
Sudah dua hari Yusra dirawat dan ia meminta Dokter untuk mengizinkannya segera pulang karena di rasa sudah merasa lebih enakan. Kepalanya juga sudah tidak merasa pusing lagi akibat benturan dan jahitan.
"Mas yakin, mau pulang saja? Kepalanya masih belum kering loh itu jahitan nya." tanya Raya.
"Mas sudah sehat sayang, cuma jahitan mah gak apa apa, kan nanti ada kamu yang meratku. " ujar Yusra lalu mencium bibir Raya sekilas.
Rasanya semakin hari rasa cinta Yusra kepada Raya semakin bertambah saja. Ia jadi menyesal dulu telah memperlakukan Raya dengan kasar.
"Kok bengong? " tanya Raya yang sudah selesai mengemas pakaian Yusra.
"Tidak apa apa, kenapa semakin hari kamu semakin cantik saja sih? Mas jadi tambah cinta sama kamu, kamu sehat sayang , badan kamu aga isian ya. " ujar Yusra lalu mencuil pipi tembam Raya.
"Alhamdulillah, iya dong sehat, kan di sini ada yang hidup , makanya aku harus banyak makan dan sehat supaya dedenya sehat juga. " celetuk Raya yang keceplosan sembari meraba perutnya yang masih rata.
"Maksud kamu apa. Raya? " tanya Yusra keceplosan.
"Aduh aku keceplosan. " lirihnya menutup mulut. Lalu menatap Yusra yang juga menatap nya penuh selidik.
" Apa kamu sembunyikan sesuatu dariku? . " tanya Yusra dengan penuh selidik.
"Eh, hehee, eng-itu anu Mas, eum. " jawab Raya ter bata bata.
"Katakan! Kamu sembunyikan apa dariku Raya! " ujar Yusra yang kini sudah merubah nada suara nya. Dan itu membuat Raya takut lalu matanya kembali berkaca kaca ketika Yusra menatap nya tajam.
"Maaf Mas. " lirih Raya menunduk lalu mengusap air matanya. Yusra jadi terkesiap dengan sikap Raya.
"Sayang, maaf, kenapa kamu menangis? Aku hanya ingin tahu saja dengan perihal apa yang kamu sembunyikan dariku. " kata Yusra lalu meraih tangan Raya dan mengecupnya.
__ADS_1
"Bisakah jangan bicara penuh penekanan padaku? Aku takut Mas, itu mengingatkan ku pada waktu itu saat kamu kasar padaku. " ujar Raya lirih. Mendengar itu Yusra langsung membawa istrinya dalam pelukan.
"Aku minta maaf sayang, sungguh. Mas tadi terbawa suasana, maafkan Mas ya, sekarang kamu katakan pada Mas, apa yang kamu sembunyikan dariku. " tanya Yursa dengan lembut.
Raya melepaskan dekapan Yusra lalu ia mengambil sesuatu dari dalam tas nya. Ia memberikan beda kecil persegi panjang kepada Yusa dengan dua garis merah.
"Apa ini sayang? Kenapa kamu berikan alat ini? Lalu ini tanda apa dua garis? " tanya Yusra kebingungan.
"Masa kamu tidak tau sih? Ini namanya alat pendeteksi kehamilan, dan dua garis merah itu menandakan positif, yang artinya aku hamil. " ujar Raya menjelaskan sedetail mungkin.
Yusra tercengang dan masih belum bisa mencerna ucapan Raya. Raya kesal melihat reaksi Yusra yang malah bengong .
"Mas Yusra! Kok malah bengong sih? Mas tidak senang ya jika Raya hamil. " kata Raya memukul lengan suaminya lalu menampilkan raut sedih.
"Sa-sayang, bukan begitu maksudnya. Mas masih belum bisa mencerna ucapan kamu, makanya Mas bengong, kamu tadi bilang apa sih? Kamu hamil? " tanya Yusra yang menujukan wajah terkejut dengan rasa percaya tak percaya.
"Kamu beneran hamil? " tanya Yusra lagi.
"Ya Allah, iya Mas Yusra! Aku hamil dan di sini ada dede bayinya. " kata Raya lalu membawa tangan Yusra untuk mengusap perutnya.
"Ka-kamu, serius. Sayang? " tanya Yusra yang kali ini menampilkan wajah bahagia dan terharu.
Raya hanya mengangguk membenarkan pertanyaan Yusra.
"Alhamdulillah, akhirnya aku akan jadi seorang Ayah. " ujar Yursa girang lalu membawa Raya dalam pelukan nya. " Terimakasih sayang. Mas bahagia sekali, Mas sayang kalian. " ujar Yusra yang tak bisa sembunyikan rasa syukur dan bahagianya. Lalu menghujami wajah Raya dengan ciuman penuh cinta.
......
__ADS_1
Berbeda dengan Yusra yang kini di berikan kebahagiaan. Sementara Fahri sedang di rundung kegelisahan.
"Pah, aku mohon, lepaskan mereka Pah, mereka anak istriku, kenapa Papah tega lakukan semua ini pada Fahri! Fahri ini putra Papah, selama ini Fahri selalu merut kepada Papah. " ujar Fahri yang minta belas kasih pada Papanya agar ia membebaskan anak istrinya.
"Sampai kapanpun Papah tidak akan merestui hubungan kalian. Dan jangan pernah berharap jika Papa akan mengakui anak kecil itu cucu Papa! Kamu sadar tidak sih Fahri! Gara gara mereka kamu jadi pembangkang sama Papah! Papa kecewa sama kamu! Dan sebaiknya memang mereka Papa lenyapkan saja mereka itu, agar kamu kembali kepada Papa dan menjalankan misi Papa lagi. " ujar Hendri.
"Pah. Fahri janji akan melakukan apapun yang Papah perintahkan, asal jangan sakiti mereka apa lagi ingin melenyapkan mereka. Fahri mohon Pah. " Fahri berlutut di hadapan Papanya.
"Cih! Demi perempuan itu kamu rela merendahkan hargadiri mu dan sekarang kamu mau maunya berlutut karena mereka, keputusan Papa tidak akan pernah berubah, jika kamu mau kamu mereka lepas dari Papa, maka kamu harus mau meninggalkan mereka dan jangan lagi berhubungan dengan meraka lagi, kalau setuju tanda tangani ini, kalau kamu tidak mau tidak apa apa maka kamu akan lihat jasad mereka nanti. " ancam Hendri.
Hendri memberikan kertas kepada Fahri dan menyuruh Fahri untuk membaca lalu menandatangani.
"Apa maksud Papah! Kenapa Papa sama sekali tidak punya perasaan, mana mungkin Fahri mau meninggalkan mereka, mereka hidup Fahri. Pah, mereka nyawa Fahri! Apakah tidak cukup selama ini perjuangan Fahri di mata Papa! Papah sangat keterlaluan! Papah iblis! " teriak Fahri di depan Hendri.
"Terserah kamu, bahkan sekarang kamu berani meneriaki Papah, seperti nya memang, perempuan ini membawa dampak buruk buat kamu Fahri! Papa akan memberikan nya pelajaran sekarang. " geram Hendri.
"Jangan Pah, jangan lakukan itu pada mereka, mereka tidak salah apa apa. Fahri yang salah, jika Papah ingin memberikan pelajaran. Fahri siap menerima hukuman dari Papah asal jangan mereka Pah. " mohon Fahri. Matanya sudah memerah dan berkaca kaca, ia tidak tahu lagi apa jadinya jika sang Papah benar benar akan memberikan pelajaran pada anak dan istrinya.
"Minggir kamu Fahri! Lebih baik sekarang kamu ke kantor dan memimpin rapat siang nanti, jika kamu berani mangkir lagi seperti waktu itu. Papah tidak akan segan untuk melenyapkan mereka! " kata Hendri yang sudah geram dengan sikap anaknya yang mulai membangkang.
"Baik, Pah. Fahri akan kekantor dan memimpin rapat kali ini. Fahri akan bekerja keras supaya perusahaan itu akan jatuh ke tangan Papah, terimakasih atas kemurahan hati Papah. Fahri mohon untuk tidak melakukan apapun kepada mereka. " ujar Fahri yang merasa lega dengan tindakan sang Papah.
Hendri tidak menjawab ia pergi begitu saja entah kemana.
**Mohon maaf jika ada typo. Dan aku juga minta maaf karena gak bisa up dua bab, solanya terjadi insiden dengan tanganku jadi gak bisa ketik banyak2.
Semoga pada suka dan terimakasih sudah mau membaca cerita ini 🙏**
__ADS_1