Terpaksa Menikahi Anak Majikan

Terpaksa Menikahi Anak Majikan
Bab 17


__ADS_3

Hari ini Yusra dan Ali memutuskan untuk mengusut tuntas perbuatan kecurangan di dalam kantor mereka memanggil beberapa staff dari bagian divisi keuangan serta bagian lain nya yang ikut korupsi.


Kini di ruangan meeting semua orang yang di panggil sudah berkumpul dan salah satunya Pak Hamid yang merupakan orang urusan Hendri .


Berkas sudah terkumpul berikut dengan bukti bukti terkait kecurangan yang di lakukan oleh beberapa orang yang di panggil oleh Yusra. Tibalah Yusra dan Ali dengan wajah yang datar serta dingin membuat atensi ruangan ini menjadi lebih dingin. Apa lagi saat melihat wajah Yusra dan Ali yang tidak bersahabat .


"Selamat siang semuanya. " sapa Yusra.


"Selamat siang. Pak Yusra . " jawab mereka serempak.


"Ekhem! Baik, kali ini saya akan langsung saja, saya tidak ingin basa basi. Kalian tau kan beberapa bulan ini keuangan perusahaan sedikit menurun sedangkan jumlah dari pemasukan dan pengeluaran normal seperti biasa, dan harusnya nominal yang masuk kedalam catatan keuangan harusnya seimbang tapi saya lihat belakangan ini selalu jomplang, ini saya membawa catatan bulan lalu dan catatan lainnya. Disini angkanya tidak sesuai dengan pendapatan setiap bulan." Yusra menjeda ucapannya karena dia sudah tidak bisa pura pura lagi menahan emosi.


"Brak! " semua orang terperanjat ketika Yusra menggebrak meja dan melempar map. Mereka menunduk tidak ada yang berani melihat Yusra.


"Saya tidak akan mentolerir siapa yang berbuat curang dan menghianati saya! Siapa yang berani melawan saya dan berkhianat saat itu juga tidak ada ampun bagi siapapun termasuk kalian!. " nafas Yusra memburu dan turun naik.


"Ma-maafkan kami pak. " ucap salah satu staf karena ketakutan melihat amarah Yusra.


"Siapa yang menyuruh mu untuk bicara! " bentak Yusra.


Orang itu sudah gemetar lalu menunduk lebih dalam.


"Kalian tidak akan bisa mengelak, karena semua bukti sudah ada di tangan saya, apa salah saya kepada kalian? Kenapa sampai tega kalian berbuat curang dan korupsi di perusaan dan pabrik, kalian pikir selama ini saya bodoh dan tidak tau apa apa , hah! Justru kalian yang bodoh , kalian pikir saya mudah di tipu? Tentu saja tidak, mungkin kalian merasa puas saat melakukan kecurangan dan korupsi, kalian senang karena mendapatkan untung yang tidak seberapa besar bagi saya. Tapi kalian akan menyesal karena telah melakukan itu kepada saya, mulai sekarang kalian semua yang ada di sini akan saya pecat dan tidak dapat pesangon sedikitpun! Tidak hanya itu, kalian juga akan kena pinalti dan membayar semua kerugian perusahaan dan pabrik. " ujar Yusra tanpa tega.

__ADS_1


Kemudian polisi berdatangan membawa para tersangka. Mereka beretriak meminta ampun serta memohon untuk tidak di penjara.


Yusra sengaja tidak menyuruh polisi membawa Pak Hamid karena masih ada urusan yang belum ia selesaikan dengan penghianat satu ini. Yusra bangkit dari duduk sampai membuat kursi yang dia duduki terjungkal. Ali hanya menelan ludahnya kemudahan mengucap istighfar dalam hati.


Bugh.


Yusra menghajar Pak Hamid sampai terjatuh kemudian mencengkram kerah kemejanya.


"A-ampun. Pak Yusra, ampun. " mohon Pak Hamid.


"Cih, tidak ada ampun bagi penghianat sepertmu! Kamu pikir aku tidak tahu, jika kamu bekerja sama dengan si Hendri itu, hah! Lalu kamu menghasut mereka untuk mempermudah rencanamu, dasar bodoh! Apa tidak cukup gaji yang aku beri kepadamu sehingga kamu bisa tergoda begitu saja oleh si Hendri hanya karena di imingi rumah dan mobil, bedebah sialan! Orang seperti mu harusnya aku pecat dari dulu. " geram Yusra dan memukul wajahnya Pak Hamid.


Bugh


Bugh


Bugh


Seketika Yusra tersadar lalu melepaskan cengkraman nya dari kerah Pak Hamid yang sudah tak berdaya bakhan Yusra tak memberinya kesempatan untuk bicara karena amarah sedang menguasai nya.


"Tolong kamu hubungi pengacara keluarga dan urus kasus ini sampai mereka jera lalu mendapatkan hukuman yang setimpal. " ujar Yusra kepada Ali lalu pergi menuju ruangannya.


..

__ADS_1


..


Apartemen.


"Pah, lihat itu. " ujar Fahri yang sedang menonton berita dan kebetulan berita itu sedang meliput gedung Y/N Grup di mana beberapa staf karyawan sedang di bawa oleh polisi karena ketahuan korupsi dan penggelapan dana.


Hendri ikut duduk di sebelah Fahri lalu tak lama kamera menyorot seseorang yang Hendri kenal karena itu adalah Pak Hamid yang di bawa oleh tandu karena dia tidak berdaya akibat pukulan yang di layangkan oleh Yusra.


Hendri mengepalkan tanganya erat.


"Ternyata, Yusra memang sama seperti dengan Yusman yang cepat tanggap sekali ketika ada penghianat, maka tidak bisa di ragukan lagi jika Papa memberikan semua kekayaan dan harta sekaligus kepada Yusman dan Yusra. Cih, tapi aku tidak akan tinggal diam, karena bagaimana pun harta itu harus aku yang kuasai serta perusahaan. Dan Fahri lah yang berhak menggantikan CEO di perusahaan Y/N Grup. " ujar Hendri ber api api. Karena bagi Hendri, Fahri juga tidak kalah cerdas dan pintar dari Yusra.


"Pa, kenapa Papa sangat berambisi sekali sih? Lagian sebelum kake meninggal, bukankah Papa sudah mendapatkan separuh bagian dari warisan kake. " ujar Fahri.


Sebenarnya dia sangat lelah karena harus menjadi boneka bagi Papa nya. Papa ingin dia bisa mengalahkan Yusra dalam segala hal apapun. Dalam hatinya Fahri sangat ingin bisa hidup bebas yang jauh dari tekanan sang papa. Namun apalah daya. Karena ambisi sang papa maka mau tak mau Fahri mengikuti saja perintah sang papa.


"Kamu ini sama saja seperti Mamamu! Pokoknya Papa tidak mau tau kamu harus bisa merebut posisi Yusra bagaimanapun caranya, karena kamu juga sama cucu dari Yusril Nugraha! Ingat itu, jadi kamu juga berhak atas perusahaan itu juga hartanya. " kata Hendri.


"Huuh." Fahri hanya menghembuskan nafas kasar ke udara. Lalu ia beranjak untuk mengambil minum dan meninggalkan sang papa yang masih pokus pada berita yang masih menyoroti gedung Y/N grup.


"Maafkan aku, Mas, karena jujur saja dalam hati, aku tidak ingin melakukannya padamu. Tapi aku tidak bisa menolak keinginan Papa, karena ini bakti ku seoarang anak yang ingin menuruti ke inginan Papa, aku harap kamu tidak membenciku karena bersaing , sebagai anak, mungkin aku ini paling bodoh karena mendukung Papa karena ambisi nya terhadap harta sialan ini.


Aku harap, semua ini akan segera berakhir dan Papa segara sadar dengan ambisinya, jujur saja aku lelah menjadi bonek Papa, aku ingin menikmati hidupku, tidak seperti ini hidup dalam tekanan Papa. " gumam Fahri menatap ke luar gedung sembari menikmati minuman dingin nya.

__ADS_1


Mohon maaf jika ada typo.


__ADS_2