
Ketika Raya keluar dengan membawa tas ransel nya saat itu juga Yusra keluar dari kamar Nilam. Dia menautkan kedua alisnya melihat Raya yang sepertinya hendak pergi.
"Kamu mau kemana?. " hadang Yusra.
"Mau pergi!. " sewot Raya dengan wajah yang di tekuk.
"Aku tidak mengizinkan kamu keluar, balik kamar sana." suara Yusra begitu dingin ketika Raya menyewotinya.
"Raya kan udah bilang, jika di rumah ini ada perempuan lain, maka aku akan pergi! Jadi minggir kamu Mas, jangan hadang aku." ketus Raya.
Yusra menatap Raya dengan mata tajamnya namun Raya tidak perduli karena rasa sakit hati mengalahkan rasa takut nya kepada Yusra. Raya berjalan melewati Yusra begitu saja. Namun Yusra segera mencekal pergelangan tangan Raya. Membuat Raya berbalik dan menatap Yusra dengan kesal.
"Kamu bilang jika aku membawa perempuan kan, tapi aku tidak membawanya, justru dia yang datang sendiri kerumah ini. " ujar Yusra. Membela diri.
"Sama saja! Mau kamu yang bawa dia atau dia yang datang sendiri kesini, Raya akan tetap pergi, sekarang lepasin tangan Raya." Raya menepis tangan Yusra yang memegang nya.
"Raya, kamu bilang kamu ingin bicara denganku, kan?. " Yusra terdengar membujuk di telinga Raya.
"Tidak jadi! Mood ku sudah rusak dan aku mau pergi dari rumah ini. " ketus nya.
Namun hal lucu malah terjadi membuat Raya malu sendiri. Saat sudah di ambang pintu rupanya ransel Raya nyangkut di gagang pintu entah kenapa kok bisa. Sehingga Raya menyangka jika Yusra yang menarik ransel nya dan berpikir Yusra sedang mencegah kepergian Raya.
"Mas, tolong lepasin jangan tarik tas Raya. " pintanya namun enggan berbalik.
Bi Isah yang melihat Raya seperti itu membuat ia tak bisa untuk terawa. Mau tertawa kenang takut dosa dan tidak enak kepada Raya akhirnya hanya bisa terkekeh dengan menggigit bibir bawahnya agar suara tawanya tidak pecah.
"Mas! Tolong lepas, jangan tahan Raya. " ujarnya masih enggan berbalik.
"Tapi, Raya. Aku tidak menahanmu bahkan tidak menarik tasmu. " ujar Yusra yang sekuat tenaga menahan tawanya.
"Eh?. " Raya berbalik dan melihat kebelakang ternyata benar. Jika Yusra tidak menarik ransel nya melainkan nyangkut di gagang pintu.
Raya malu sekali. Rasanya ingin masuk ke lubang semut apa lagi ketika melihat wajah Bi Isah yang sudah memerah menahan tawa lalu melihat Yusra yang membuang pandangan dengan menggigit bibir bawahnya agar tidak tertawa.
Akhirnya Raya memposisikan kembali wajahnya yang tadinya malu menjadi garang pura-pura tidak terjadi apa apa.
__ADS_1
"Ehem! Baiklah aku akan pergi. " ketus nya.
Seketika Yusra gelagapan dan mengejar Raya yang sudah berada di luar rumah.
"Raya tunggu, jangan pergi hey!. " teriak Yusra namun Raya tak menggubris sampai akhirnya dia berhenti saat Yusra memanggil namanya.
"Nirmala, aku bilang berhenti!. " ujar Yusra yang sudah tidak bisa lagi menahannya.
Raya berhenti. Tubuhnya mematung seperti merasa di paku tidak bisa bergerak saat Yusra memanggil namanya. Nama aslinya yang di berikan oleh kedua orang tuanya. Karena nama Soraya itu pemberian dari ibu adopsi nya.
Yusra menghampiri Raya dan memeluknya dari belakang. Rasanya Raya ingin sekali pingsan karena jantung nya berdebar kecang. Bahkan kakinya yang tadi kaku kini merasa lemas bagaikan jelly tak bertulang. Ia meluruhkan tubuh nya karena tak mampu menopang pijakan nya saking terasa lemas.
"Jangan pergi. " lirih Yusra di telinga Raya.
.....
Kini Yusra dan Raya sudah ada di kamar. Karena Raya tidak jadi pergi ketika Yusra menyebutkan nama masa kecilnya. Saat ini Yusra tengah mendekap tubuh mungil Raya begitupun Raya yang tak menolak saat Yusra memeluknya dari belakang dengan tangan yang melingkar di perut Raya.
"Sejak kapan. Mas tahu tentang diriku? " tanya Raya yang kini berada di atas tubuh Yusra yang mendekapnya.
"Terus, sekarang kan. Mas Yusra sudah tahu jika aku Nirmala, apakah surat perjanjian itu masih berlaku? Apakah. Mas Yusra akan tetap melanjutkan pernikahan ini atau malah sebaliknya?. " tanya Raya.
"Sebenarnya, surat itu sudah aku sobek saat tahu jika kamu adalah Nirmala, dan Jujur saja aku sangat sedih saat kamu berulang kali ingin pisah dariku. Aku mana mau jika harus kehilangan kamu lagi, selama ini aku selalu cari kamu bahkan mengunjungi panti dan beliau mengatakan jika kamu di adopsi oleh seorang janda kaya, namun saat aku mendatangi alamat rumahnya ternyata rumah itu sudah di jual dan janda itu sudah meninggal. Jujur saja aku sangat prustasi ketika aku gagal untuk menemukan kamu. " jujurnya.
Ya. Memang selama ini Yusra selalu mencari keberadaan Nirmala . Yusra sampai rela membagi waktunya untuk mencari keberadaan Nirmala kala itu. Namun siapa yang menyangka jika selama ini ia selalu bertemu dengan Nirmala yang notabene adalah perawat sang Papa.
"Apakah segampang itu? Kenapa di robek begitu saja, biasanya kalo di novel novel mereka suka pake pengacara dan bertukar dengan perjanjian, ya, semacam itu lah. " ujar Raya yang membuat Yusra terkekeh.
"Kamu ini, senang membaca novel ya? Ya jelas saja gampang, wong itu kan perjanjian di atas kertas tanpa materai pula , jadi mudah saja aku sobek. " kata Yursa. Dengan gemasnya ia sampai mencubut pipi Raya dari belakang .
"Lalu, kenapa kamu tak mengenalku? Padahal, harusnya kamu tahu jika aku ini Abi. " tanya Yursa yang menelusup kan kepalanya ke leher jenjang Raya. Membuat bulu bulu halus Raya berdiri.
"Ya mana bisa aku kenal. Mas, orang nama kamu saja beda, orang yang kenal itu adalah Abi sedangkan kamu adalah Yusra dengan memiliki sikap arrogant dan nyebelin. " ketus Raya karena mengingatkan perlakuan Yusra pada saat pertama kali menjalin rumah tangga.
"Aku minta maaf ya, sungguh, saat itu aku sangat marah kepada Papa, sedangkan orang yang ingin aku nikahi itu adalah Nirmala bukan Soraya. " jujurnya lirih.
__ADS_1
Raya lantas membalikan tubuhnya menghada Yusra dengan posisi ia duduk di atas tubuh kekar Yusra. Bahkan Raya sudah mencondongkan wajahnya ke wajah Yursa. Tidak tahu saja Raya jika di bagian tubuh Yusra sedang ada yang on. Akibat ulah Raya yang begitu menggoda bagi Yursa.
"Jika wanita yang ingin kamu nikahi itu adalah Nirmala, lalu siapa itu Nilampir? Kenapa dia mengaku sebagai calon istrimu? Selain itu juga Mas Yusra suka banget nyakitin hati istri apa lagi tukang menghukum, aku jadi malas untuk memaafkanmu. " ujar Raya dengan bibir mengerucut.
Yusra tidak menjawab pertanyaan Raya. Justru ia menekan tenguk Raya dan memagut bibir Raya begitu saja tanpa aba aba. Membuat Raya melebarkan matanya lalu beberapa detik berikutnya. Raya memejamkan matanya karena mengikuti permainan yang di berikan oleh Yusra.
Bibir kamu sangat manis. Mas, membuat aku tercandu candu , batin Raya.
Seketika ia sadar dan memukul dada Yursa. Membuat Yusra harus melepaskan bibir yang nikmat itu . Ia menatap Raya bingung karena Raya memasang wajah masam.
"Kenapa cemberut, hum?. " tanya Yursa lembut.
"Aku, kan , sedang marah, kenapa kamu malah cium aku. Mas!. " protes Raya.
Yusra terkekeh. " Kukira marahnya sudah selesai, taunya masih di perpanjang ya?. " ledek Yusra yang mendapatkan cubitan sayang di perut Yusra membuat Yusra meringis.
"Aaa aw aw, sayang, ampun, ini sangat sakit. " keluh Yursa dan itu membuat Raya sangat puas kemudian mereka tertawa entah apa yang lucu.
Sementara di luar kamar. Nilam dan Bi Isah sedang menguping.
"Dasar pasangan random!. " gerutu Nilam dengan wajah yang masam sementara Bi Isah terkekeh.
"Seng sabar yo. Mba, harap terima nasib. " ledek Bi Isah yang membuat Nilam tambah cemberut.
....
Ini sebagai Mas Yusra Abigail.
Ini Sebagai Soraya/Nirmala.
Maaf ya ini hanya visual khayalan aku aja, mohon maaf jika kalian merasa kurang cocok.
__ADS_1
Maaf ya jika ada typo, selamat membaca dan jangan lupa beri dukungan.