Terpaksa Menikahi Anak Majikan

Terpaksa Menikahi Anak Majikan
Bab 31


__ADS_3

Malam harinya di kediaman Yusra.


Cek lek.


Yusra masuk ke kamar dan melihat Raya yang tengah asik menonton youtube di handphone nya. Kadang wanita itu tertawa tapi lama sedikit ia mengumpat, entah apa yang tengah ia tonton. Ia bergegas kekamar mandi untuk mencuci tangan dan gosok gigi setelah selesai ia mendekati Raya dan ikut berbaring di samping sang Istri.


Tapi lagi lagi Raya terlihat aneh. Sejak sore ia mengabaikan Yusra dan sekarang di tempat tidur ia juga menjauh dari Yusra. Sehingga Yusra berpikir apakah kesalahan nya ini sangat fatal sehingga menimbulkan efek yang begitu besar bagi Raya.


"Sayang, kok kamu ngejauh sih? Aku kan sudah minta maaf dan sudah cerita juga. " ujar Yusra. Wajahnya sudah berubah murung karena tidak bisa jika Raya seperti itu padanya.


"Kamu bauuu. " keluh Raya sembari menutup hidungnya.


"Masa sih? Aku kan sudah mandi sayang, wangi begini kok, masa di bilang bau. " kata Yusra yang tak terima di tuduh bau dan ia mengendus tubuhnya tapi tak bau.


"Iya kamu bau tapinya, sana ah, jangan deket deket. " usir Raya.


"Sayang, kamu masih marah ya? Sampai berbuat alasan yang tak masuk akal seperti ini, kamu sengaja katai aku bau supaya kamu mau hindarin aku kan? " tuduh Yusra.


"Raya gak nuduh, tapi emang kamu bau. Mas, sana coba mandi lagi, siapa tau aja wangi. " seru Raya.


"Aku sudah mandi sayang. " Yusra enggan menuruti seruan Raya.


"Ya sudah, jangan deket deket! Di bilang bau, bau. " rutuk Raya lalu ia turun dari ranjang meninggalkan Yusra.


"Sayang , kamu mau kemana, hey? " tanya Yusra dan segera menyusul Raya keluar kamar.


Raya berjalan menuju dapur dan melihat di atas meja ada beberapa rupa buah namun yang paling menggoda di lihatnya yaitu buah jeruk. Raya segera mengambil jeruk itu dan kemudian mengupas lalu memakannya.


"Eum, manis banget ini, gak salah ambil. " gumamnya sembari mengunyah.


"Sayang, ini udah malam, itu kamu makan jeruk? Emang gak asem? " tanya Yusra.


Soalnya kalau tidak salah itu adalah jeruk yang di beli Bibi namun katanya asem. Sepertinya Bibi lupa untuk membuangnya sehingga masih berada di atas meja makan.


"Ini asem sayang, kata Bibi , jangan di makan ya, nanti kamu sakit perut. " kata Yusra yang sengaja langsung ia rebut saja dari tangan Raya lalu membuangnya ke tong sampah. Sampai yang di atas meja juga ia buang.


Yusra tak tahu saja jika kini mata Raya berkaca kaca akibat jeruk yang sedang ia makan di buang oleh Yusra tanpa sisa. Begitu Yusra menoleh, ia terkejut ketika mendapati istrinya sudah menitikan air mata.


"Sayang, kamu kenapa? Kok nangis? " Yusra tambah salah lagi.


"Hiks, hiks, kenapa di buang jeruknya? Kan aku sedang makan. Mas, dan siapa bilang jeruknya itu asem? Itu manis malahan dan Raya suka! Kenapa Mas Yusra suka sekali buat Raya kesal dan nangis! Hiks. " gertak nya dan membuat Yusra melebarkan matanya karena Raya menangis sesegukan.


"Sayang, sayang, sumpah aku gak ada niat begitu. Aku minta maaf ya sayang, sungguh, tapi memang jeruknya asem sayang kata Bibi. " ujar Yusra bicara pelan pelan.


"Gak mau tau! Raya mau jeruknya lagi! " rengeknya dan membuat Yusra kelimpungan karena semua jeruk sudah ia buang.


"Ta-tapi, sayang itu, eum. Jer-uk nya sudah Mas buang. " ujarnya pelan dan memasang wajah takut takut.


"Tau ah! Mas Yusra nyebelin dan ngeselin! Mending Mas pergi deh, jangan deket Raya, udah mah bau, nyebelin lagi Raya kesel! Mas tidur di kamar kamu aja jangan di kamar Raya! Huwaaaa. " raung Raya menangis pilu lalu berlalu menuju kamarnya.


Yusra sungguh di buat tercengang dengan kata kata istrinya itu. Suara tangis Raya terdengar ke kamar Bibi sehingga Bibi keluar dan menghampiri Yusra yang kebingungan dengan sikap Raya.


"Mas, ada apa, tadi Bibi dengar suara Mba Raya nangis? Tapi orangnya gak ada? " tanya Bibi bingung.


"Raya ngambek, tadi makan jeruk yand dari meja, saya buang karena kata Bibi jeruknya asem kan? Tapi reaksinya malah berlebihan sampai nangis, apa lagi mengatai saya bau lagi! " dengusnya kesal.


Mendengar itu. Bibi mengendus tubuh Yusra dan mengatakan jika Yusra tidak bau badan. Malah wangi.


"Gak bau kok. Mas. " kata Bi Isah.


"Aneh banget kan dia, sejak tadi sore malah Bi. " keluh Yusra.


"Biasanya hal seperti itu hanya di alami oleh ibu hamil. Mas. " celetuk Bi Isah.


Mata Yusra melebar mendengar kenyataan yang di ucapkan oleh Bi Isah. Matanya langsung berbinar jika memang itu benar, berati Raya tengah hamil dan mengandung anaknya.


"Bi, serius kan? " tanya Yusra lalu menggenggam tangan Bibi karena senang.

__ADS_1


"Bibi kurang tau juga, tapi sebaiknya. Mas suruh Mba Raya cek dulu kalau tidak ajak periksa ke dokter. " ujar Bi Isah memberikan saran yang tepat.


"Baik Bik, terimakasih sarannya. Yusra akan coba ajak Raya untuk periksa. " jawab Yusra dan segera menyusul Raya.


...


...


...


Sementara itu di tempat yang jauh dari Ibukota Jakarta.


Rasty sedang menidurkan anaknya yang masih berusia tiga tahu. Tiba tiba saja ada orang yang mengetuk pintu rumah nya.


"Siapa ya, tengah malam begini bertamu. " gumam Rasty lalu ia pergi dari kamar dan melihat seorang laki laki yang berbadan besar yang berdiri di depan pintu rumahnya dari balik pintu.


"Buka pintunya, saya tahu anda di dalam. " ujar laki laki itu dengan suara yang dingin terdengar di telinga Rasty.


"Astagfirullah, apakah itu orang suruhan Om Hendri? Aku harus bagaimana, kenapa bisa mereka tahu alamat rumah baruku. " gumam Rasty panik lalu ia pergi ke kamar dan berniat membawa putrinya kabur.


Namun suara orang itu kembali terdengar dengan sebuah ancaman.


"Saya tahu kamu di dalam! Jika saja kamu berniat kabur, maka kamu tidak akan pernah melihat Ibumu lagi. " ancamannya dan membuat Rasty semakin ketakutan.


"Ya Allah, tolong lindungi hamba dari marabahaya. " gumam nya lalu ia memberanikan buka pintu.


Cek lek


Rasty memasang wajah ketakutan kala melihat wajah garang pria berbadan besar di hadapan nya ini. Lalu tanpa aba aba pria itu mendorong tubuh Rasty sampai membentur tembok dan hendak melakukan pelecahan.


"Lepaskan aku! Jangan sentuh aku! " teriak Rasty ingin melawan namun pria itu terlalu kuat bagi Rasty yang tubuhnya kecil. Kini pria itu berusaha untuk menciun bibir Rasty namun Rasty mengelak dan memberontak.


"Jangan berontak sialan! Apa kamu ingin aku perlakukan dengan kasar hah! " bentak pria itu.


"Tolong, jangan lakukan itu, saya mohon jangan, toloooong!! " teriak Rasty. Air matanya sudah menderas saat si pria menjamah leher jenjangnya itu.


"Mas Fahri, tolong aku. " batin nya.


Seseorang tiba tiba dari arah belakang memukul kepala si pria dengan balok beberapa kali pukulan sehingga Rasty berhasil lepas dari cengkraman si pria yang tak ia kenal itu. Lalu pria yang terkena pukulan itu mengerang kesakitan akibat pukulan yang begitu keras sehingga mengeluarkan darah segar dari kepala belakang nya.


"Sekali saja kamu coba sentuh wanitaku! Maka aku akan membunuhmu, pergi dari sini brengsek! " kata Fahri dengan memancarkan api kemarahan.


Sekali lagi Fahri memukulkan balok itu tepat di wajah pria yang tak lain adalah suruhan Papanya. Pria itu tersungkur dan memegangi wajahnya yang terasa kebas penuh dengan darah. Ia lalu pergi dengan lari sempoyongan.


"Mas Fahri. " lirih Rasty lalu memeluk kekasih nya itu dengan erat. Fahri juga membalas pelukan Rasty lalu menenangkan Rasty yang ketakutan.


"Aku disini. Ras, kamu tenang ya jangan takut. " ujarnya lalu membawa Rasty duduk.


"Mas, terimakasih karena sudah datang di waktu yang tepat, aku tidak tau lagi jika kamu tidak datang maka mungkin saja aku, hiks. " Rasty tak bisa melanjutkan ucapannya karena insiden tadi membuat ia sangat ketakutan.


"Syuut, tenang ya jangan takut, aku akan selalu ada melindungi kamu. Papa memang sudah keterlaluan! Aku sudah mengikuti semua kemauannya tapi tetap saja ia tidak bisa memegang ucapanya, lihat saja nanti. " geramnya.


"Mas , sepertinya Papa kamu mengirim orang untuk mengikuti ku, aku harus bagaimana ? Rasanya aku was was sekali saat ini. Aku tidak tahu hari esok akan ada insiden apa lagi. Aku takut Mas. " ujar Rasty yang masih nampak ketakutan.


"Tenang sayang, aku akan cari orang untuk menjadi pengawal mu, sekarang lebih baik kamu istirahat temani si kecil ya. Aku akan berjaga di sini. " Fahri coba menenangkan Rasty dan menyuruhnya untuk istirahat.


Kenapa Fahri sampai bisa ada di kediaman baru Rasty? Karena ia sudah memiliki firasat buruk apa lagi saat ia pulang dari kantor ia mendengar Papanya sedang menelpon seseorang dan menyuruh orang itu untuk melakukan sesuatu kepada wanita itu yang tak lain adalah Rasty.


Mendengar itu. Fahri yang baru saja sampai rumah ia langsung bergegas pergi dan menuju kediaman baru Rasty. Jaraknya hanya sekitar 4 jam dari jakarta dan syukur nya Fahri datang tepat waktu sehingga ia bisa menyelamatkan Rasty dari anak buah Papanya.


.....


.....


Rumah Yusra.


"Sayang, buka pintu nya. Mas minta maaf tadi karena sudah buang jeruknya, ini Mas sudah belikan lagi gantinya. " teriak Yusra dari balik pintu.

__ADS_1


Ya. Setelah mendengar ucapan Bi Isah tadi. Yusra langsung menyuruh Pak Satpam membeli jeruk yang sama persis yang di beli Bibi tadi siang. Dan alhamdulillah nya meski sudah tengah malam penjual buah-buahan langganan Bi Isah masih tetap buka.


Cek lek.


"Ini sayang. Mas belikan banyak buat kamu. " ujar Yusra sumringah.


Lantas dengan muka masam Raya menerima itu dan tidak mengucapkan terimakasih pada Yusra. Ia langsung balik badan dan membawa sekantong jeruk ke atas kasur lalu membiarkan Yusra ikut masuk.


Yusra naik ke atas namun ia mendapati tatapan tajam Raya yang langsung menghunus kedalam bola matanya.


Glek.


"I-iya, sayang. Mas tidak akan dekat dekat. " ujarnya takut takut.


"Kalau mau tidur dengan Raya. Mas mandi dulu, bau banget tau. " rengeknya. Yusra pasrah dan menggaruk kepala yang tak gatal. Ia menurut dan mandi dari pada tidur tanpa memeluk Raya.


Akhirnya Yusra sudah selesai mandi dan ia terlihat begitu segar namun begitu naik. Raya malah teriak.


"Stop!!" pekiknya.


"Kenapa sayang? Kok teriak. " tanya Yusra.


"Kamu pake sabun apa sih? Bau nya busuk banget. " keluh Raya makin parah saja ucapannya mengatai Yusra dengan kata busuk.


"Astagfirullah sayang. Mas pake sabun biasa loh yang suka kamu belikan, masa masih di bilang bau udah gitu pake busuk lagi. " Yusra memelas.


"Gak mau tau, pokonya mandi lagi pake apa ke, biar gak bau gini! Hoeek. " ujar Raya lalu ia pergi ke kamar mandi karena mual.


"Sabar Yusra, sabar, astagfirullah. " lirih nya lalu ia mandi dengan secepat kilat menggunakan shampo milik Raya. Siapa tau saja ia suka.


Raya sudah duduk dan anteng dengan handphone nya. Ia menoleh kepada Yusra dengan wajah yang sudah pasrah jika nanti Raya akan mengomentari nya dan mengatai bau.


"Kenapa berdiri di situ. Mas? " tanya Raya.


"Takut kamu komentar lalu mengatai Mas bau lagi! " ketusnya lalu melengkungkan bibirnya ke bawah.


"Hehehe, sekarang gak kok. Mas, kamu wangi, tapi kok? Wanginya aku kenal ya? " Raya bertanya-tanya.


"Ya jelas kenal lah. Orang ini aku pake shampoo kamu. " ujarnya lalu naik ke atas kasur.


"Pantesan." ujarnya lalu menaruh handphone dan baring dekat Yusra. Yusra mengehela nafas karena lega akhirnya Raya mengakhiri dramanya.


"Sayang, kamu sudah maafkan aku kan? " tanya Yusra. Ia ingin membahas tentang di hotel itu.


"Gak tau ya, maafin apa gak. " jawab Raya menakuti.


"Jangan gitu dong sayang. Mas sudah cerita semua sama kamu tapi kamu nya malah tidur. " kata Yusra lalu memeluk tubuh Raya erat seolah takut ke hilangan.


"Baiklah. Raya maafin kamu, tapi jelasin kenapa Nilam ngaku ngaku sebagai calon istri kamu? Kan dia sudah tahu jika aku ini istrinya Mas Yusra. " juteknya.


"Salah kamu sendiri, kenapa malah memperkenalkan sebagai pembantu, jadilah ia iseng dan mengaku sebagai calon istriku. " jawab Yusra .


"Oh, jadi kamu nyalahin aku. Mas! " mendengar Raya ngegas seperti itu Yusra langsung minta maaf.


"Tidak sayang tidak, kamu tidak salah kamu selalu benar, dan yang salah adalah aku. " jawabnya karena takut Raya mengusir nya.


"Kenapa kamu yang salah? Kan, harusnya Nilam, kamu bela dia ya? " terdengar Raya yang masih ketus jika membahas nama Nilam.


"Sayang, udah malam, waktunya istirahat ya, kalau mau marah lanjutin besok pagi lagi. Ok, soalnya aku ngantuk banget gak ada tenaga buat nenangin kamu ini, tapi jika tenaga yang satunya itu aku selalu on fire loh. " godanya.


"Apa sih. Mas! Gak nyambung banget, kenapa selalu menjurus ke sana coba ngomong nya. " gerutu Raya kesal namun ia teriima saja perlakuan Yusra yang sudah mulai nakal.


Sebenarnya saat Yusra cerita tentang Nilam itu adiknya. Ia masih dalam keadaan sadar dan ia hanya mendengar setengah ceritanya saja lalu ia tertidur tanpa sadar.


"Kamu malu malu tapi mau, terimakasih sayang, sekarang kita tidur yuk. " Yusra mengecup kening Raya dengan penuh cinta lalu menyelimuti tubuh polos istrinya yang sudah kelelahan dan akhirnya mereka tertidur saling pelukan di dalam selimut tanpa pakaian.


Mohon maaf jika ada typo

__ADS_1


__ADS_2