
Kini Fahri dan Hendri sudah berada di lobi karena sedang menunggu mobil mereka. Dan ada beberapa pemegang saham yang hendak pergi dari perusahaan itu. Mereka membungkuk kepada Hendri dengan senyum menyeringai begitupun Hendri yang melakukan hal sama.
"Ayo, kita pergi dari sini dan siapkan dirimu, karena mulai besok kamu sudah mulai memimpin perusahaan ini. Papa sangat senang akhirnya kamu bisa juga mengalahkan Yusra! Meski hanya di beri kesempatan selama tiga bulan. Papa berharap sebelum tiga bulan kamu sudah harus berhasil meningkatkan perusahaan, supaya kamu benar-benar dapat di percaya dan memimpin perusahaan Y/N Grup! " ujar Hendri ber api api.
"Baik Pah. " hanya itu yang bisa Fahri lakukan selain menurut. Lalu ia diam kembali dan memikirkan banyak hal tentang semua ini.
Sementara di kediaman Yusra.
Setelah selesai acara pemilihan pemimpin. Yusra memilih pulang karena memang hari ini juga tidak ada agenda apapun hanya ada beberapa berkas yang harus ia tanda tangani dan sudah ia kerjakan.
Yusra memarkirkan mobilnya di garasi lalu keluar dari dalam mobil. Baru saja keluar tapi indera penciuman nya sudah mencium bau aroma kue yang begitu mengguhah selera.
"Mas, tumben sudah pulang?. " tanya Bibi yang kini berjalan keluar dengan membawa sepiring brownies.
"Raya ada Bi?" tanya Yusra yang tak menjawab pertanyaan Bibi.
"Ada.Mas, di dapur lagi bikin kue. " jawab Bibi lalu ia bergabung dengan Pak Satpam ikut makan kue buatan Raya.
Di dapur Raya sedang sibuk memotong kue brownies yang sudah jadi. Terlihat uap yang mengepul dan harum yang begitu enak. Tiba tiba saja ia di kejutkan dengan lengan kekar yang melingkar di perut nya.
Grep.
"Siapa kamu! Beraninya memelukku! " pekik Raya karena saking kagetnya lalu menggetok kepala pria itu dengan stenlis cetakan kue.
Klontang!!
"Arggh! Ampun sayang. " teriak Yusra.
__ADS_1
Seketika Raya tersadar lalu menaruh stenlis cetakan kue itu ke atas meja. Ia buru buru mendekati Yusra karena pria itu menggaduh sembari memegangi keningnya.
"Ya Allah. Mas, kamu tidak apa apa kan? " tanya Raya panik lalu ia membuka tangan Yusra yang menutupi kening nya.
"Sakit sayang, kenapa kamu memukulku. " ujar Yusra dengan meringis. Tentu saja meringis karena Raya memukulnya sangat keras sehingga kening Yusra memerah dan sedikit benjol.
"Sakit ya, maaf ya, aku tidak sengaja karena kaget. Sini Raya lihat. " ujar Raya kemudian ia berjinjit dan meniup niup kening Yusra yang memerah.
Yusra senang melihat Raya yang mengkhawatirkan nya. Kemudian Yusra menarik tangan Raya yang mengusap usap keningnya.
"Sudah tidak apa apa, rasa sakitnya sudah mulai menghilang. " ujar Yusra karena ia tidak enak melihat wajah istrinya yang merasa bersalah,lagi pula ini kan salahnya juga karena main peluk peluk saja.
"Maaf ya. Mas, Raya sungguh tidak sengaja. " ujar nya masih merasa bersalah.
"Tidak apa apa, lagian ini salahku juga yang mengejutkan mu, kamu lagi bikin apa? Baunya sampai tercium ke luar. " tanya Yusra.
"Brownies. Mas, ini baru Raya angkat dari oven masih panas! Mas Yusra mau tidak. "
"Syukulah jika Mas suka, tapi, kenapa Mas pulang jam segini? " tanya Raya heran.
"Karena rindu sama kamu, makanya pulang. " gombalnya. Padahal ia pulang karena ingin menenangkan pikiran karena masalah pemilihan yang di berikan oleh para pemegang saham.
"Gombal." jawab Raya lalu mengambil kopi dan menyeduhnya untuk sang suami.
"Serius aku tuh, kamu obat paling ampuh, rasanya kalo udah deket kamu kaya gak mau jauh jauh lagi. " Raya hanya mencebikan bibirnya karena Yusra sekarang lebih suka menggoda atau menggombali nya. Berbeda dengan Yusra yang dulu yang suka marah marah dan dingin .
....
__ADS_1
....
Di apartemen kedua laki laki beda generasi itu baru sampai tengah malam. Karena Hendri memberitahu kepada teman-teman nya atas keberhasilan Fahri yang terpilih menjadi pemimpin meski hanya tiga bulan. Ia dengan bangganya menyombongkan Fahri di hadapan teman temannya itu bahkan semua menu dan tempat ia yang bayar karena merasa senang.
Saat membuka pintu. Mereka berdua terkejut karena melihat Rika yang berdiri dan menatap mereka dengan tajam apa lagi melihat Hendri. Rasanya ingin sekali ia memukulnya. Sejak Ali memberitahu Rika tadi siang ia langsung saja pergi ke Jakarta dan mengunjungi apartemen Fahri. Ia sudah tahu kata sandi apartemen milil Fahri jadi sudah tidak kaget lagi bagi Fahri.
"Mamah?. " kata Fahri lalu menghampiri wanita yang sudah melahirkan nya. Ia mencium tangan mamahnya lalu memeluk nya.
"Untuk apa kamu ke sini? Rika, apa kamu sudah mendengarnya, jika Fahri berhasil menjadi seorang pemimpin di perusahaan Papa Yusril? Makanya jangan munafik, kamu. Aku sudah bilang jangan ikut campur, karena kamu akan mendapatkan hasilnya tapi kamu selalu saja menentang keinginan ku, sekarang kamu sudah sadarkan lalu ke mari untuk mendukung ku? " cibir Hendri.
"Pah, masa ngomongnya begitu, ini Mamah loh. Istrinya Papa, harusnya senang karena Mamah datang kesini. " ujar Fahri yang tidak terima jika papanya mencibir sangat mama.
Ia tahu akhir akhir ini kedua orang tuanya suka bertengkar dan berdebat karena mamahnya menentang keinginan sang Papa. Ya, kalian taukan apa penyebabnya.
"Sudahlah. Papa capek mau istirahat! Kamu urus saja mamahmu itu. " Hendri pergi ke kamarnya lalu membating pintu membuat Rika dan Fahri terkejut.
"Mah, ayo duduk dulu, Mamah pasti capek, nanti Fahri pijit Mamah ya. Mamah tidur di kamar Fahri saja, biar Fahri tidur di ruang tamu . " Fahri kalau sudah di hadapan ibunya sangat lembut sekali bahkan sangat perhatian.
"Kamu tidak apa apa, nak? " tanya Rika yang mengusap pipi putra nya.
Fahri menampilkan senyum manis kepada mamahnya lalu menyentuh tangan sang mamah yang berada di pipinya.
"Fahri tidak apa apa. Mah, tidak khawatir, Mamah sejak kapan sampai di sini?. "
"Dari satu jam yang lalu. Mamah menunggu kalian tapi tidak datang datang, kamu yakin ingin meneruskan semua ini? Seharusnya ini tidak boleh terjadi, karena perusahaan itu bukan hak kamu, meskipun kamu cucu dari Papa Yusril sekalipun! Tolong jangan lanjutkan ya, nak. Mamah tahu kamu pasti tertekan oleh Papa kamu. " ujar Rika yang menginginkan Fahri untuk tidak melanjutkan keinginan sang suami.
Baginya. Harta tidak lebih berharga daripada keluarga. Apa lagi ia melihat bagaimana Hendri selalu menekan Fahri .
__ADS_1
"Mah, jangan khawatir, semua akan baik baik saja. Percaya kepada Fahri. " jawab lalu merangkul Rika dalam pelukanya.
Fahri sudah punya rencana yang tidak di ketahui oleh Hendri. Sudah cukup selama ini ia jadi boneka sang Papa. Kini sudah waktunya Fahri sebagai anak menyadarkan Papanya yang berambisi akan harta.