Terpaksa Menikahi Anak Majikan

Terpaksa Menikahi Anak Majikan
Bab 6


__ADS_3

Sudah seminggu pak Yusman meninggalkan mereka. Dan Raya juga sudah tidak sedih lagi karena bibi adik dari mendiang pak Yusman selalu berusaha menghibur nya dan mengobrol agar pikiran nya teralihkan. Rencananya hari ini Yusra dan Raya akan kembali kerumah mereka. 


"Wah kalian mau pulang ya, ? " tanya Ali. 


"Iya, mas Ali. Kami mau pulang saja, nanti Raya akan sering ke sini kok" jawabnya. 


Ali hanya mengangguk. Dia sudah tidak heran lagi dengan sikap Yusra yang selalu acuh tak acuh kepada orang lain. 


"Mas, diem aja si? Itu muka udah kaya mayat hidup suram banget kaya gak ada kehidupan! " cibir Ali meledek. 


Yang di ledek hanya menampilkan wajah datar. Dan itu membuat Ali makin tertantang untuk terus meledek Yusra. 


"Mbak, kok mau mauan sih di jodohin sama mas Yusra.  Lihat aja tuh udah mukanya datar sikapnya  dingin pula, pasti mbak juga suka di marahin kan sama dia? " tebak nya dan Raya membenarkan dalam hati ingin sekali menimpali. 


Bahkan itu udah jadi makanan sehari-hari ku Li , Katanya dalam hati. 


"Mbak mending nikah sama aku aja yuk, yakin nanti aku abakalan sayang sayang aku elus elus kaya si Silvi " 


Yusra mendelikkan matanya ketika Ali malah menawari Raya untuk jadi istri nya apa lagi di elus elus seperti Silvi siapa dia? Pikirnya. 


"Siapa itu Silvi? Pacar kamu ya mas" tanya Raya penasaran. 


"Kamu gak tau Ra? " tanya Bibi yang nimbrung begitu saja. "Silvi itu motor kesayangan dia tiap hari kerjaanya ngelus ngelus motor mulu udah kaya orang gila dia mah, masa motor di cium cium" ketus bibi Yuli. 


"Hahahaha" untuk yang pertama kalinya Raya tertawa karena merasa lucu begitu bibi menjelaskan Silvi adalah motor kesayangan Ali. 


"Ih mama gak asik, kenapa bilang bilang sih! Tapi gak apa apa sih bagiku dia adalah pacar setiaku " bangganya. Raya terkekeh lagi. 


"Waras Ali! Harusnya kamu itu udah ngenalin pacar beneran kamu sama mamah. ini malah banggain motor sudah gitu pake di elus elus lagi, gila sejak kapan kamu? " Bibi Yuli makin kesal dan lagi lagi Raya tertawa apa lagi melihat raut wajah Bi Yuli. 


"Mamah nanya?! " kata Ali dengan menirukan gaya Dilan kw yang sedang viral itu. 

__ADS_1


"Aduh aduh... Bibi perutku keram loh ini ketawain mas Ali. Hahaha" kata Raya. Yusra hanya diam dan menggelengkan kepalanya saja karena menurut nya tidak ada yang lucu dengan pembicaraan yang unfaedah baginya.


"Ehem!! " semua atensi mereka teralihkan kepada Yusra. "Sebaiknya kamu cepat bersiap kita harus segera pulang" ujarnya dengan suara yang dingin. 


"Eum, iya mas. Bi, aku siap siap dulu ya" 


"Mau kemana sih buru buru banget, menginap lah lagi di sini. Lagi pula inikan rumah papa kamu Yus, kenapa tidak kalian tinggali saja, " kata Bibi. 


"Biasalah. Mah, namanya juga pengantin baru, pasti maunya yang sepi sepi aja! Iyakan mas" kata Ali yang masih gencar meledek Yusra bahkan dia sampai memainkan kedua alisnya naik turun rasanya Yusra ingin sekali menghajar wajah menyebalkan itu. 


"Heleh kamu ini nyambung aja kaya kabel, yang di tanya siapa yang jawab siapa! Sana kamu mending urusin si Silvi siapa tau dia pulang bawain kamu jodoh" usir sang mama. Ali hanya mencebikkan bibirnya kebawah. 


"Tidak apa Bi, kami pulang saja. Lebih baik rumah ini Bibi yang tinggali saja dari pada harus pulang ke Bandung" usul Yusra. 


"Mana bisa begitu, Yus. Habis nanti bibi sama keponakan kamu yang lainnya! Belum lagi Om kamu mana mau dia tinggal di jakarta" 


"Kalau mamah tidak mau, biar aku saja yang tempati rumah ini. Kan lumayan aku tidak usah repot repot menyewa hotel sayang duit! Benerkan mas"  kata Ali yang meminta persetujuan Yusra tapi Yusra hanya mengedikkan kedua bahunya membuat Ali ingin sekali baku hantam muka mas nya ini. 


Akhirnya Yusra dan Raya sampai rumah dan di sambut oleh Bi Isah.


"Mas, mbak. Saya mau izin" kata bi Isah. 


"Mau kemana bi? " tanya Yusra. 


"Saya mau menengok teman saya, katanya dia sedang sakit . Saya cuma sebentar kok gak lama toh rumahnya cuma ngelewatin dua gang aja dari rumah ini, dan lagi saya udah siapin makan malam" jelasnya. 


"Ya udah bik, hati hati" kata Yusra dan setelah meminta izin bi Isah langsung pergi. Begitupun dengan Yusra, namun Raya angkat bicara membuat langkah Yusra terhenti. 


"Mas.. " Yusra berhenti dari langkahnya dan masih membelakangi Raya. 


"Katakan"  suara dingin Yusra membuat Raya takut dan menunduk.   Sontak saja membuat Yusra berbalik menatap Raya karena Raya hanya diam saja. 

__ADS_1


"Katakan Raya, kamu mau ngomong apa" tegasnya sekali lagi. 


"Eum.. " Raya gugup dan tanganya meremas ujung baju. 


"Kamu punya mulut kan? " Raya mengangguk. " Ya udah ngomong apa susahnya sih! Jangan cuma eum euman aja, kamu kira aku tidak punya kerjaan apa?" Yusra jadi kesal. 


 "Maaf" hanya itu yang keluar dari mulut Raya, rasanya dia tidak mampu untuk berkata kata jika melihat Yusra yang sedang emosi. 


"Gak jelas kamu! " ujarnya kemudian melangkah lagi menaiki anak tangga. Setelah kepergian Yusra yang tak terlihat lagi dari pandangannya Raya menghembuskan nafas kasar. 


"Huuuhhhh.... Rasanya ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya" gumam Raya. 


Di kamar saat Raya sedang tidur. Dia merasakan sesuatu yang aneh di tubuh. Kenapa seperti ada seseorang yang menindih nya dan lagi seperti ada tangan yang sedang memainkan sesuatu di bawah perutnya. Dengan terpaksa Raya membuka matanya namun dia kaget dan menjerit ketika seorang laki laki tengah menggerayangi tubuhnya. 


"Aaaaaaaaaaaa!!! " 


"Diam Raya! " bentak Yusra. Raya tersentak kaget begitu tau jika itu adalah Yusra. 


"M-mas...  Ka-kamu mau apa? "Raya sangat ketakutan. 


" Aku suami kamu, apa aku harus minta izin kepada kamu terhadap hak ku, hmm? " ujarnya dengan pandangan mata yang berkabut tangan Yusra mencengkram dagu Raya kencang. 


"Ta-tapi, mas. Ak-eum" ucapan Raya terpotong karena bibirnya di raup begitu saja oleh bibir Yusra dengan kasar. 


Raya meronta dan melakukan sedikit perlawanan namun bagaimanapun juga tenaga Yusra lebih besar dan kuat dan tentulah yang menang adalah Yusra. 


Pagi itu ketika Raya terbangun dia merasakan seluruh tubuhnya sakit apa lagi di bagian paling inti rasanya nyeri sekali. Dia bangun dan mengingat kejadian semalam mana kala Yusra telah menyetubuhi nya dengan kasar tidak ada kelembutan sedikitpun. 


Lalu Raya bangun dan melihat ada noda darah di atas seprei yang sudah kering. Sakit dan marah jadi satu. Meskipun Yusra suaminya tapi dia tetap merasa kecewa, dia merasa sekarang jika dirinya sangat hina karena Yusra menyentuh tubuhnya tanpa persetujuan dirinya, bahkan dia merasa telah di perkosa oleh suami sendiri mengingat betapa menyakitkan perlakuan Yusra malam tadi. 


"Kenapa kamu jahat sekali sih. Mas, setidaknya kamu tanya aku dulu dan meminta izin meskipun aku istri mu! Aku merasa telah di perkosa oleh suami sendiri, kamu jahat mas. Kamu udah luaki perasaanku bukan hanya itu tapi batinku juga kamu sakiti. Hiks... Hiks." 

__ADS_1


__ADS_2