
Sudah beberapa hari ini kondisi Raya membaik dan infusannya sudah terlepas jadi sekarang tangannya sudah bebas ia gunakan . Sekarang saat ini Raya sedang berada di dapur dengan Bi Isah yang sedang memasak.
"Bi, nanti aku mau membuat brownies, nanti Bibi anter aku ya, ke supermarket buat belanja bahannya sekalian kita belanja bulanan. " kata Raya.
"Iya. Mba, sekalian beli jahe ya, soalnya cuaca mulai masuk musim hujan, jadi Bibi mau bikin stok buat wedang jahe. " kata Bi Isah.
"Wah, Bibi, rasanya sudah lama gak cobain wedang jahe Bibi, dulu pas nyobain pas masih ada Pak Yusman dan itu hanya sekali doang udah lama banget kan. " Raya masih ingat saja dulu ketika dia dan Pak Yusman berkunjung ke rumah ini Bi Isah membuatkan wedang jahe.
"Wah. Mba Raya masih inget saja padahal itu sudah lama banget loh. " ujar Bibi dan mereka terkekeh bersama.
Sementara Yusra baru saja turun dan berdehem membuat mereka berdua menoleh.
"Ekhem!!. " Yusra berdehem dengan suara baritone nya.
"Eh. Mas Yusra, kebetulan ini sarapannya sudah mau siap, mari duduk Mas. " tawar Bibi.
Sementara Raya masih fokus dengan kegiatannya yang sedang menggoreng nugget. Sama sekali tidak menyapa Yusra sekedar say hello.
"Bi, ayo kita sarapan, habis itu kita langsung cus aja. " ajak Raya kepada Bi Isah sementara Yusra dari tadi di cueki sama Raya dan hanya menghela nafas.
"Kalian mau kemana? " tanya Yusra lalu menatap kedua wanita yang beda usia.
"Mau ke supermarket." jawab Raya ketus.
"Owh" jawab Yusra dan membuat Raya geram.
Owh, katanya? Dia pikir ke supermarket gak pake duit apa! benar benar ya si Kardun satu ini. batin Maya dengan menatap Yusra garang.
"Kenapa kamu menatapku begitu? "
"Mas Yusra, aku mau ke supermarket kenapa jawabnya owh, doang? Harusnya peka dong! " ketus Raya kesal.
"Loh, hubunganya sama peka itu apa? Ya kalo mau ke supermarket ya silahkan saja, aku tidak melarang kok, supir ada, mobil juga ada, apa lagi yang harus di pekain? " jawab Yusra dengan santainya lalu menyuapkan sarapan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Ish, rese banget sih! Ya masa, aku nanti bayarnya pake daon. Mas Yusra, kan, belum ada ngasih aku nafkah lahir, jadi sekarang aku minta hak aku" ketusnya.
Yusra menggigit pipi bagian dalamnya berusaha untuk tidak tertawa karena melihat Raya yang kesal padanya apa lagi wajahnya di tekuk dengan bibir yang mengerucut.
"Owh" lagi lagi Yusra hanya mereson dengan kata 'Owh' dan itu membuat Raya tambah kesal. Lalu melanjutkan lagi sarapan.
"Aku mau minta uang yang banyak, sekalian aku mau nyalon sama potong rambut! " lagi, Raya merajuk kepada Yusra.
"Iya silahkan. " jawabnya santai kembali menyuapkan makanannya.
"Ih, uangnya, mana Mas, " keluh Raya.
"Ya sabar, kan lagi sarapan, buru buru banget, kaya mau ketemu siapa aja."
Raya tidak berniat menjawab ucapan Yusra. Dia sibuk saja dengan menggadoi nugget. Dari kecil memang makanan kesukaan Raya itu nugget makanya tiada hari harus selalu ada nugget, malah di kediaman Pak Yusman dulu selalu ada banyak stok nugget dan itu Pak Yusman yang menyediakannya untuk Raya karena bagi Pak Yusman. Raya sudah seperti anak baginya.
"Kamu tidak bosen apa, setiap hari nugget terus , kan banyak makanan lain" tanya Yusra.
"Makanan favorit, Anda di larang komen, please. " jawab Raya menangkup kan kedua tangan nya dengan berbada ketus.
.........
Supermarket
Raya dan Bibi sedang berada di giant. Mereka sedang memilih bahan bahan untuk membuat brownies dan juga keperluan lainnya. Bi Isah yang mendorong troli sementara Raya bagian yang memilih.
"Bi, sini, gantian biar aku yang dorong. Bibi cari gih keperluan yang mau Bibi beli, aku yang bawa troli kali ini, lumayan berat juga karena udah penuh. " kekeh Raya.
"Iya, saking asiknya sampe tidak sadar, jika troli sudah penuh, " ledek Bibi. "Ya sudah, kalau begitu kita ketempat buah dan sayur dulu, Bibi mau cari jahe dan yang lainnya. " lanjut Bibi.
"Siap Bi. " kata Raya hormat dan mereka menuju tempat buah dan sayuran.
Melihat buah dan saur nya segar membuat Raya kian lupa diri dia ambil satu persatu dari masing masing buah. Membuat Bibi menggeleng di buat nya.
__ADS_1
"Udah. Mba, ini sudah banyak banget loh, ayo kita ke kasir nanti rame lama lagi ngantrinya . " kata Bi Isah membantu mendorong troli.
Sepertinya hari ini hari yang sedikit buruk untuk Raya. Pasalnya saat mengantri di meja kasir dia malah bersebelahan dengan Yusra dan betapa terkejutnya dia melihat seorang wanita yang sedang menggelayut manja di tangan kekar Yusra. Dan mungkin ini sudah takdir sehingga perempuan itu menoleh ke arah Raya dan Bi Isah sontak saja perempuan yang bermanja sama Yusra mengenali salah satu dari mereka.
"Loh.Bi Isah? " sapa si perempuan itu.
"E-eh.Mba." jawab Bibi gugup karena dia sempat melirik Raya yang sudah berubah air mukanya.
Saat itu juga Yusra menoleh dan betapa terkejutnya dia kenapa bisa sampai kebetulan seperti ini. Kemudian Yusra menatap Raya dan melihat mata Raya berkaca kaca. Yusra memalingkan wajahnya saat Raya menatap nya juga.
"Wah, tidak menyangka ya. Bi, kita bisa ketemu di sini. " kata si perempuan itu.
"Ah.. I-iya, Mbak. " jawab Bibi gugup lagi karena meresa tidak enak dengan Raya.
"Itu siapa yang di depan Bibi? " tanya si perempuan.
"Kenalkan ini.. " ucapan Bibi terpotong oleh Raya.
"Saya pembantu baru di rumah Pak Yusra! " jawab Raya dengan mata yang terus menatap Yusra.
"Owh, kenalkan, saya Nilam, calon tunangannya Mas Yusra. " kata si perempuan ramah dengan senyum manis di bibirnya lalu mengulurkan tangan ke arah Raya.
Rasanya Raya ingin sekali mengamuk di tempat ini. Tapi dia tahan dan mengepalkan tangannya kuat kuat. Matanya sudah memerah bersamaan nafas memburu. Sungguh rasanya sakiiiiit banget seperti di tikam hati Raya dari belakang.
"Owh, selamat, semoga kalian langgeng. " kata Raya penuh penekanan.
"Terimakasih, do'a nya. Mbak. " kata Nilam.
"Ekehm. Bi, aku mau ke toilet sebentar, nanti Bibi saja yang bayar ya , ini ATM nya. "
Raya pergi begitu saja dengan langkah lebar sementara Yusra membuang nafas ke udara dan lagi Nilam terus bergelayut manja kepada Yusra. Bukanya risih tapi Yusra malah membiarkan saja perlakuan perempuan yang mengaku calon tunangan nya itu kepada Raya.
Sementara di toilet. Raya sudah tak bisa lagi membendung air matanya. Dia menatap dirinya di cermin dengan air mata yang terus berjatuhan kenapa sesak sekali rasanya.
__ADS_1
"Brengsek memang kamu, Mas. Tega sekali kamu selalu membuat hatiku sakit, apa aku tak seberharga itu di matamu? Sehingga kamu terus lukai aku. " gumam Raya tertahan.
"Kenapa aku sangat bodoh! Kenapa aku menangisi si Kardun itu, memang harusnya beginikan, dia bahagia dengan perempuan itu karena dia tidak menerima pernikahan ini, biarlah aku menderita dengan pernikahan ini, karena memang aku ini orang ketiga di antara mereka, harusnya aku yang merasa bersalah karena telah merebut Mas Yusra dari si Nilam itu, tapi kenapa aku yang malah seolah tersakiti begini sih! " lirinya.