Terpaksa Menikahi Anak Majikan

Terpaksa Menikahi Anak Majikan
Bab 7


__ADS_3

Setelah kejadian malam itu aku sama sekali tidak ingin bertemu dengan Mas Yusra dia sama sekali tidak ada niatan untuk minta maaf padaku. Aku benci dan marah padanya bahkan aku sama sekali menolak untuk makan ketika Bi Isah selalu menawarkan makan dan rasanya aku ingin mati saja.


Tok... Tok... Tok...


"Raya, keluarlah,ada yang ingin aku bicarakan. "


Entah angin dari sebelah mana tumben sekali Mas Yusra memintaku keluar. Karena sejak setelah dia menyetubuhiku dia sama sekali tak peduli padaku bahkan saat aku memutuskan tak ingin keluar kamar dia bahkan sangat acuh padaku. Tapi kali ini dia yang minta aku keluar dengan nada seperti membujuk. Aku biarkan saja dia terus mengetuk pintu sampai akhirnya dia berkata.


"Raya, buka pintunya atau aku dob." belum sempat melanjutkan kata katanya aku sudah membuka pintu dengan keadaan yang sangat menyedihkan. Rambut acak-acakan mata seperti panda dan wajah pucat mirip seperti zombie. Mas Yusra sampai terjingkat kaget dan mengelus dadanya sedangkan aku hanya menatap datar wajahnya.


"Kamu tidak gila, kan?. " bukanya merasa iba dan perhatian melihat keadaanku yang seperti mayat hidup eh dia malah mengatai ku tidak gila kan. Rasanya aku ingin menghajar wajahnya sungguh! Tapi apalah daya tangan tak mampu karena aku sangat lemah.


Aku tak menjawab ucapanya karena malas melihat wajahnya dan segera membalikan badan lalu kembali berbaring di atas kasur dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut.


"Ck!" terdengar Mas Yusra mendecak dan aku tidak perduli. Pokonya aku malas malas malas dengan dia.


"Raya, kata Bi Isah kamu tidak makan beberapa hari ini, ayo makan, mumpung aku sedang berbaik hati loh ingin bicara sama kamu dan menyuruh kamu makan. " sumpah demi kolor Mang Udin rasanya aku ingin menyumpal mulut Mas Yusra dengan kolor Mang Udin biar dia tau rasanya macam mana.


"Aku gak mau makan gak mau, aku mau mati aja sekalian, aku gak butuh kebaikan hati kamu dan aku juga nggak minta kamu untuk bicara padaku, pergi saja sana jangan urusi aku yang hanya seorang pembantu bagimu. " aku bicara sekuat tenaga yang aku punya karena rasanya untuk berteriak saja aku tidak mampu sekali. Badanku sangat lemah dengan tubuh bergetar layaknya nenek nenek yang kalau bicara saja langsung gemetar seluruh tubuhnya.

__ADS_1


"Ya sudah kalau ingin mati silahkan saja, tapi kami tidak akan mengurus jenazah mu, dan aku juga tidak akan menyuruh orang, biarkan jenazahmu yang mengurus jasadmu sampai kekuburanmu." dia malah mengancamku.


Aku bergeming biarkan saja dia terus membujuk ku aku ingin lihat seberapa sabar dia membujuk ku karena jujur saja aku senang sih dia perhatian padaku walau hanya secuil tak mengapa tapi haruskah aku sakit dulu baru Mas Yusra perduli padaku.


"Raya, aku tidak punya banyak waktu untuk mengurusimu, aku sedang banyak pekerjaan, jangan melunjak kamu ya! Cepat makan dan aku sudah menelpon dokter untuk memeriksa mu. " ketus Mas Yusra.


Ku dengar dia melangkahkan kaki lebarnya keluar dari kamar. Sementara aku di balik selimut menangisi nasibku yang malang ini. sepertinya hilal kebahagiaan ku masih enggan menampakan dirinya. Biarlah akan aku jalani takdir ini dengan sesuai kehendak-Nya dan aku yakin semua yang aku alami sudah pasti atas campur tangan-Nya.


"Ya Illahi, ku pasrahkan hidup ku pada-Mu. "


Raya bangun dari baringnya dia memaksakan diri kekamar mandi dan entahlah tiba tiba semua menjadi gelap sehingga Raya tak sadarkan diri.


........


Entah ini sudah jam berapa aku membuka mataku dan melihat sekeliling kemudian tanganku terimpus.


"Sudah sadar. " aku terkejut mendengar suara yang sangat familiar di dendang telingaku.


Aku tak menjawab malah mengalihkan pandanganku ke sisi kanan karena Mas Yusra bedara di sisi kiriku.

__ADS_1


"Kenapa bandel banget, sih! Anak kecil aja kalo bandel suka nurut kalo di kasih tau. " entahlah , seperti nya Mas Yusra sedang kesurupan. kenapa jadi sok baik begini padaku dan sok perhatian segala lagi. Tapi aku tidak mau termakan oleh bujuk dan rayunya mau dia bagaimanapun aku harus jaga diri dan harus waspada soalnya sikap dia berubah setelah mendapatkan mahkota ku, siapa taukan, dia sedang berubah jadi kucing manja sama majikan tapi ada maksud tertentu. Tidak akan aku biarkan.


"Makan dulu ya. " katanya lembut.


"Gak laper! " ketusku masih enggan menatap wajahnya.


"Kata dokter kamu kekurangan cairan, dan kamu juga tidak makan selama beberapa hari ini, makan sedikit saja dan minum obat. " katanya sok perhatian banget.


"Gak usah sok perhatian, kamu sendiri yang bilang untuk jangan akrab sama kamu jangan urusi kamu dan perhatian sama kamu, dan sekarang aku yang minta hal itu sama kamu, Mas. " jawabku dengan suara dingin, mamangnya cuma dia aja yang bisa, aku juga bisa kali.


"Ya sudah, terserah kamu, kalau bukan karena terpaksa, aku juga tidak mau melakukan hal ini padamu, kamu kan seorang pembantu pasti bisa mengurus diri sendiri. " katanya acuh lalu pergi dari kamarku dengan membanting pintu.


"Dasar manusia sableng! Tidak punya perasaan dan tidak berperikemanusiaan, kamu pikir aku seperti ini karena ulah siapa! Karena kamu, Mas, kamu. " aku hanya bisa menangis setelah mengatakan itu. Kenapa ada manusia seperti kamu di dunia ini.


Dan karena aku merasa lemas mau tidak mau aku makan makanan yang tadi di bawakan oleh manusia sableng itu. Meski enggan tapi aku paksakan karena aku sudah sangat lemas, aku tarik kata kataku yang lebih baik mati saja. Karena baru sakit begini saja aku sudah mengeluh ingin sembuh dan tak kuat menahannya. Ya Allah, sungguh aku dzolim sekali pada-Mu.


Setelah selesai makan dengan hanya beberapa suap aku minum obat yang sudah di siapkan sesuai dengan anjuran yang tertera.Jujur, baru kali ini aku merasakan sakit yang benar benar sakit karena biasanya hanya masuk angin saja dan obatnya cuma kerokan saja langsung sembuh. Namun kali ini aku harus merasakan yang namanya infusan.


Banyak sekali hal yang aku pikirkan. Aku sudah tidak tahan menjalani rumah tangga seperti ini. Dulu waktu aku kecil aku berkhayal ingin menikah dengan seorang pangeran yang baik hati dan penyayang yang memperlakukan istrinya dengan kasih penuh cinta. Tapi pada akhirnya aku harus menelan pil pahit kehidupan. Karena bersuamikan macam Mas Yusra si pemarah dan dingin.

__ADS_1


"Apa aku harus kabur saja kali ya? Tapi mau kabur kemana? Gak punya duit sama sekali masa iya mau jadi gembel, apa aku harus nyolong brangkas Mas Yusra dulu? Aku kuras brangkas nya dan aku bawa kabur dengan begitu aku tidak akan jadi gembel, apa aku minta cerai saja dan minta harta gono gini supaya nanti pas jadi janda gak miskin miskin amatlah dan minta uang kompensasi karena dia sudah menyiksaku lahir batin dengan jumlah yang banyak dengan begitu aku akan hidup tenang dan bebas dari manusia sableng itu. " gumam Raya seorang diri kemudian dia tertawa kencang layaknya pemeran antagonis yang membayangkan kemenangan.


__ADS_2