
Akhirnya rapat telah usai dan Yusra kini bersama Ali mereka berpisah. Jika Ali berpisah karena ada pekerjaan lain halnya dengan Yusra yang ingin segera pulang. Tanpa menaruh sedikit curiga Yusra menaiki langsung mobilnya dan mengendarai dengan kecepatan di atas rata rata.
Ketika Yusra sudah meninggalkan gedung Y/N Grup seseorang di balik tembok keluar dari tempat persembunyiannya lalu ia menyeringai karena usahanya tidak sia sia.
"Target sudah terperangkap. Bos, kita tinggal tunggu hasilnya saja. " ujarnya kepada seseorang di sebrang sana.
Setelah mematikan sambungan. Lantas orang itu segera pergi dari tempat sembunyinya.
Sementara di rumah Yusra saat ini tengah di hebobkan dengan kedatangan Nilam yang tak lain adalah adik dari suaminya. Raya berkacak pinggang dengan menatap wajah Nilam garang. Justru yang di tatap malah cengengesan saja.
"Hallo Mba Iparku, apa kabar? Sehat kan. " sapa Nilam lalu dengan songongnya ia merangkul bahu Raya.
"Tidak adik tidak kaka , kalian sama sama menyebalkan! Harusnya jika seseorang berbuat salah harus inisiatif untuk meminta maaf tapi sepertinya kata maaf tidak berlaku di kamus kalian yah! " sindir Raya.
"Hehehe, iya deh iya, maafkan adikmu yang lucu nan imoet ini ya. Mba Ipar, habisnya, salah sendiri! Kenapa pake ngakunya pembantu, ya aku kerjain aja sekalian. " celetuk nya.
"Jahil banget sih, tapi aku salut sama kamu, aktingnya sangat keren kaya artis beneran, yang pemeran antagonis nya. Cocok banget kamu tuh kalo main film, apa lagi jadi ibu tiri hahaha cocok banget. " ledek Raya dan membuat Nilam mencebikkan bibirnya.
"Ngomong ngomong kemarin pas di hotel, aku pengen denger dong gimana lanjutan cerita kalian. Pasti deh, Mas Yusra berusaha keras ngebujuk Mba. " tanya Nilam.
" Ya, begitulah, lagian kamu ini niat banget sih bikin Mba marah dan salah paham." ketusnya.
"Eh, enggak loh, aku gak niat yang di hotel mah. Saat itu aku lagi galau karena si mantan. " curhatnya.
"Gak niat? Berarti yang kemarin-kemarin kamu niat banget dong ya! " geram Raya lalu menjewer telinga Nilam.
"Aa - aduh, ampun Mba ampun. Aku khilaf. " ringisnya.
"Mana ada kaya begitu khilaf! Sengaja iya. " Raya masih ketus kepada Nilam. Entah kenapa rasanya ia sebal sekali dengan Nilam.
"Ish, Mba mah, aku aduin ke Mas Yusra loh ya, udah jewer aku! Sakit banget ini telinga, untung gak putus. " dumelnya.
"Aduin aja, emang yakin Mas Yusra akan belain kamu? " tantang Raya.
"Yakinlah, kan aku adik kesayangan nya. " Nilam percaya diri.
"Oh yah? Pede sekalih anda. " cibir Raya. Lalu ia kembali menjewer telinga Nilam sehingga gadis itu meringis kesakitan.
"Aduuhhh. Mba, sakit beneran ini. " teriaknya.
"Biarin, Mba sedang sebel lihat kamu. " ketusnya.
"Mba kaya orang ngidam! " celetuk Nilam yang sudah lepas dari jeweran Raya.
"Ngidam? " lirih Raya.
"Mba, tidak apa apa kan? " tanya Nilam yang melihat Raya terdiam lalu Raya bangkit dari duduknya dan berlalu menuju kamar. Nilam yang melihat itu ikut lari dan menyusul Raya.
Di kamar. Raya meraih kalender lalu mulai menghitung masa menstruasi nya yang ternyata sudah telat sebulan lalu. Raya terdiam dengan pikiran melalang buana. Apakah benar ia tengah ngidam dan di dalam rahimnya sudah ada kecebong.
"Mba kenapa? " tanya Nilam dan Raya melihat Nilam dengan mata yang berkaca kaca.
"Mba, kenapa? Kok sedih. " tanya Nilam.
__ADS_1
"Nilam, apa ini beneran terjadi. " kata Raya yang membuat Nilam tak paham.
"Terjadi apa? Nilam gak paham. Mbak" Nilam bener bener tidak paham.
"Nilam, sepertinya kamu akan segera memiliki keponakan. " ujarnya.
"Apah? Mbak seriusan?. " tanya Nilam tak percaya.
"Iya Nilam, ternyata Mba sudah telat datang bulan selama sebulan lalu, pantas saja Mba merasa aneh dengan diri Mba. Kadang suka mual dan di malam hari suka pengen makan yang asem asem. " ujarnya.
"Kalau begitu, kita ke dokter saja Mba, untuk memastikan. Apakah beneran hamil atau tidak. " usul Nilam.
"Nanti saja lah, lebih baik tunggu Mas Yusra pulang saja dan nanti kita periksa bersama. " ujar Raya.
"Gak mau kasih kejutan aja buat Mas Yusra? Kalau begitu aku belikan testpack saja ya. Mba, untuk memastikan saja, bagaimana? " usul nya.
"Baiklah, tapi, pulanga sekalian belikan aku kue putu ya. " pintanya.
"Hah? Mba beneran ngidam? Gak lagi ngerjain aku kan? " curiga nya.
"Gak lah. Mba bukan pendendam orang nya, tapi memang dari kemarin pengen makan kue itu, cuma tidak enak bilangnya sama Mas Yusra. "
"Kenapa begitu sih, harusnya kalau punya keinginan tuh ngomong aja sama Mas Yusra, nanti di belikan kok. "
"Ya sudah, kamu buruan pergi sana nanti kalau bicara terus gak kelar kelar. " usir Raya.
"Sekarang yang nyebelin Mba Ipar kayanya. " gerutu Nilam sembari berjalan ke luar.
Sementara Raya hanya terkekeh saja lalu ia mengelus perutnya yang masih rata.
....
....
Di perjalanan menuju pulang.
"Cuacanya sedikit mendung, kira kira. Raya sudah makan belum ya? Di pertigaan ada pedang soto bandung langganan, aku belikan saja deh pasti dia suka. " gumamnya.
Namun entah kenapa hujan turun begitu saja sangat deras. Yusra yang berniat ingin berhenti di pedagang soto jadi urung karena hujan sangat lebat. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang saja dan melanjutkan laju mobilnya.
"Hujannya sangat deras sekali . " gumamnya.
JELEGER!!!
Tiba tiba sebuah petir menyambar dari atas langit. Niatnya ingin menepi namun rem mobil Yusra tak bisa di kendalikan membuat Yusra kelimpungan.
"Astga, kenapa remnya susah sekali? Kenapa bisa remnya blong. " ujar Yusra panik sementara mobil nya terus melaju karena jalan menurun membuat laju mobil menambah kencang dengan sendri nya.
"Ya Allah, lindungi hamba. " Yusra berusaha terus menginjak remnya namun percuma saja. Ada bebarapa pengendara juga di jalan yang sama dengan Yusra. Yusra terus menekan klakson nya dan menyuruh pengendara untuk menyingkir lalu ia membuka jendela mobil dan mengeluarkan kepala nya lalu berkata.
"Minggir! Aku bilang minggir!! Rem mobilku blong!. " teriak Yusra dengan kecang lalu memberikan kode lewat tangan untuk pengendara lain agar menyingkir namun karena hujan membuat pengendara lain tak mendengar teriakan Yusra. Untungnya di depa ada sebuah pohon yang begitu besar lalu Yusra langsung membating setir nya dan terjadilah kecelakaan.
BRAAK!!
__ADS_1
.....
PRANG!!!
Raya yang sedang memegang gelas ingin minum tiba tiba saja gelas lepas dari tangannya dan membuat gelas itu pecah.
"Astagfirullah. Mba, hati hati. " kata Bi Isah. Karena setelah membelikan alat testpack dan membelikan kue putu untuk Raya. Nilam izin pulang, jadi ia hanya berdua saja di dalam rumah dengan Bi Isah.
"Bi, kok, perasaan Raya tidak enak ya. " ujarnya. Entahlah, karena perasaan Raya mendadak tidak enak. Perasaannya was was dan jantungnya tiba tiba saja berdebar tak karuan.
"Dzikir coba Mba, siapa tau saja lebih tenang. " ujar Bi Isah lalu mengelus punggung Raya.
"Astagfirullahaladzim, semoga tidak terjadi apa apa Ya Allah. " gumamnya.
"Minum dulu Mbak, biar enakan. "
"Bi, perasaan Raya tidak tenang, apa terjadi sesuatu ya kepada Mas Yusra? Raya ingin menghubungi Mas Yusra. " kata Raya dan bangkit dari duduknya. Namun saat hendak melangkah. Pak Satpam menghampiri nya.
"Bu, ada telpon. " katanya lalu memberikan handphone kepada Raya.
"Telpon? " jawab Raya bingung. Ia terima saja tanpa pikir pajang lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Hallo." kata Raya.
"Mba Raya, ini Ali. " kata Ali di sebrang sana.
"Loh. Mas Ali? Kenapa telpon ke Pak Satpam? Kenapa tidak ke nomor Raya saja. " katanya.
"Ali tidak punya nomornya. Mba, Ali menelpon mau kasih kabar Mba. " katanya yang membuat perasaan Raya semakin was was.
"Kabar apa Mas Ali? Kenapa suara Mas Ali serius sekali." tanya Raya.
"Mba, " ucapan Ali menggantung.
"Ada apa Mas? Kenapa malah diam? Apa terjadi sesuatu? " tanya Raya menggebu seiring dengan perasaannya yang tak karuan.
"Sebenarnya." Ali nampak ragu menyampaikan kabar soal Yusra yang mengalami kecelakaan.
"Sebenarnya kenapa Mas? Ada apa, jangan bikin Raya penasaran, perasaan Raya sedang tidak enak Mas, jangan bikin Raya tambah tidak tenang. " Raya terpaksa meninggikan suaranya sehingga membuat Ali merasa tidak enak saja. Bi Isah mengelus punggung Raya untuk menenangkan .
"Mas Yusra kecelakaan Mba. " akhirnya, dengan sekali tarikan nafas Ali menyampaikan kabar buruk kepada Raya.
Brak!
Seketika. Handphone yang menempel di telinga Raya terjatuh ke lantai. Perasaan Raya sudah tidak karuan karena mendengar kabar dari Ali tentang suaminya. Seketika kakinya merasa lemas sehingga ia luruh ke lantai . Untung saja Bi Isah sigap karena ia langsung mendekap Raya .
"Astagfirullah! Mba Raya!." suara pekikan Bi Isah sampai ke telinga Ali dan membuat Ali yakin jika di rumah Raya sedang tidak baik baik saja. Akhirnya Ali memutuskan sambungannya.
"Hiks, hiks, Mas Yusra. " lirihnya.
"Ada apa Mba, kenapa dengan Mas Yusra? " tanya Bi Isah yang ikut menangis .
"Mas Yusra kecelakaan, aku takut Bi. " ujar Raya di sela tangisnya dan memeluk Bibi.
__ADS_1
Sementara di rumah sakit Yusra sedang dalam penanganan Dokter. Setelah menabrakkan mobilnya ke pohon besar membuat Yusra sedikit kehilangan kesadaran dan darah sudah bercucuran di pelipis nya. Sebelum ia jatuh pingsan ia lebih dulu menghubungi Ali lalu memberitahu jika ia tengahkecelakaan, setelah itu banyak warga yang menolongnya lalu membantu mengeluarkan Yusra dalam mobil dengan memecahkan kacanya karena di dalam Yusra sudah lebih dulu pingsan setelah menghubungi Ali .
Mohon maaf jika ada typo