
__ADS_1