
Kini di kediaman Yusam sudah ramai sekali dengan adanya si kembar ke tambah lagi dengan Alea. Mereka bermain bersama dalam pengawasan orang tua masing masing. Meskipun Yena dan Yeni sudah besar namun tetap saja mereka kadang suka jahil dan bahkan baru pertama kali bertemu saja dengan Alea mereka sudah membuat Alea menangis. Tapi untungnya Alea cepat akrab dan sekarang tidak takut kepada si kembar malah sekarang terlihat asyik bermain dengan Yena dan Yeni.
"Nilam, bagaiamana bisa kamu mengetahui tempat penyekapan Rasty dan Alea?. " tanya Rika.
"Aku tahu dari seseorang Tante, dia menyuruh ku dan orang-orang ku untuk menyelamatkan mereka berdua. " jawab Nilam.
"Lalu, bagaiamana dengan kondisi di kantor sekarang? Apakah semua baik baik saja? " kini Yuli yang gantian bertnya.
Sebenarnya mereka belum mengetahui jika Nilam adalah anak dari Yusman dan Nilam sengaja tidak memberitahu mereka justru malah menyuruh Raya untuk diam dan jangan memberitahu tentang identitas nya. Ia mengaku hanya sebagai pekerja di kantor sebagai OB dan sekaligus orang kepercayaan Yusril.
"Tante tenang saja, tapi, aku rasa, suami Tante terkena masalah dan sepertinya ia di bawa oleh pihak kepolisian. " ujar Nilam.
"Astagfirullah, k-kamu serius? " ujar Rika dan Yuli bersama mereka syok mendengar jika Hendri di bawa oleh polisi. Raya yang kebetulan ada di tengah-tengah Yuli dan Rika segera menenangkan keduanya.
"Tenang Tante, sebaiknya kita menunggu Mas Yusra dan Mas Ali datang, biar mereka yang menjelaskan nya nanti, mungkin ini sudah seharusnya terjadi untuk Om Hendri agar ia jera dengan semua perbuatan nya. " ujar Raya mengusap punggung Rika.
Di saat mereka sedang mengobrol tiba tiba saja ada segerombolan laki laki yang berbeda generasi namun dengan wajah yang tak jauh berbeda mereka hampir mirip semua yaitu rombongan Yusril. Yuli terpaku tat kala melihat orang yang ia cintai sedang menatap nya orang yang ia rindukan selama ini namun sulit untuk ia gapai dan hanya doa yang selalu ia panjatkan untuk melepas kerinduan kepada orang tersebut.
Raya juga dan Rika di buat terkesiap saat melihat Yusril dan Yusman sedang berjalan beriringan bersama sangat suami.
"P-pak Yusman?! " ujar Raya tergagap lalu beralih menatap suaminya dengan mata berkaca kaca. Rika hanya bisa menutup mulut tak percaya dengan kejadian ini.
"Astagfirullah astagfirullah astagfirullah. Pa-pah, i-ini, ini beneran kalian? Mas Yusman? " ujar Yuli ia segera menghadang langkah mereka.
__ADS_1
"Putri Papah. " ujar Yusril lalu memeluk Yuli dengan dekapan hangat. Yuli merasa ini seperti mimpi ia merasa seperti mimpi di peluk oleh sang Papah,karena dekapan hangat ini yang selalu ia rindukan dari sosok Papahnya.
Yuli tak kuasa membendung tangisnya. Kini bahunya bergetar di pelukan hangan pria tua yang selalu ia rindukan.
"Hiks, hiks, hiks. Ya Allah, apakah Yuli sedang bermimpi ataukah sedang halusinasi? " gumamnya yang terdengar oleh Yusril.
Yusril hanya terkekeh dan kemudian melepaskan pelukan putrinya itu. Yusman menepuk-nepuk punggung Yuli dan memeluk adik bungsunya. Meski sudah memiliki tiga orang anak. Yuli tetap saja di perlakukan layaknya anak kecil oleh mereka. Karena Yuli adalah anggota perempuan satu satunya di keluarga mereka setelah sang istri/ ibu mereka telah tiada.
"Mas Yusman, hiks, hiks, kenapa kalian hidup lagi? Apakah aku sedang mimpi? Hiks, hiks, " semua orang ikut terharu bahkan menangis melihat momen ini. Raya yang kini sudah berpindah ke sisi Yusra ikut menangis dalam pelukan sang suami. Ia tak percaya dengan kehadiran Yusman dan Yusril yang ternyata masih hidup. Masih terekam jelas dalam memory nya jika Yusman meninggal saat kejadian perdebatan dengan sang suami.
.....
Malam harinya. Mereka makan malam bersama dengan suasana penuh suka cita. Namun ada yang membuat Yusril janggal karena sejak ia datang ia belum melihat batang hidung menantunya yang tak lain adalah suami dari Yuli yaitu Rusdi.
"Dimana Rusdi? Kenapa aku tidak melihat sejak tadi? " kata Yusril membuka percakapan dan mereka semua menatap Yuli dan memang mereka juga baru ngeh.
"pantes saja tidak keliatan, ya sudah, kita lanjut lagi makan nya setelah itu kita kumpul di ruang keluarga. " ujar Yusril lalu mereka semua mengangguk.
Beberapa belas menit sudah berlalu dan makan malam pun sudah usai. Kini mereka semua sudah berkumpul di ruang keluarga .
"Yena dan Yeni, tolong jagain Alea dulu ya. " pinta Rika.
"Siap Uwa, ayo Lea, kita main bersama. " kata Yeni dan Lea serta mereka pergi ke kamar.
__ADS_1
"Apa tidak sebaiknya menunggu Rusdi dulu Pah? " tanya Yusman.
"Tidak perlu, ini bukan hal yang serius, biar nanti Yuli saja yang sampaikan, karena besok pagi pagi sekali Papah akan kembali lagi. " kata kata Yusril membuat semua orang bingung.
"Maksud Papa apah? Kenapa Papa bilang akan kembali? " tanya Yuli bertubi-tubi.
Yusril mengusap kepala putri bungsunya dan tersenyum.
"Ada hal yang harus Papah katakan padamu, dan untuk kalian semua cucu cucuku, sebenarnya selama ini aku pura-pura meninggal dan sama halnya dengan Yusman. Karena kami bekerja sama, kami pikir setelah kepergian kami Hendri akan berubah tapi ternyata, kami salah, justru dia malah semakin menjadi, dan Kake sangat berterimakasih kepada Fahri yang selama ini selalu memberikan informasi mengenai Hendri kepada Kake dan Yusman. " ujar Yusril dan lagi lagi mereka di buat terkejut dengan ucapan Yusril.
"Maksud Papa? Kenapa Fahri. " tanya Rika.
"Selama ini Fahri sudah menjadi tangan kanan Papah, dia juga tahu perihal Papah dan Yusman masih hidup, hanya saja kami merahasiakan ini dari semua orang. Papah dan Yusman tinggal di luar negri dan di sana kami menjalankan bisnis juga secara diam-diam dan kami juga sudah bergabung dengan perusahaan Y/N Grup. " ujarnya.
"Maksud Kake?" tanya Yusra yang kali ini sudah sangat penasaran.
"Maafkan Kake, bukan maksdnya Kake dan papa mu merahasiakan dari mu, hanya saja ini cara kami untuk bisa memantau perusahaan dan situasi, kami menggunakan anak perusahaan yang kebetulan sedang mengalami masalah , apa kamu tidak ingat dengan nama perusahaan Graha Grup? " tanya Yusril.
Yusra seketika melotot kan matanya tat kala ingat nama perusahaan itu dan ia juga merasa familiar sekali dengan nama itu hanya saja saat itu pikiran nya sedang berkecamuk karena masalah dengan Hendri.
"Pantas saja, aku merasa sangat familiar dengan nama perusahaan itu, sayang sekali aku tidak fokus saat itu, apa jangan jangan pria tua itu adalah Kake yang sedang menyamar? " selidik Yusra.
"Cerdas." ujar Yusril.
__ADS_1
"Astagfirullah." ujar Yusra mengelus dadanya.
MAAF JIKA ADA TYPO YA