
Pagi ini Yusra ke kantor dan ia kebetulan sekali berpas pasan dengan Ali.
"Selamat pagi Pak Pemimpin. " gurau Ali yang mendapatkan pelototan dari Yusra.
"Hmm." jawabnya terus berjalan . Lalu mereka menaiki lift yang sama.
"Kenapa kamu malah ikut? " tanya Yusra.
"Ada yang ingin Ali bicarakan. "
"Soal? " tanya Yusra.
"Uwa Hendri. " katanya.
"Ck! Belum puas juga bikin ulah? " gumam Yusra.
Ting.
Mereka telah sampai di ruangan Yusra dan Ali yang membukakan pintu untuk sang Raja.
"Kenapa lagi dengan Uwa kamu itu. " tanya Yusra lalu membuka laptop nya.
"Dia sudah keterlaluan Mas, dia sampai mengacam Fahri bahkan menampar Uwa Rika, kemarin Uwa Rika menginap karena tidak ingin satu rumah dengan Uwa Hendri karena trauma atas prilakunya. Tapi saat kami sedang mengobrol tentang wanita yang di dekati oleh Fahri, dia datang dan dengan terang terangan nya dia mengacam Fahri untuk melakukan sesuatu kepada wanita itu dan anaknya. Dia juga tidak merestui hubungan Fahri dengan kekasihnya itu, sampai sampai Uwa Rika di katai dan di hina di depan kami. Mas, " cerita Ali.
"Sejak kapan Fahri punya kekasih? " tanya Yusra yang hanya fokus pada saat Ali menceritakan kekasih Fahri.
"Tidak tahu, dia kan misterius orangnya, tiba tiba punya kekasih aja udah gitu ada bonus nya heee. " jawab Ali cengengesan.
"Baiklah, nanti ada rapat kan? " tanya Yusra.
"Iya Mas. "
__ADS_1
"Sepertinya. Fahri tidak datang, kemana dia? " Memang sejak Yusra datang dan berkeliling ia tak menemukan keberadaan Fahri.
"Aku tidak tahu, kenapa tidak di hubungi saja. " saran Ali.
"Kamu saja yang menghubungi. " kata Yusra dan Ali langsung sigap dengan perintah Yusra. Ia segera menghubungi Fahri.
Setelah dua kali deringan di sana Fahri langsung mengangkat nya.
"Bang, di mana? Kok belum kelihatan hilal nya. " tanya Ali.
"Maaf Ali, tolong katakan kepada Mas Yusra, jika aku tidak bisa ikut meeting kali ini, karena sedang ada masalah, kamu pasti tahu itu. " ujar Fahri di sebrang sana.
"Masalah apa yang kamu hadapi, sehingga kamu mangkir dari tugas mu? Hm. " kali ini Yusra yang menyahut.
Di sana Fahri tentu saja terkejut.
"Mas Yusra?! " pekik Fahri.
"Mas, tolong meeting kali ini di wakili Mas dulu ya, soalnya Fahri sedang mengurus sesuatu, Papa sudah keterlaluan kali ini, dia menyuruh anak buahnya untuk melecehkan seseorang. " geram Fahri di sebrang sana. Ali dan Yusra hanya saling pandang.
"Baiklah, untuk kali ini aku bebaskan kamu, tapi tidak untuk lain kali ya, seorang pimpinan harus memberi cotoh yang baik, harusnya kamu bisa membedakan urusan kantor dan prioritas kehidupan pribadi mu! Jangan karena seseorang kamu kehilangan tanggungjawab mu sebagai pimpinan. " ujar Yusra yang menasehati Fahri.
"Baik.Mas, aku minta maaf, dan terimakasih atas pengertian nya, sekali lagi Fahri berterimakasih Mas. " ujar Fahri senang karena Yusra tidak dingin lagi padanya lalu mau meberikan nasehat.
"Ya sudah, urus dulu urusanmu di sana, jika sudah selesai bergegaslah kemari, karena ada hal yang ingin aku bicarakan. " ujar Yusra. lalu Fahri akan usahakan datang setelah urusan di sana selesai dan mereka mematikan sambungannya.
"Urus rapatnya sekarang dan waktunya minta di majukan setengah jam lagi, karena ini kesempatan untuk kita menjatuhkan si serakah itu. " perintah Yusra pada Ali dengan seringai licik.
"Siap, laksanakan komandan. " jawab Ali hormat dan segera pergi.
.....
__ADS_1
..
Waktu rapat telah tiba dan semua sudah berkumpul. Kini sedang di adakan rapat direksi yang selalu di adakan sebulan sekali dan kini saatnya giliran Fahri yang mempimpin rapat. Namun sampai saat ini Fahri sangat susah di hubungi oleh Hendri. Membuat laki laki tua itu terus mengumpat karena Fahri sudah berani mengabaikan nya.
"Selamat siang Om Hendri. " sapa Yusra dengan suara yang terkesan dingin dan arrogant di telinga Hendri.
Hendri langsung melihat Yusra dengan wajah kesal yang tak dapat di sembunyikan.
"Kenapa ekpresi muka Om seperti itu? Jangan panik Om, tenang saja dan rileks ok. " ledek Yusra. "Ternyata seperti itu ya, sikap pemimpin yang Om calonkan dan banggakan, aku tidak habis pikir karena Fahri lebih memilih urusan pribadi nya dari pada memilih rapat yang penting seperti ini, bagaimana mau jadi pemimpin jika dari sekarang saja ia sudah berani mangkir dari tanggungjawab nya. " sindir Yusra dan tersenyum sinis menatap Hendri yang sudah terlihat kesal.
"Kurang ngajar kamu Yusra! Untuk apa kamu ke sini hah! Kamu sudah tidak di butuhkan lagi di sini, yang mereka butuhkan adalah Fahri pimpinan baru mereka bukan kamu, jadi sekarang kamu lebih baik pergi dari hadapanku! Membuat mataku sakit saja." usirnya.
"Bagaimana bisa aku pergi, jika pimpinan barunya saja tidak ada, apa mau di wakilkan sama Om saja? Aku sih ok ok saja. " Yusra sangat puas karena sudah membuat Hendri marah dan kesal padanya.
"Anak kurang ngajar kamu Yusra! Begitu rupanya hasil didikan si Yusman, sama sekali tak beretika dan tidak punya sopan santun, ck ck, menyedihkan. " cibir Hendri yang membuat senyum Yusra hilang karena berganti wajah datar ketika Hendri menghina Papanya.
"Jangan perhan hina Papaku! Aku seperti ini tergantung bagaimana orang memperlakukan, tapi jika orang itu adalah Om Hendri, maaf saja aku tidak akan menjadi orang yang ber etika dan sopan santun. Sebaiknya sekarang Om pergi dari sini! Karena putra kesayangan mu tidak akan pernah datang! " usir Yusra terang terangan dan membuat Hendri mendelik tajam.
"Bedebah sialan! " umpat Hendri kepada Yusra.
"Jangan mengumpat ku. Om, sebaiknya sekarang Om pulang dan merenungi kesalahan Om, jangan lupa istirahat! Sebaiknya gunakan masa tua Om untuk hidup yang lebih baik, bukan menghabiskan waktu yang sia sia seperti ini, karena percuma. Sampai kapanpun Om tidak akan pernah mendapatkan keinginan Om itu. " Yusra bicara sangat dekat sekali dengan Hendri yang menatap nyalang padanya.
"Aku tidak butuh nasehat mu! " ketusnya.
"Itu bukan nasehat, aku hanya memberi tahu saja, dan aku sarankan untuk berhenti mempermainkan boneka Om lagi, karena sepertinya boneka Om sudah mulai menujukan taringnya, " bisik Yusra di telinga Hendri lalu ia masuk keruangan rapat. Meninggalkan Hendri yang terlihat sangat murka.
"Aarrrgghh! Anak sialan! " umpatnya. "Beraninya kamu Fahri menantang Papa! Lihat saja apa yang akan aku lakukan, kamu harus di beri pelajaran, agar kamu tidak membangkang, ini semua karena wanita janda sialan itu! Kamu memang harus di singkirkan, dasar lalat pengganggu. " geramnya lalu pergi dari gedung raksasa itu.
Hendri menyuruh seseorang untuk menyabotase rem mobil Yusra ia juga akan memberikan pelajaran pada keponakan kurang ngajarnya. Senyum Hendri mengebang saat anak buahnya telah selesai dengan pekerjaan nya.
"Jika perlu kamu mati saja Yusra! Sekalian menyusul kedua orang tuamu! Hahahaha. " Hendri tertawa puas saat Yusra akan kecelakaan dan membayangkan sampai Yusra meregang nyawa.
__ADS_1
Mohon maaf jika ada typo