
Beberapa hari ini. Raya perhatikan suaminya nampak murung dan selalu menghabiskan waktu di ruangan kerjanya.
Tok... Tok... Tok...
Sebelum masuk Raya mengetuk pintu lebih dulu. Ia melihat Yusra yang begitu serius di depan komputer sampai tak menyadari ketukan pintu. Raya menaruh kopi serta cemilan ringan di meja dan mendekati Yusra.
"Mas." ujar Raya sembari menyentuh bahu suaminya.
Yusra terperanjat dan menoleh kepada Raya.
"Sayang, ku pikir siapa. " tanya nya.
"Mas Yusra sedang ada masalah ya? Raya perhatikan, beberapa hari ini selalu mengurung diri di sini dan lagi wajah kamu selalu murung. Apakah terjadi sesuatu di kantor?. " tanya Raya.
Yusra menggenggam jemari Raya lalu menakutkan dengan jemarinya. Diciumnya telapak tangan Raya dan memeluk Raya yang sedang berdiri dengan posisi ia terduduk .
Raya menyisir rambut Yusra yang lebat dengan tanganya kemudian membalas pelukan sang suami.
"Mas, kita menikah bukan hanya untuk menyatukan dua insan yang berbeda, tapi kita menikah untuk mencari teman hidup , teman yang mau mendengarkan dan berbagi cerita dengan pasangan. Mas, aku mau tanya? " ujar Raya dan Yusra mendongakan kepalanya menatap Raya yang juga menatap nya.
"Kamu mau tanya apa? "
__ADS_1
"Apa. Mas Yusra, suka dan cinta dengan Raya? " ujar nya membuat Yusra melepaskan pelukanya lalu menatap Raya dalam dalam.
"Tentu saja, aku sangat menyukaimu dan mencintai mu, bahkan saat kita masih kecil, kamu adalah wanita pertama yang aku cintai sejak saat itu sampai sekarang dan selamanya. " jawab Yusra sungguh sungguh.
"Kalau begitu, apakah Raya berarti dalam hidup kamu? " tanya nya lagi.
"Tentu sayang, kamu sangat berarti untukku, kenapa sih? Kok pertanyaan kamu aneh. " tanya Yusra heran.
"Kalau begitu. Raya minta Mas cerita masalah yang sedang kamu alami, Raya perhatikan Mas jarang sekali ke kantor dan lebih sering menghabiskan waktu di sini, jika memang benar Raya sangat berarti bagi Mas Yusra, harusnya Mas berbagi cerita juga dengan Raya jangan memendamnya sendiri, bahagianya seorang pasangan itu saat dia di hargai oleh pasanganya. Raya mau jadi pendengar untuk kamu Mas, dan Raya juga mau kita saling terbuka dengan apapun masalah yang kita alami, jangan hanya di pendam sendiri saja. Seolah olah Raya orang lain bagi kamu. Raya merasa tidak di anggap kan jadinya. " keluhnya.
"Sayang, maaf ya, bukan begitu maksud ku, maaf ya sudah bikin kamu salah paham. Aku hanya ingin menyelesaikan semuanya sendiri bukan tidak ingin cerita, tapi kalau kamu merasa aku tidak menganggap mu, maka aku akan ceritakan semua masalahku dan aku janji akan selalu terbuka sama kamu, aku benar benar minta maaf ya. " ujar Yusra dengan lembut.
Raya tersenyum dan mencoba untuk mengerti. Barang kali suaminya tidak ingin ia ikut campur. Dengan masalahnya. Lagian jika masalah kantor apakah Raya akan mengerti? Tapi, ada baiknya jika kita bercerita kepada pasangan kita walau pun kita tidak mengerti dengan inti masalah nya yang penting kita bisa menjadi teman untuk pasangan kita sekaligus pendengar yang baik. Ya kalo bisa kasih saran untuk mengurangi bebannya.
"Iya, sayang, terimakasih ya. Sebenarnya ini masalah keluarga dan menyangkut dengan harta yang di miliki Papa, kamu tahu Om Hendri? Dia adik dari Papa. " kata Yusra ia mulai menceritakan tentang Hendri yang sangat terobsesi dengan harta dan perusahaan apa lagi dendam kesumat kepada Papa nya.
....
Masih di ruang kerja Yusra.
"Jadi, hanya karena Kake memberi hampir seluruh hartanya kepada Papa. Om Hendri menjadi seperti ini? Dari cerita yang aku dengar dari kamu, aku rasa Om Hendri merasa dirinya di bedakan dengan Papa apa lagi saat Kake selalu membanggakan Papa, pasti Om Hendri merasa di nomor duakan olehnya. Maka dari itu ia menjadi pemberontak. " ujar Raya.
__ADS_1
"Mungkin, tapi itu salahnya sendiri, kenapa otak nya sangat bodoh! Harusnya melihat Kake yang sedang ke susahan ia ada inisiatif untuk membantu bukan malah jadi beban, giliran Papa yang di berikan kepercayaan dia tidak terima, sangat serakah bukan? Apa lagi setelah Papa tiada ia makin menjadi saja berulah.
Dia bahkan menghasut orang yang begitu aku percayai , mengiming imingi orang itu dengan rumah mewah serta mobil, sampai rela menggelapkan dana perusahaan dan korupsi karena uang yang seharusnya mengalir ke perusahaan kini beralih ke rekening si bajingan itu! " kesal hati Yusra.
Lalu Yusra menyenderkan kepalanya di bahu Raya. Karena kini mereka duduk di sofa agar lebih leluasa.
"Jujur aku sangat lelah. Raya, apakah aku harus menyerah saja, dan membiarkan Fahri yang menjadi pemimpin perusahaan Kake? Dari pada harus berselisih dengan keluarga sendiri yang tiada kesudahan." keluhnya sembari memeluk tubuh Raya.
"Sabar. Mas, mungkin ini ujian, Allah ingin melihat sampai mana Mas Yusra untuk bersabar, karena sabar itu tidak ada batasnya, kalau sabar ada batasnya berarti kita tidak sabar. Mengalah bukan berarti kalah. Mas harusnya bersyukur karena Allah sedang menaikan derajat kamu karena sabar menghadapi orang seperti Om Hendri, selain itu Mas juga dapat pahalanya loh, Raya doakan semoga saja Allah cepat memberikan kesadaran kepada Om Hendrimu.
Karena seberushaa apapun ia mengejar yang bukan miliknya, maka ia tidak akan pernah mendapatkannya.Sesuatu yang sudah menjadi milik Mas Yusra tidak akan pernah menjadi milik orang lain, seperti Raya, yang selalu sabar dengan sikap arrogant dan pemarahmu, berulang kali Raya minta kita untuk berpisah namun jika sudah di takdirkan dengan kamu, maka Raya tidak bisa pergi, sampai kebenaran tentang kita terungkap dan akhirnya kita bersatu. "
"Terimakasih sayang, atas nasehat nya, akhirnya perasaanku sedikit lega dan bebanku sudah sedikit berkurang karena sudah bercerita denganmu, terimakasih sudah mau menjadi teman hidupku dan menjadi pendengar yang baik untuk suamimu ini, maafkan aku atas semua perilaku ku yang dulu sudah kasar padamu ya. Aku janji itu untuk pertama dan terakhir kalinya karena dulu aku tidak tahu jika itu kamu. Nirmala. " kata Yusra.
"Terus, jika aku bukan Nirmala, kamu akan bersikap arrogant padaku dan semena mena begitu? Menyakiti dengan kata kata kasar seperti biasanya?. " selidik Raya.
"Eum, itu tergantung, mungkin aku akan memikirkan nya lagi." jawab Yusra lalu menyeruput teh yang sudah dingin.
"Ish, benar benar jahat banget sih! Kamu udah dzolim loh seperti itu kepada istri! " Raya jadi sewot.
"Udah dong sayang, jangan mulai, kan kita sedang bahas yang lain, kenapa jadi mengungkit masalah yang sudah lewat, intinya sekarang aku itu cinta pake banget sama kamu gak pake level levelan segala, suer deh! Kalau kamu tidak percaya belah saja dadaku, paling aku pulang ke rahmatullah. " guraunya.
__ADS_1
"Ih jangan atuh, aku belum siap jadi janda. Mas. " raung Raya dan membuat Yusra gemas dengan istrinya.
"Kita istirahat yuk, jika cuaca di luar panas, bagaimana jika kita bikin lebih panas lagi. " goda Yusra menaikturunkan kedua alisnya. Raya langsung memberikan bogem di dada Yusra yang membuat ia meringis.