Terpaksa Menikahi Anak Majikan

Terpaksa Menikahi Anak Majikan
Bab 37


__ADS_3

Kini Yusra sudah pindah ke kediaman Yusman ia bersama dengan Raya sementara Bi Isah tidak ingin ikut karena ingin mengurus rumah Yusra saja seperti dulu.


"Assalamu'alaikum." ujar Raya dan Yusra bersamaan.


"Waalaikumsalam , selamat datang kembali Mas. Mba, ayo kita masuk, Mamah sudah menyiapkan makanan kesukaan Mba Raya loh. " ajak Yena.


"Waahh masa sih? " tanya Raya.


"Iya beneran Mba. " kata Yeni. Lalu Yeni dan Yena mengapit kedua tangan Raya kiri dan kanan. Yusra hanya menggeleng saja.


Sebenarnya siapa yang sakit siapa yang di sambut, pikir Yusra.


"Mamaaahhh! " teriak Yeni dan Yena membuat Raya memejamkan matanya karena mendengar teriakan si kembar lalu menutup kedua telinga.


"Kalian ini ya, gak bisa sehari saja gak bikin gaduh! Lihat deh Mba nya, kebisingan tau. " omel Ali.


"Hehehe ya maaf. " ujar mereka kompak.


"Dasar ngeselin. " ketus Ali.


"Yang penting imoet. " jawab keduanya lagi.


Raya hanya terkekeh saja melihat wajah masam Ali.


"Sudah sudah, ayo kita duduk terus makan, ngomong ngomong, mana Yusra nya? Kok gak ada. " tanya Yuli.


"Eh iya, Mas Yusra masih di depan lagi nurunin koper kayanya. " ujar Raya ketika baru ingat suaminya.


"Kalian ini gimana sih? Kenapa malah di tinggalin Mas Yusra nya. " kata Yuli pada si kembar. Ali bergegas keluar membantu Yusra.


"Sebenarnya yang sakit itu siapa? Kenapa aku di tinggal dan kenapa hanya Raya yang kalian sambut?! " gerutu Yusra kenapa si kembar.


"Omelin saja Mas, mereka. " Ali menimpali.


"Hehee maaf Mas Yusra, kami seneng banget soalnya kalo ada Mba Raya. " celetuk Yeni.


"Kalau dengan Mas, kalian tak suka begitu? " garang Yusra.


"Eh eh bu-bukan begitu Mas. " ujar mereka berdua gelagapan.


Membuat Yuli dan yang lain terkekeh dengan tingkah si kembar yang gelagapan karena mendapatkan pelototan dari Yusra.


"Mas, ini mau di taro di kamar Mas Yusra, apa mau di kamar Uwa? " tanya Ali menggerek kedua koper.


"Ngapain di kamar Papah? Taruh saja di kamar ku. " jawabnya masih jutek.


"Mas Yusra, yang bikin kesel mereka berdua loh? Kenapa Ali juga kena semprot! " protes Ali tak terima.


"Tidak usah banyak protes karena kamu juga sudah bikin kesal karena telat membantuku. " ketus nya.

__ADS_1


"Ya Kariiiiimm. " ujar Ali lalu pergi membawa koper ke kamar Yusra.


"Sudahlah. Yus, tidak usah marah marah melulu, nanti tensi darah naik lagi . " ujar Rusdi.


"Sehat Om. " tanya Yusra lalu menjabat tangan.


"Alhamdulillah, kamu sendiri sudah sehat belum? " tanya nya.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik bahkan jahitan di kepala sudah kering. " ujarnya lalu duduk di kursi makan di dekat Raya.


"Baguslah, kemarin kata Ali, di kantor Fahri sedang kalut dia cerita kepada Ali tentang masalahnya, kasian juga anak itu. " ujar Rusdi.


"Biarkan saja lah, dia sudah dewasa, harusnya bisa menangani masalahnya, itu masalah pribadinya. Besok adalah hari pemilihan pemimpin , aku sudah tidak sabar ingin melihat siapa kira kira yang benar benar jadi pimpinan perusahaan. " kata Yusra.


"Aku yakin, jika Mas Yusra yang akan di pilih oleh mereka soalnya, akhir akhir ini Fahri tidak pokus bahkan saham di perusahaan sedikit anjlok, karena ia selalu dalam tekanan Papahnya apa lagi ancaman dari Uwa membuat Fahri terlihat sangat frustasi. " ujar Ali.


"Kenapa Om Hendri tega sekali, melakukan itu pada Bang Fahri? Kasian sekali Bang Fahri, dia akan mati perlahan lahan oleh kuasa Papah nya. " ujar Yena.


"Yena, sebaiknya makan nak, jangan ikut nimbrung pembicaraan orang dewasa. " tegur Yuli.


"Maaf Mah. " jawabnya sesal.


Saat sedang asik makan tiba tiba Raya merasa mual dan lari ke kamar mandi


"Hoeeeek." Raya menutup mulut nya.


"Sayang kenapa? Kamu mual lagi? " tanya Yusra. Raya hanya mengangguk lalu berlalu pergi ke kamar mandi.


"Aku susul Raya dulu, dia mual kayanya efek bawaan bayi. " jawab Yusra lalu menyusul Raya.


"Yeeeeeyy kita akan punya ponakan!. " pekik si kembar girang. Ali berucap syukur karena mendengar berita tentang kehamilan Raya.


Yuli ikut menghampiri Raya dan Yusra.


"Hoeeeek... Hoeekkk. "


Raya terus memuntahkan isi perutnya yang kosong. Yusra membantu memijit tenguk Raya dengan perlahan . Ia merasa kasihan dengan kondisi Raya yang saat ini muntah muntah terus.


"Yus, balurkan ini pada leher serta punggungnya, agar merasa hangat. " kata Yuli memberikan minyak kayu putih.


"Terimakasih Bi. " ujar Yusra lalu membalurkan minyak kayu putih itu.


"Pantesan saja wajah kamu pucat. Bibi sudah curiga saat di rumah sakit itu, sepertinya kamu memang sedang isi apa lagi terlihat badan kamu sedikit berisi, kalau begitu Bibi buatkan teh manis panas ya, agar kamu baikan. " ujar Yuli yang di jawab anggukan oleh Raya.


"Hoeeekk." Raya terus saja seperti itu sampai badannya terasa lemas.


"Sayang, pasti kamu tersiksa banget ya seperti ini? Mas jadi tidak tega, kita kerumah sakit saja ya, periksa lalu minta vitamin dan obat pereda mual. " kata Yusra.


"Gak apa apa Mas, ini udah biasa kok, bagi ibu hamil, pijitin lagi Mas, perut nya juga pengen di balurin minyak. " pinta Raya.

__ADS_1


"Kita ke kamar saja ya, sembari istirahat dan Mas akan usapin perutnya biar kamu enakan. Dedenya kan suka di usap usap sama Papa. " ujar Yusra lalu menuntun Raya ke kamar.


"Gak makan dulu? " tanya Rusdi.


"Nanti saja lah. Om, aku mau menemani Raya istirahat dulu. " jawab Yusra.


"Ya sudah, nanti Om akan bilang sama Bibi untuk bawakan makanan ke kamar kalian. "


"Iya Om, terimakasih. " jawab Raya lemah.


"Ini teh nya sudah jadi. Bibi bawa kemar sekalian makanan nya ya. " kata Yuli menghampiri mereka.


"Iya Bi. "


Di kamar Yusra sedang membaluri perut Raya dengan telaten dan perlahan dan itu membuat Raya sangar rileks dengan sentuhan tangan Yusra.


"Enak sayang. " tanya Yusra.


"Iya Mas, kayanya dedek bayi maunya di usap usap sama Papanya mulu deh. " jawab Raya yang menatap wajah tampan Yusra.


Yusra hanya tersenyum manis pada sang istri. " Bisa saja ya akalnya, ini mah kamu kali yang maunya di elus elus. " ledek Yusra.


"Serius iiih. " rengek Raya manja.


"Iya sayang, kamu ini semenjak hamil manja dan sensitif banget, tapi ngomong ngomong. Kamu tidak ada ngidam apa apa gitu? " tanya Yusra.


"Ada." jawabnya singkat.


"Apa itu? " tanya Yusra antusias.


"Raya pengen , nanti malam Mas Yusra tidur pake baju tidur Raya yang bahan satin itu, yang biasa Raya pake. " ujar nya menatap Yusra senyum lebar.


"Bercanda." sangkal Yusra.


"Iiih, aku serius loh Mas, tadi nanya aku ngidam apa, giliran di kasih tau malah begitu ekpresi nya. " rengek Raya dengan wajah cemberut. Lalu membelakangi Yusra.


"Sayang, tapi masa itu sih, permintaan nya? Yang lain gitu loh seperti makanan. " bujuk Yusra.


"Gak mau, dedenya pengen seperti itu. " jawab Raya masih membelakangi Yusra.


"Gak bisa di tawa gitu? " Yusra masih bernegosiasi.


"Mas, katanya kalau gak di turuti keinginannya bumil, nanti anaknya ileran, emang Mas Yusra mau punya anak ileleran? " kata Raya. Kini ia sudah berbalik menatap Yusra.


"Hmmmm, baiklah baiklah, ini demi dede bayi. Papa akan lakukan apapun buat kalian asal kalian bahagia. " ujar Yusra yang akhirnya menuruti ngidam nyeleneh Raya.


"Beneran Mas? Horeee. " kata Raya senang.


"Tapi setelah itu, kasih aku amunisi ya. " ucap Yusra yang mengecup bibir istrinya itu.

__ADS_1


Mohon maaf jika ada typo


__ADS_2