
Malam hari sudah tiba dan yang di tunggu tunggu oleh Raya akhirnya tiba juga. Seharian ini Raya hanya berdiam diri di dalam kamar menghabiskan waktu nya dengan menonton televisi kadang nonton youtube acara masak masak kalau tidak melihat tutorial membuat kue dan lain lainnya.
Raya mendengar suara deru mobil dan dia yakin jika itu adalah Yusra. Terdengar langkah kaki yang menuju kamarnya lalu Raya segera membaringkan tubuhnya dan menutupi dengan selimut ia sedang pura pura tidur.
Cek lek.
Yusra membuka pintu kamar Raya dan masuk tercium aroma yang sangat tidak asing di indera penciuman nya.
Ini kan bau makanan yang aku suka. batin Raya.
Namun ia tetap saja pura pura tidur.
"Sudah tidur ya? Padahal aku bawakan soto bandung. " lirih Yusra.
Dia masih ingat salah satu makanan kesukaan Raya ketika di panti asuhan adalah soto bandung yang berbahan dasar dari daging dengan isian lobak. Jika Ibu panti tidak masak soto maka Raya tidak akan mau makan. Jadilah setiap hari menu soto bandung itu harus selalu ada hanya demi Raya dan itu Yusra yang mengirim untuknya.
"Aku belum tidur. Mas. " kata Raya membuka selimut.
"Jadi cuma pura pura ya? " gumam Yusra.
"Mana soto nya. " pinta Raya menengadahkan tangan.
"Ikut aku ke dapur. " ujar Yusra kembali dingin dengan wajah datar.
Raya menurut dan mengekor di belakang Yusra. Sesampainya di ruang makan, Yusra mengambil mangkuk dan menuangkan soto tersebut sementara Raya. Dia duduk dengan patuh memperhatikan Yusra dengan seksama. Kenapa sikap Yusra suka berubah ubah macam bunglon. Sebentar marah sebentar baik.
"Kenapa melihat ku begitu? " tanya Yusra dan mendekatkan mangkuk yang berisi soto ke hadapan Raya.
"Tidak apa apa , terimakasih ya. Mas, ini tuh makanan kesukaan aku banget saat kecil dulu, waktu di panti aku selalu menolak makan jika tidak ada soto ini, aku jadi kangen sama Ibu panti . " ujar nya.
"Tidak kangen denganku. " gumam Yusra.
"Apa Mas? Kamu bicara apa tadi? " tanya Raya karena dia tidak dengar dengan jelas.
__ADS_1
"Ehem, tidak, aku tidak bicara apa apa. Makan yang banyak aku mau mandi. " kata Yusra dan beranjak pergi.
"Mas." panggil Raya dan Yusra berhenti lalu menoleh.
"Terimakasih ya, soto nya. Raya suka. " kata Raya tulus dengan senyum manis yang mengembang.
"Hmm." jawab Yusra lalu naik ke atas.
"Si Kardun lagi kesurupan apa gimana ya? Kadang baik kadang galak kadang nakutin, dia punya sifat dominan apa gimana si? Aneh banget, tapi masa bodo yang penting soto nya enak. " gumam Raya dan kembali makan dengan lahap.
"Mba, sudah makan lagi aja? " tanya Bi Isah yang kebetulan ingin mengambil air minum.
"Eh Bi Isah, hehe iya nih, kebetulan si Kardun tadi beliin makan ke sukaan aku, jadi aku makan lagi deh. " ujar Raya tanpa sadar mengatai Yusra di hadapan Bibi.
"Ap-apa. Mba? Siapa yang bernama Kardun itu?" tanya Bi Isah gugup. Karena tanpa Raya sadari di belakang nya Yusra sudah berdiri sembari bersidekap dan menyuruh bibi untuk diam lewat kode.
"Siapa lagi kalau bukan majikan bibi, dia mirip si Kardun yang suka nyebelin di film tukang bubur naik haji, tiap hari kerjaannya bikin orang kesel aja. Makanya Raya kasih nama dia Kardun! Apa lagi kalo lagi sama si Nilampir, Raya ubah namanya jadi Gerandong karena kan di serial kolosal itu mereka emang sepasang, hahahah. " Raya terbahak ketika mengatai Yusra dan Bi Isah sudah pias saja wajahnya karena melihat wajah Yusra yang sudah merah padam apa lagi terlihat kedua tanduk yang sudah muncul di atas kepalanya membuat Bi Isah bergidik dan pamit begitu saja.
"M-mba, bibi pamit dulu ya, se-selamat menikmati. " ujar Bi Isah ngacir.
"Ehem!!! " Yusra berdeham sangat keras di belakang Raya.
"Uhuk uhuk uhuk, astagah. " lirih Raya dia menepuk dadanya dan segera minum.
Tiba tiba saja bulu kuduk nya meremang ketika merasakan hawa dingin di belakang nya. lalu saat itu juga dia menggaduh saat telinganya di jewer oleh Yusra.
"Aaaaa sakit sakit. " keluh nya.
"Siapa yang kamu sebut Kardun dan Gerandong. Hah!. " semprot Yusra.
"Aw, sakit Mas, lepasin dulu. " pintar Raya kesakitan.
"Tidak akan! " ketus Yusra.
__ADS_1
"Mas, Raya lagi makan loh ini, lepasin ya. " buruknya.
"Kamu harus di hukum. " kata Yusra.
"Hukum lagi?! " teriak Raya protes dan langsung saja di tarik oleh Yusra. Dia menatap sedih pada sotonya yang baru di makan sedikit.
....
Bandung.
Di rumah mewah milik Hendri .
Hendri adalah adik kedua Yusman karena Yuli merupakan adik bungsu mereka. Saat Yusman meninggal ia hanya datang untuk melayat saja dan langsung pulang bahkan tidak ikut mengantarkan Yusman ke tempat peristirahatan terakhirnya. Di ketahui jika Hendri sangat membenci Yusman karena harta yang di berikan untuk Yusman lebih besar dari pada yang dia dapatkan dari sang papa yang bernama Yusril.
Dahulu saat perusahaan sedang di ambang kebangkrutan. Yusman lah yang berjuang keras untuk bisa membangkitkan perusahaan Yusril karena itu adalah perusahaan milik turun temurun dan ketika itu Yusril sudah tidak bisa berbuat apa apa karena penyakit jantung yang menyerang nya. Yusman berjuang dan berusaha meyakinkan para klien untuk tidak mencabut saham mereka tidak hanya itu ia juga rela di caci maki dan selalu di elu elu kan oleh orang orang sampai akhirnya Yusman menemukan seseorang yang mau menolongnya dan menyuntikkan dana untuk perusahaan sampai perusahaan itu kembali berdiri kokoh dan sukses sampai memiliki anak perusahaan di kota kota lain.
Sementara Hendri. Bukannya ikut berjuang dan mempertahankan perusahaan seperti Yusman namun dia kebalikannya, dia merasa tidak perduli saat keluarga sedang kesusahan apa lagi sang papa yang sedang sakit. Justru dia malah menambahkan beban untuk keluarga karena selalu berjudi sampai memiliki hutang dan itu sangat membuat Yusril marah ketika seorang rentenir datang menagih hutang yang jumlahnya sangat banyak.
Yusman sebagai kaka tentu saja tidak habis pikir dengan jalan adiknya. Di saat situasi seperti ini justru Hendri malah menambah beban, jika sudah seperti ini Yusman lagi yang harus turun tangan dan bertanggung jawab atas ulah Hendri. Baru saja masalah perusahaan teratasi tapi malah muncul lagi masalah lain.
"Hendri, kenapa kamu selalu melakukan sesuka hati kamu? Tidak kah kamu berpikir jika keluarga kita sedang dalam masalah dan perusahaan sedang di ujung kebangkrutan, tapi kamu selalu saja membuat onar dan berulah! Apa kamu tidak kasihan melihat papa, papa sakit Hen, seharusnya kamu berpikir dengan kondisi keluarga kita! Bukan menambah beban. " tegur Yusman yang kala itu sudah tidak dapat menahan emosinya karena ulah Hendri.
Bagaiamana tidak. Hendri selalu berbuat ulah dan ujung-ujungnya Yusman yang harus menangani masalah adiknya itu. Sekali dua kali Yusman tidak mempersalahkan namun kali ini Yusman tidak bisa lagi menahan karena yang Hendri lakukan sudah sangat keterlaluan, bayangkan saja di tengah kondisi keluarga sedang dapat musibah dia justru malah menambah musibah dan itu sangat membuat Yusman emosi.
"Halah, aku tidak butuh ceramah mu, lagi pula kamu kan anak kesayangan papa dan selalu menjadi kebanggaan nya, sedangkan aku anak yang selalu dia remehkan selalu di pandang rendah oleh papa sendiri dan yang selalu dia lihat itu kamu Yusman kamu! Apa aku salah melakukan sesuka hatiku hah! Aku tidak perduli dengan perusahaan yang mungkin sudah bangkrut itu, mungkin itu teguran dari Tuhan untuk papa jika dia selalu mengacuhkan ku menanggap aku orang lain padahal sudah jelas aku ini putranya juga tapi dia selalu saja melihatmu membanggakan mu. Aku sakit hati. Man, karena selalu di anggap anak tidak berguna karena kamu lebih cerdas dariku, jadi apa salah nya jika aku berbuat semauku, hah!. " teriak Hendri.
"Aku tahu, tapi apa harus seperti itu? Hah! Bahkan kamu sama sekali tidak memikirkan dampak dari perbuatanmu, gara gara kamu papa kembali masuk rumah sakit dan uang yang seharusnya untuk perusahaan harus di pakai untuk melunasi hutang mu! Dimana kamu meletakkan otakmu Hendri! Dimana hah! Memang pantas aku jauh lebih unggul dari pada kamu karena aku meletakan otakku dengan benar pada tempatnya, bukan seperti mu yang menaruh otakmu di dengkul!. " kata Yusman sangat marah.
Prang.....
Hendri membanting gelas kaca ke lantai saat mengingat masa dulu yang berdebat dengan Yusman yang berujung sakit hati akibat perkataan kakanya itu.
"Lihat saja, aku akan merebut kembali harta yang seharusnya menjadi milik ku, dasar Yusra sialan kenapa anak dan ayah itu sama saja, selalu membuatku kesal. " umpat Hendri.
__ADS_1
Slow update, terimakasih sudah mampir dan mohon maaf jika ada typo